Awas! Media Sosial Merampas dan Membunuh 3 Hal Penting ini dari Hidupmu. Segera Lakukan Sesuatu!

Reflections & Inspirations

[Image: cpm-asia.org]

5.1K
Teknologi mengubah manusia. Media sosial mengubah manusia. Selalu ada dampak untuk setiap perubahan. Jika kita tidak siap, maka perubahan itu justru dapat menjadi 'bumerang' dan, bukan tidak mungkin, dapat membunuh kita dan masa depan kita.

Sekelompok wanita muda sedang bercakap-cakap di tengah jam istirahat makan siang mereka. Sambil menatap gadgetnya, seorang di antara mereka berseloroh, "Enak ya jadi ibu rumah tangga! Lihat nih, Si Erlin [bukan nama sebenarnya] posting foto dia dan anak-anaknya lagi main lego. Kemarin dia juga posting foto mereka lagi asyik main di Timezone. Padahal, kayaknya baru minggu lalu loh aku lihat ada foto-foto si Erlin sama anak-anaknya di luar negeri! Asik banget, libur teruuusss. Kapan kita bisa kayak gitu? Ini tiap hari kudu ngantor, mana kerjaan numpuk!"

Di tempat yang lain, seorang ibu muda sedang sibuk membuka Facebook ketika pandangannya tiba-tiba terhenti pada status seorang teman lamanya, "Horee, akhirnya Tuhan jawab doa. Ini namanya rejeki anak soleh. #naikjabatan #promosi #karier #masadepan #jalanjalan #berkat"

Entah mengapa, status itu amat menganggunya. Dalam hati Ia bergumam, "Ih, sombong banget! Dapat promosi kerjaan aja kok pakai lapor-lapor sih!" Walaupun demikian, Ia terus saja membuka dan mengamati foto-foto di akun Facebook itu. Ia pun kemudian mulai berkhayal, "Coba gua gak resign waktu si kecil lahir, pasti karier gua cerah nih. Sekarang bosen banget di rumah, tiap hari ngurusin anak-anak terus. #capek #bosenbanget #iburumahtangga"

Dua kisah ini bukanlah sekadar rekaan yang hanya hidup di imajinasi saya. Itu adalah jenis dialog yang seringkali tak sengaja tercuri dengar oleh saya di dunia nyata. Bahkan, walaupun bukan untuk hal yang persis sama, saya sendiri mungkin juga pernah mengalaminya. Sejujurnya, bukan mungkin, tapi hampir pasti, ya.

Teknologi telah sedemikian rupa mengubah hidup manusia. Saya ingat betul betapa membosankannya dulu saat harus menunggui ibu saya berbelanja. Bingung rasanya, entah apa yang harus dikerjakan untuk membunuh waktu sambil menunggu. Tapi, coba lihat sekarang, anak-anak begitu sibuk dengan gadget mereka, sehingga menunggu - selama apapun - seakan tak lagi jadi soal buat mereka. Dulu, saya harus menembus hujan untuk memesan makanan di luar rumah. Sekarang? Cukup order via online, dan makanan pun segera tersaji tepat di depan kita. Belum lagi, soal waktu hang out bersama teman-teman. Dulu, kita harus susah payah membuat janji bertemu untuk bisa ngobrol. Sekarang tidak lagi, cukup buat group WhatsApp atau Line, lalu Anda pun bisa ngobrol ngalor ngidul sepuasnya dengan teman-teman.

Teknologi mengubah manusia. Media sosial mengubah manusia. Dengan keberadaannya, kita tanpa sadar didorong untuk hidup ‘simplified’. Tentu ini kabar baik, kita jadi tidak perlu repot-repot lagi. Tapi jangan lupa, selalu ada dampak untuk setiap perubahan. Dan, kini kabar buruknya, jika kita tidak siap, maka perubahan itu justru dapat menjadi 'bumerang’, dan bukan tidak mungkin, dapat membunuh kita dan masa depan kita.


1. Media Sosial Dapat Membunuh Rasa “Ke-cukup-an” Kita

Media sosial membuat kita harus benar-benar berjuang dengan rasa cukup. Perkara klasik memang, karena sejak dulu kita sesungguhnya telah menghadapi ini.

Tapi lihat, sekarang, bahkan setiap menit kita harus merenungkannya. Memastikan hati kita tidak iri, cemburu, atau berespons negatif terhadap setiap postingan atau status update orang lain.

Tiap kali kita membuka Facebook, Path, atau Instagram, akan tersaji pemandangan yang mau tak mau membuat kita jadi bertanya-tanya, “Kok hidup orang lain nampaknya selalu bahagia, ya?”


[Image: justatraceblog.com]

Kita akan menyaksikan teman-teman kita yang sedang memperlihatkan senyum sumringah tatkala sedang berduaan dengan pacar atau pasangan mereka di restoran mewah. Atau foto-foto mereka saat melancong ke luar negeri sambil berpose di tempat-tempat yang indah. Belum lagi mereka yang punya hobby-hobby tertentu! Bentuk badan six pack, olahraga Muay Thai, 20fit, naik gunung, buku-buku bacaan, sampai koleksi mainan pribadi tak pernah lolos dari jepretan kamera untuk kemudian dipamerkan di media sosial.

Dan sebenarnya itu hal biasa, bukan? Tidak ada yang salah dengan itu. Kita tidak bisa menghakimi mereka dengan berkata, "Sok pamer!" atau lainnya. Tidak bisa, karena hanya orang yang bersangkutan dan Tuhan saja yang tahu apa motif yang ada di balik setiap postingan yang ditampilkan. Kita pun - sadar atau tidak sadar - pernah atau bahkan sering melakukan hal serupa. Kita akan meng-upload foto hotel tempat kita menikmati liburan, lengkap dengan semua aktivitas yang kita lakukan. Kita juga mungkin akan 'melaporkan' barang yang mau ataupun baru kita beli, tentu dengan kemasan yang indah dan cara yang halus, begini misalnya, ‘"Menurut rekan-rekan, bagusan iPhone atau Samsung S7 sih? Sharing, dong!" Kita sering 'curcol' mengenai penampilan kita saat perform di panggung; memamerkan piala kemenangan, prestasi, dan hal-hal baik lainnya. Tentu itu sah-sah saja. Tak seorang pun berhak melarang, dan memang, tak ada yang salah dengan itu.

Namun, terhadap stimulus yang seharusnya bersifat netral tersebut, tanpa sadar, kita kadang bereaksi negatif. Entah mengapa, tiba-tiba muncul perasaan-perasaan negatif di dalam diri kita saat orang lain bisa ‘lebih baik’ dari kita. Sesungguhnya, saat perasaan itu muncul, pada saat yang sama kita sudah terjebak dalam sebuah lingkaran pembuktian diri. Kita tidak mau kalah dengan orang lain. Saat meng-upload sesuatu, kita ingin orang lain memuji kita. Atau minimal, orang tahu apa yang sedang kita kerjakan. Hidup kita baru menjadi berarti saat “Likes” di postingan kita mencapai angka tertentu yang fantastis. #kalauorangtauterusmauapa #janganbaper #hidupapaadanya #bukanadaapanya

We are living for likes, but we are longing for life.

Apa arti hidup? Apakah sekedar untuk memuaskan diri dan berkompetisi dengan orang lain?

Media sosial bisa menggiring kita pada satu pokok masalah dalam hidup manusia: ketidakpuasan. Kita menjadi iri hati dan terobsesi untuk berkompetisi dengan orang lain. Celakanya, kita bahkan jadi bisa menghalalkan segala macam cara sekadar untuk 'memenangkan' pertandingan. Kita tidak menempatkan diri sebagaimana kita ada. Hidup kita jadi bak sebuah pertandingan, tanpa jelas piala apa yang sebenarnya sedang kita perebutkan.


[Image: wisegeek.com]

Saya tidak anti media sosial, tetapi kita perlu menyadari dengan jernih, apa yang bisa terjadi pada diri kita saat kita terlibat di dalamnya.

Memiliki hati yang penuh ucapan syukur adalah kunci utama sebelum Anda berani masuk dalam lingkaran media sosial ini. Merasa cukup dengan apa yang Anda sekarang miliki menjadi kunci untuk tidak terjebak dengan perasaan dengki dan iri hati.

Bukankah Seorang Besar yang pernah hidup pernah berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?”

There’s no winning in comparison. Don't be obsessed with getting more material things. Be relaxed with what you have. Since God assured us, "I'll never let you down, never walk off and leave you!"



2. Media Sosial Dapat Membunuh Rasa “Ke-intim-an” dalam Relasi Kita

Media sosial dan teknologi, harus diakui membuat kita semakin mudah dan semakin sering berinteraksi. Seiring dengan semakin majunya teknologi, semakin banyak pula percakapan yang terjadi karenanya. Sekarang ini, tidak sedikit dari kita yang mempunyai lebih dari satu group WhatsApp atau BBM.

Namun ironisnya, semakin banyak kita berinteraksi melaluinya, semakin sepi rasa hidup kita. Mengapa? Karena 'percakapan' yang kita lakukan tidak melibatkan aspek visual dan sentuhan. Kita hanya seperti sedang melempar dan menangkap bola.

Beberapa dari kita bahkan tega mengorbankan suara orang-orang yang nyata hadir di dekat kita sekadar untuk menjawab bunyi panggilan pesan yang masuk di smartphone, ‘Tunggu dong, mamih lagi balas pesan teman mamih nih. Penting, tau gak?!’" Demikian bentak seorang ibu kepada anaknya yang sudah menanti berjam-jam agar bisa bermain dan berbincang dengan ibunya. Beberapa pemuda tampak asyik tersenyum-senyum sendiri menatap gadget, saat sekelompok teman berkumpul di sekitar. Bahkan, sebuah keluarga terlihat seperti orang asing satu dengan yang lain, saat semua anggota keluarga memegang dan menatap gadget masing-masing, padahal mereka sedang duduk di satu meja makan yang sama. Media sosial dan teknologi, #menjauhkanyangdekat #mendekatkanyangjauh


[Image: theswexperts.com]

Komunikasi macam apa yang sedang dibangun manusia pada zaman ini? Sejujurnya, kita tidak diciptakan untuk berelasi secara virtual. Manusia membutuhkan sentuhan dan tatapan yang bisa menyampaikan emosi. Beberapa aplikasi nampaknya bisa memahami kebutuhan akan hal ini, maka kemudian diciptakanlah emoticon atau sticker untuk dapat mengisi aspek emosi dan perasaan yang hilang itu, sehingga percakapan virtual dapat terasa lebih riil. Dengan aplikasi tertentu, kita bahkan juga dapat membuat foto kita sendiri sebagai emoticon atau sticker. Emoticon membantu kita untuk lebih bisa memahami perasaan lawan bicara, apakah sedih, senang, bingung, marah, dan sebagainya. Namun, kita sadar bahwa ini pun tidak mampu menjawab kebutuhan manusia sepenuhnya.

Komunikasi membutuhkan intimasi. Sesering apapun berkomunikasi, jika terus menerus dilakukan tanpa sentuhan dan tatapan, hati akan tetap merasa kering dan sepi.

Sadarlah bahwa kita tetap membutuhkan sebuah pertemuan nyata, sebuah percakapan yang dilengkapi dengan sentuhan dan tatapan sebagai bagian dari keintiman.


[Image: eclecticbinge.com]

We’re busy, but bored. We’re full, but empty. We’re connected, but lonelier than ever.

Kalimat ini bisa mewakili apa yang terjadi saat-saat ini. Teknologi bisa merobek hubungan antarsahabat. Teknologi juga bisa merampas waktu kebersamaan suami dengan istri, orangtua dengan anak. Bahkan, kalau mau jujur, tangan kita mungkin lebih banyak memegang gadget, daripada memeluk orangtua. Mata kita lebih banyak terpaku ke layar iPad, saat seharusnya kita menatap penuh kasih mata anak-anak kita. Telinga kita begitu terlatih membedakan bunyi notifikasi yang masuk di smartphone, saat seharusnya kita bisa mendengarkan suara keluhan sahabat kita. Dan akhirnya, hati kita begitu kosong, saat seharusnya kita bisa mengisinya dengan sentuhan kehadiran orang lain.

Teknologi telah menjadikan manusia seperti sebuah emoticon. Bisa dilihat dan dipahami, namun tak pernah bisa dirasakan.

“Let us not neglect our meeting together” - Heb 10:25

Baca Juga: Terlalu Banyak Menonton Drama Korea dan Hal-Hal Berbahaya Lain yang Dapat Membunuh Relasi



3. Media Sosial Dapat Membunuh Rasa “Ke-tenang-an”

Manusia di zaman ini memiliki waktu istirahat yang semakin singkat. Hidup telah menjadi terlalu berisik, dan teknologi adalah salah satu penyebabnya.

Teknologi telah menjadi layaknya candu bagi kita. Mata kita seakan ingin terus terbuka untuk menatap, telinga kita ingin terus terbuka untuk mendengar, namun pada saat yang sama hati kita justru semakin tertutup dan kosong. Entah mengapa, tapi tangan kita seakan enggan untuk berhenti menggengam gadget atau komputer kita. #scrollterus #gakbisabobo #amnesia


[Image: curejoy.com]

Semua pergerakan dan aktivitas kita tanpa sadar telah berpusat pada gadget. Kita terus tergoda untuk memegang dan memeriksa gadget. Walaupun kadang, kita tidak tahu dengan pasti apa yang sebenarnya sedang kita lakukan. "Jangan-jangan ada pesan masuk. Jangan-jangan ada yang posting sesuatu. Jangan-jangan ada sesuatu yang penting." Jangan-jangan ini, jangan-jangan itu. Media sosial telah membuat hidup kita kehilangan rasa tenang.

Beberapa orang bahkan harus mengonsumsi obat tidur sekadar untuk dapat mengistiarahatkan tubuh dan pikiran. Mata sudah layu, tapi entah mengapa tangan terus bergerak tanpa dapat berhenti. Memperhatikan dan mencari-cari, tanpa tahu apa yang sesungguhnya sedang kita perhatikan dan cari itu.

Media sosial dan teknologi telah demikian berperan dalam kehidupan kita. Jika kita tidak bijak dan memiliki komitmen untuk mengendalikan diri dalam penggunaannya, maka cepat atau lambat, media sosial, gadget, dan teknologilah yang akan mengendalikan dan menguasai kita.


Baca Juga:

Jangan Biarkan Orang Lain Menjadi Remote Control Hidupmu!

Anak Tidak Bisa Dipisahkan dari Gadgetnya? Orangtua, Segera Lakukan 5 Hal Penting ini!

Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Awas! Media Sosial Merampas dan Membunuh 3 Hal Penting ini dari Hidupmu. Segera Lakukan Sesuatu!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Joy Manik | @joymanik428

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar