Bangga dan Cintalah pada Anak, Bukan karena Medali atau Piala yang Berhasil Mereka Raih, tetapi karena Diri Mereka - Apa Adanya

Parenting

[Image: 123rf.com]

5.5K
Love your kids no matter what and teach them to love and appreciate themselves.

Anak kami yang sulung baru saja lulus dari Taman Kanak-kanak. Bulan depan dia akan masuk ke jenjang Sekolah Dasar. Tak terasa, cepat sekali waktu berlalu.

Anak kami itu termasuk murid yang biasa-biasa saja, tidak stand out. Dia bukanlah tipe anak yang akan disuruh maju untuk perform atau menjadi penampil utama di pementasan sekolah. Belum pernah dia seperti itu. Melihatnya ikut bernyanyi dan melakukan gerakan tari bersama seluruh teman-temannya waktu graduation day yang lalu saja, sudah membuat kami senang sekali.

Anak kami juga belum pernah mendapat star badge atau medal apa lah, yang menunjukkan bahwa dia punya prestasi khusus atau sesuatu yang lebih dari anak lain. Tapi, dia pernah mendapat award, semacam piagam kecil gitu, dalam kategori yang kami rasa agak mengada-ada.

Excellence in: eating fruits and vegetables.

Hahaha, kami pun terbahak-bahak ketika itu. Sampai sebegitu ‘kasihan’nya kah? Oh ya, hampir lupa! Dia pernah juga dapat award ini:

Excellence in: having healthy and clean teeth.

Luar biasa, bukan? Itu artinya, di saat orangtua lain bingung karena anaknya menolak makan sayur atau mengalami masalah gigi berlubang, kami bisa tenang-tenang saja.

Ketika anak-anak lain mendapat award untuk prestasi akademis mereka, misalnya di bidang studi Math atau English, karena pandai menyanyi, bermain piano, poetry, atau lain lain, anak kami ‘hanya’ dapat award untuk hal yang ‘nyeleneh’. Walaupun demikian, kami sangat bangga.

Anak kami termasuk pendiam, bisa dibilang ‘kuper’ mungkin. Not very social lah anaknya. Dia agak penyendiri dan sering tenggelam dalam dunianya sendiri, fantasinya sendiri. Suka sekali membuat barang-barang aneh dari bahan seadanya [bakat recycle ya, ini]. Misalnya, dia membuat sebuah ceiling fan dari gelas kertas bekas dan stik es krim. Bahan-bahan itu dia rekatkan dengan solatip, lalu diwarnai, diberi kawat dan lainnya sehingga tampak seperti kipas angin dan bisa diputar dengan tangan. Oh ya, dia memang sempat nge-fans abiss dengan segala bentuk baling-baling.

Dia juga agak nerd dengan gadgets. Just like daddy, maybe? Dan saat ini, dia sedang ‘menggilai’ game Minecraft. Kami cukup dibuat terkejut ketika tahu bahwa dia sudah mampu membangun benteng, castle, atau apapun lah yang ada dalam game itu. Tidak sekadar jadi saja, bangunan-bangunan tersebut dibuat dengan bagus lho. Detail! Keren lah, pokoknya. Dalam hal penggunaan gadget, kami memang membatasi waktu ber-gadget agar matanya ngga rusak, tapi melihat progress dia bermain, sungguh membanggakan. Setidaknya demikian, bagi kami.

Anak sulung kami juga very helpful lho. Di usianya yang baru 5 tahun menuju 6 tahun, dia sudah bisa membantu kami mengawasi dan bermain bersama adiknya. Kami menyaksikan sendiri interaksi yang sangat baik di antara mereka berdua. Seringkali kami menemukan mereka sedang berpelukan atau bergurau berdua. Belum lagi ketika tidur, seringkali mereka tidur bersebelahan dengan pose yang sama. So adorable. Hal ini juga boleh kami banggakan, kan?

Kami ngga pernah memaksa anak untuk bisa menguasai berbagai kepandaian, menjejali mereka dengan berbagai les dan pelajaran tambahan. Bagi kami, esensi masa anak-anak itu adalah bermain, berkhayal. Walau tetap, kami menekankan perlunya mereka untuk belajar. Tidak melulu yang sifatnya akademis, namun yang jauh lebih penting daripada itu, kecakapan dalam hidup. Basic life skill, istilah kerennya.

Apa itu? Belajar hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Jangan lupa menyiram toilet setiap habis pipis, misalnya. Selesai makan, sendok garpu dibariskan, lalu bereskan piring ke dapur. Selalu cuci tangan dan berdoa sebelum makan. Ingat untuk mencuci kaki sebelum masuk kamar. Menyapa setiap kali datang dan pamit jika hendak pergi. Tidy up mainan mereka setiap kali selesai bermain. Ya, hal-hal ‘sepele’ seperti itu.

Kami juga ingin anak-anak punya keinginan mereka sendiri, bertanggung jawab atasnya, dan bisa menerima kegagalan. Pernah suatu kali, dia kepengeeen banget sebuah mainan, yang menurut kami harganya kemahalan dan agak waste of money jika membelinya. Kami pun membuat perjanjian, kalau dia bisa mendapat nilai 10 untuk pelajaran Dictation, kami akan membelikan mainan itu. Waktu itu, dia belum lancar membaca dan menulis. Setiap dictation, selalu dapat nilai 0. Ya, n-o-l, bunder! Dia selalu menuliskan tulisan-tulisan ngawur di lembar jawabannya. Kami sampai sempat ditegur oleh guru kelasnya agar lebih memperhatikan kemampuan baca tulis anak kami. Akhirnya, kami pun terpaksa mencarikan guru les privat untuk baca tulis. Hampir 3 bulan ia berjuang, berlatih dengan rajin. Demi mainan itu. Setiap kali kerajinan atau semangatnya kendor, kami ingatkan tentang perjanjian yang telah dibuat. Bahwa dia yang sudah setuju memberikan nilai 10 untuk kami. Bahwa itu adalah keputusan dan pilihan dia sendiri, dan oleh karenanya, dia harus bertanggung jawab. Singkat cerita, dia berhasil. Bukan main senangnya dia. Kami apalagi. Senang luar biasa, dan bangga!

Harapan kami, kelak besar, dia sudah terbiasa memilih sendiri dan bisa menerima segala bentuk konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambilnya. Hmm … terlalu idealis mungkin, ya?

Ah, anak kami yang ganteng [kata banyak orang, lho], anak kami yang baik dan penurut [sedang dilatih terus untuk itu], anak kami yang cinta keluarganya [ini fakta], anak kami yang takut akan Tuhan [walau masih sering bolos Sekolah Minggu], terlalu banyak hal yang bisa kami banggakan darimu, Nak. Mungkin hal-hal yang dianggap sepele dan ngga berarti bagi orang lain, bagi dunia. Tapi buat kami, itu semua: permata. We love you so much, son!

Tulisan ini terinspirasi dari kisah anak yang bunuh diri karena gagal beberapa waktu lalu, sebagai bentuk keprihatinan sekaligus reminder to all parents:

Love your kids no matter what

and teach them to love and appreciate themselves.



Baca Juga:

Ingin Punya Anak Sukses seperti Joey Alexander? Orangtua, Renungkanlah Hal-Hal ini

5 Bahaya Masa Kini yang Mengancam Jiwa Anak-Anak Kita

Biarkan Anak Anda Jatuh! Dengan Tidak Selalu Menjaga dan Membentengi, Anda Justru Sedang Mendidik Mereka




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bangga dan Cintalah pada Anak, Bukan karena Medali atau Piala yang Berhasil Mereka Raih, tetapi karena Diri Mereka - Apa Adanya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Lelyana Fransisca | @lelyanafransisca

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar