Yakin Sudah Cocok dengan Pacar? 7 Perbedaan

Love & Friendship

[Image: cdn.theatlantic.com]

17.1K
Kehidupan pernikahan itu bak dua batu keras yang berkomitmen untuk terus bergesekan bersama. Walau panas, terluka dan terkikis, namun tetap memutuskan untuk bersama.

"Selamat menempuh hidup baru!" demikian ucapan yang biasa disampaikan sanak saudara pada pasangan yang baru saja menikah. Fase hidup baru setelah menikah bagi pasangan muda tentu membawa kesenangan sendiri. Menikmati keromantisan berdua dengan orang yang paling disayangi, tentu merupakan momen yang amat dinanti-nantikan. Namun, selain hal-hal yang dinikmati bersama, tentu ada banyak hal juga yang juga harus diperjuangkan bersama.

Persoalan finansial salah satunya, tetapi bukan satu-satunya. Jika kita jujur melihat orang-orang lain di sekitar kita, ada juga kan pasangan dengan tingkat kesejahteraan ekonomi lebih rendah dari Anda, tetapi tetap dapat menikmati kehidupan bersama pasangan. Berkelimpahan secara ekonomi tanpa kualitas relasi yang baik tidak akan membawa kebahagiaan dalam dunia pernikahan.

Kehidupan pernikahan itu bak dua batu keras yang berkomitmen untuk terus bergesekan bersama. Walau panas, terluka, dan terkikis, namun tetap memutuskan untuk bersama.

Mengapa bergesekan? Karena ada perbedaan-perbedaan yang hadir di antara suami dan istri. Perbedaan-perbedaan prinsip seperti agama, kedewasaan, cara pandang, harusnya sudah dapat dikenali sajak masa pacaran. Dan, jika pasangan merasa hal-hal prinsip tersebut tak dapat ditoleransi, sudah selayaknya hubungan tersebut tidak dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Apalagi dengan alasan kepepet, kebelet, atau bahkan kebobolan.

Pasangan juga dapat memiliki pola pikir yang berbeda, dan hal tersebut adalah hal yang serius. Perbedaan pola pikir tersebut hadir misalnya dalam cara menghadapi dan menyelesaikan masalah, soal ambisi dan dorongan untuk berprestasi di pekerjaan, masalah pengaturan prioritas terhadap pasangan dan keluarga, perihal manajemen rasa cemburu, dan banyak lagi lainnya. Untungnya, sebagian besar hal ini bisa Anda pelajari dan ketahui semasa pacaran. Dengan demikian, proses penyesuaian untuk hal-hal tersebut tidak menjadi terlalu mengejutkan, walaupun tidak berarti mudah juga.

Menariknya, ada perbedaan-perbedaan yang ternyata sulit terdeteksi ketika masa-masa pacaran dan karena itu tidak dikenali.

Setelah menikah, tinggal serumah, tidur sekasur, menghabiskan kebanyakan waktu sepanjang hari bersama, barulah perbedaan itu disadari sebagai hal-hal mengejutkan, bahkan mengjengkelkan. Apa saja perbedaan itu?


1. Perbedaan Pola dan Selera Makan

[Image: blog.anytimefitness.com]

Ketika masih berpacaran, pasangan tentu kerap berkencan dan makan bersama di luar. Selain praktis, karena tidak perlu repot memasak sendiri, masing-masing juga dapat dengan mudah memilih menu makanan sesuai dengan selera dan keinginan. Dan, jika makanan yang dipesan ternyata tidak sesuai selera, mudah saja: tidak perlu dihabiskan.

Nah, ketika sudah memasuki kehidupan pernikahan sebagai suami istri, di mana biasanya istri akan memasak untuk suami atau sebaliknya, perbedaan selera makan bisa jadi masalah.

Bayangkan saja misalnya, seorang suami yang merasa lelah dan lapar pulang ke rumah setelah bekerja seharian. Di dalam perjalanan pulang, Ia sudah membayang-bayangkan untuk menikmati makan malam dengan menu favorit'nya': rawon daging lengkap dengan empal dan sambal terasi di rumah. Di rumah, sang istri yang baik dan berbakti sedang sibuk memasak, menyiapkan menu favorit'nya' sebagai makan malam untuk suami tersayang. Si suami tiba di rumah, makan malam pun sudah siap, terhidang rapi di meja makan. Rawon daging? Sayangnya bukan! Lalu apa? Ternyata, menu favorit'nya' sang istri: tumis pare!

Di tengah kelelahan, si suami merasa kecewa. Terlebih lagi sang istri, yang sudah susah payah memasak, ketika masakan hasil kerja kerasnya tidak dijamah sama sekali oleh suami.

Ada banyak perbedaan soal selera makanan. Mulai dari bahan: sayur atau daging; cara memasak: goreng, tumis, atau kuah; rasa: pedas atau tidak, manis atau asin. Bahkan, untuk beberapa orang, pilihan antara dada dan paha ayam pun bisa jadi perbedaaan besar. Ketika salah satu dari pasangan menikmati makanan, sementara yang lain duduk berhadapan menghadapi makanan yang sama dan terus menerus mengeluh, waktu makan jadi tidak menyenangkan, bukan?

Di saat normal, bisa jadi tidak terlalu bermasalah. Namun, di saat lelah dan lapar, hal yang nampaknya sepele ini bisa jadi sumber keributan.

Demikian juga dengan pola makan. Ada sebagian orang yang tak dapat melewatkan sarapan. Namun, bagi sebagian orang lainnya, sarapan bisa mengacaukan jadwal pembuangan hasil cerna seharian penuh. Sebagian tak dapat tidur dengan perut kosong, sebagian lagi berusaha melewatkan makan malam supaya tak menambah ukuran celana. Agak repot juga kan, kalau misalnya Anda yang sedang dalam program menjaga berat badan diminta oleh pasangan untuk menemaninya makan malam karena ia mendadak lapar, di jam 10 malam? Ngga makan katanya ngga setia menemani pasangan, sementara kalau makan, ngga setia sama celana. Nah loh!


2. Pola Belanja

[Image: www.ncr.com]

Di dalam sebuah rumah tangga, pasangan tentu menanggung biaya hidup bersama-sama. Pasangan suami istri biasanya juga akan berbelanja bersama. Nah, di sinilah perbedaan pilihan jenis, jumlah, ukuran, serta harga barang bertemu. Kemungkinan besar, perbedaan ini juga baru akan diketahui setelah menikah dan tinggal bersama. Secara, sebelum menikah, barang kebutuhan masing-masing dibeli sendiri-sendiri tanpa intervensi dan kompromi dengan pasangan.

Ada jenis orang yang suka membeli dalam jumlah yang banyak untuk kebutuhan jangka panjang, ketika sedang ada promo harga murah, misalnya. Sementara itu, ada juga jenis orang yang membeli berdasarkan kebutuhan saja, asal satu-dua bulan terpenuhi, cukuplah. Ada yang lebih suka memilih barang berkualitas prima dengan harga yang mungkin sedikit lebih tinggi dari budget karena akan lebih awet walau harus sedikit mencicil, ada juga yang membeli barang disiplin sesuai budget. Beberapa orang dapat menggunakan berbagai macam dan jenis barang-barang kosmetik dan kebersihan pribadi tanpa harus pilih-pilih, sebagian lain harus sangat berhati-hati karena memiliki masalah kulit sensitif.

Asal pemasukan dan pengeluaran tetap seimbang dan terkendali, tidak ada yang salah dengan berbagai preferensi pribadi ini. Meski demikian, jika pasangan tidak dapat saling mengerti dan menerima pendapat, acara belanja bisa jadi tidak menyenangkan.


3. Kebiasaan Meletakkan Barang

[Image: assets3.thrillist.com]

Sisir harus diletakkan di keranjang ini, kunci kendaraan di rak itu tempatnya, kunci rumah lain lagi tempatnya. Sepatu casual disimpan di sini, sepatu pesta di sudut sana. Baju batik digantung berkelompok sendiri, sementara kaos berkerah harus dilipat. Seragam diletakkan di sisi paling luar, sedangkan baju pesta di sisi paling dalam. Membaca kalimat-kalimat barusan saja, sebagian orang sudah akan berpikir “Wah, ribet banget!!” Namun, bagi sebagian orang yang menyukai kerapian dan biasa hidup tertata, ini adalah hal yang sakral.

Eits, jangan melulu menuduh yang berantakan selalu si pria! Ada kalanya, para wanita yang meletakkan barang sekenanya. Di saat sedang terburu-buru karena dikejar waktu, kemarahan bisa meledak hanya karena mencari kunci kendaraan yang tidak ada di tempat biasanya. Dan, keadaan bisa bertambah parah jika salah satu dari pasangan sering lupa di mana ia meletakkan atau menyimpan barang pribadinya sendiri.

Cara menggunakan barang kadang bisa jadi masalah yang mengganggu juga. Contoh paling mudah adalah cara menekan kemasan pasta gigi. Apakah Anda termasuk golongan kaum yang menekan tube pasta gigi dari ujung paling belakang dan kemudian seiring waktu penggunaan, semakin mendekati mulut tube? Atau Anda penganut mazhab asal tekan saja, dari tengah, depan, atau belakang? Ketika Anda, yang seorang penganut aliran tekan tube ujung belakang terlambat bangun, kemudian dengan terburu-buru harus menggosok gigi dan mendapati bahwa Anda harus pula mengurut isi pasta gigi dari belakang ke mulut tube karena pengguna sebelumnya asal tekan saja, bagaimana perasaan Anda? KZL, bukan?!


4. Lama di Kamar Mandi

[Image: doggysdigest.com]

Nah, nah, nah, hayo ngaku, pasti Anda sudah menunjuk para wanita sebagai tersangka, ya? Enggak juga, lho! Bagi sebagian orang, tak peduli pria atau wanita, saat “duduk tenang” sambil membaca koran atau buku kesukaan di kloset kamar mandi adalah ritual moodbooster untuk memulai pagi. Jika waktu sakral itu harus dipotong, rasanya seperti ada yang kurang sepanjang hari itu. Hal sepele ini bisa jadi masalah besar ketika salah satu dari pasangan adalah tipe yang terburu-buru, sedangkan yang lain tipe yang bersantai-santai tak dapat diajak bergegas di pagi hari.


5. “Gaya” Tidur

[Image: sleepingapartnotfallingapart.com]

Kebiasaan yang satu ini mungkin akan sulit diketahui sebelum menikah dan tinggal sekamar. Siapa juga yang tidak kesulitan jika diminta dengan jujur menceritakan bagaimana mereka ketika tidur? Paling-paling mereka akan memulai kalimatnya dengan “Kata kakakku ...” atau “Kata orang tuaku ...”

Nyatanya, gaya tidur pasangan bisa jadi hal yang sangat mengganggu. Bayangkan saja jika ternyata pasangan Anda ternyata tipe yang mendengkur ketika tidur, mengeluarkan sejenis suara keras, aneh, yang terdengar bahkan lebih menakutkan dari suara bulldozer. Atau, hal lain yang mungkin tidak akan Anda duga, adalah jika ternyata pasangan Anda suka mengigau. Bayangkan suatu malam, dengan keadaan separuh sadar, pasangan Anda membuka mata dan bertanya “Ini dimana? Kamu siapa?” Celaka, gak?! Sementara Anda bengong tak mengerti apa yang baru saja terjadi, pasangan Anda kemudian kembali tidur dengan tenang, seakan tak terjadi apa-apa.

Tidak mengeluarkan suara? Baik. Tetapi pasangan Anda suka mempraktekkan jurus gulat di kasur waktu tidur. Kaki melintang ke sana, tangan terlentang ke sini, membuat area tidur Anda jadi hanya sepertiga dari kasur. Sepertiga itu pun, masih dibagi dua bagian, seperenam di sisi kanan dan seperenam di sisi kiri. Sementara pasangan terlentang di tengah kasur tak sadarkan diri di langit ketujuh, Anda meratapi nasib tak bisa tidur dengan posisi yang nyaman.

Atau, jangan-jangan malah Anda yang seperti itu? Ckckck, bertobatlah!


6. Hidup Higienis

[Image: candiesandcrunches.files.wordpress.com]

Sewaktu berpacaran, Anda akan terbiasa dengan tampilan pasangan yang rapi, cantik atau tampan, segar dan wangi setiap kali bertemu, tetapi bagaimana sih sebenarnya keseharian mereka? Mandi dua kali sehari mungkin standar. Akan tetapi, tidak semua orang terbiasa membilas bersih tubuhnya sebelum naik ke kasur dan tidur. Ada saja yang dengan mudahnya tertidur pulas setelah seharian beraktivitas di luar rumah, terpapar debu jalanan.

Bau mulut di pagi hari adalah hal normal, tapi bisa jadi sangat parah dan mengganggu jika si dia melewatkan sikat gigi di malam harinya. Bayangkan ketika langit masiih gelap, ayam jago belum berkokok, Anda ingin bermesraan dengan pasangan sebelum memulai hari, keinginan untuk mendekat dan memeluk pasangan tidak tertahankan. Kemudian, berhembuslah aroma luar biasa itu dari rongga mulut Anda atau pasangan, wushhh. Keinginan mendekat, apalagi menikmati romantisme pagi seketika itu pula lenyap, hilang tak berbekas.


7. Kentut dan Sendawa

Dua hal ini adalah hal alamiah yang lumrah terjadi di hampir semua makhluk hidup, termasuk Anda dan pasangan. Masalahnya, tidak semua orang suka mendengar suaranya. Sebagian bisa merinding disko mendengar suara angin, baik semilir maupun topan, yang keluar entah dari lubang bawah atau atas itu. Belum lagi jika disertai dengan aromaterapi alami hasil proses penggilingan di dalam organ pencernaan.

Semasa pacaran, bisa jadi Anda dan pasangan malu-malu, jaim, dan tidak sembarangan mengeluarkan gas ini. Tetapi seiring Anda atau pasangan feel at home di rumah sendiri. Gas dan suara ini bisa keluar sewaktu-waktu secara tak diduga, tak dinyana, tak disangka. Ya, jika tidak berbau, mungkin tidak menjadi masalah. Kalau berbau? Ugh!

***

Perbedaan-perbedaan yang saya sebutkan di atas memang berpotensi bikin GMZ, ZBL, KZL, sampai kucel! Ngga mau berurusan dengan segala perbedaan antarpasangan? Ngga mungkin deh, rasanya.

Yang harus dipikirkan pasangan adalah bukan menghindari perbedaan itu, tetapi bagaimana menjalin relasi yang terbuka untuk hidup dengan perbedaan. Hidup dengan perbedaan, bukan menghilangkan beda.

Hidup suami istri memang perlu diwarnai romantisme dan keintiman, tetapi yang menyebabkan kehidupan suami istri menjadi langgeng adalah keterampilan menerima, memahami dan mengatasi perbedaan. Tentu kuncinya adalah komunikasi yang terbuka.

Komunikasi yang bertujuan memperbaiki, memelihara, dan mengembangkan hubungan, bukan mementingkan kehendak dan kepuasan diri.

Bagi pasangan yang belum menikah, gunakan masa pacaran Anda untuk saling membuka, memahami, dan menerima perbedaan. Jangan asal jaga image supaya Anda dan pasangan tak bertengkar! Itu hanya akan membuat keakraban palsu bagi Anda berdua. Selalu mengikuti selera atau kemauan pasangan hanya akan mudah di awal, tetapi tidak membuat kita belajar menghargai apalagi berjalan bersama dengan perbedaan.

Bagi pasangan yang sudah menikah, pasti sudah merasakan bahwa ada saja perbedaan yang tak bisa disatukan. Yuk, bersama pasangan belajar saling menyesuaikan diri. Ingat, "SALING", berarti ada pihak yang mesti lebih bersabar, ketika yang lain berupaya untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Anda punya kisah unik seputar saling menerima perbedaan dengan pasangan Anda? Bagikan, yuk!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Yakin Sudah Cocok dengan Pacar? 7 Perbedaan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Sastra Budiharja | @sastrabudiharja

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar