Sebuah Kisah tentang Perempuan dan Kekuatan Super yang Mereka Miliki

Reflections & Inspirations

[Image: deviantart.com]

7.8K
Mengapa perempuan mudah meneteskan air mata? Kebanyakan orang, khususnya pria, cenderung memberikan stigma lemah atau cengeng kepada perempuan yang mudah menumpahkan air mata. Tapi, benarkah selalu air mata perempuan itu penanda kelemahannya?

Saya sering melihat perempuan menangis. Kadang kala, saya perhatikan dari mimbar, beberapa perempuan mengusap air mata menjelang akhir khotbah. Air mata perempuan hampir pasti mengalir di sesi-sesi konseling saya bersama dengan mereka. Itulah sebabnya, saya seringkali menyodorkan kotak tissue sebelum memulai sesi konseling dengan perempuan. Tak sulit memahami mengapa perempuan lebih mudah meneteskan air mata daripada pria. Mungkin, itu disebabkan karena kita tumbuh dalam budaya di mana ekspresi perasaan yang disertai dengan tetesan air mata dianggap sebagai hal yang “haram” bagi pria.

Mengapa perempuan mudah meneteskan air mata? Kebanyakan orang, khususnya pria, cenderung memberikan stigma lemah atau cengeng kepada perempuan yang mudah menumpahkan air mata. Tapi, benarkah selalu air mata perempuan itu penanda kelemahannya?


[Image: cosmopolitan.co.uk]

Pandangannya terarah ke jendela pesawat terbang yang berada tepat di sebelah tempat duduknya, menerawang jauh. Sesekali, air mata perempuan itu meleleh. Sambil terisak pelan, Ia menghapus air mata itu dengan tissuenya yang sudah lusuh, lalu mengarahkan kembali pandangan ke jendela. Beberapa kali, sambil membaca e-book di Kindle, saya menoleh ke arahnya. Usianya sekitar 40 tahun. Penampilannya sederhana, tanpa make up sama sekali. Tak sulit menebak bahwa perempuan itu kemungkinan besar adalah domestic helper alias pembantu rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Singapura.

Pramugara di penerbangan berbiaya rendah dari Singapura menuju Indonesia itu mulai membagikan roti dan air putih. Saya mengambil dan mengulurkan kepada perempuan itu sambil berkata, ”Pulang ke Surabaya?”

“Iya pak. Eh, tidak. Dari Surabaya saya akan ke Madiun,” jawabnya.

Saya mengulurkan tangan, menyebutkan nama dan pekerjaan saya. Kami berkenalan. Tanpa diminta, Ia pun kemudian menuturkan cerita hidupnya dengan bahasa Indonesia yang kadang kala bercampur dengan logat Melayu.

Sebut saja namanya Sri. Ibu dari dua anak laki-laki yang kini berusia 12 dan 5 tahun. Suaminya tak mampu membiayai rumah tangga mereka. Sri pun berangkat menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Singapura. Dari pekerjaan ini, ia bisa mengirim kurang lebih 6 juta rupiah tiap 3 bulan untuk membiayai suami dan anak-anaknya.

***

“Saya tidak tahu, apakah anak saya yang kecil masih mengenal saya,” ujarnya menahan tangis.

“Lho, kenapa?” tanya saya sambil mengarahkan pandangan padanya.

“Lima tahun kurang tiga bulan lalu, saya bekerja di Singapura, tak pernah pulang sama sekali. Waktu saya berangkat, anak saya yang kecil masih dua bulan umurnya,” tuturnya sambil meneteskan air mata.

Saya terdiam. Tercekat. Bukan suatu hal yang mudah bagi seorang ibu untuk meninggalkan anaknya yang masih berusia dua bulan demi mencari nafkah di negara lain. Air matanya adalah air mata pengorbanan.

***

“Tiga minggu yang lalu, saya berbicara lewat telepon dengan suami dan anak-anak saya. Bercanda dengan mereka, karena kurang tiga bulan lagi kontrak saya selesai. Saya sudah merencanakan untuk membawa oleh-oleh untuk mereka. Saya sangat bahagia. Kontrak lima tahun akan berakhir, dan saya bisa bertemu mereka,” tutur Sri.

“Lho, kok pulang sekarang?” tanya saya ingin tahu.

Sri tak menjawab pertanyaan itu. Air matanya mengalir deras. Ia berjuang keras menghapus tumpahan air mata itu. Saya merasa agak menyesal menanyakan tentang kepulangannya saat ini.

“Kemarin malam, keluarga saya telepon. Suami saya meninggal kerana stroke. Itu sebabnya, saya pulang. Tapi, tadi pagi suami saya dikuburkan, sesuai dengan kebiasaan di kampung. Permintaan saya untuk menunda penguburan tak dikabulkan. Saya tak bisa melihat wajahnya walau sebentar,” tuturnya terisak-isak. Air mata itu kembali mengalir deras. Air mata dukacita.

***

Saya mengingatkan Sri untuk menikmati roti dan minuman yang tadi disodorkan pramugara. Ia menolak, ”Sejak kemarin, saya tak boleh makan dan minum.” Saya paham, dalam logat Melayu boleh berarti bisa dalam bahasa Indonesia. Saya mengingatkan bahwa perjalanannya masih jauh dan ia membutuhkan kekuatan. Sri hanya meneguk air mineral itu.

“Apa rencana selanjutnya setelah pulang. Kembali bekerja di Singapura?” tanya saya.

“Tak. Saya mau menunggu 40 hari setelah penguburan suami. Saya akan ke PT untuk mendaftar ke Taiwan. Saya dengar gaji pembantu lebih besar di sana,” jawabnya sambil menghapus sisa air mata.

“Apa tidak ingin menemani anak-anak saja dan bekerja di Indonesia?” lanjut saya.

“Ingin. Ingin sekali tinggal bersama anak-anak. Tapi, tak cukup wang kalau kerja di Indonesia. Kebutuhan makin banyak, mesti cari wang yang banyak untuk anak-anak,” jawabnya sambil sekali lagi meneteskan air mata. Air mata perjuangan seorang ibu bagi anak-anaknya.


[Image: telemundo.com]

Air mata perempuan seringkali bukanlah tanda kelemahan. Bagi perempuan, seperti Sri, air mata justru menjadi penanda kekuatan. Kekuatan cinta yang menyebabkan seorang perempuan rela berkorban, meninggalkan keluarga, berada dalam kesendirian dan kesepian di negara lain, sekaligus membanting tulang untuk kesejahteraan keluarganya.



Ingin mengetahui kekuatan super lainnya yang dimiliki oleh perempuan? Kamu bisa menemukannya di sini dan juga di artikel ini.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebuah Kisah tentang Perempuan dan Kekuatan Super yang Mereka Miliki". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar