Bagaimana Cara Terbaik untuk Membalas Kebaikan Orang Lain?

Reflections & Inspirations

[Image: playbuzz.com]

4.1K
Memberi dan menerima sebagai tindakan kasih bukan dimaksudkan untuk berlangsung secara berbalas-balasan. Tidak ada seorang pun yang pernah mampu membalas suatu kebaikan secara setimpal. Kalau itu terjadi, dunia malah akan jadi aneh.

Tahun lalu saya terserang usus buntu sehingga harus dioperasi dan opname di rumah sakit selama beberapa hari. Keadaan itu memberi saya kesempatan untuk menerima kebaikan orang lain secara berlimpah-limpah. Keluarga. Dokter. Perawat. Awak rumah sakit. Teman-teman yang menengok. Teman-teman yang menghibur dan bergurau. Yang membawa oleh-oleh. Yang menyisipkan amplop sebelum pulang. Yang mengajak selfie. Yang telepon lalu transfer dana. Yang mendoakan dan mendukung dari jauh. Yang ...

Bagaimana membalas kebaikan-kebaikan itu? Semuanya? Satu per satu?

Jawabannya: MUSTAHIL.



Jadi, apa yang harus saya lakukan?

Saya teringat status pendek seorang teman yang saya baca beberapa hari sebelumnya. Saya tidak ingat persis kata-katanya, tetapi kalau saya jabarkan menurut pemahaman saya, kira-kira jadi begini:

“Kasih itu bergerak secara dua arah. Saat kita menjadi pemberi kebaikan, kita diundang untuk memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbal jasa. Sebaliknya, saat kita menjadi penerima kebaikan, kita diundang untuk tidak gelisah dan terbeban memikirkan bagaimana membalas budi.”

Hah? Kita tidak perlu berterima kasih? Kita tidak bersyukur? Kita jadi orang yang tidak tahu membalas budi? Tidak. Saya rasa bukan begitu maksudnya.

Memberi dan menerima sebagai tindakan kasih bukan dimaksudkan untuk berlangsung secara berbalas-balasan. Tidak ada seorang pun yang pernah mampu membalas suatu kebaikan secara setimpal. Kalau itu terjadi, dunia juga malah akan jadi aneh.

Tidak percaya? Coba saja. Si A memberikan satu juta kepada si B; kemudian pada waktu lain si B membalas memberikan satu juta kepada si A. Setimpal? Secara nilai rupiah, bisa iya bisa tidak -bergantung pada berapa lama jarak pemberian itu dan apakah dolar sedang mengamuk atau tidak. Namun, secara pengorbanan, nilai pemberian A jelas akan berbeda dari pemberian si B. Tidak bisa setimpal benar.

Atau, dalam kasus saya, berarti saya mesti mengharapkan teman-teman saya sakit, agar saya dapat membalas kebaikan mereka? Itu namanya kurang ajar!

Balas-membalas juga menyeret kita ke dalam persaingan. Kalau kita menganggap pemberian kita lebih rendah nilainya, kita jadi minder dan nelangsa. Kalau kita menganggap pemberian kita lebih tinggi nilainya, kita membusungkan dada dan pongah. Kebaikan bergeser jadi kemalangan, bahkan kejahatan.

Jadi, bagaimana? Memberi dan menerima sebagai tindakan kasih itu lebih menyerupai kawan seiring, bergandengan tangan. Seperti gerak tubuh yang saling merespons menjadi tarian elok. Seperti duo syair dan melodi yang bersama-sama merajut simfoni yang indah.

[Image: ributrukun.com]



Lihatlah setangkai pohon mawar.

Dari matahari, ia menerima cahaya dan panas. Dari langit, ia menerima udara segar dan curah hujan. Dari tanah, ia menerima sari-sari makanan. Dari petani, ia menerima perawatan.

Apakah ia membalas memberikan cahaya dan panas kepada matahari?

Apakah ia membalas memberikan udara segar dan curah hujan kepada langit?

Apakah ia membalas memberikan sari-sari makanan kepada tanah?

Apakah ia membalas memberikan perawatan kepada si petani?.

Tidak, bukan?

Ia tidak gelisah memikirkan bagaimana mesti membalas kebaikan matahari, langit, tanah, petani. Tentu saja, ia juga memberi pada lingkungannya. Hal-hal yang berbeda. Yang tidak bisa diperbanding-bandingkan. Dalam pelajaran biologi dasar, misalnya, tanaman mendapatkan CO2 dan melepaskan O2 ke udara. Itu zat yang berbeda, bukan?

Jadi, apa yang dilakukan si mawar?

[Image: martha

Ia mekar semekar-mekarnya, menjadi mawar yang semawar-mawarnya!


Begitulah dinamika memberi dan menerima sebagai tindakan kasih.

Jadi, ketika kita mendapatkan kesempatan untuk memberikan kebaikan, alih-alih membayangkan tuaian yang akan kita petik dari benih yang kita tabur, rasanya lebih tepat jika kita bertanya, “Apakah pemberian terbaik yang dapat kuberikan kepadanya, yang akan menolongnya semakin mekar sebagai manusia?”

Dan, ketika kita mendapatkan jatah untuk menerima kebaikan, alih-alih memikirkan apa saja yang mesti kita lakukan untuk membalasnya, rasanya lebih tepat jika kita bertanya, “Bagaimana saya dapat mendayagunakan pemberian ini sebaik mungkin sehingga saya semakin mekar sebagai manusia?”

Karena itu, marilah kita saling memberi dan saling menerima, untuk mekar semekar-mekarnya, menjadi manusia yang semanusia-manusianya!



Baca Juga:

Demonstrasi Kasih: 10 Cara Menunjukkan Rasa Cinta demi Kelanggengan Relasi

Pujian: Tulus, Basa-basi, atau Akal Bulus? Inilah Cara Membedakannya

Tangan-Tangan Pemelihara Kehidupan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Cara Terbaik untuk Membalas Kebaikan Orang Lain?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Arie Saptaji | @ariesaptaji

Pegiat literasi, mengembangkan konsep ART - Amati Renungkan Tuliskan. Vlog: bit.ly/2chWOvB Blog: ariesaptaji.blogspot.co.id

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar