Bagi Pacar, Anda Separuh Jiwanya atau Separuh Pembantu Gratisnya? Cek Status Anda dengan 7 Indikator ini

Love & Friendship

[Image: learnwomen.com]

21K
Wanita seringkali terjebak dalam delusi untuk menjadi pahlawan bagi sang kekasih hati.

**

"Rista, gue ga bisa berangkat kuliah besok jam delapan pagi. Baju-baju dan celana dalam Andri harus dicuci dulu."

"Loh, emang lo pakai celana dalamnya Andri untuk kuliah? Gila bener lo, Meg!"

"Enggak lah, tapi gue harus cuci bajunya Andri. Kalau belum dicuci, nanti Andri kuliah pakai baju apa?"

"Kenapa ga bawa ke laundry aja? Terima beres kan, udah harum, disetrika rapi, bisa antar jemput pula."

"Mana bisa gitu? Ini kan tanda cinta gue sama Andri. Eh udah dulu ya, ini Andri nge-line minta dianterin makan malam."

**

Anda pernah mendengar percakapan seperti di atas dari teman-teman dekat? Atau, malah mungkin Anda sendiri yang mengalami kejadian semacam itu? Kalau Anda mengalami hal yang kurang lebih sama, dan Anda merasa seperti ada yang salah dengan itu, namun tidak berani bicara, maka kemungkinan besar Anda berada dalam sebuah abusive relationship, hubungan yang menyiksa. Meskipun terjebak dalam hubungan yang menyengsarakan semacam itu, Anda tetap tidak mampu memutuskan hubungan dengan pacar karena ketakutan-ketakutan tertentu.

**

"Yang, besok senin malam teman-teman datang ke kos aku, mau nobar. Bisa ya, bersihin kamar dan siapin snack? Nanti sekalian aku kenalin kamu ke teman-teman, sebagai pacar tercinta dan terindah di dalam hidup aku."

"Bener aku yang paling terindah? Bukannya Olga, mantan kamu itu?"

"Ah, Olga mah ga selevel sama kamu. You are the best I ever have! Love you, sayangku."

**

Saya sering mendengar percakapan seperti di atas ketika kuliah dan setelah saya memasuki dunia kerja. Yang berbeda dari kisah-kisah itu hanyalah pelaku, setting, waktu, dan jenis pekerjaan 'bersih-bersih' yang harus dikerjakan. Namun, temanya sama dan selalu sama, yaitu: pacar Anda dapat pembantu gratis. Yak, pembantu. Gratis, pula. Bagaimana tidak? Seluruh pekerjaan 'bersih-bersih' Anda lakukan untuknya, tanpa ada sepeser pun bayaran masuk ke dompet Anda.

Nah jadi, bagaimana, Anda itu separuh jiwa atau separuh pembantu pacar Anda?

Coba cek status Anda dengan 7 indikator berikut:


1. Wonder Woman

[Image: ign.com]

Anda merasa kalau hidup pacar akan kacau kalau Anda tidak campur tangan mengurus jadwal makan atau rutinitas kebersihan yang sebenarnya kewajiban pacar Anda sendiri. Dan kalimat-kalimat semacam ini yang biasanya sering Anda jadikan pembenaran, "Itukan tanda cinta pada pacar," "Toh jika kelak menikah, aku akan jadi istrinya. Mengurus suami adalah kewajiban, bukan?"

Wanita seringkali terjebak dalam delusi untuk menjadi pahlawan bagi sang kekasih hati. Ada semacam kebanggaan bila tulang rusuk jadi dewi penolong bagi pemilik hatinya.

Keren sih kedengarannya, tapi ya, kalau dia memang menjadi suami kita kelak. Siapa yang bisa memberikan jaminan? Bahkan sepasang tunangan pun bisa bubar jalan. Selain itu, apakah istri ditakdirkan hanya mengurusi suami dalam hal bersih-bersih dan aktivitas fisik yang lain? Kalau memang begitu, mengapa calon suami Anda itu tidak menikah dengan pembantu saja?


2. 24/7 at Your Service, Sir!

[Image: i.ytimg.com]

Orang bilang saat jatuh cinta, maka perkataan pacar selalu teringang-ngiang di telinga bahkan muncul dalam mimpi. Syukur kalau itu adalah memori indah yang terjalin demi masa depan, namun ketahuilah, pria tidak hidup dalam memori apapun kata-kata yang ia ucapkan.

Jika daftar permintaan pacar mengenai jadwal pekerjaan bersih-bersih atau aktivitas fisik lain tetap muncul hingga larut malam dan sampai mengganggu waktu istirahat Anda, maka mau tidak mau Anda harus mengakui bahwa Anda sudah resmi dimanfaatkan sebagai pembantu gratis 24 jam oleh pacar Anda.

Asisten rumah tangga saja mempunyai hak istirahat dan kenaikan gaji setelah sekian waktu bekerja. Apotek atau rumah sakit dengan pelayanan 24 jam pun melalukan pergantian staff per shift. Bagaimana dengan Anda?


3. Sahabat Anda Protes

[Image: universityy101.com]

"Kamu berubah banget sejak pacaran sama Andi."

Jika protes dari sahabat seperti itu sudah sering terdengar, maka Anda harus benar-benar memerhatikannya. Sering kali pelaku hubungan percintaan tak menyadari keanehaan atau perubahan yang terjadi pada dirinya. Maklum deh, dunia milik berdua yang lain sewa rumah susun.

Selama perasaan cinta sedang berbunga-bunga di dada, maka Anda dapat dikatakan seperti sedang memakai kacamata kuda. Pandangan Anda lurus ke depan, tertuju pada kekasih hati, bagaimanapun pahitnya kenyataan.

Dibutuhkan mata lain yang mampu melihat semuanya dengan sudut pandang yang berbeda. Mata lain yang mampu melihat dengan pandangan yang lebih luas dan lebih jernih. Mata seorang sahabat.

Eh, tapi jangan minta pendapat dari mantan pacar, ya! Karena berpotensi mengandung modus, bahkan bisa jadi Anda tergoda untuk kembali ke pangkuan mantan. Ya kalau mantan lebih baik dari pacar Anda sekarang, kalau ternyata sama buruknya? Keluar dari mulut singa, eh balik ke gua beruang!

Cobalah amati, selama menjalin hubungan dengan pacar, apakah lingkaran pertemanan Anda akan semakin menipis atau cenderung meluas seraya menebal? Jika ternyata menipis, maka sesungguhnya Anda sedang berada di ujung tanduk. Siapa yang menghibur Anda bila sedang patah hati kelak jika bukan teman?

Ingat, lingkaran pertemanan yang menyehatkan bisa memberikan dampak positif yang besar pada semua segi kehidupan Anda. Dan seperti pohon yang berkembang, bertumbuh menjadi besar dan menyejukkan lingkungan sekitarnya, maka pertemanan akan selalu memberikan kenyamanan dalam hidup Anda.


4. Jadwal Pribadi Kacau


[Image: happyworkingmum.com]

Kuliah Anda terbengkalai. Anda sering terlambat masuk kelas, bangun kesiangan karena terlalu lelah dengan kegiatan bersih-bersih yang tidak kenal waktu dan mengurus urusan-urusan pacar lainnya. Di kelas pun Anda sulit berkonsentrasi karena pacar masih saja mengganggu Anda dengan permintaan-permintaan yang kadang tidak masuk akal.

Hari ini Anda mendapat Surat Peringatan dari atasan. Sejak pacaran, Anda hampir selalu terlambat masuk kantor. Bagaimana tidak? Kantor Anda di Jakarta Utara sedangkan kos pacar di Jakarta Selatan. Sebelum masuk kantor, Anda harus memasak dan mengantar sendiri ransum sarapan pacar Anda. Ga kirim pakai G*jek aja? Apa? Pakai G*jek? Kurang cinta, ah!

Setiap pribadi membutuhkan waktu khusus untuk dirinya sendiri. Baik sekedar mojok membaca atau berbincang omong kosong dengan sahabat lama. Dan jika karena pacaran dengannya, waktu pribadi Anda berkurang bahkan nyaris hilang, maka hidup Anda tidak lagi seimbang.

Hidup itu seperti mengendarai sepeda, jika pengendara kehilangan keseimbangan, hanya tinggal menunggu waktu untuk roboh.


5. Dompet Anda Kembang Kempis

[Image: postscript.com.au]

**

"Lo beli nasi bungkus banyak banget. Laper apa doyan?"

"Ini buat Andi kok, bukan gue. Tahu sendiri kalau cowok makannya segunung."

"Ini semua pakai uangnya Andi kan?"

"Enggak, pakai uang gue dulu. Wajar aja kan, saling berbagi."

**

Merantau adalah langkah yang berani untuk menjalani kehidupan baru. dan wajar kalau sesama perantau saling merasakan hubungan emosional yang erat. Saling berbagi ransum juga merupakan sarana yang benar-benar menghemat dan menguntungkan.

Tapi bagaimana dengan hubungan sepasang kekasih? Tak masalah jika saling berbagi, namun akan salah jika wanita menjadi pihak yang selalu memberi dalam frekuensi yang rutin. Bagaimanapun juga, wanita adalah tulang rusuk pria yang berhak memperoleh tanda sayang.


6. Gombal adalah Nama Tengah Pacar Anda

[Image: loop.co.id]

"Tunjuk samudera mana yang harus kutempuh. Akan ku kayuh hatiku ke hatimu."

Bagaimana bisa seseorang yang malas pergi ke laundry, bisa dipastikan mengarungi lautan ke benua lain untuk Anda? Biaya laundry yang hanya 30-100 ribu saja ia geleng kepala katup tangan, apalagi biaya tiket dan akomodasi ke benua lain.

Dan, apakah Anda yakin kalau ia akan mau (dan mampu, sih) membelikan berpuluh kaleng susu untuk anak-anak Anda kelak jika nasi bungkus untuk perutnya saja masih harus disupply oleh Anda?


7. Aktualisasi Diri Zero

Pembantu identik dengan orang yang tidak punya kuasa dalam hidupnya, dan sepenuhnya tunduk dalam perintah majikannya. Hak istirahat, cuti, kenaikan gaji, serta kesempatan pendidikan terletak pada kebijaksaan sang majikan.

Apakah Anda diperkenalkan kepada lingkungan sekitar sebagai pacar? Ataukah ia dengan santai memerintah Anda di depan teman-temannya?

Kalau Anda tidak keberatan, malah bangga dan senang hati, maka cobalah cek apakah Anda mengalami perkembangan positif selama menjadi pacarnya?

Apakah ada waktu untuk aktulisasi diri baik dalam bidang pendidikan atau karier atau fokus Anda hanya jadwal pacar semata?

[Image: static.squarespace.com]

Sebuah hubungan yang baik adalah hubungan yang saling membangun dan menguntungkan. Jika saat pacaran saja Anda sudah dijadikan pembantu dengan zero aktualisasi diri, maka saat menikah dengannya dapat dipastikan hidup Anda tak akan jauh berbeda dari itu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagi Pacar, Anda Separuh Jiwanya atau Separuh Pembantu Gratisnya? Cek Status Anda dengan 7 Indikator ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

VikaKurniawati (VKurnia) | @vika

Owner ciomay280 | Content Writer| www.vikakurniawati.com. IG + Twitter : @VikaKurniawati

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar