Anda Hendak Bercerai? Dengarkan Curhatan Kami, Para Anak Korban Perceraian

Reflections & Inspirations

[image: erorhan]

2.6K
Perceraian tidak selesai hanya di atas meja hijau atau sebuah surat resmi cerai. Perceraian memberikan pukulan keras pada jiwa anak-anak yang ditinggalkan oleh ayah-ibunya. Perceraian memberikan masalah berkelanjutan.

Jordy, pemuda berusia 19 tahun yang baru saja mulai kuliah. Dia mengambil jurusan komputer di salah satu universitas di Yogyakarta. Perkenalan kami dimulai ketika saya memulai praktik kerja di salah satu gereja di Jogja.

Jordy anak yang pandai. Dia cakap bermain alat musik gitar. Dia pandai bersosialisasi dan menyenangkan untuk dijadikan teman. Rasanya ia menjalani kehidupan yang enak. Kebutuhannya selalu tercukupi dengan baik. Hal itu terlihat dari gaya hidupnya yang cukup berkelas.

Namun, apa yang tampak di luar diri Jordy, ternyata tak sama dengan apa yang ada di dalam hatinya. Ia kesepian. Ia tidak tahu arah tujuan hidupnya.

Suatu kali, di tengah kelelahan batinnya, dengan nada putus asa, ia mengatakan,

“Aku lelah dengan kehidupanku.”

[image: Libertad Bajo Palabra]

Siapa sangka, ternyata Jordy adalah anak korban perceraian. Orangtuanya telah lama berpisah sejak dia masih SMP. Di dalam usia yang relatif labil soal emosi dan masih butuh bimbingan orang tua, dia ditinggal seorang diri di rumah neneknya. Dia mengaku, sejak saat itulah dia tak punya arah tujuan, selain rasa kekosongan dalam hatinya dan rasa benci kepada orangtuanya.

Baca Juga: Sebagai Anak Korban Perceraian, Saya Mengatasi Trauma dengan Cara Ini


Sama halnya dengan Felice, seorang remaja putri yang cantik dan periang. Dia suka sekali dengan tarian Korea. Cita-citanya adalah menjadi seorang dancer. Perkenalan kami juga dimulai di gereja tempat saya praktik. Dia suka bercerita tentang banyak hal. Mulai dari kesehariannya di sekolah, kegiatannya di rumah, hingga berita seputar drama Korea. Teman-temannya memanggil dia “Korea Berjalan”.

Namun, siapa sangka di balik wajah riang dan penuh senyum, tersimpan luka yang dalam. Dia juga adalah anak korban perceraian. Dia tinggal bersama ayahnya ketika kedua orangtuanya sepakat cerai. Itu terjadi sejak dia duduk di bangku SD.

Hal paling menyakitkan yang dia rasakan adalah ketika memasuki masa-masa pubertas. Dia sempat tertekan karena tidak tahu harus bertanya kepada siapa tentang pendarahan yang dialaminya, yang kemudian hari diketahuinya sebagai menstruasi.

Ekonomi keluarga yang kurang baik juga membuat ayahnya harus bekerja pagi hingga malam. Sehingga waktu-waktu bersama ayahnya terlalu minim.

Suatu kali, di tengah kelelahan batinnya, ia berkata,

“Aku kesepian. Tak ada seorang pun yang mengasihiku.”

[image: NPR]

Siapa sangka di balik senyum cerianya terdapat “kekosongan” yang besar.


Kami Butuh Perhatian

Kesamaan pertama antara Jordy dan Felice adalah mereka pemuda-pemudi yang terlihat baik-baik saja. Namun itu hanya terjadi di luar diri mereka. Kesamaan kedua dari mereka adalah sama-sama memiliki luka yang besar dalam diri mereka.

Hal ini tak dapat dipungkiri, apa pun alasannya, perceraian merupakan permasalahan yang berakibat fatal bukan hanya pada relasi suami-istri, tetapi juga kepada anak-anak.

Banyak pasutri bercerai yang berjanji akan tetap memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya. Akan tetapi, berapa banyak dari mereka yang mampu menjalankan hal tersebut?

Di manakah mereka ketika anak-anak sedang mencari jawaban atas ketidaktahuan mereka? Di manakah anak-anak akan mengadu atau bercerita tentang masalah mereka di sekolah? Anak-anak mereka tidak membutuhkan sekedar waktu bersama, tetapi cinta tulus yang sungguh-sungguh diberikan kepada mereka.

Saya ingat betapa pahitnya pertanyaan yang dilontarkan Felice kepada saya ketika mencoba menghiburnya.

“Jika orangtuaku sayang sama aku, kenapa mereka harus berpisah?”

[image: GUM | Growing Up Millennial]

Tentu ini pertanyaan yang mudah dilogikakan. Namun, saya menyadari benar apa yang ingin mereka sampaikan, yakni

“Aku ingin dicintai.”

Perceraian bukan hanya merobek kasih antara dua insan, tetapi merobek seluruh kasih di dalam keluarga.

Baca Juga: Ketika Perceraian Tak Terelakkan, Masa Depan Anak Tak Harus Dipertaruhkan. Memilih Rukun Tanpa Rujuk, Begini Teman Saya Melakukannya


Aku Tidak Percaya Diri

Luka lain yang menimpa anak korban perceraian saya temukan dalam diri Jordy. Dia merasa minder atau tidak percaya diri. Dia menganggap dirinya sebagai seorang anak yang hina. Bahkan terkadang, dia merasa bahwa perceraian yang orang tuanya alami adalah karena kesalahan dirinya. Dia menganggap orangtuanya menjadikan dirinya sebagai sebuah beban besar di pundak mereka. Karena itulah dia ditinggalkan.

Hal ini tentu menorehkan luka besar di dalam hatinya.

Bukan sekedar ketidakpercayaan diri yang dia alami, tetapi dia juga menjadi takut menatap masa depan. Dia berusaha untuk menyenangkan semua orang karena dia butuh banyak perhatian. Dia takut mengalami penolakan. Dia merasa hidupnya hancur ketika tidak diterima oleh orang lain. Akhirnya, dia menjadi pribadi yang mudah putus asa. Dia mengaku, pernah terlintas dipikirannya bahwa mengakhiri hidupnya adalah jalan terbaik.

Baca Juga: Sebagai Anak Korban Perceraian, Inilah 4 Alasan Saya Bisa Tetap Bersyukur dan Percaya Diri


Inilah kenyataannya: perceraian tidak selesai hanya di atas meja hijau atau sebuah surat resmi cerai. Perceraian memberikan pukulan keras pada jiwa anak-anak yang ditinggalkan oleh ayah-ibunya. Perceraian memberikan masalah berkelanjutan.



Baca juga artikel-artikel tentang mengatasi penyebab perceraian di bawah ini:

Waspada! Inilah 5 Hal Sepele yang Menyebabkan Keretakan Rumah Tangga

Puluhan Tahun Mempersiapkan Pasangan untuk Menikah, Saya Menemukan 7 Penyebab Perceraian Ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anda Hendak Bercerai? Dengarkan Curhatan Kami, Para Anak Korban Perceraian". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

makasih kak info nya Contoh CV