Bagaimana Jika Pernikahan Impianmu Tak Terwujud? Sebuah Pertanyaan tentang Keberanian Bermimpi dan Kekuatan Memperjuangkan Impian

Reflections & Inspirations

[Image: jtobiason.com]

3.5K
Semua berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan kekasih saya, "Gimana kalau dream wedding-mu tidak dapat terwujud?"

"Semua orang memiliki mimpi."

Benarkah demikian? Mungkin tidak. Banyak juga orang yang tak punya impian, kan? Hmm, kalau begitu ... "Semua orang boleh bermimpi." Bagaimana, terasa lebih pas? Atau, izinkan saya menawarkan versi saya ini: "Semua orang butuh bermimpi."

Terlepas dari segala beda pendapat dan antipati, saya sepakat dengan banyak motivator yang telah menekankan arti penting impian. Sudah gratis, memberi tujuan hidup pula. Kira-kira begitu. Tak mau kalah, saya pun punya. Sejak usia 17 tahun, kala masih menjadi gadis desa yang siap berangkat merantau, saya menuliskan 150 poin wishlist. Salah satunya soal pernikahan. Hingga suatu hari, kekasih saya bertanya,

“Gimana kalau dream wedding-mu tidak dapat terwujud?”

...

...

Saya menghela nafas.

Diam,

mengambil jeda.

...

...

Ada beberapa jenis pertanyaan yang menuntut keseriusan ganda, karena mengharuskan memberi jawab sekaligus menguji diri sendiri. Pertanyaan ini, salah satunya.

Pertanyaan ini juga membuat saya berpikir lagi soal arti mimpi dan signifikansinya. Kita, yang menilai bahwa mimpi bukanlah beban tapi pemacu semangat, akan tahu persis: mimpi adalah prasyarat kehidupan. Bukan begitu? Apakah benar jika memang sulit tercapai, lebih baik tidak memimpikannya sama sekali?

Saya rasa tidak. Kita masih membutuhkan impian untuk alasan-alasan ini:



1. Impian Menghadirkan Gairah

Impian membuat kita menjalani hidup dengan tertuju dan penuh gairah. Ketika mendambakan sesuatu, sejatinya bukan premis “ini harus tercapai” yang menjadi energi, namun sebuah suara lembut yang menyatakan, “Aku akan mencoba mencapainya!”

Niat “mencoba” itulah yang membukakan banyak pintu peluang.

[Dokumentasi Pribadi Penulis]
“It's the possibility of having a dream come true that makes life interesting.” – Paulo Coelho

Menarik atau tidaknya hidup ini bergantung pada berapa banyak mimpi yang berusaha kita kejar. Itulah mengapa antusiasme dan impian selalu berkorelasi erat. Bagi orang yang terlampau excited dengan banyak hal, impian menjadi sebuah pecutan untuk tetap keep on the track. Sebaliknya, bagi yang minim antusiasme, impian adalah stimulan terbaik untuk menyalakan api ketertarikan. Uniknya, gairah yang dihadirkan lewat mimpi-mimpi tersebut akan membuat orang lain merasakannya pula. Ada semacam gemercik, yang menularkan semangat.

“Seseorang, jika sudah menemukan dan menggeluti mimpinya, akan tampak menarik dua juta kali lipat. Aura bahagia terpancar dari sana. Terasa. Terasa. Terasa.” – Lalu Abdul Fatah



2. Ruang Memuji Sang Sutradara

Dari 150 poin mimpi yang saya miliki, sebagian sudah tercapai, sebagian sedang diusahakan dicapai, sebagian hanya tinggal menunggu dilakukan, namun untuk sebagian sisanya, saya tidak benar-benar tahu bagaimana mewujudkannya. Itulah intinya. Beberapa impian - yang seakan misteri - justru menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kehendak-Nya bekerja.

Izinkan saya memberi contoh. Ketika menuliskan poin “ikut sidang PBB”, I totally have no idea bagaimana akan merealisasikannya. Ajaibnya, itu terwujud! Saya tidak merencanakan dengan detail namun ... tadaaaa .... itu terjadi.

Di momen itu, saya tahu persis, ada Tangan yang selalu melampaui keterbatasan. Tangan yang sama pula, penuh dengan belas kasihan.

Itu hanya satu momen. Impian kecil 'S1 usia 20 tahun' dan 'bekerja sebelum wisuda' semua tanpa perencanaan rinci, terkabul.

Jangan salah tafsir! Kita tidak pernah boleh beriman bahwa semua impian akan terwujud. Kita mesti beriman bahwa Pencipta selalu memberi terbaik, bahwa Dia tidak pernah pelit, bahwa Dia pula yang penuh kuasa sekaligus belas kasih.

Karena iman, kita dapat yakin ketika Dia berkata ‘tidak’ maka ada hal lebih baik akan datang. Klise? Mungkin. Tapi itu benar. Maka, berlarut waktu dengan kesedihan akan menjadi wujud takabur paling ulung.

Dari Penulis yang Sama: Masa Lalu Suram, Masa Kini Terasa Berat? Melangkah Maju dan Yakinlah, Ada 4 Hal Indah di Balik Tiap Kepahitan yang Kamu Alami



3. Mensyukuri Hijau Rumput Sendiri

Saya setidaknya memiliki dua kawan yang menurut saya mengagumkan karena telah berhasil membuat konsep 'sukses' mereka sendiri. Sepak terjang mereka menjadi inspirasi, bukan karena pilihan bergengsi yang dibuat, namun karena hasrat akan pemenuhan mimpi yang terus dijaga dengan konsistensi tinggi.

Memilih bekerja di bidang jurnalistik, lalu berpindah kota demi ‘aliran’ jurnalistik yang berbeda dengan gaji lebih rendah, hingga memutuskan menempuh S2 dunia seni. Rangkai pilihan yang tidak populer, bukan? Hanya dia yang mengerti jelas berharganya pilihan itu. Aneh, namun menyiratkan aura yang menghangatkan.

Teman saya yang lain, lulusan Negeri Tulip, pasca lulus langsung kembali pulang ke tanah air. Ketika banyak anak bangsa lebih memilih berkarya di negeri orang, dia tanpa ragu pulang ke Ibu Pertiwi. Lagi-lagi, soal mimpi - yang telah diketahuinya dengan jelas.

Impian menolong kita untuk puas dengan pilihan kita sendiri.
[Image: wordpress.com]

Catatan dari akun Human of New York ini mungkin dapat mempertegas sesuatu: “Success doesn’t necessarily mean you have EVERYTHING. It’s more of a mixing board with several different dials: positive emotion, engagement, relationships, meaning, and achievement. Everyone’s mixing board is set differently. I may draw my success from relationships, while somebody else may need to be constantly engaged in the pursuit of achievement.

Impian membuat kita tetap pada rute, tanpa sibuk membandingkan dengan rute orang lain. Impian membuat kita menikmati hijau rumput sendiri. Tanpa komparasi, tanpa menghakimi.

Dari Penulis yang Sama: 4 Hal Indah yang Akan Kamu Temukan setelah Mengubah Pandanganmu tentang Hidup, yang Ternyata, Tak Melulu Soal Kompetisi



4. Tidak Kebal Kecewa

“Orang yang tidak pernah kalah yakni mereka yang tak pernah bertempur.”

Risiko impian adalah kemungkinan akan kegagalan. Menyakitkan, selalu. Faktanya, hanya orang yang tidak bermimpi yang tidak pernah kalah. Mereka menghindari luka, perasaan tak berdaya, dan malu terhina, dengan sedari awal undur dari pertarungan. Mereka memilih tidak berjuang sama sekali.

Padahal, seburuk apa pun kemungkinan kegagalan, sekiranya tetap lebih baik untuk tidak bersembunyi di balik kalimat, “Jangan mengharapkan apa pun maka kau tidak akan kecewa.”

Kekecewaan membuat kita menyadari keterbatasan diri, membuat kaki [bahkan lutut] tetap menginjak bumi, dan menguji naluri sebagai pejuang sejati.

Ketika dulu menceritakan soal 12 kriteria pasangan hidup saya, beberapa orang dengan sangat sopan menjelaskan, “Ah, kalau aku terserah Tuhan mau kasih jodoh seperti apa. Daripada bikin kriteria tapi nanti kecewa.” Hanya karena takut kecewa, beberapa orang membatalkan impiannya. Atau mungkin, sekadar meralatnya.

Oke, tentang kriteria pasangan hidup saya tidak kecewa. Tuhan berbaik hati memberikannya. Tapi saya punya BANYAK kekalahan yang lain. Contohnya, mimpi 'membawa mama papa pergi ke luar negeri' tidak bisa saya penuhi karena papa telah lebih dulu berpulang. Sedih? SANGAT! Sebuah titik kegagalan, sebagai seorang anak dan sebagai seorang pemimpi. Bagaimanapun, persis kala itu, saya dijejali banyak pelajaran hidup berharga, tentang kematian dan arti keluarga, misalnya.

Jika demikian, kenapa harus anti dengan rasa kecewa?

[Dokumentasi Pribadi Penulis]

Tagihan jawaban soal dream wedding memecah lamunan saya dalam penyusunan gagasan ini. Durasi saya mengambil jeda dan menarik nafas sudah kelewat lama, agaknya.


“Sama seperti saat gagal CPNS, gagal menang lomba, dan banyak kegagalan lain,

aku akan sedih...

… tapi aku akan menerima dan melanjutkan hidup.” timpal saya,

mantap.

“Semudah itu?”

“IYA.
Karena masih ada mimpi lain yang menunggu untuk diwujudkan.”

Sang penanya puas dengan jawaban itu.


Jangan takut bermimpi. Sebab ketika kau menginginkan sesuatu, Tuhan dan semesta ini akan berkonspirasi, menolongmu mewujudkannya.



Baca Juga - dari Penulis yang Sama:

Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya

Bersetia Pada Panggilan di Tengah Tekanan Penghakiman. Ini tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih Menjadi Guru

Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Jika Pernikahan Impianmu Tak Terwujud? Sebuah Pertanyaan tentang Keberanian Bermimpi dan Kekuatan Memperjuangkan Impian". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar