Awas! 9 Perilaku Orangtua yang Terlihat Sepele ini Ternyata Dapat Memicu Kenakalan dan Bahkan Kejahatan Anak

Parenting

[Image: ebay.com]

10.9K
Kita semakin sering mendapati bahwa pelaku kejahatan bukan lagi hanya orang dewasa atau remaja. Kini, bahkan anak-anak pun telah menjadi pelaku kejahatan. Apa yang salah dengan pendidikan di sekolah dan di rumah? Mari kita mulai dengan memeriksa diri sendiri. Jangan-jangan, tanpa sadar, orangtua turut berperan dalam memicu perilaku buruk anak.

Membaca berita-berita tentang kenakalan dan kriminalitas yang dilakukan oleh remaja dan anak di bawah umur belakangan ini benar-benar bisa membuat kita sakit kepala. Ya, sakit kepala. Dalam arti yang sesungguhnya.

Bagaimana tidak, siswa-siswi yang semestinya menggunakan waktu dan tenaga mereka untuk belajar, malah melakukan pelacuran, menghabiskan waktu untuk menonton tayangan porno dan mempraktikkannya dengan melakukan pelecehan seksual terhadap temannya sendiri. Belum selesai 'keheranan' kita membaca berita tentang perilaku remaja dan anak-anak di perkotaan, dari daerah juga muncul berita tertangkapnya anak-anak yang sedang ‘fly’ dengan menggunakan lem; dan, ketika ditangkap, salah satu dari anak-anak tersebut ternyata menyimpan media pornografi. Kemudian, dalam waktu yang berdekatan, muncul lagi berita yang lebih mengenaskan tentang tewasnya Yuyun di tangan 14 anak belasan tahun setelah mengalami kekerasan seksual secara bergilir.

Tak lama berselang, bahkan ketika kepedihan hati kita terhadap kasus Yuyun pun belum juga sembuh, lagi-lagi kita dikejutkan dengan berita tentang cara-cara para pelajar SMA merayakan kelulusan yang sangat tidak normal. Ada sekelompok siswa merayakan kelulusan dengan memamerkan kemesraan dalam pacaran yang berlebihan di muka umum dan tanpa malu bersedia difoto. Ada pula - siswa putra - yang merayakan dengan merobek dan menggunting pakaiannya menjadi amat minim dan seksi dan kemudian berpose ibarat waria. Kelompok lain dengan bangga berpose merokok, siswa laki-laki dan siswi perempuan bersama-sama, dengan asap mengepul keluar dari mulut mereka. Semua seolah hendak menyampaikan sebuah pesan yang sama, "Hore, kami sekarang sudah terbebas dari aturan dan disiplin sekolah. Kami mau menjadi 'diri sendiri' sesuka hati kami, tanpa perlu ikut aturan, nilai, ataupun moral apapun.”

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan generasi muda bangsa ini?

Siapa yang semestinya bertanggung jawab atas perilaku mereka?

Tentang 14 pelaku pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun, Kak Seto menyatakan bahwa mereka juga adalah ‘korban’. Pernyataan ini memang kemudian mendatangkan kontroversi, tetapi mari pikirkan hal ini: di usia mereka yang masih semuda itu, apa dan siapa yang menyebabkan mereka bisa ‘tersesat’ hingga sedemikian jauhnya?

Kini, terjadilah lempar melempar tanggung jawab. PIhak keluarga berkata ini adalah bukti kegagalan sistem pendidikan di sekolah. Sekolah, sebagai penyelenggara pendidikan formal, tak mau sepenuhnya disalahkan, menyatakan bahwa orangtua dan keluarga tidak boleh lepas tangan dan menyerahkan tugas pendidikan dan pembinaan sepenuhnya ke sekolah. Pembinaan akhlak, khususnya, menjadi tugas orangtua dan lembaga kerohanian atau agama. Jadi, sebenarnya siapa yang sungguh-sungguh patut bertanggung jawab terhadap perkembangan akhlak dan kepribadian anak?

Siapa yang mampu mencegah mereka dari kenakalan remaja dan kriminalitas di usia dini?

Tanpa bermaksud memojokkan pihak manapun, saya - dalam posisi sebagai orangtua yang mempunyai seorang anak kecil - mulai memikirkan hal ini. Dengan sebuah evaluasi diri, saya mencoba merangkum berbagai pengalaman buruk orang lain dan menjadikannya sebuah pelajaran, sebuah warning, demi masa depan anak-anak.

Berikut adalah 9 kebiasaan orangtua yang dapat menjadi bom waktu bagi anak-anak kita. 9 kebiasaan ini, tanpa disadari, dapat menjadi pemicu kenakalan, bahkan kejahatan seksual pada remaja:


1. Memberi Gadget Canggih pada Anak

[Image: lifehacker.com]

Ada terlalu banyak orangtua yang memberikan handphone canggih dan gadget lainnya pada anak di usia yang terlalu dini. Berbagai alasan dikemukakan untuk pilihan sikap itu, yang paling sering adalah supaya anak tidak minder, takut ketinggalan teknologi dibanding teman-temannya, juga supaya anak bisa sibuk dengan gadget-nya sehingga tidak 'mengganggu' orangtua.

Sayangnya, gadget yang dapat dengan mudah dikirimi video dan gambar sekaligus mengakses internet, justru menjadi pintu terbuka untuk pornografi dan ide kenakalan remaja, termasuk ide melakukan kekerasan seksual. Dan, sekalipun orangtua telah memperlengkapi gadget tersebut dengan aplikasi anti pornografi, tidak menutup kemungkinan tetap akan kebobolan juga, karena penyebar situs porno tak pernah menyerah begitu saja untuk mencapai targetnya utama mereka: anak-anak dan remaja.

Adalah bijak bagi para orangtua untuk meninjau kembali tujuan pemberian gadget canggih dan bahaya yang mengancam anak-anak. Bila memang yang dibutuhkan adalah alat agar anak tetap dapat lancar berkomunikasi dengan orangtua, teman, dan guru, sebuah handphone non-3G cukup bagi anak untuk mengirim maupun menerima panggilan atau pesan tertulis.

Orangtua tidak perlu takut anak menjadi minder terhadap teman-temannya. Orangtua, justru, harus bisa memberikan penjelasan pada anak, bahwa pada usia tertentu - yaitu usia ketika ia telah cukup matang untuk memilah mana hal yang baik dan buruk serta mampu menguasai diri - itulah waktu yang tepat untuk ia untuk memakai gadget canggih.

Latihan menunggu akan menghasilkan karakter yang baik pada anak, dibandingkan dengan terburu-buru sekadar demi memenuhi tuntutan trend dan teknologi.

Baca Juga: Anak Tidak Bisa Dipisahkan dari Gadgetnya? Orangtua, Segera Lakukan 5 Hal Penting ini!



2. Orangtua Tidur Satu Kamar dengan Anak

Menyatukan kamar orangtua dan anak adalah berbahaya, khususnya jika orangtua punya kebiasaan melakukan hubungan suami istri saat anak sedang tidur di kamar tersebut. Bagi anak, itu dapat menjadi sebuah live porn.

Beberapa waktu lalu saya bicara dengan seorang teman perempuan yang telah bertobat dari perilaku seks bebas yang telah ia lakukan sejak usia sebelas tahun. Saya bertanya padanya, "Apa yang memicu kamu berbuat demikian pada usia sedini itu?" Jawabannya adalah karena ia sering melihat orangtuanya berhubungan intim. Ia tidur di ruangan yang sama dengan orangtua, dan sering terbangun saat orangtuanya sedang melakukan hubungan intim. Ternyata, di kampungnya itu adalah suatu hal yang biasa, teman-temannya pun mengalami hal yang sama. Ini memicu rasa ingin mencoba-coba melakukan hubungan seks dengan teman-temannya.



3. Intervensi terhadap Pendisiplinan Anak di Sekolah

Sikap overprotective orangtua, tidak mengizinkan anak menerima disiplin sebagai konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan anak di sekolah, akan sangat merusak karakter anak dan menjadi pendorong bagi perilaku anak yang menyimpang.

Ketika orang tua tidak mendukung pihak sekolah mendisiplin dan menanamkan nilai luhur pada anak, bahkan protes dan menentang guru dan sekolah yang memberikan disiplin, anak akan berpikir bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar - karena mendapat dukungan dan perlindungan dari orangtuanya. Selanjutnya anak akan bertumbuh menjadi liar, arogan, memandang enteng orang lain, ingin selalu mendapatkan perlakukan istimewa, bahkan berani melakukan pelanggaran lain yang lebih serius, karena merasa bahwa dirinya kebal terhadap hukuman.

Berikut adalah kisah nyata dari secuplik kehidupan keluarga Alm. Lie Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura. Pada suatu hari, salah seorang anak [kala itu] Perdana Menteri Lie Kuan Yew melakukan pelanggaran di sekolah dan ditegor oleh gurunya. Merasa bahwa ayahnya adalah orang nomor satu di negeri itu, anak ini dengan berani melawan dan mengancam gurunya. Pulang sekolah, dengan bangga ia bercerita kepada ayahnya tentang apa yang ia lakukan di sekolah. Keesokan paginya, Perdana Menteri pun datang ke sekolah. Sang guru merasa tegang, mengingat ancaman yang dilontarkan siswanya kemarin. Namun, ternyata Sang Perdana Menteri hanya mengantar sang anak dan kemudian berdiri di depan kelas. Ia mengamati anaknya masuk dengan tertunduk malu, mendatangi gurunya, dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan di hari kemarin. Setelah menyaksikan sang anak meminta maaf kepada gurunya, Perdana Menteri meninggalkan sekolah dan kembali ke kantornya. Anak tersebut kemudian bertumbuh menjadi orang yang baik dan sukses.

Orangtua yang baik dan memiliki prinsip hidup yang benar akan mengizinkan anak-anak mereka menerima disiplin, yang memang patut untuk diterima, demi masa depan anak mereka sendiri.

Baca Juga: Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka



4. Menabukan Pendidikan Seks yang Benar di Rumah

[Image: badabum.cat]
Sebagian besar orangtua yang masih menjunjung tinggi nilai moral justru tidak mewariskan nilai-nilai moralnya yang luhur itu kepada anak-anaknya.

Hal ini dikarenakan para orangtua tersebut memegang prinsip bahwa membicarakan kejahatan adalah suatu hal yang tabu, termasuk juga membicarakan hal seksualitas.

Tindakan-tindakan seperti menyuruh anak tutup mulut saat mereka bertanya tentang seksualitas, mengalihkan pembicaraan, bahkan menjawab pertanyaan anak dengan berbohong agar anak berhenti bertanya, serta keengganan membicarakan berita kejahatan moral yang sedang ramai di media kepada anak, merupakan pola yang biasa dilakukan oleh para orangtua yang menabukan obrolan seks dalam keluarga.

Maksudnya mungkin baik, supaya anak terhindar dari topik tentang seks dan kriminalitas, tetapi sayangnya, salah kaprah. Sikap menutupi ini tidak dapat menghentikan rasa ingin tahu anak, sebaliknya, mereka akan terus berjuang mencari jawabnya. Dan, karena tidak menemukan jawaban dari orangtua yang terus menghindar, mereka malah mendapatkan jawaban dari sumber yang tidak jelas, seperti teman, atau orang yang tidak memegang nilai-nilai yang lurus. Hal ini justru menjerumuskan mereka pada pengetahuan dan perilaku yang menyimpang tanpa diketahui oleh orangtua. Orangtua baru sadar ketika kelak dikejutkan oleh kenakalan remaja yang dilakukan anaknya.

Tidak mau mengajarkan seks yang benar di rumah dapat membuka peluang bagi anak menjadi korban ataupun pelaku kejahatan seksual.

Baca Juga: Pendidikan Seks yang Salah Kaprah Malah Akan Mendorong Anak Aktif secara Seksual. Orangtua, Hati-Hati!



5. Enggan Menegur Langsung Penyimpangan Perilaku Anak

Tidak sedikit orangtua yang enggan untuk menegur langsung perilaku anak-anak mereka yang menyimpang. Ada cukup banyak orangtua yang tahu bahwa anak remajanya telah melewati batas-batas moral dalam berpacaran, dan itu terjadi di ruang tamu rumah mereka, bahkan di dalam kamar, tetapi tidak mau menegur anak-anaknya karena tidak mau bertengkar dengan anak. Tidak jarang juga orangtua melihat anak-anak mereka yang masih kecil bertindak tidak sopan terhadap temannya, baik mem-bully dengan kata-kata, melakukan aksi yang menyakiti temannya, misalnya sengaja membuat temannya tersandung, bahkan mempermainkan orgran privat temannya, namun orangtua hanya diam atau bahkan tertawa, menganggap itu sebuah hal biasa atau malah lucu.

Kemalasan untuk menegur langsung perbuatan anak yang salah akan membentuk konsep dan karakter yang buruk pada anak, yang kelak akan semakin menjadi-jadi.

Baca Juga: Inilah Satu Kesalahan Fatal dalam Mendidik Anak yang Seringkali Menjadi Penyebab Utama Konflik Orangtua dan Anak



6. Mengizinkan Anak Mencoba Rokok dan Minuman Keras

[Image: alcoholismfactorfictions.com]

Sikap kompromi berlebihan orangtua terhadap anak adalah berbahaya bagi masa depan mereka. Mengizinkan anak untuk mencoba-coba rokok atau minuman keras di acara-acara khusus adalah sebuah kesalahan besar. Orangtua mungkin berpikir, “Tidak apa-apa, kalau cuma sedikit dan sekali ini saja, tidak akan membuatnya kecanduan rokok atau minuman keras.”

Namun, yang perlu diingat, sebagai anak-anak di bawah umur, mereka belum bisa mengatur keinginan dan menolak kesempatan.

Yang mereka tahu dan ingat dalam pikiran mereka adalah, “Orangtuaku pernah mengizinkan aku mencobanya, mereka tidak melarang,” Maka pada kesempatan berikutnya, ketika ada orang yang mengajak untuk minum alkohol hingga mabuk, ia kemungkinan besar akan ikut. Tidak ada warning terbentuk di dalam hatinya.

Mengizinkan anak mencoba rokok dan minuman keras adalah jalan untuk membuat anak lebih cepat tergoda pada kecanduan narkoba dan alkohol. Membiarkan anak berada dalam 'kemabukan' dapat berdampak pada terjadinya berbagai kejahatan lain yang dilakukan dalam keadaan mabuk, seperti yang terjadi pada 14 anak pelaku pembunuhan terhadap Yuyun.



7. Kebiasaan Orangtua Berbicara Kotor

[Image: stuff.co.nz]

Sering mendengar orangtua berbicara kotor atau menjadikan perkara seksual sebagai bahan bercandaan bukan hanya akan membuat anak meniru secara verbal. Lebih dalam dari itu, kebiasaan tersebut akan merusak pikiran anak tentang kemurnian seksual dan nilai moral. Anak, pada akhirnya bertumbuh sebagai orang yang tidak menghargai kekudusan seksual.



8. Menjadikan Kemaluan Anak sebagai Bahan Tontonan dan Guyonan

Hingga saat ini, masih saja ada orangtua yang menjadikan organ privat anaknya sebagai bahan tontonan dan guyonan. Alasannya karena menganggap mereka masih terlalu kecil dan tidak mengerti apa-apa. Hal ini membuat anak menjadi lengah dan melemahkan kemampuannya dalam menjaga milik privatnya tersebut. Ia tidak terlatih untuk menutup dan menjaga baik-baik dirinya.

Banyak kisah yang baru terungkap setelah seseorang dewasa, bahwa ia dilecehkan secara seksual sejak kecil namun tidak pernah melaporkan hal tersebut kepada orangtua. Ia bingung dan tidak tahu bahwa itu abnormal, karena sebelumnya telah terbiasa dijadikan 'mainan' di hadapan dan oleh orangtuanya. Hal ini juga dapat menjadi penyebab perilaku seks bebas dini pada anak.



9. Kebiasaan Orangtua Menonton Video Porno

[Image: skeptic.com]

Banyak orangtua berpendapat bahwa orangtua menonton video porno itu biasa dan tidak masalah. Faktanya, sering terjadi anak-anak jatuh di usia yang sangat dini dalam kecanduan pornografi karena menemukan media pornografi milik orangtua dan menontonnya. Ada pula yang sengaja mengintip saat orangtua sedang menonton.

Bagi anak-anak dan remaja, kecanduan tidak berhenti pada kecanduan saja, tetapi mengakibatkan kerusakan pada bagian otak yang mengatur keinginan dan moralitas mereka.

Kerusakan otak inilah yang dapat membentuk kepribadian yang sadis. Yang menyebabkan mereka berani melakukan kekerasan seksual hingga pada pembunuhan.


Menjadi orangtua memang tidak mudah. Namun, demi anak-anak yang kita kasihi, demi masa depan mereka, bila diri kita diperhadapkan dengan tuntutan untuk berubah dan meninggalkan kebiasaan buruk yang berbahaya untuk masa depan anak-anak kita, bersediakah kita?

Keputusan kita menentukan masa depan anak-anak yang Tuhan titipkan dalam keluarga kita.



Baca Juga:

Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji Ini!

Anak Bermasalah? Jangan-Jangan Akibat 5 Gaya Pengasuhan Anak yang Keliru Ini

Orangtua, Lakukan 4 Hal Ini untuk Menyelamatkan Anak-Anak dari Godaan Narkoba



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Awas! 9 Perilaku Orangtua yang Terlihat Sepele ini Ternyata Dapat Memicu Kenakalan dan Bahkan Kejahatan Anak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar