Asal Kita Peduli, Bermartabat di Mata Dunia Bukanlah Mimpi. Untuk Indonesia yang Hebat, Bangkit!

Reflections & Inspirations

[Image: indonesiantatler]

4.1K
Selain Pancasila, Pancakarya inilah yang bisa membuat Indonesia bangkit dan bermartabat di mata dunia.

Winter. Siang hari.

Saya sedang berada di all-you-can-eat restaurant. Saat hendak mengambil ice cubes, saya melihat seorang anak bule sedang mengambil es batu. Meskipun gelasnya sudah penuh, dia membiarkan potongan-potongan es itu meluncur terus dan berhamburan di lantai.

“Lihat itu!” ujar seorang ayah Indonesia kepada dua putranya, “Jangan terus meremehkan Indonesia. Lihat, anak-anak orang kulit putih pun bisa tidak behave seperti itu!”

Terus terang saya bangga sekali. Ayah itu begitu bijak. Dia tahu anaknya sering membanggakan negara empat musim ini ketimbang kampung halamannya sendiri di Jakarta.

Dari peristiwa kecil bermakna besar di atas, saya mencoba menyelam ke dalam telaga jiwa untuk menemukan mutiara-mutiara berharga bangsa Indonesia yang tidak kalah, bahkan bisa melebihi mutiara mancanegara. Inilah hasil penyelaman saya.

Selain Pancasila, Pancakarya inilah yang bisa membuat Indonesia bangkit dan bermartabat di mata dunia.



1. Pepes yang bikin apes

Di dalam perjalanan internasional, saya minoritas karena hampir semua kursi penumpang diisi oleh orang-orang asing. Sebagai seorang sanguin, saya biasa mengobrol dengan teman seperjalanan. Saat daftar menu makan siang diedarkan pramugari, saya lihat orang-orang asing itu bingung menentukan pilihan. Saat melirik sekilas menu di tangan saya, saya lihat ada ‘pepes ikan’ di sana. Dengan suara yang sedikit saya keraskan, saya berkata, “Wah, ada makanan favorit saya. Menu ini enak sekali.” Pancingan saya mengena. Orang-orang ‘asing’ itu langsung menoleh ke saya dan minta penjelasan lebih lanjut.

Dengan antusias saya katakan bahwa ‘pepes ikan’ adalah salah satu menu Indonesia yang bukan saja lezat tapi juga bermanfaat. Promosi saya sukses. Teman-teman yang duduk sederet, di depan dan di belakang saya, memilih menu ini. Tentu saja saya senang sekali. Namun, kesenangan saya tidak lama. Begitu makanan itu tersaji di depan saya dan saya cicipi, saya mengernyitkan dahi saya. Pepes ikan di depan saya hambar. Saya bukan hanya kecewa, tetapi kecewa berat! Menu yang saya gembar-gemborkan enak sekali ini ternyata tidak sesuai lidah mereka, juga lidah saya! Berpasang-pasang mata memandang saya. Seorang yang tepat duduk di sebelah saya berkata, “Tidak terlalu enak, ya?” Dia mencoba sopan, namun saya salah tingkah.

Pelajaran pahit apa yang saya terima?

Saya telah melakukan blunder yang dalam istilah marketing disebut ‘over-promise, under-deliver’, iklan saya jauh lebih baik ketimbang kenyataan.

Sejak itu saya berhati-hati dan lebih memilih untuk ‘under-promise and over-deliver’ yang dalam bahasa iklan foto ‘lebih indah dari warna aslinya’.



2. Tempe yang lezat dan bermanfaat

Meskipun pengalaman di atas membuat saya keder, tapi saya tidak minder. Jika menu pepes di atas pesawat itu jauh di bawah harapan, bukan berarti pepes selalu bikin apes. Secara keseluruhan, pepes, bahkan yang dijajakan di warung pinggir jalan, tetap membuat air liur merembes. Artinya, masih lebih banyak hal positif yang bisa kita promosikan tentang Indonesia ketimbang yang jeleknya.

Saat antre makanan di Vancouver International Summer Night Market, saya sempat mengobrol dengan pasangan suami-istri yang dari logat bicaranya berasal dari Inggris. Begitu tahu saya dari Indonesia, sang cowok berkata, “Tempe!” Campuran antara kaget dan senang membuat saya makin intens mengobrol dengan mereka.

“Stop mengatakan bahwa kita adalah bangsa tempe!” Begitu yang sering saya katakan kepada teman-teman dari Indonesia. Mengapa?

Frasa ‘bangsa tempe’ berkonotasi negatif. Kita boleh berkata itu tetapi dengan nada penuh kebanggaan.
[Image: Indonesian Tempe Movement]
Mengapa? Karena tempe bukan saja lezat tapi juga bermanfaat.

Saya pernah membaca bahwa tempe justru dipatenkan di Jepang dan Amerika. Waktu berita itu muncul bertahun-tahun yang lalu, sebagian dari kita sempat kebakaran jenggot tidak peduli apakah itu berita benar atau hoax, padahal, setahu saya yang bisa dipatenkan itu adalah teknik pengolahan makanannya, bukan jenis makanan itu sendiri.

Mari kita lebih cerdik. Jika ‘asap’ itu membuat kehebohan, bagaimana sih sebenarnya ‘apinya’? Ini! Kita dibuat gusar jika makanan yang menurut kita adalah ‘ciptaan bangsa dewek’ namun diakui dan diklaim oleh negara lain. Ingat kasus wayang yang dikabarkan diakui Malaysia dan membuat kita teringat kembali pekikan Bung Karno ‘Ganyang Malaysia’?

Di sisi lain, kita sendiri meremehkan tempe. 'Bangsa tempe' sekali lagi berkonotasi negatif, yaitu bangsa yang lembek dan murahan.
[Image: twitter @tempemovement]
Padahal, tempe itu gurih, renyah sekaligus membuat makan kita jadi lebih bergairah.

Anak sulung saya yang terbiasa dengan makanan internasional ternyata sangat menggemari tempe. Saat makan di ‘penyetan’, istri pesan udang penyet, anak gadis saya bakso dan telur penyet, anak bungsu saya ayam penyet dan saya empal penyet, anak saya Yonatan justru memilih tempe penyet.

Jadi, jika bangga,
mengapa tidak mau menikmatinya?

Mengapa banyak pejabat yang menggembar-gemborkan, “Pakai produk dalam negeri” ternyata lebih suka memakai barang-barang branded luar negeri? Jangan berkoar-koar anti asing namun membeli dan memakai jasa luar negeri yang membuat dompet kering!

Baca Juga: Mengapa Generasi Muda Tak Bangga Akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, Ini Pengamatan Saya



3. Diaspora boleh asal bukan untuk hura-hura

Presiden Jokowi saat bertemu dengan para mahasiswa di Sydney menghimbau agar selesai studi mereka pulang ke tanah air untuk membangun Ibu Pertiwi. Ada yang nasionalismenya tergugah. Ada yang ogah.

[Image: Grid.id]
Apakah yang enggan pulang serta merta kita cap tidak nasionalis? Alangkah naifnya. Nasionalisme tidak bisa diukur dengan pulang tidaknya mereka yang belajar di luar negeri.

Waktu tugas belajar di luar negeri, saya pernah tinggal sekamar dengan seorang bapak asal India. Meskipun kami tinggal di hotel milik orang Amerika, makan makanan khas Amerika, berada di masyarakat yang bergaya Amerika, tetapi bapak itu tetap cinta India. Dalam berbagai kesempatan mengobrol, dia selalu mempromosikan India dan berbagai kelebihannya. Saat berpisah, dia berkata, “Kapan saja you ke India, kontak saya. Saya akan ajak you jalan-jalan.” Tentu saja saya gantian mempromosikan Bali, Bromo, Borobudur dan Blitar - kota kelahiran saya ... hehehe ...

Kita boleh saja berdiaspora ke berbagai negara di dunia, tetapi jauh di lubuk hati kita yang terdalam, jangan pernah lupakan akar kita, Indonesia. Justru di negara oranglah kita bisa menjadi duta-duta Indonesia. Kita tidak perlu menjadi duta pariwisata atau bahkan diplomat untuk mempromosikan negara kita. Lewat karakter kita yang luhur dan karya kita yang adiluhung, kita bisa jadi duta-duta besar tanpa kantor kedutaan.

Baca Juga: Selama Studi di Swedia, Inilah 4 Hal Sederhana yang Membuat Saya Makin Mencintai Indonesia



4. Pulang kampung tanpa mental kampungan

Saya terpaksa menggunakan istilah ‘kampungan’ karena inilah yang sering kita dengar, padahal, tinggal di kampung bukan sesuatu yang memalukan. Saya sendiri selama belasan tahun tinggal di kampung dan enjoy-enjoy saja. Saya tidak merasa minder bersanding dengan ‘orang kota’ yang tinggal di perumahan mewah maupun apartemen megah.

Mental ‘kampungan’ adalah perilaku yang jelas berlawanan dengan nilai-nilai adiluhung bangsa kita yang ulung.

Jika kita punya kesempatan untuk belajar atau berkarya di luar negeri dan punya kerinduan yang besar untuk ‘pulang kampung’, mari lakukan tanpa wajah murung.

Banyak program pemerintah yang bisa kita dukung.

Saat makan di sebuah restoran, di sebelah saya duduk seorang pakar kimia dari Amerika. “Apa yang membuat Bapak pulang ke Indonesia?” Atas pertanyaan itu dia menjawab, “Bapak Jokowilah yang membuat saya ingin kembali dan membangun Indonesia!” Entah karena tawaran langsung dari Bapak Presiden atau karena terbakar nasionalismenya dengan pidato RI 1 ini, nyatanya dia kembali.

[Image: merdeka.com]

Di dalam kehidupan saya pribadi, berkali-kali saya ditawari untuk tetap tinggal dan berkarya baik di Singapura, Australia maupun Kanada, namun saya - tepatnya istri ... hehehe ... - memilih untuk tinggal dan bekerja di Indonesia. Kami merasa lebih dibutuhkan - atau saya yang lebih membutuhkan wkwkwk - Indonesia. Jadi, jangan sampai tubuh kita pulang ke Indonesia, tetapi ‘roh dan jiwa’ kita masih berada di mancanegara. Gaya hidup dan cara bicara kita ‘kebarat-baratan’ yang membuat telinga kita gatal karena geli. Orang Indonesia, bisa berbahasa Indonesia, tapi ngomongnya seperti orang bule ... hehehe.

Baca Juga: Bodoh dan Naif, Begitu Komentar Orang Terdekat, ketika Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia setelah Bertahun-tahun Tinggal di Luar Negeri. Ini Kisah Kami



5. Mendamba Indonesia bersih tapi tetap korupsi

Saya pernah membaca tentang seorang rohaniwan kita yang mengikuti konferensi internasional di Jerman. Saat keluar dari hotel di pagi hari, dia jalan-jalan di tepi sungai Rhein. Dia dibuat kagum oleh sungai yang bersih dan indah ini. Lewat tulisan di blog-nya, dia menyindir kita yang seringkali mengatakan bangsa asing itu kafir tetapi ternyata beriman lewat tindakan.

Jika kita ingin Indonesia bangkit, mari bertobat bersama. Artinya,

Seluruh lapisan masyarakat dimulai dari yang paling atas - bukankah ikan membusuk dimulai dari kepala - bertekad untuk hidup bersih, terutama dari korupsi, agar alam Indonesia menjadi bersih.
Bukankah kebersihan seharusnya dimulai dari dalam?


Saya pernah membaca berita tentang Tiongkok. Ketika ada seorang pejabat tinggi negara dilantik, di dalam gedung pelantikan itu ada 100 peti mati [angkanya saya tidak tahu pasti karena lupa], padahal pejabat yang dilantik ada 99.

Dia berkata, “Jika ada di antara kalian yang korupsi, peti mati itu untuk kalian semua.”

Ketika ada yang bertanya, “Lho kok ada 100 peti?” dengan tegas dia berkata,

“Peti yang keseratus untuk diri saya sendiri jika saya terbukti korupsi!”

Luar biasa, bukan?

Baca Juga: E ... KTP Lagi KTP Lagi: Dari Kasus Megakorupsi Pengadaan e-KTP, Ini yang Bisa Kita Perbaiki!


Saya percaya, haqqul yaqin, jika kita melakukan Pancakarya di atas, Indonesia bukan saja bangkit tapi menjadi negara yang berbau harum di mata dunia!


Ayo bangkit di Hari Kebangkitan Nasional!


"Beda agama, beda bahasa, beda warna kulit,

tapi satu dalam jiwa Indonesia

dan semangat Pancasila."



Baca Juga:

Berbeda tetapi Memilih Menjadi Kuat Bersama. Dari Gang Kecil Seteran untuk Indonesia, Sebuah Kisah Nyata

Setelah 71 Tahun Indonesia Merdeka, 4 Hal Ini Ternyata Masih Menjajah Indonesia. Ayo Lanjutkan Perjuangan Kita!

Untuk Indonesia yang Lebih Baik: Bakti Bagi Keluarga dan Negeri




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Asal Kita Peduli, Bermartabat di Mata Dunia Bukanlah Mimpi. Untuk Indonesia yang Hebat, Bangkit!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar