'Aku Salah Apa?' Sebuah Curahan Hati: Penantian Panjang Akan Hadirnya Anak dalam Pernikahan

Marriage

[Image: esquire.tw]

7.2K
Aku salah apa? Jangan-jangan ini adalah hukuman dari Tuhan. Apalagi yang harus kulakukan? Sejujurnya lelah memikirkan ini semua.

Di awal pernikahan, pertanyaan "Sudah isi belum?” seolah menjadi makanan sehari-hari. Namun seiring dengan bertambahnya usia pernikahan dan momongan masih belum juga didapatkan, semakin jarang orang bertanya kepada kami.

Entah apakah mereka sudah pesimis atau mungkin jadi menaruh iba kepada kami. Yang menjadi harapanku sih, mereka tidak menggunjingkan soal ini di belakang,

"Kenapa ya kok mereka belum mendapat momongan? Kira-kira siapa ya yang punya masalah?" "Untung ya aku tokcer, tidak seperti mereka."


[Image: verywell.com]


“Aku salah apa?”

Sepertinya sebagai manusia, usahaku sudah cukup maksimal. Mencari referensi dari internet sudah sering dilakukan. Antre sampai tengah malam di dokter terkenal, sudah dijalani. Mencoba obat dokter, ramuan cina, madu langka, minum suplemen, juga sudah sering kucoba. Mengikuti semua nasihat, dari bagaimana cara berhubungan, bagaimana menghitung waktu subur, tidak memangku laptop, tidak mengantongi gadget hingga berbagai nasihat aneh yang tidak bisa dituliskan disini, juga sudah diikuti. Tetapi hasilnya? Momongan belum kunjung tiba.



“Aku salah apa?”

Banyak hal berkecamuk di dalam pikiranku. Mulai dari memikirkan dosa apa yang sudah kulakukan. Jangan-jangan ini adalah hukuman dari Tuhan? Memikirkan kenapa ya hidup ini tidak adil, aku yang sudah hidup baik dan juga sehat, kok harus mengalami kesulitan, sedangkan ada orang yang hidupnya tidak benar, malah cepat mendapat momongan. Apalagi yang harus kulakukan? Apakah aku harus terus berjuang atau menyerah kalah? Apakah aku harus terus melangkah atau pasrah dengan nasib? Sejujurnya lelah memikirkan ini semua.



“Aku salah apa?”

Biarlah ini menjadi pertanyaanku. Mohon jangan larang aku untuk bertanya. Besar kemungkinan mereka yang melarang tidak merasakan, atau tidak bisa memahami, apa yang menjadi pergumulan pasangan seperti kami. Tidak tahu betapa sedih dan sepinya kami setiap memikirkan masalah ini.

Tetapi tenang saja, kami belum menyerah. Kalau orang patah hati saja bisa move on, kami pun harus bisa move on.

Hanya mohon pengertiannya untuk tidak melarang kami tetap bertanya. Supaya kami bisa mengambil waktu dan merencanakan langkah yang lebih baik. Anggap saja demikian.


Walaupun menyimpan tanya, bersyukur ada beberapa hal yang bisa membantu kami move on:


1. Anak adalah Anugerah

Kami menyadari, anak adalah anugerah dari Tuhan. Ada yang sudah lama berharap dan tidak kunjung mendapatkan, tetapi ada yang tidak berharap - bahkan malah seharusnya belum boleh punya anak - malah mendapatkan.

Manusia tidak berkuasa mengatur itu, hanya Sang Pencipta yang tahu.

Kapan pasangan siap memiliki momongan, kapan burung bangau atau pelikan menjatuhkan bayi melalui cerobong asap seperti di film kartun yang sering aku tonton waktu kecil dulu, hanya Tuhan yang tahu.

Baca Juga: Memilih Mempertahankan Kandungan meski Janin Tak Berkembang Baik. Sebuah Pelajaran Berharga tentang Hidup yang Diperoleh dari Mengalami Kehilangan



2. Rencana Tuhan adalah yang Terindah

Memang kami tidak selalu bisa melihat apa yang menjadi rencana Tuhan bagi keluarga kami. Namun, berkali-kali kami dibuat tercengang, ketika akhirnya melihat betapa Tuhan sudah mengatur yang terbaik bagi kami. Bisa jadi saat ini memang ada hal lain yang harus kami selesaikan, ada orang lain yang harus kami perhatikan.

Masih banyak PR kehidupan lain yang harus dikerjakan sebelum kami dinyatakan lulus dan layak menjadi orangtua.

Baca Juga: Aborsi dan Bunuh Diri Bukan Solusi. Kisah Nyata Sarni ini Membuktikan Rencana Tuhan Jauh Lebih Indah



3. Kami Tidak Berjuang Sendiri

Kami tidak berjuang sendirian, karena banyak juga pasangan yang mengalami masalah serupa. Kami bisa bertukar informasi - bahkan juga periksa ke dokter bersama - dengan pasangan lain yang senasib sepenanggungan dengan kami.

Meskipun, jujur saja, sebagai manusia normal, rasa iri kadang masih menghampiri ketika ada yang lebih dulu berhasil mendapatkan momongan.

Menurut kami, keberadaan sebuah komunitas amatlah penting dan sangat diperlukan. Sedihnya, tidak banyak komunitas yang disediakan bagi kami. Yang banyak ada adalah komunitas bagi para jomblo yang mencari pasangan atau komunitas parenting bagi mereka yang sudah memiliki momongan.

Baca Juga: Setelah Lama Menikah dan Tak Kunjung Hamil, Saya Lakukan Bagian Saya untuk Memeriksa 7 Hal ini. Akhirnya Anugerah Kehidupan itu Diberikan kepada Saya



[Image: pixabay.com]

Senang lho kalau kami tidak dilihat sebagai orang-orang aneh tetapi justru di-support penuh, dipahami dan dimengerti.

Bukan hanya ditanyai, tetapi juga didoakan.

Senang kalau kami dilihat sebagai manusia normal, yang kebetulan saja diizinkan Tuhan bergumul dalam hal ini.



Baca Juga:

Untukmu yang Merasa Gagal dalam Hidup: Inilah 3 Inspirasi dari Mereka yang Berhasil Melampaui Keterbatasan, Bangkit dari Keterpurukan dan Keluar sebagai Pemenang

Dari Mereka yang Telah Mengadopsi Anak: Hal-Hal Penting yang Harus Diketahui Orangtua sebelum Memutuskan Adopsi

Baby Blues Syndrome: Ketahui Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi dan Mengurangi Kemungkinan Terjadinya

Mengalami Pre-Eklampsia Membuat Saya Memahami Apa Arti Menjadi Seorang Ibu yang Sesungguhnya




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "'Aku Salah Apa?' Sebuah Curahan Hati: Penantian Panjang Akan Hadirnya Anak dalam Pernikahan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Davy Hartanto | @davyedwin

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar