Perselingkuhan di Depan Mata: Diam, Tegur, atau Masa Bodoh?

Marriage

[Image: ferrareli-coaching.com]

8.1K
Berdiam diri adalah suatu kepengecutan, ketika yang dibutuhkan dari diri kita adalah pernyataan kebenaran dan sebuah tindakan nyata.

Hari Sabtu, Malam Minggu.

Anda masuk ke sebuah resto yang cukup berkelas bersama keluarga Anda. Sambil menunggu pesanan Anda dihidangkan, Anda melihat-lihat suasana resto tersebut. Mata Anda tertumbuk pada pemandangan sejoli di hadapan Anda.

Sejoli ini duduk berdampingan membelakangi pintu masuk. Jadi, wajah keduanya tak mudah dikenali dari arah depan. Namun, dari sosok mereka, Anda dapat menilai bahwa si pria kira-kira berumur 35 tahun, dan si perempuan kira-kira berumur 25 tahun.

Tampak dari bahasa tubuh mereka bahwa kedua orang ini pastilah bukan suami-istri dan masih dalam tahap berpacaran. Si pria asyik bercerita ini-itu dan tampak menikmati sore hari itu, sementara si perempuan sesekali menimpali obrolan si pria. Di hadapan mereka terhidang dua mangkuk la mien dan semangkuk es salju dengan dua sendok, yang artinya pencuci mulut itu dinikmati bersama-sama.

Sementara Anda masih menikmati pesanan Anda, dua sejoli itu tampaknya sudah selesai dengan makan malam mereka. Si pria memanggil pelayan untuk membayar dan kemudian keduanya berdiri meninggalkan tempat duduk. Mereka berjalan keluar dan melewati tempat Anda duduk bersama keluarga, karenanya Anda dapat melihat dengan jelas keseluruhan penampilan mereka. Di dalam hati, Anda bertanya-tanya, “Pria ini duda atau jejaka tua, ya? Kok baru ‘pendekatan’ di umur yang cukup mapan?” Tetapi apapun jawabannya, tak jadi masalah. Boleh-boleh saja seorang pria menduda dan ingin mencari pasangan baru; boleh-boleh saja seorang perjaka yang mapan umurnya mulai serius mencari calon istri. Boleh saja. Semuanya normal.


Hari Rabu.

Kemudian, beberapa hari setelah akhir pekan yang lalu itu - seperti sebuah takdir - Anda bertemu lagi dengan si pria yang entah duda atau perjaka tua itu di sebuah mal. Namun, kini Anda tahu bahwa dia bukanlah duda atau perjaka. Pria ini menggandeng seorang perempuan yang umurnya kira-kira 30 tahun dan sedang hamil kira-kira 5 bulanan [karena perutnya cukup besar, tapi juga tidak besar-besar amat].

Ya, itu pria sama yang Anda lihat sedang menikmati Malam Minggu di sebuah resto la mien. Anda tak mungkin salah: Anda ingat cara pria itu tersenyum, dan terutama, Anda ingat bentuk kacamatanya, modelnya agak jadul dan kacanya agak tebal.


Jika Anda mengalami hal ini, apa yang akan Anda lakukan?


Apakah Anda akan mendekati pria itu, mencolek lengannya sedikit, lalu menyeretnya menjauh dari istrinya yang sedang hamil; kemudian berkata kepadanya, “Tega-teganya Anda bersenang-senang di akhir pekan kemarin, sementara istri Anda yang hamil... “

Ataukah Anda akan bersikap seperti saya: menatapnya dari kejauhan, merasa marah dan merasa ikut diperlakukan tidak adil, namun tidak punya cukup nyali untuk menyuarakannya?

Itu kesalahan besar yang saya lakukan. Dan jika suatu kali, kesempatan mempertemukan saya dengan pria berkacamata itu lagi, saya tahu apa yang akan saya lakukan.

Berdiam diri adalah suatu kepengecutan, ketika yang dibutuhkan dari diri kita adalah pernyataan kebenaran dan sebuah tindakan nyata.


"Only cowards hide behind silence." - Paulo Coelho



Baca Juga:

5 Cara untuk Berhenti Mencintai Ia yang Tak Dapat Dimiliki

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

2 Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perselingkuhan di Depan Mata: Diam, Tegur, atau Masa Bodoh?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


martha ekawati pratana | @marthapratana

Ibu dua orang anak, dan istri seorang suami. Menulis, menyunting dan menerjemahkan adalah caranya berpartisipasi di dalam dunia yang terus bergerak ini.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar