Awas! Inilah 7 Tanda Anda Bermedsos Ria dengan Tidak Sehat

Reflections & Inspirations

[image : Huffington]

3.9K
“An open Facebook page is simply a psychiatric dry erase board that screams, “Look at me. I am insecure. I need your reaction to what I am doing, but you’re not cool enough to be my friend. Therefore, I will just pray you see this because the approval of God is not all I need.” - Shannon L. Alder

Media sosial belakangan menjadi sorotan baik publik maupun pemerintah. Tak heran bila Presiden akhirnya bentuk Badan Siber Nasional. Tugas utamanya memang menekan penyebaran hoax. Sayangnya, akar dari semua itu bukanlah penyebar hoax itu sendiri.

Prinsipnya 10:90, 10% penyebar hoax dibanding 90% penyebar berita yang dianggap benar. 90% tidak tahu atau tidak peduli itu hoax atau tidak. Kalau aktivitas 90% penyebar berita benar ini bisa diperbaiki dan dikembalikan ke jalan yang benar, saya pikir efek domino dari munculnya berita-berita bohong juga akan semakin mengecil.

Lagipula, perihal keruhnya media sosial tidak hanya dikarenakan oleh adanya hoax. Banyak hal lain yang juga berkontribusi untuk membuat orang tua semakin takut anaknya bermedsos dini. Saya belum jadi orang tua, tetapi saya mungkin akan berpikiran yang sama melihat kondisi media sosial saat ini.

Sebagai bacaan ringan, berikut saya tunjukkan 7 tanda anda bermedsos ria dengan tidak sehat. Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa anda berperan dalam membuat media sosial tidak berjalan sebagai mana fungsinya.


1. Membuka media sosial beberapa menit setelah menutupnya

[image : newslocker]

Bergeraknya situs pertemanan virtual menjadi sebuah aplikasi ringan di ponsel membuat pengguna makin punya alasan untuk tidak meninggalkan gadget serba bisa ini. Sebuah survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016 menunjukkan bahwa 98,3% mengakses internet dari ponsel. Kemudian 97,4% dari seluruh pengguna mengakses media sosial sebagai tujuan utama internet. Mutlak sudah bahwa ketika orang membuka ponsel, kemungkinan besar mereka membuka media sosial.

Baca Juga : Awas! Media Sosial Merampas dan Membunuh 3 Hal Penting ini dari Hidupmu. Segera Lakukan Sesuatu!

Kebanyakan dari mereka membuka media sosial juga ingin mencari info baru (ini juga dari APJII). Sayangnya, seringkali pengguna membukanya dengan frekuensi yang sudah tidak masuk di akal lagi, tak terhitung beberapa kali. Fenomena ini menarik, sebab secara tidak sadar pengguna membuka aplikasi medsos sejenak setelah ia membuka dan membaca info-info baru yang ada di dalamnya--kebanyakan mengenai status-status postingan teman.

Info baru tetap bisa didapat, sebab dalam 2-3 menit pasti ada segelintir update baru dari teman Facebook, apalagi yang angkanya sudah melebihi 3000 teman. Lalu salahnya di mana?

Sebenarnya pertanyaan harus dilemparkan kepada pengguna yang melakukan hal demikian.

Apa intensi utama mereka ketika terbiasa melakukan ini? Benarkah sebegitu urgent dan perlunya mengetahui informasi dalam interval sekian menit? Kok sepertinya sudah mirip pemain saham? Yakinkah bahwa yang Anda lakukan secara otomatis itu bukan karena adiksi?

Tolok ukur sederhana bahwa anda sedang cek medsos terlalu sering karena adiksi adalah ketika Anda sudah menyadari bahwa terlalu banyak mengulang membaca info yang sama, tetapi tetap meneruskan untuk membaca. Yang paling jelas lagi adalah jika Anda merasa bersalah setelah membukanya lalu terbersit pikiran, "Tadi kan sudah saya buka?"


2. Like status Facebook atau love foto Instagram membabi buta

[image : funkpost]

Saya sering melihat fenomena ini. Seorang teman membuka Facebook atau Instagram, kemudian dia klik like (Facebook) atau gambar hati (Instagram) secara berurutan dari atas ke bawah. Intinya, semua diberikan like.

Entah apa yang dipikirkan orang-orang yang like semua update postingan di medsos ini. Kalau anda like atau love artinya anda suka. Apa benar suka dengan semua gambar atau status yang sedang dilihat?

Ada kemungkinan lain, pengguna sengaja like untuk memberikan reaksi palsu demi terciptanya jalinan yang makin akrab di media sosial. Ada benarnya, tetapi tetap saja hal itu bukan keotentikan dalam menggunakan media sosial. Media sosial merupakan "situs pertemanan virtual." Jadilah otentik dalam berelasi bahkan melalui media sosial.


3. Add teman Facebook hanya karena foto

[image : teknoblog]

Ini lebih parah lagi. Sebab pengguna menambah teman hanya karena penampilan fisik. Parahnya lagi, ini dimanfaatkan oleh pebisnis-pebisnis online yang sengaja membuat akun-akun berfoto-foto cantik. Tujuannya adalah menambah jumlah teman dan likers dengan cepat. Kemudian mereka menggantinya menjadi Fanpage jual-beli produk. Anak-anak remaja beberapa tahun lalu pasti tahu istilah "hode" yang dialamatkan pada akun-akun semacam ini.

Untuk membantu mengobati media sosial kita, pertama, bertemanlah secara natural. Entah itu kenalan dan kenalan, teman lama yang pernah bersekolah di tempat yang sama, anggota kampus yang sama tetapi anda belum kenal, atau apapun. Intinya jangan menjadi pecandu foto-foto cantik atau ganteng.

Kedua, add atau follow akun-akun terpercaya, entah ini tokoh-tokoh penting yang sering memberikan suara-suara positif atau akun berita terpercaya. Dengan begitu, ketika membuka medsos anda tidak akan ditawarkan oleh kumpulan postingan-postingan dari para "hode", melainkan tulisan-tulisan mencerahkan atau berita-berita terpercaya.


4. Share tautan tanpa membaca atau verifikasi

[image : facebook]

Inilah yang menyebabkan angka 90 muncul. Penyebar hoax hanyalah segelintir. Saya sendiri tahu bahwa ada golongan orang-orang tertentu yang dilatih dan dibayar untuk menyebarkan berita bohong atau kebencian. Ada juga pembuat situs-situs hoax yang mengejar pageview. Mereka mendapatkan uang dari situs iklan yang berafiliasi dengan mereka. Cara pembayarannya: paid per view. Setiap pengunjung yang masuk diberi rate harga. Logikanya, makin banyak pengunjung, makin banyak pula uang yang didapat.

Mereka menarik pengunjung dengan cara memberikan judul-judul menarik dan heboh. Tak lupa, gambar-gambar fenomenal juga disematkan agar bisa muncul di thumbnail. Bagi pengguna medsos robotik, tautan dengan judul heboh serta gambar fenomenal akan terlihat menarik untuk diklik atau dibagikan. Parahnya, seringkali pengguna hanya membaca judulnya.

Sadarlah bahwa tindakan itu merusak. Bacalah terlebih dahulu isinya. Verifikasi kebenarannya. Atau jika tidak, tunggulah sampai berita yang benar sampai pada anda. Sebelum itu terjadi, jangan share tautan yang belum tentu kebenarannya.

Sebagai tambahan, sekarang sudah ada situs Turn Back Hoax sebagai wadah melaporkan tautan-tautan hoax. Kopi saja tautannya, masukkan ke situs tersebut. Banyaknya voters yang menyatakan itu hoax akan menjadi pertimbangan kominfo dalam menindak penulis atau situs.


5. Menganggap privat status yang Anda posting

[image : huffintonpost]

Ada lagi orang-orang yang menganggap media sosial adalah sebuah diary. Mereka menganggap ini milik mereka dan mereka bebas melakukan apa saja dengan media sosial tersebut. Mereka mengumpat, posting foto seronok, mengeluh, bahkan yang agak rohani adalah berdoa. Cari saja meme mengenai "Tuhan tidak Facebook-an" Ada banyak meme sejenis ini.

Yang lucunya, ketika ada orang yang komentar negatif atau tidak suka dengan postingan, pengguna langsung marah-marah. Mereka berteriak dalam hati, "kenapa kamu urusin saya?" Mereka tidak mau diganggu, sebab laman mereka hanyalah milik mereka.

Sebenarnya tidak demikian. Namanya juga media sosial, artinya pasti punya aspek sosial. Media sosial selalu berhubungan dengan orang lain, tidak sama dengan diary. Ini ruang publik. Segala yang anda taruh pasti akan dibaca dan mendapatkan respon dari pengguna lain.

Baca Juga : Mendapatkan Komentar Tak Menyenangkan di Media Sosial? Inilah 5 Cara Menangani Haters Tanpa Baper

Pertanyaan saya, sudahkah Anda memikirkan apa dampak status, foto, tautan, atau jenis postingan apapun terhadap pengguna lainnya? Apakah itu membangun mereka? Apakah itu ada faedahnya?


6. Klik "update" baru mikir

[image : yoda.ro]

Ini lucu, tapi benar terjadi. Saya pribadi pernah melakukan ini beberapa tahun lalu. Maklum, saya belum punya komitmen untuk membuat media sosial menjadi berkat, edukasi, dan penggerak. Kalau Anda pernah atau sering melakukan ini, bertanyalah, "Untuk apa saya update status?"

Tak bisa dipungkiri, kebanyakan orang menggunakan medsos demi dianggap ada. Kalau Rene Descartes mengatakan "I think, therefore I am," maka pengguna medsos semacam ini akan mengatakan, "I post, therefore I am." Bagi mereka, eksistensi ditunjukkan dengan adanya postingan baru yang mereka tulis.

Benarkah harus demikian?


7. Cek like dan komentar berulang-ulang

[image : bizpenguin]

Fenomena ini lebih sering saya lihat ketimbang nomor 6. Alasannya masih sama. Pengguna ingin orang tahu bahwa dirinya eksis. Lebih dari itu, pengguna ingin tahu apakah orang sudah tahu bahwa dirinya eksis. Nah lho, agak bingung ya.

Dengan cek like dan komentar, pengguna akan tahu seberapa banyak orang yang menyadari keberadaannya dan seberapa banyak orang yang akan suka dengan tindakan terupdatenya. Dengan 3000 teman, pengguna pasti punya ekspektasi terhadap jumlah likers status terbarunya. Jika sudah terbiasa dengan like ratusan, sulit baginya untuk menerima bahwa di postingan kali ini dia hanya mendapat puluhan like.


Sebelum saya tutup, saya mau memberikan komentar terhadap beberapa hal di atas.

Pengguna-pengguna seperti ini sebenarnya sedang mencari penerimaan dari pihak lain. Mereka adalah orang-orang yang punya kekosongan, butuh diisi. Sayangnya mereka mengisinya dengan info-info paling baru, like dan komentar orang lain, teman yang banyak, dan pemenuhan-pemenuhan lainnya. Sayangnya, mereka seperti ember kosong yang tidak akan pernah terisi penuh, sebab mereka mencari pemenuhan yang salah.

Kalau Anda juga pernah atau bahkan sering melakukan hal-hal di atas, artinya Anda punya gejala tidak sehat dalam bermedsos. Arti lainnya, bisa jadi Anda juga sedang mencari pemenuhan diri di media sosial, di mana itu tidak akan pernah terpuaskan.

Last but not least...

Selain Anda harus mengoreksi apa dan siapa yang menjadi cara pemenuhan diri yang sebenarnya, Anda juga harus ingat apa dampak dari aktivitas anda di media sosial terhadap orang lain.

Segala sesuatu diperbolehkan. Benar. Tetapi tidak segala sesuatu berguna. Tidak segala sesuatu membangun. Lakukan hal yang berguna dan membangun.


Mari belajar menggunakan media sosial dengan bijaksana. Simak tulisan-tulisan berikut ini :

9 Tipe Mama-Mama Muda di Media Sosial

Cinta di Dunia Maya, Cinta di Dunia Nyata: Belajar Mencintai di Era Sosial Media

Membagikan Berita Kriminal lewat Media Sosial? Hati-Hati, Ungkapan Keprihatinan Anda Malah Bisa Menjadi Inspirasi bagi Para Pelaku Kejahatan!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Awas! Inilah 7 Tanda Anda Bermedsos Ria dengan Tidak Sehat". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Abel Kristofel | @abelkristofel866

Mahasiswa Sarjana Teologi di Malang Tertarik dengan filsafat, logika, politik, dan musik

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar