Anak Malas Sekolah? Anak Merasa Bisa Sukses Tanpa Sekolah? Orangtua, Bagikanlah Ini!

Work & Study

photo credit: all about afgan

2.4K
Saya ingat kata ayah saya, “Jangan pernah puas dengan apa yang sudah kamu capai, apa lagi setelah ini?” Ia mendukung yang terbaik buat saya.

Bulan ini saya telah berada di penghujung masa praktik lapangan saya. Menyeruput kopi di petang hari membuat saya kembali merenung tentang perjalanan studi saya. Hampir lima tahun sudah dan bulan depan saya sudah menamatkan satu jenjang pendidikan lagi dalam hidup saya.

Saya tidak membayangkan apa jadinya diri ini jika tidak memacu diri untuk belajar. Pendidikan membawa banyak manfaat bagi saya. Saya bersyukur memiliki orang tua yang menyadari pentingnya pendidikan. Meskipun mereka tidak bergelar sarjana, tetapi mereka berupaya keras untuk mendorong anak-anaknya menempuh pendidikan yang tinggi. Saya ingat kata ayah saya, “Jangan pernah puas dengan apa yang sudah kamu capai, apa lagi setelah ini?” ia mendukung yang terbaik buat saya.

Oleh karena kesadaran inilah, saya sering cukup geram jika melihat anak-anak yang tidak suka sekolah. Seorang pembantu rumah tangga di kost tempat saya tinggal, satu di antaranya adalah wanita muda berusia 17 tahun. Di usia tersebut adalah masa ketika ia seharusnya bersekolah. Setelah saya tanya “Kenapa tidak mau sekolah?”, dengan mudah dia menjawab “Nggak suka sekolah”. Setelah melihat ibunya, saya menjadi paham tentang keadaannya. Ibunya berkata “Sekolah hanya membuang-buang waktu dan uang. Kan lebih baik segera bekerja dan menghasilkan uang.”


Memangnya, mengapa harus sekolah?

photo credit: pkeducation.co.uk

Ada yang beranggapan bahwa sekolah hanya tentang ijazah dan dokumen politik lainnya untuk memudahkan dia mendapatkan pekerjaan di kemudian hari. Tentunya ini tidak salah. Negeri ini masih menilai orang berdasarkan penampakan ijasah dan strata-nya, bukan karya.

Beberapa orang berani menentang hukum alam ini. Seperti seorang pemuda yang pernah bercerita tentang niat dia untuk berhenti kuliah. Alasannya sederhana, jurusan yang ia ambil tidak ia sukai dan karena realita banyak orang tidak sekolah tetapi bisa tetap sukses.

Namun, apapun penjelasan atau jawaban, ini tidak bisa dibenarkan. Mengapa harus sekolah? alasannya hanya satu : karena manusia perlu belajar.

Sekolah menjadi tempat belajar-mengajar sebagai kegiatan yang nyata dan disengajakan. Apa jadinya jika seseorang tidak pernah belajar? Proses pembelajaran menolong seseorang menuju kepada menjadi “Manusia Seutuhnya”. Konon katanya, kehadiran awal seorang manusia di dalam dunia belum menjadikan dia manusia sejati. Hingga dia memahami apa yang harus dia lakukan dan apa yang menjadi tujuan hidupnyalah yang membuat dia menjadi manusia 100%.

Tidak hanya itu, sekolah menjadikan seseorang mengalami kehidupan yang merdeka. Merdeka terhadap apa? Merdeka terhadap kedangkalan berpikir, tidak berpikir kritis, kreatif, terkungkung dalam penjara buta huruf, dan menjadi manusia mandiri. Pendidikan ibarat kunci untuk keluar dari penjara ketidaktahuan.

Melalui pendidikan, ia mengalami pencerahan hidup. Pendidikan menjadikan seseorang lebih berguna bagi keluarga, masyarakat dan negara.


Mengapa ada orang yang tidak suka sekolah?

photo credit: wallpaperswide

Setelah melewati masa liburan panjang di bulan yang lalu, para siswa-siswi mulai kembali masuk sekolah. Beberapa remaja di gereja mulai mengeluhkan keadaan ini. Kembali belajar di bangku sekolah tidak membuat mereka bergairah. Pasalnya, menurut perbincangan, sekolah tidak memenuhi kebutuhan mereka.

Apalagi dengan adanya program full-day school. Mereka diatur untuk sekolah seperti layaknya waktu orang bekerja. Keluar pagi-pulang (hampir) malam. Belum lagi setelah pulang sekolah mereka diharuskan untuk mengikuti les/private yang disuruh oleh orang tua. Setelah itu juga ada program esktrakurikuler yang wajib diikuti.

Beberapa di antaranya mulai lemas ketika mengingat sekolah. Beberapa remaja mengaku “Bakal stres banget nih masuk sekolah.” Mendengar hal itu, saya jadi berpikir, benarkah seperti itu? Apakah sekolah mulai berubah tidak menyenangkan? Mengapa banyak anak-anak justru merasa terpaksa bahkan menjadi stres dengan pendidikan yang mereka jalani?

Pikir saya, mungkin ini terjadi karena sekolah tidak lagi menjawab kebutuhan para murid. Mereka memaksa para murid untuk dibentuk sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Seorang remaja curhat kepada saya. Ia berkata,

“Kak, aku sukanya dance dan musik. Tapi itu tidak ada di sekolah. Tapi mama memaksa aku untuk belajar dua kali pelajaran yang sama dalam sehari di tempat les. Lambat laun aku mulai merasa muak karena apa yang aku cari tidak terfasilitasi. Justru yang tidak kuinginkan yang diberikan.”

Baca juga: Pernah Menjadi Korban Kekerasan Fisik dan Verbal Guru di Sekolah, Saya Bangkit dan Sembuh dari Trauma. Inilah 4 Hal Penting yang Saya Pelajari


Saat pentingnya pendidikan tak dibarengi dengan semangat pergi ke sekolah, lalu harus bagaimana?

Ada orang tua yang tidak menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi putra-putrinya. Hal ini menyebabkan sang anak tidak mengalami proses belajar dan didikan yang benar. Di sisi lain, saya menjumpai ada orang tua yang menyadari pentingnya pendidikan, namun jadinya terlalu memaksakan putra-putri mereka untuk belajar penuh waktu. Sang anak tidak lagi menikmati proses belajar. Apalagi jika pendidikan yang dijalani tidak memenuhi kebutuhannya. Sudah pasti mereka akan merasa sangat terbebani.

Beberapa himbauan yang kiranya dapat menolong anak dan orang tua dalam menyikapi pendidikan yang tepat bagi mereka:

1. Pendidikan penting untuk membawa para murid mengalami pencerahan pemikiran dan menjadi manusia yang sejati dan berguna. Untuk itu pendidikan penting untuk dialami oleh seorang anak.

2. Orang tua penting memahami apa yang diperlukan oleh sang anak. Pendidikan yang tepat mendatangkan sukacita. Sebaliknya, pendidikan yang bersifat memaksa hanya mendatangkan pemberontakan. Untuk itulah proses belajar tidak boleh dilakukan dengan cara memaksa, apalagi perlakuan kasar. Maka itu, dibutuhkan himbauan ketiga, yaitu:

3. Dialog antara orang tua dan anak. Pendidikan terbaik bermula di dalam rumah. Relasi yang harmonis membawa pendidikan yang tepat guna diluar sana. Keseimbangan pengertian orang tua dan mengetahui kebutuhan sang anak akan mendorongnya menjadi pribadi yang berguna dalam masyarakat.

Baca juga: Pendidikan Seks yang Salah Kaprah Malah akan Mendorong Anak Aktif secara Seksual. Orangtua, Hati-Hati!

Kekeliruan perlakuan orang tua maupun guru bisa menjadi penyebab ketidaksukaan anak bersekolah. Tak hanya memahami pentingnya pendidikan, memahami kebutuhan anak juga tak bisa dikesampingkan. Dengan begitu, harapan orangtua dapat menjadi kesenangan anak tanpa perlu dipaksa.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Malas Sekolah? Anak Merasa Bisa Sukses Tanpa Sekolah? Orangtua, Bagikanlah Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar