Aku Melukai Hati Istriku dengan Menduakannya

Marriage

[Photo credit: Tina Sosna]

31.1K
Aku menuliskan ini dengan penyesalan yang amat dalam.


Kisahku bermula 12 tahun lalu, saat aku berkenalan dengan seorang wanita, Amai namanya.

Kami berpacaran selama tiga tahun. Tiada hari berlalu tanpa saling berbicara lewat telepon atau sekadar berkirim pesan singkat. Jangan sampai HP tertinggal atau habis baterai, salah satu di antara kami pasti akan marah besar. Entah Amai atau aku ...

Amai berikan semua untukku. Ia pernah memberiku parfum, sapu tangan, sisir kecil. Kala itu aku memang orang yang tidak memperhatikan penampilan sendiri.

Bahkan semasa pacaran pun ia rela memberikan satu hal yang amat berharga dalam hidupnya untukku. Semua ia lakukan karena tak ingin kehilangan diriku.



Januari 2008 kami menikah. Sebuah pernikahan yang sederhana, hanya dihadiri keluarga dan beberapa tetangga.

Sebenarnya Mamah, ibuku, keberatan dengan pernikahan di bulan Januari itu. Beliau berharap kami menikah di bulan Juli. Namun, orangtua Amai berkeras menyegerakan, mengingat hubunganku dengan Amai yang kian lekat.

Kehidupan pernikahan kami cukup bahagia, meski di awal sempat ada masalah antara Amai dan Mamah, lantaran rencana pernikahan yang tak sesuai harapan.

Saat kami mengabarkan berita gembira akan hadirnya anak dalam pernikahan kami, Mamah tidak menunjukkan ekspresi bahagia. Mungkin karena Mamah memandangku masih belum mapan.

Anak pertama kami lahir di bulan November, selisih seminggu dengan ulang tahun Amai. Kembali, tanggapan datar yang kudapatkan ketika menyampaikan kabar bahagia ini ke keluargaku.

Amai melahirkan anak kami lewat operasi caesar. Sebagian besar biaya persalinan kala itu ditanggung keluarga Amai. Keluargaku hanya membantu sedikit.



Ketika anak kami menginjak usia dua bulan, aku mengajak Amai pindah ke kotaku.

Aku mengira Mamah akan menyambut kami dengan gembira, mengingat itu kali pertama ia akan melihat cucunya. Apa mau dikata, harapan tak sesuai kenyataan. Semua biasa saja, tak ada sambutan istimewa.

Selang hampir sebulan tinggal di rumah Mamah, masalah antara Mamah dan Amai kembali timbul. Masalah yang menyebabkan kami harus keluar dari rumah.

Akhirnya kami tinggal di kamar kos milik keluargaku. Sepetak kamar berukuran 4X4 meter dengan sebuah kamar mandi. Tanpa fasilitas lain, selain perlengkapan rumah tangga yang diberikan orangtua Amai, kami menjalani hidup dengan bahagia. Di kamar itu pula anak kami belajar berjalan. Hari-hari kami diisi dengan canda tawa dan cerita bahagia.

Setelah si kecil berusia sepuluh bulan, Amai memutuskan untuk bekerja di sebuah kampus sebagai staf pengajar. Saat itu gajinya lebih besar dari gajiku, yang hanya bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMK.

Sebagian besar kebutuhan rumah tangga kami, termasuk susu anak, pampers, hingga biaya pengasuh ditanggung Amai. Tak pernah sekalipun ia mengeluh.

Setiap pagi aku mengantar Amai ke kantor dengan motor bebek yang kupakai sejak kami pacaran dulu. Sore hari, aku menjemputnya. Setiap sore pula, sesibuk apa pun, Amai selalu berusaha memasakkan makanan kesukaanku: Martabak telur, buatannya.

Istriku sungguhlah seorang wanita sederhana. Ia hanya punya satu sepatu. Satu itu terus dipakainya hingga rusak. Tasnya juga satu, itu saja sepanjang ia bekerja. Bajunya terhitung dengan jari, itu pun sebagian besar baju kerja. Lipstiknya satu. Dipakainya hingga benar-benar habis. Ia bahkan menggunakan jarinya, mencungkili sisa-sisa lipstik yang ada untuk dipulaskan di bibirnya.



Hubungan kami dan Mamah akhirnya membaik juga. Kami pun pindah ke rumah tua peninggalan Nenek yang cukup luas.

Akhir 2011 Mamah meninggal. Aku larut dalam kesedihan.

Aku kalut. Sebentar lagi anak kami masuk TK, sementara kondisi ekonomi keluarga masih pas-pasan. Bayar tagihan listrik saja kadang kami tak mampu.

Amai kemudian menyarankan untuk menanyakan lowongan kerja ke rekan-rekan kuliahku yang sudah berhasil. Alhamdulillah, awal 2012 aku memperoleh kerja di Jakarta berkat kebaikan seorang teman kuliah.

Kami sekeluarga pun hijrah ke Jakarta. Amai rela melepas pekerjaannya demi menemaniku. Baginya, keluarga selalu nomor satu.

Di Jakarta, Amai mengajar lepas, sehari dalam seminggu. Selebihnya ia bekerja di rumah, menjadi ibu rumah tangga.

[Photo credit: Nikoline L. Rasmussen]



Jakarta dan gaya hidup hedonis orang-orangnya, tanpa aku sadari, ternyata memengaruhiku juga.

Akhir 2012 aku merekrut seorang resepsionis di kantor. Seorang wanita beranak satu dengan penampilan yang amat menarik. Jujur aku akui, aku tertarik pada tubuhnya.

Aku pun berusaha mendapatkan perhatiannya. Jurus-jurus PDKT aku keluarkan, rayuan-rayuan tak gentar aku lancarkan.

Upayaku berhasil. Tak hanya ia membalas gombalanku, kami pun jadi makin dekat.

Kala itu, aku merasa cinta di kantor adalah sesuatu yang wajar selagi tak sampai berhubungan badan. Tak sedikit pun ada penyesalan dalam diriku, meski aku tahu, aku telah menduakan istriku.

Kegilaan tak berhenti di situ. Aku bahkan berani melakukan mark up di kantor untuk menutup biaya kencan.

Setelah hampir tiga tahun berhasil mengakali anggaran, pertengahan 2015 kantor mengetahui tindakan mark up yang selama ini aku lakukan. Kontrakku diputus. Aku kehilangan pekerjaan.

Menganggur dan tanpa penghasilan, Amai tetap menerimaku apa adanya. Ia bahkan terus menyemangatiku, tanpa tahu, apa yang ada di belakang ini semua.



Ternyata perusahaan masih berusaha memperoleh kembali uang yang telah aku gelapkan. Mereka pun memanfaatkan resepsionis, yang mereka tahu dekat denganku, untuk mencari tahu keberadaanku.

Bodohnya aku, masih menganggap wanita itu menghubungiku karena ia merindukanku. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, ia hanya alat perusahaan untuk 'menangkap' aku.

Persembunyianku terbongkar, demikian juga kebohonganku. Amai akhirnya tahu juga, semuanya.

Amai, istriku, yang hatinya telah kuhancurkan itu, menyerahkan dirinya ke kantor untuk mengambil alih tanggung jawab atas perbuatanku. Sedangkan wanita itu, yang selama ini ikut menikmati semuanya, seolah menjadi manusia suci, turut memojokkan aku.

Untuk mengembalikan uang perusahaan, Amai harus menjual rumah BTN-nya. Rumah kenangan pemberian Bapak, yang menyimpan cerita perjuangan kami di awal pernikahan.

Sekali lagi, Amai berkorban untukku.

Selama enam bulan kami bertahan hidup dari pinjaman, terutama dari keluarga Amai. Kami berusaha berjualan mie ayam, dan hanya mampu membawa pulang lima puluh ribu rupiah setiap harinya ke rumah.

Betapa teruji kesabaran dan kesetiaan Amai, istriku yang berhati malaikat itu.

Sedangkan aku. Aku masih terus memikirkan resepsionis bertubuh indah itu. Bayang-bayang menikmati tubuhnya tidak pernah pergi dari pikiranku.



Awal 2016, doa-doa yang Amai panjatkan akhirnya terkabul. Aku mendapatkan pekerjaan baru.

Di kantorku yang baru, seorang janda berusaha untuk mendekatiku. Namun aku tak berminat sama sekali dengannya. Entah apa sebabnya, apakah karena aku teringat Amai, atau resepsionis itu, aku tak tahu pasti.

Yang jelas, aku kembali menghubungi resepsionis itu. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku mengkhayalkan dapat kembali memeluk dan menciumnya.

Chat mesra dan rayuan kembali kukirimkan kepadanya, terutama saat ia meminta bantuan uang dariku.



Aku berusaha menutupi semua dengan sempurna, Tuhan membuka juga pada waktu-Nya.

Tepat di hari ulang tahunku, Amai tak sengaja menemukan back up chat mesraku dengan resepsionis itu.

Amai marah.

Saat itu, aku benar-benar kehilangan kata-kata. Hanya penyesalan yang kurasakan.

Kini, Amai menuntut cerai. Aku mungkin akan kehilangan dia selamanya.

[Photo credit: Tina Sosna]



Maafkan aku, Amai.

Maafkan kebodohanku, maafkan kebejatanku.

Aku menyesali semua yang telah kulakukan. Aku menyesal telah menduakanmu.

Aku bersumpah untuk kembali setia kepadamu, bersumpah hanya mencintaimu, dan bertekad menundukkan pandangan agar bisa menjaga hatiku.

Aku mencintaimu.



Bogor,

September 2017.




Baca Juga:

Mengapa Pria Berselingkuh? Inilah Pengakuan Mengejutkan 5 Pria Peselingkuh

Selingkuh Itu Indah? Inilah Sisi-Sisi Gelap yang Sering Kali Tak Terungkap

3 Hal Keliru yang Istri Lakukan setelah Mengetahui Suami Berselingkuh





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Aku Melukai Hati Istriku dengan Menduakannya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Rudy Priyanto | @ayah2diaz

Saya adalah seorang suami, dan ayah dari dua orang anak, yang telah menyakiti hati Istriku untuk kesekian kalinya...

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Nice Post Good ArticleKata Kata Motivasi