Bayi Bukan Boneka, Anak Bukan Mainan: 5 Etika Penting tentang Menjenguk Bayi dan Balita

Parenting

[Image: colourbox.dk]

8.1K
Menjenguk bayi yang baru lahir adalah ungkapan perhatian terhadap keluarga yang berbahagia. Sayangnya, ungkapan perhatian tersebut bisa jadi malah menimbulkan ketidaknyamanan atau bahkan penyakit, bila kita tidak bijaksana melakukannya.

"Ihh ... lucu banget bayinya ..." *cup mwach!*

"Aaghh ... gemesin deh pipinya cempluk ..." *towel*

"Aku mau gendong dongg ..." *langsung tangkep*


Buat ibu-ibu yang baru saja melahirkan, pasti pernah deh berada di situasi penuh dilema seperti contoh di atas. Pasca lahiran, masih dalam kondisi menginap di rumah sakit, lalu dijenguk oleh sanak keluarga dan kerabat. Ditambah lagi, sekarang ini, banyak rumah sakit yang sudah membolehkan - bahkan mendorong - para newborn baby untuk tidur bersama di kamar mommy-nya. Jadi, ketika kita dijenguk, si baby pun otomatis ikut menerima kunjungan dan langsung berinteraksi dengan orang-orang selain mama dan papanya.

Sebagai Mahmud [Mamah Muda] dan Pahmud [Papah Muda], pastinya kita seneng banget ketika ada banyak orang yang datang menjenguk. Itu berarti banyak orang yang menganggap kita penting dan berarti di dalam hidup mereka. Banyak pujian ditujukan untuk bayi mungil kita, dan banyak pula doa yang dinaikkan bagi keluarga kecil kita.

Persoalan timbul ketika para tamu melihat baby kita yang lucu, ginuk-ginuk, gemesin, dan mungkin gemol-gemol [kayak anak saya]. Biasanya, mereka akan langsung merasakan dorongan gemeshh - gemesshh - gemessshhh yang tak tertahankan. Alhasil, habislah si baby menjadi sasaran 'cemek-cemek' mereka. Entah cuma ditowel-towel, dielus-elus, dipegang-pegang, digendong-gendong, atau bahkan ada yang sampai B E R A N I ! mencium baby yang masih gress fresh from the oven ituh!

Haishhhh ...

Untuk kita yang hidup di Indonesia dengan adat ketimuran yang sangat kental, situasi demikian jadi sulit. Atas nama sopan santun, kadang-kadang apa-apa jadi sungkan. Melihat baby-nya dicemek-cemek, sebenarnya si mommy merasa ngga nyaman, tapi sungkan, jadinya ngga berani melarang. Nih, catat baik-baik: Bukan berarti karena si emak diem terus situ jadinya boleh cium-cium baby-nya sembarangan loh, ya!

Oleh karena itu, sebagai tamu, daripada kehadiran kita malah jadi mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan, ada baiknya kita sadar diri dan mengetahui etika-etika penting dalam menjenguk bayi. Berikut beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:


1. Pastikan Diri Kita Sehat

Jangankan flu atau batuk, baru mulai bersin-bersin, badan mulai terasa pegal-pegal, atau 'nggreges' mau sakit aja, sudah deh: urungkan niat untuk menjenguk! Loh, kenapa? Bisa pakai masker, kan? Bisa, tapi ngga menjamin virus tersebut ngga akan nularin si bayi, kan? Perlu diingat dan diketahui, ibu yang baru melahirkan itu badannya ngga fit 100% loh. Gampang banget tertular virus.

Emangnya situ sanggup nanggung dosa kalau sampai si mama sakit dan ngga bisa menyusui?

Sudah sakit, masih harus begadang pula!

Sanggup?

Yakin?

Ngga cuma ketika menjenguk bayi yang baru lahir, berhadapan dengan anak-anak balita pun, kita harus selalu sadar diri. Kalau memang sedang sakit, please jangan pernah dekat-dekat APALAGI pegang-pegang anak orang. Kalau perlu, jangan dekat-dekat dengan orangtuanya juga.

Hah, kenapa? Begini, misalnya saya tertular batuk atau pilek dari Anda. Saya masih harus ngurus si kecil. Sendirian loh, no nanny no mbak. Bayangkan kalau saya sampai KO. Gimana nasib anak saya???



2. Pastikan Kita Bersih

[Image: savatianos.gr]

Kalau mau menjenguk bayi baru lahir maupun balita, sempatkan untuk mandi dulu yang bersih sebelum berangkat. Sampai di tempat tujuan, sebelum memegang si baby, cuci tangan. Ingat, cuci tangan dulu! Ini amat penting, jangan ambil risiko untuk menularkan kuman ke bayi atau anak orang lain.

Jangan merugikan orang lain!

Oh ya, ada satu hal lagi, walaupun hubungan kita dekat sekali dengan orangtua si baby, bukan berarti kita bisa seenaknya masuk ke dalam kamar, duduk di kasur papa-mama - apalagi di ranjang bayi! - dengan masih mengenakan baju yang telah kita pakai untuk menempuh perjalanan sepanjang hari. Jika tidak membawa baju ganti yang bersih, sebaiknya jangan masuk ke kamar bayi.



3. Bawa Hand Sanitizer atau Tissue Basah

[Image: hihhandwash.com]

Kalau memang kepingin banget nowel-nowel anak orang, tapi sedang berada jauh dari wastafel, OK lah, bisa pakai hand sanitizer or tissue basah. Yang penting: selalu sadar untuk menjaga kebersihan sebelum menyentuh bayi atau balita.



4. Perhatikan Bagian Mana Saja yang Boleh dan Tidak Boleh Dipegang

[Image: yourtango.com]

Melihat bayi atau balita yang lucu memang bikin kita ngga tahan untuk pegang-pegang atau gemes-gemes mereka, tapi kita perlu tahu bagian tubuh mana saja yang boleh dan ngga boleh dipegang.

Yang pertama dan paling penting:

Jangan pernah mencium bayi atau anak balita seenaknya, kecuali itu bayi atau anak kita sendiri.

Kemudian, bagian-bagian rawan seperti mulut, hidung, dan segala atribut di wajah bayi, sebaiknya jangan disentuh. Kita tidak pernah sepenuhnya tahu kuman atau virus apa yang sedang bersemayam di tubuh kita. Kalau ternyata kita membawa virus, lalu mencium bayi atau seorang anak, virus itu dapat dengan cepat berpindah dan menyebabkan anak tersebut menjadi sakit. Lalu, jika kemudian ternyata anak tersebut benar sakit, apa yang bisa kita katakan kepada orangtuanya selain 'maaf'?

Pipi. Memang itu salah satu spot favorit buat ditowel-towel. Iya kalau yang nowel cuman satu orang saja, rasanya sih lebih deh, ngga hanya satu. Sudah gitu, satu orang biasanya gak puas kalau hanya nowel 1 kali, harus pula berkali-kali. Pertanyaannya: Kalau pipi si baby jadi ndlewer, melorot, gara-gara di towel-towel, siapa yang akan bertanggung jawab?

Kalau memang harus sekali mencium atau memegang, paling aman ya pegang saja kaki atau tangannya. Jangan lupa untuk mencuci tangan dulu, apalagi sebelum memegang jari-jari tangannya yang mungil. Bayi dan balita itu doyan banget masukin segala sesuatu ke mulut, terutama tangan mereka. Oleh karena itu, penting sekali untuk memastikan tangan kita benar-benar bersih sebelum menyentuh mereka.



5. Memberi Sesuatu pada Bayi atau Balita

Jika hendak memberikan makanan untuk balita, apalagi untuk bayi, please ... mintalah izin dulu kepada orangtuanya. Kenapa? Ini terkait dengan adanya kemungkinan alergi tertentu yang dimiliki oleh si bayi atau balita tersebut. Nah, karena hampir pasti kita ngga tahu anak tersebut alergi atau tidak, atau ia alergi terhadap apa, maka untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, minta izin adalah langkah yang paling tepat. Jangan lupa untuk mencuci tangan dulu sebelum memberikan makanan!

Begitu juga ketika kita mau memberikan barang. Memberikan kunci mobil kepada balita untuk dijadikan mainan, misalnya. Apakah yakin kalau barang itu bersih? Kalau tiba-tiba barang itu dimasukkan ke mulut, gimana? Kalau karena tangan anak yang digunakan untuk memegang barang yang kotor itu masuk ke mulut, lalu si anak diare, gimana???

Oleh karena itu, sebelum memberikan suatu barang untuk dijadikan mainan, pertimbangkan dulu dengan seksama. Usahakan untuk mengelap barang tersebut hingga bersih sebelum memberikannya. Perhatikan juga si anak selagi ia bermain dengan barang tersebut. Dan, kalau misalnya barang yang kita berikan tiba-tiba diambil, dicuci, atau dilap oleh orangtua si anak, tidak perlu tersinggung.

Setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik dan teraman buat anak-anak mereka, kita harus dapat memahami hal tersebut. Bantulah mereka dengan selalu menjaga kebersihan diri dan barang-barang yang kita berikan kepada anak-anak mereka.


Dari sudut pandang orangtua, mungkin dapat dirangkum begini: bukannya mau jahat atau sombong, seolah-olah ngga mau anak dipegang atau digemes-gemes oleh orang lain. Semua orangtua pasti senang dan bangga kalau anak-anaknya disukai orang banyak. Boleh kok, pegang atau gemes-gemes, yang penting, jangan merugikan. Jangan menularkan penyakit atau membuat anak orang sakit.

Bayi bukan boneka. Anak bukan mainan.

Mereka bisa menangis. Mereka bisa merasakan sakit. Dan ketika mereka sakit, papa mama mereka pun akan turut merasa sakit, sedih melihat anak-anaknya kesakitan. Mungkin sebagian dari kita belum merasakan ini, tapi suatu hari, setelah menjadi orangtua, pasti akan mengerti.

Oleh karena itu, yuk, mari sama-sama belajar beretika yang baik!



Baca Juga:

9 Tipe Mama-Mama Muda di Media Sosial

Bayi Sering Digendong dan Dipeluk: Bau Tangan, Manja, atau Justru, Sehat Jiwa Raga?

Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya

Setelah Lama Menikah dan Tak Kunjung Hamil, Saya Lakukan Bagian Saya untuk Memeriksa 7 Hal ini. Akhirnya Anugerah Kehidupan itu Diberikan kepada Saya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bayi Bukan Boneka, Anak Bukan Mainan: 5 Etika Penting tentang Menjenguk Bayi dan Balita". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Camilla Mardi Pratjaja | @camillamp

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar