Apakah Saya Salah Memilih Pekerjaan? Mantapkan Pilihan lewat 3 Hal Ini

Work & Study

photo credit: Glamour

7.3K
Pekerjaan adalah hal yang sehari-hari kita jalani. Salah memilih pekerjaan berarti membuat hari-hari terasa berat dan tidak menyenangkan. Mantapkan pilihan lewat 3 hal ini.

Apakah saya salah memilih memilih pekerjaan?

Pertanyaan ini seringkali berkecamuk dalam kehidupan seorang profesional muda. Galau, apakah profesi yang sedang ditekuni sesuai dengan apa yang benar-benar diinginkan?

Apalagi jika kini, kita sedang menghadapi berbagai masalah yang tiada henti. Seakan-akan jalan menuju kesuksesan tak juga tampak. Rekan kerja yang bagai saingan, penghasilan yang pas-pasan, hasil yang terasa tak sebanding dengan usaha, benarkah ini jalan yang Tuhan tunjukan?

Tahun 2004 lalu, saya baru saja lulus SMA. pengalama keluar masuk rumah sakit semasa kecil membuat saya memutuskan untuk mengambil jurusan kedokteran. Terlebih orang tua meyakini bahwa saya tak berbakat menjadi pembisnis lantaran sifat saya yang mudah sekali percaya orang.

Menjadi dokter bagai pilihan yang terbaik kala itu. Berpenghasilan lumayan dan memiliki prestise dengan label dokter yang menjadi panggilan kelak. Akhirnya, tekad menjadi mahasiswa fakultas kedokteran semakin bulat.

Saya pun bisa dengan bangga menjawab jurusan kuliah tiap kali ada yang bertanya. Waktu terus berjalan, 6 tahun belajar dan saya pun menjadi seorang dokter. Ternyata kenyataan tak seindah harapan. Menjadi seorang dokter bukanlah akhir perjalanan, justru perjuangan saya baru dimulai. Saya diterima bekerja di sebuah RS Swasta di Surabaya. Pekerjaan kami tidak mengenal waktu. Jaga hingga 24 jam sehari bukan hal yang aneh. Jatah libur pun hanya 2 hari dalam 1 bulan.

Penghasilan pun, rata-rata seperti pegawai pada umumnya. Setelah 8 bulan bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk mengabdi di daerah pedalaman. Saya ditempatkan di sebuah kabupaten di pedalaman Papua. 1 tahun pengalaman yang tak terlupakan. Bagaimana saya berjuang berjalan di hutan berhari-hari hanya untuk melayani masyarakat di kampung. Memberikan pengobatan pada mereka yang tidak memiliki akses ke tempat pengobatan. Tidur di gubuk pinggir sungai tanpa listrik dan air. Belajar hidup bersama masyarakat. Tidur beralaskan tikar, mandi di sungai, berburu rusa untuk makan.

Baca juga: Lulus S1: Kerja atau Lanjut S2? 3 Pedoman Ini Akan Membantumu dalam Mengambil Keputusan

Singkat cerita, saya kembali ke Surabaya untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Menjadi seorang spesialis. Tidak mudah kalau berpikir bagaimana menghidupi diri sendiri ketika sekolah. Membutuhkan 5 tahun lagi untuk menjadi seorang spesialis.

Saat teman-teman sebaya saya sudah bekerja dan menapaki jalan sukses mereka, saya masih bergumul dengan perjuangan saya sendiri. Tidak ada penghasilan, bahkan harus membayar uang sekolah.

Di umur saya yang sudah mencapai kepala tiga, malu rasanya masih meminta dukungan dari orang tua. Karena seharusnya sayalah yang memberikan dukungan kepada mereka.

Di masa- masa terberat saya, muncul suatu pemikiran di benak saya. Apakah memang menjadi dokter adalah jalan Tuhan bagi hidup saya? Apakah bukan saya yang memaksakan diri padahal seharusnya jalan saya bukanlah menjadi dokter?

Berbagai kegagalan demi kegagalan di masa lalu berputar seperti film di dalam kepala saya. Gagal saat mendaftar kuliah pertama kali, gagal saat ujian sehingga harus mengulang beberapa mata kuliah, gagal saat mendaftar bekerja di RS, bahkan gagal hingga 4x ketika mendaftar sekolah spesialis!

Tetapi ketika saat-saat itu muncul, saya menguatkan kepercayaan saya kepada Tuhan dan yakin semua itu sudah ada dalam rencana-Nya. Saya menemukan 3 hal ini yang membuat saya percaya saya sudah memilih profesi yang tepat.

Baca juga: Jenuh dengan Pekerjaan? Jangan Buru-Buru Resign, Coba Lakukan Dulu 3 Hal Ini!


1. Temukan apa passion Anda

Herannya, saya menikmati hari-hari saya yang berat. Belajar hingga larut malam, melayani puluhan bahkan ratusan pasien di poliklinik, tidak tidur hingga lebih dari 24 jam karena harus berjaga di UGD, mengerjakan laporan, ataupun tugas ilmiah yang berjibun. Capek? Banget! Tetapi saya tidak merasa itu sebagai beban.

Walt Disney adalah orang yang berani hidup dengan impiannya. Kegemarannya akan menggambar tampak sejak masih belia. Bahkan di usianya yang masih kecil dia sudah mendapat uang tambahan dari hasil menjual lukisannya pada tetangga. Tetapi kesuksesan Disney tidak datang secara instan. Dia sempat bekerja sebagai pekerja di kereta api, penjual koran, bahkan sebagai supir ambulans. Akhirnya Disney memutuskan untuk mendirikan perusahaan animasinya sendiri. Sempat menerbitkan beberapa animasi dan tidak laku di pasaran, perusahaannya pun bangkrut karena hutang. Tetapi dia tidak menyerah. Tahun 1928, Disney menciptakan Mickey Mouse. Sejak saat itu namanya makin dikenal di seluruh dunia. Selama masa hidupnya, Disney menerima 22 penghargaan Academy Awards dan merupakan pendiri Disneyland dan Walt Disney World.

Pernahkah anda berpikir, “Jika waktu dapat berputar kembali, apakah anda akan tetap menjalani pilihan hidup anda sekarang?”

Jika Anda bertanya kepada saya sekarang, saya akan berkata “Saya dengan senang hati mau mengulangi semua yang telah saya lalui untuk menjadi seorang dokter!" Mengapa saya bisa begitu yakin? Karena ternyata dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya sangat mencintai profesi ini. Apakah Anda mempunyai passion di dalam pekerjaan sekarang? Kalau iya, mungkin memang Tuhan tempatkan Anda di tempat sekarang

Baca Juga : Inilah 6 Alasan Mengapa Kamu Harus Memilih untuk Bekerja Sesuai dengan Passionmu, walaupun Gajinya Belum Tentu Memuaskan


2. Ingatlah bahwa selalu ada jalan dan titik terang dari tiap kesulitan


Ketika kita mengalami kegagalan demi kegagalan dan kita tidak menyerah, selalu ada jalan untuk kita bisa mengatasi hal tersebut. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Selalu ada ‘invisible hand’ yang akan menolong ketika kita jatuh. Ketika saya merasa tidak yakin dengan jalan hidup saya, saya selalu menemukan jalan kembali. Dari sinilah saya makin percaya bahwa saya tidak salah dalam memilih pekerjaan ini.

Baca Juga : Tak Berani Mengambil Risiko? Takut Menghadapi Kegagalan? Satu Pertanyaan Penting ini Akan Membantumu Mengalahkan Rasa Takut dan Melangkah Maju


3. Jangan jadikan uang sebagai pertimbangan yang paling utama

“Apple’s goal isn’t to make money. Our goal is to design and develop and bring to market good products. We trust as a consequence of that, people will like them, and as another consequence, we’ll make some money. But we really clear about what our goals are”

Sepenggal kalimat dari Steve Jobs, mantan CEO legendaris Apple ini dengan tegas mengatakan bahwa uang bukan tujuan utama dari perusahaannya. Uang akan mengikuti dengan sendirinya ketika perusahaan mencapai tujuannya yaitu membuat sebuah produk yang bagus. Nah, apa yang menjadi tujuan profesi anda saat ini?

Kesuksesan menurut kacamata dunia seringkali mengenai uang dan kekuasaan. Tetapi menurut saya, kesuksesan itu jika kita bisa konsisten menjalani panggilan hidup kita, enjoy it, dan dapat menjadi berkat buat orang lain.


Bacalah artikel-artikel yang memberikan inspirasi untuk perjalanan karirmu :

Setelah Menulis Biografi Orang-orang Sukses, Saya Menemukan Sukses Sejati Hanya Membutuhkan Satu Hal Ini

Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis

How to Sell Yourself: Rahasia Sukses 'Menjual Diri' dan Meraih Keberhasilan dalam Hidup

Bagaimana Cara agar Sukses Menaklukan Wawancara Kerja? Simak 'Bocoran' dari Seorang Pimpinan HRD Perusahaan Besar di Indonesia






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Saya Salah Memilih Pekerjaan? Mantapkan Pilihan lewat 3 Hal Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Aldrich Liemarto | @aldrichkl

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar