Anak Masa Kini Tak Bisa Diajar? Mungkin Guru yang Salah Mengajar. Inilah 3 Hal yang Dinantikan Generasi Platinum dari Para Guru

Reflections & Inspirations

[Image: simplek12.com]

2K
Beda zaman, beda cara mendidik. Mungkin cara-cara kekerasan dianggap pantas diberlakukan terhadap anak-anak kelahiran tahun 90-an. Namun, bagi anak-anak kelahiran 2000-an [generasi platinum] cara seperti itu nampaknya tidak dapat lagi dilakukan. Lalu, bagaimanakah cara mendidik yang 'pantas' untuk para siswa zaman sekarang?

Kebanyakan anak-anak yang lahir di tahun 90-an dididik oleh guru di sekolah dengan cara agak keras. Bahkan hingga kini pun, saya masih mengingat dengan jelas peristiwa yang terjadi ketika saya duduk di kelas 4 SD. Karena tidak mengerjakan tugas perkalian yang diberikan oleh guru, dipukulnya tangan kiri saya dengan penggaris kayu panjang 5 kali. "Taaar ...." Bunyi penggaris kayu yang menampar kulit dengan perihnya itu mungkin tidak lagi dikenal oleh para siswa generasi masa kini. Namun, saya tak akan pernah melupakannya. Oh ya, tidak berhenti di tangan kiri, tangan kanan saya juga menerima pukulan yang sama, 5 kali pula banyaknya.

Saya cukup yakin, bukan saya seorang yang pernah mengalami kekerasan oleh guru di sekolah. Beberapa bulan lalu, saya dan beberapa teman bernostalgia tentang masa-masa sekolah dulu sambil berdiskusi. Kami membicarakan karakter anak sekolah zaman sekarang yang kelihatan sangat manja, dipukul guru di sekolah lalu segera lapor polisi. Betapa berbedanya anak masa kini dibandingkan dengan zaman kami dulu. Salah seorang teman menceritakan, ia pernah dihukum hormat di bawah tiang bendera selama satu setengah jam karena terlambat hadir di sekolah. Ada juga kisah seorang teman lain, karena membuat gaduh, di bawah terik matahari yang sangat panas satu kelas dihukum lari keliling lapangan sekolah sebanyak 5 kali.

Beda zaman, beda cara mendidik. Mungkin karena tuntutan zaman, cara-cara kekerasan dianggap pantas diberlakukan terhadap anak-anak kelahiran tahun 90-an. Namun, bagi anak-anak kelahiran 2000-an [generasi platinum] cara seperti itu nampaknya tidak dapat lagi dilakukan.

Baca Juga: 5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita

Berikut 3 cara mendidik yang lebih 'pantas' untuk para siswa zaman sekarang:



1. Menjadi Pendengar yang Baik

Sebagai tenaga pengajar di sebuah komunitas, saya cukup sering berinteraksi dan sedikit banyak memahami dunia anak-anak berusia 11-13 tahun. Kepada saya, mereka sering berbagi cerita, mulai dari soal teman cowok/cewek yang mereka taksir, film yang sedang nge-trend, atau game yang sedang mereka mainkan. Setiap kali mereka bercerita, saya selalu berusaha untuk mendengar dengan antusias dan menahan diri berkomentar. Hingga cerita mereka berakhir, saya hanya akan mengerahkan perhatian penuh untuk mendengar, tanpa memotong, tanpa mengomentari.

[Image: quotefancy.com]

Dari pengalaman, saya cukup yakin bahwa anak-anak bisa merasakan apakah 'omongan' mereka sungguh-sungguh diperhatikan atau tidak oleh yang mereka ajak bicara. Ketika merasa dihargai oleh seorang guru, akan tumbuh rasa nyaman dan aman dalam diri murid. Dari situ, terbangunlah rasa percaya. Dengan modal kepercayaan itu, guru akan lebih mudah mengajarkan materi dan menanamkan nilai-nilai moral kepada murid.

Baca Juga: 4 Perkataan Orangtua yang Ternyata Malah Membuat Anak Makin Menjauh



2. Jangan Gunakan Cara Kekerasan

Kelas 2 SMP, saya dilempar kapur tulis oleh guru mata pelajaran Fisika. Ketika Beliau mengajar di depan kelas, saya malah asyik mengobrol dengan teman sebangku.

[Image: wikihow.com]

Mengoreksi kenakalan siswa dengan menggunakan kekerasan, seperti melempar barang, memukul - baik dengan tangan maupun alat, tidak cocok lagi untuk diterapkan di masa kini. Lalu, jika demikian, apakah berarti guru harus mendiamkan saja ketidakdisiplinan? Ambil contoh murid ribut sendiri saat guru mengajar. Daripada melempar kapur, adalah lebih baik guru berhenti mengajar. Berhenti bicara, dengarkan anak-anak, simak apa yang sedang mereka percakapkan. Pasti mereka akan tenang dengan sendirinya.

Baca Juga: Di Ruang antara Kesalahan Anak dan Respons yang Kita Berikan, Tanyakanlah 3 Hal ini agar Disiplin yang Diterapkan Berdampak Baik dan Besar pada Anak



3. Jadilah Teman Bagi Siswa

[Image: rd.com]

Jika hendak mendapatkan kepercayaan siswa, bukannya menjadi orang tua yang hanya suka menegur atau otoritas yang kelihatan gila hormat, jadilah teman bagi mereka. Bukan dalam rangka memanipulasi, tapi menginspirasi. Bangun hubungan pertemanan itu setiap hari, baik di sekolah maupun di media sosial.

Seorang guru yang mengajar tanpa menginspirasi murid dengan keinginan untuk belajar adalah seperti memalu besi dingin.

Baca Juga: 3 Langkah Efektif yang Harus Dilakukan oleh Orang Tua yang Rindu Menjadi Sahabat bagi Anak Remajanya


Itulah 3 kriteria guru yang disukai oleh para siswa generasi platinum. Beda zaman, tentu perlu berbeda pula perlakuan guru terhadap siswa. Seorang guru yang berkualitas dituntut untuk bisa beradaptasi, tak hanya dengan berbagai siswa yang berbeda karakter, tetapi juga dengan tuntutan zaman.



Baca Juga:

Bersetia pada Panggilan di Tengah Tekanan Penghakiman. Ini tentang Saya, Seorang Sarjana Hubungan Internasional yang Memilih untuk Menjadi Guru

Membentuk Anak Menjadi Generasi Tangguh: Orang Tua, Inilah 3 Do's and Don'ts-nya

Mengapa Generasi Muda Tak Bangga Akan Indonesia? Sebagai Guru PKN, Inilah Hasil Pengamatan Saya



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Masa Kini Tak Bisa Diajar? Mungkin Guru yang Salah Mengajar. Inilah 3 Hal yang Dinantikan Generasi Platinum dari Para Guru". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Febriwan Harefa | @febriwanharefa

Seorang thinker of out the box, dreamer dan penganut filosofi hidup sederhana. Mengajar, Menulis, dan Menerjemahkan adalah cara saya untuk mengubah dunia ini menjadi lebih baik.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar