Apakah Orang yang Berpacaran Lebih Bahagia daripada yang Masih Single? Inilah Realitanya!

Love & Friendship

Dokumentasi Pribadi Talk Talk Talk

3.9K
Apa saja yang kalian lakukan untuk menghilangkan rasa kesepian? Apakah mencari pacar termasuk salah satu di dalamnya?

Ketika saya memutuskan fenomena kesepian sebagai tema skripsi kampanye sosial, pertanyaan spontan pertama kebanyakan orang adalah, "Kesepian? Kamu kesepian kah?" atau "Ini pengalaman pribadi, ya?".

Sebetulnya, semua orang pasti pernah mengalami kesepian. Tentu saja, karena kesepian merupakan fenomena sosial bagi semua orang, seperti wabah. Termasuk saya juga.

Lalu apakah yang saya lakukan untuk menghilangkan rasa kesepian?

Brendan Myers dalam video TedX berkata, "Loneliness is not the problem; the problem is everything we do to avoid loneliness. Addiction is the effect of loneliness."

Tidak disangka bahwa ternyata kondisi kesepian adalah hal yang wajar, letak bahayanya justru ada pada cara setiap orang mengatasinya.


Indahnya Berpacaran

Suatu hari ketika saya masih di bangku SMA, seorang teman dekat menanyakan sesuatu, tepat seminggu setelah saya pacaran untuk pertama kalinya.

"Kenapa kamu mau pacaran dengan dia?" teman saya ini berusia setahun lebih tua dan baru saja putus, karena merasa hubungannya tidak kemana-mana. Hanya stucked di tempat yang sama tanpa kejelasan masa depan.

"Karena dia orangnya baik, pengertian dan dewasa. Dia bisa mendengarkan curhatku dengan baik, ia banyak menasehati aku, ia membantuku ketika kesusahan, aku merasa nyaman bersama dengan dia." jawabku berusaha serius dan bijak. Saya benar-benar berpikir ketika menjawab ini, tidak asal-asalan.

"Itu aja? Kalau seperti itu, kenapa tidak berteman saja? Apakah harus berpacaran? Itu kan tidak ada bedanya dengan berteman."

Hmm.

Saya hanya bisa terdiam. Awalnya mau membalas, tetapi untungnya pikiran saya berpikir cukup cepat, "iya juga ya apa yang dia bilang." Kemudian sahabat saya pergi meninggalkan orang yang sedang bingung ini memikirkan jawabannya. Saya tahu kami pacaran dengan motivasi serius yang, jika Tuhan berkenan, bisa menuju sampai pernikahan. Saya juga tidak sembarangan mau pacaran dengan pria manapun. Tetapi percakapan ini membuat saya bertanya, "kenapa ya saya mau pacaran?"

Tiga tahun kemudian saya mengetahui jawabannya. Tidak hanya itu, saya juga menemukan kasih dan penyertaan Tuhan yang berlimpah-limpah, melihat hubungan kami masih utuh dan tidak pernah bertengkar hebat. Ya, memang kami berusaha, tetapi jelas hubungan ini bisa bertahan karena-Nya.

Jadi, apa alasan saya mau pacaran dengan dia SAAT ITU?

Karena saya merasa kesepian. Karena saya melihat pernikahan sebagai jalan keluar dari pertengkaran di keluarga saya. Karena saya melihat pernikahan sebagai 'happily ever after'.


Dokumentasi Pribadi Talk Talk Talk


Indahnya Berpacaran Sebagai Pelarian (?)

Semenjak masa kecil hingga SMA, hubungan keluarga saya tidak begitu baik. Ada pertengkaran-pertengkaran kecil setiap hari, dan beberapa pertengkaran besar dalam sebulan yang biasanya berakhir dengan salah satu keluar dari rumah. Melalui teman, perenungan, film, dan buku, saya memiliki pandangan tertentu mengenai keadaan keluarga ideal. Dan apa yang saya lihat berkebalikan dengan gambaran keluarga ideal tersebut. Saya tidak merasa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Beberapa kali orang tua mengakui lebih menyayangi kakak saya dan menolak saya. Saya tahu mereka tidak bermaksud begitu, karena mereka merasa menyesal di kemudian harinya. Tetapi . . .

A sense of belonging adalah sesuatu yang hilang dari kehidupan saya. Dan itu membuat saya kesepian.


Seen. Heard. Valued. Adalah ketiga hal penting dalam menjalin hubungan, entah itu hubungan keluarga, pertemanan, maupun pacaran. Semua orang ingin dilihat secara nyata bukan melalui layar kaca (seen), didengarkan atau disimak dengan baik bukan hanya sambil lalu saja (heard), dan terutama dihargai sebagai bagian dari satu sama lain (valued). Dalam artikel lalu, saya menuliskan beberapa gejala kesepian yang adalah sebagai berikut:

Kesusahan menikmati aktifitas sendirian, tidak tahu ingin menghubungi siapa, tidak bisa menikmati kesendirian, merasa tidak ada yang bisa mengertimu, serta mendambakan seseorang untuk menemani. Mungkin kamu bertanya-tanya, "ini semua kok mirip-mirip ya?"

Ya! Gejala-gejala kondisi kesepian memiliki satu kesamaan, yaitu a sense of belonging.


Kehadiran orang lain yang sangat dekat dalam hidup saya sepertinya adalah ide yang bagus, ia bisa menjadi pengganti kasih sayang yang susah didapatkan. Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang pria yang satu setengah tahun kemudian menjadi pacar saya. Dan tiba-tiba masa depan saya terlihat begitu indah, saya mulai memimpikan ini dan itu.


Indahnya Berpacaran Ternyata Tak Seindah yang Dipikirkan

Saya memimpikan:

Saya bisa membentuk keluarga baru yang lebih harmonis. Tapi itu hanyalah impian karena saya tidak tahu gambaran pacaran seperti apa, sehingga kami beberapa kali bertengkar.

Saya bisa sering jalan-jalan berdua dengannya, kabur di rumah yang berisik dan sesak karena pertengkaran. Tapi itu hanyalah impian karena saya tidak tahu gambaran pacaran seperti apa, sehingga saya sering menuntut ini itu di tengah kesibukan pekerjaannya.

Saya bisa sering meminta perhatiannya, di kala susah saya dapatkan dari keluarga. Tapi itu hanyalah impian karena saya tidak tahu gambaran pacaran seperti apa, sehingga saya sering mengharapkan telpon dan chatting yang intents di tengah kesibukan pekerjaanya.

Saya bisa memiliki masa depan yang penuh dengan kebahagiaan. Tetapi itu hanyalah impian karena saya mengira pernikahan artinya adalah 'happily ever after' secara otomatis.
Dokumentasi Pribadi Talk Talk Talk


Indahnya Berpacaran Bisa Dinikmati Jika . . .


Hasil survei cukup membuktikan bahwa sebenarnya, tanpa mereka sadari, banyak responden yang mengalami kesepian di tengah hubungannya.

Seringkali saya mendengar teman-teman yang saling mengatai satu sama lain, "makanya, cari pacar, supaya nggak kesepian!" Ternyata kenyataanya justru sebaliknya, banyak orang yang berpacaran tetapi sama saja merasa kesepian. Kenapa? Karena mereka memulai hubungan ini sebagai usaha pelarian. Bahkan, menurut penelitian lebih lanjut dari survei ini, poin level kesepian orang yang lajang dibanding dengan yang sedang pacaran adalah nyaris sama.

Beberapa teman saya memilih untuk tetap melajang saja kalau memang yang cocok belum ada. Daripada menjadikan hubungan pacaran sebagai pelarian, yang hasilnya sama saja dengan metode 'tutup lubang gali lubang'.

Setelah menjalani hubungan selama setahun pertama dengan berbagai pertumbuhan yang ada, kami bisa melanjutkannya dengan baik sampai sekarang. Dan itu semua dimulai dari melihat hubungan bukan sebagai pelarian. Kami berusaha saling mengalah, saling mengerti, saling mengasihi tanpa berharap balas, BERSABAR, dan bertanggung jawab. Karena pernikahan itu adalah sebuah covenant atau perjanjian, bukan hanya berdasarkan cinta.


Bahaya dari kesepian terletak pada cara orang mengatasinya. Jika kamu sedang menjalani hubungan atas dasar pelarian, silakan dipikirkan kembali, "apakah masing-masing dari kalian merasakan a sense of belonging?"


Tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi untuk berurusan dengan fenomena kesepian :

Masalah Mematikan dengan 5 Gejala Sederhana, Inilah Fenomena Kesepian! Periksa Dirimu lewat 5 Pertanyaan Ini

Masalah Mematikan dengan 3 Solusi yang Ternyata Tak Rumit. Inilah Fenomena Kesepian!

Kesepian di Tengah Keramaian : Inilah 5 Tandanya. Saya Berhasil Mengatasinya dengan Cara Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Orang yang Berpacaran Lebih Bahagia daripada yang Masih Single? Inilah Realitanya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Talk Talk Talk Talking Solve Things | @evelinemustika

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar