Anak Nakal? Pikirkan 2 Hal yang Akan Meredakan Amarah Ini

Parenting

photo credit: Parental Alienation

6K
Hal yang paling dibutuhkan seorang anak hanyalah perhatian, cinta, kepercayaan, menganggap dia ada dan penting.

Ketika sedang duduk santai bersama beberapa remaja, seorang remaja bertanya,"Kak, adikku ini loh, sukanya ngomong kotor. Mulutnya juga suka maki kak, lebih parah dari pada aku. Gimana ya kak?”

“Oh ya? Lalu, kamu tahu itu salah, bukan?” Setengah terkejut, saya bertanya balik padanya.

“Iya kak, tapi gimana ya? Di lingkungan sekolah, lingkungan bermain, yah semua anak begitu.” Pengakuannya di dalam kebingungan.

“Tapi kamu tetap tahu itu salah, bukan? Meskipun semua orang melakukannya.” Jawab saya meluruskan kebingungannya.


“Iya kak, aku gak mau ikutan ngomong kotor atau maki lagi kak, adikku juga aku marahi nanti.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.

“Trus.. kalau ngomong kotor atau memaki sedikit aja, boleh gak?” Mengetes keyakinannya.

“Mungkin boleh kak.” jawabnya sambil nyengir menggaruk kepalanya.


Inilah sepenggal kisah sederhana yang saya temui di dalam dunia para remaja ketika meluangkan sedikit waktu bersama mereka. Mereka mungkin tidak suka terlibat tawuran. Mereka tidak suka bolos sekolah. Nilai-nilai pelajaran mereka bagus. Mereka tahu banyak hal. Mereka pandai secara kognitif. Tapi kebanyakan dari mereka gagal di dalam pembangunan karakter atau etika hidup yang baik.

Ini hal yang ironis. Mereka tidak kesulitan di dalam pelajaran-pelajaran sekolah, tetapi mereka kebingungan di dalam menentukan yang baik dan yang buruk. Maka itu, tidak jarang, banyak dari mereka memilih untuk mensontek di sekolah atas dasar kesatuan hati di dalam kelas.

Baca juga: Orangtua, Waspadalah! 3 Hal Ini Dapat Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Kita


Mengapa bisa demikian?

Tentu itu pertanyaan kita semua. Beberapa orang tua terkadang terlalu cepat menjalankan hukuman tanpa mencari tahu apa yang menjadi penyebab ketika seorang anak bertingkah salah. Beberapa lainnya memilih tidak peduli. Sebelum kita mengambil sebuah tindakan terhadap seorang anak, mungkin 2 hal ini perlu kita ketahui terlebih dahulu:


1. Anak adalah cerminan orangtua

photo credit: Beauty Glitch

Betapa terkejutnya saya ketika beberapa orang remaja mengaku kepada saya bahwa mereka sudah sering menonton film porno. Mereka biasa melakukan itu bersama setelah pulang sekolah. “Mengapa kalian seberani itu melakukan hal yang salah seperti itu?” tanya saya.

Jawab mereka sederhana, “Kami tidak tahu” sambil menertawai satu di antara yang lain.

Setelah lewat beberapa waktu, saya meluangkan waktu mengunjungi rumah salah seorang anak. Setelah sampai di dalam rumah, betapa terkejutnya saya melihat rumah sang anak dipenuhi lukisan dinding yang menggambarkan hal-hal tidak senonoh, seperti lukisan perempuan yang sedang menari telanjang. Melihat keadaan itu, segera saya mengerti penyebab anak itu demikian.

Baca juga: Orangtua, Waspadalah! Predator Seksual Ada di Sekitar Kita. Kisah-Kisah Nyata Pelecehan Seks pada Anak Ini Buktinya

Jika seorang anak suka berbicara kotor, kemungkinan besar adalah itu cerminan dari cara berkomunikasi orang tuanya. Jika seorang anak suka memukul, berkelahi atau kasar terhadap temannya, kemungkinan besar itu adalah cerminan dari sikap orang tua. Jika seorang anak memiliki kebiasaan buruk, kemungkinan besar itu adalah kebiasaan dari orang tuanya.

Keluarga utama yang terdiri dari ayah, ibu dan anak adalah tempat pertama bagi seorang anak mendapat pendidikan karakter atau etika. Di sanalah dia akan belajar bagaimana harus tampil di dalam kehidupan di luar rumah. Perilaku orang tua menjadi gambaran buatnya untuk membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh untuk dilakukan. Anak-anak akan meniru orang tua di dalam cara dia bersikap terhadap lingkungan sekitarnya.

Seorang anak Sekolah Minggu selalu datang terlambat ke Gereja. Hal ini telah diperhatikan oleh guru Sekolah Minggu sejak beberapa bulan terakhir. Akhirnya sang guru tersebut menghampirinya untuk bertanya, “Mengapa kamu sering terlambat?”, anak itu menjawab dengan entengnya dan jujur, “Salah ya bu? Papa bilang gak papa kok kalau terlambat.”

Ada pepatah bijak mengatakan :

Untuk membentuk kebiasaan yang baik, membutuhkan proses bertahun-tahun lamanya, tetapi membentuk kebiasaan yang buruk, tidak membutuhkan waktu yang lama.

Jika anak anda nakal, tidak bersikap sopan-santun, dan berbicara kotor. Jangan marahi dia. Mungkin ada baiknya anda mengevaluasi diri terlebih dahulu.

Baca juga: Tak Hanya Membelikan Buku, Lakukan 3 Hal Ini Agar Anak Suka Membaca


2. Awasi Tempat Dia Bergaul

Kakak saya seorang perokok berat. Telah berulang kali dia mencoba berhenti, namun gagal. Hal ini pun yang disesalkan oleh orang tua saya. Dari tiga bersaudara, hanya dia yang menjadi seorang perokok berat.

Beberapa orang berkata, “Dari 3 atau 4 bersaudara, pasti akan ada satu anak yang nakal, jadi pasrah saja”. Tentu ini adalah kalimat pembelaan diri. Ibu saya tahu bahwa ini akibat kegagalannya mengawasi lingkungan tempat kakak saya bermain waktu remaja. Ia sering duduk nongkrong bersama teman-teman sekampung yang suka bermain judi, minum-minuman beralkohol, dan merokok.

Di dalam kitab suci pernah tertulis, “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.” Seorang bijak juga berkata, “Just Show me your friends and I’ll show your future”.

Maksudnya adalah hidup seseorang terbangun melalui siapa dan di mana tempat ia menghabiskan waktunya. Awasilah di mana anak anda bergaul dan berilah pengertian yang baik agar ia dapat mengawasi dirinya sendiri di dalam bersosialisasi.

Namun, tidak semua orang dapat menerima penjelasan ini, Biasanya, ketika orang tua mendengar pernyataan ini, mereka akan beralasan, “Kami tidak punya waktu mengawasinya 24 jam. Kami butuh waktu untuk kerja. Bagaimana kami bisa mengawasinya?”

Baca juga: Memuji Anak Bukanlah Cara Tepat Membangun Percaya Dirinya. Bukan Pujian, Melainkan Satu Ini, Pembangun Percaya Diri Anak Sejati

Menurut saya, inilah permasalahan terbesar seorang remaja menjadi seorang anak yang nakal. Mengawasi cara bergaul seorang anak bukan dengan menelponnya 24 jam waktu bermainnya. Atau memakai tenaga kerja untuk mengawasi anaknya ke mana pun ia pergi. Bukan!

Hal yang paling dibutuhkan seorang anak hanyalah perhatian, cinta, kepercayaan, dan menganggap dia ada dan penting.
photo credit: lasexta

Seorang teman mengalami jatuh ke dalam pergaulan bebas. Ia merokok. Suka ke diskotik. Pulang tengah malam dalam keadaan mabuk, bahkan beberapa kali berani melakukan hubungan badan dengan pacarnya. Apa masalahnya?

Padahal ia memiliki uang banyak, jago memainkan alat musik, orang tuanya kaya raya, selalu menuruti keinginannya. Ia juga kelihatan tidak pernah kesepian. Ia selalu dikelilingi teman-teman yang banyak. Lalu mengapa demikian?

Baca juga: Nasihat Terbaik yang Pernah Saya Dengar tentang Menjadi Seorang Ayah

Pada titik terendahnya, ia mengaku kepada saya :

“Yang aku inginkan cuma sederhana di dunia ini yaitu keluarga yang harmonis dan saling mengasihi satu dengan yang lain.”

Orang tua sering kali berpikir, sebagai bentuk perhatiannya kepada anaknya, ia memberikan segala apa yang menjadi keinginan anaknya. Gadget terbaru, game terbaru, mobil untuk jalan-jalan atau uang jajan yang berlimpah. Mereka berpikir itulah yang menjadi bentuk kasih terbaik sebagai orang tua. Salah! Ini sungguh-sungguh salah!


Baca juga:

Saya Bertumbuh dengan Kaki yang Tak Sempurna. Orangtua Tak Menyerah dan Melakukan 5 Hal ini untuk Menata Masa Depan

Dari Mereka yang Telah Mengadopsi Anak: Hal-Hal Penting yang Harus Diketahui Orangtua sebelum Memutuskan Adopsi

Sebagai Anak Korban Perceraian, Inilah 4 Alasan Saya Bisa Tetap Bersyukur dan Percaya Diri



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Nakal? Pikirkan 2 Hal yang Akan Meredakan Amarah Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar