Aib Kok Dipamerin? Sebelum Posting di Media Sosial, Pikirkan Ini!

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Horn Photography]

6.6K
Sekali diunggah, terlambat sudah.

“Ketawa Puas Banget! Begini Aksi Balas Dendam Nagita Slavina Kepada Raffi Ahmad” Begitu judul berita di media daring yang sempat heboh beberapa waktu yang lalu. Bagi yang tidak tahu latar belakangnya bisa saja langsung menutup laman itu sembari ngomel, “Tulisan begini kok dijadikan berita!”

Saya setuju dalam dua arti. Pertama, beritanya itu sendiri. Kedua, kisah di balik berita itu.

Kita bahas saja yang kedua karena jauh lebih penting ketimbang yang pertama. Mengapa saya tidak membahas yang pertama? Karena berita selebriti sebentar naik tidak lama turun. Sedangkan aksi balas dendam via media sosial bisa dilakukan siapa saja ... dan itu berbahaya.

Namun, agar pembaca tahu background-nya, saya gambarkan singkat apa yang terjadi. Sebelum berita itu muncul, Raffi Ahmad mengunggah foto istrinya, Nagita Slavina, yang sedang tidur di mobil dengan mulut menganga.

[Photo credit: surabayaonline]


Nagita, meskipun tampak tenang, hatinya membara juga. Rupanya, dia menunggu kesempatan. Saat berdua di mobil dan sang suami sedang tidur dengan mulut mangap juga, maka dia wefie dan mengunggahnya di media sosial.

[Photo credit: Tribunnews]

Nagita tampak tertawa puas. Satu sama!



[Photo credit: Tim Kwan]
Sebelum memotret, apalagi mengunggah foto seseorang ke media sosial, pastikan bahwa yang bersangkutan tidak keberatan.

Sebagai orang yang dulu suka motret, teknik candid memang mengasyikkan. Obyek akan tampak alami. Meski begitu, misalnya, jika Anda meminta saya untuk memotret Anda, maka saya selalu mencari angle dan moment yang pas sehingga bisa menampilkan the best version of you. Ketika saya berada di seputar Opera House, Sydney, tampak sepasang muda-mudi yang berfoto ria. Begitu melihat saya memotret, mereka minta tolong saya untuk mengabadikan mereka berdua dengan latar belakang ‘one of the most photographed places in the world’ ini. Karena dulu pernah belajar memotret model, saya antusias. Seperti pre-wedding photographer, saya mengarahkan gaya mereka. Begitu hasilnya saya tunjukkan, mereka tersenyum bahagia sambil mengacungkan kedua jempolnya!

Orang memang ingin selalu difoto versi yang terbaik dari dirinya. Anak sulung saya, kalau foto keluarga, selalu memilih di sebelah kiri saya. Sementara itu, Meme, anak gadis saya, selalu berdiri separuh di belakang saya, sehingga tampak depan, dia hanya kelihatan separuh. Itulah the best version of her! Suatu kali, selesai bicara, ada seorang ibu yang mengajak saya foto bersama. Mula-mula dia berdiri di sebelah kiri, namun saat kamera diarahkan ke kami, tiba-tiba dia berpindah ke sebelah kanan saya. Rupanya itulah versi terbaik dirinya!

Demikian juga dalam bermedia sosial. Aib pribadi atau keluarga, jangan dipamerkan. Bijaklah bermedia sosial. Begini caranya:



1. Upload the best version of him [her]

“Foto yang baru Papa upload tidak bagus lho!” demikian anak sulung saya senantiasa mengingatkan jika saya mengunggah foto yang belum diatur dan dipoles. Sebagai orang yang suka keindahan, anak saya butuh waktu cukup lama untuk memilih, memilah dan mengunggah foto ke media sosial, terutama Instagram dan Facebook.

Di dalam kehidupan nyata, peraturan ini bahkan lebih penting. Ketika diundang bicara di hadapan para wanita, saya terkejut saat lewat meja ibu-ibu yang sedang ngerumpi. Rupanya mereka membicarakan keburukan suami mereka di depan teman-teman. Tawa mereka membahana! Bagaimana seandainya suami mereka dengar? Apakah tidak marah? Bagaimana pula reaksi mereka jika mendengar bapak-bapak sedang ngegosipin istri mereka?

Saya tertawa geli saat melihat gambar minion dengan tulisan seperti ini, “If people are talking about you behind your back, then just fart!” ... Hehehe.

Baca Juga: 9 Tipe Mama-Mama Muda di Media Sosial



2. Sekali diunggah, terlambat sudah

Suatu kali saya sedang tugas bicara ke Jogja. Karena saya membawa rombongan, maka kami naik mini bus pribadi. Dalam perjalanan yang lumayan panjang itu, seorang pemain musik tertidur sampai mulutnya mangap, persis Raffi Ahmad. Seorang pemain musik lainnya, langsung mengabadikan peristiwa itu dan meng-upload-nya di Facebook. Saat terbangun dan tahu ulah temannya, pemain musik itu marah besar. Meskipun sang teman sudah meminta maaf dan menghapus unggahannya, foto itu telanjur di-capture teman yang lain dan disebarkan.

[Photo credit: joy105.com]
Dalam kehidupan keseharian, gosip pun demikian.
Sekali kita melontarkannya, terlambat sudah kita menariknya kembali.

Saya membaca kisah umat yang menggosipkan Romo tempatnya beribadah. Dia meminta maaf. Oleh Romo, dia dimaafkan tetapi diberi satu tugas. Dia diminta membawa bantal ke gereja. Meskipun heran atas tugas ini, dia menyanggupi. Oleh Romo, dia diajak ke menara gereja. Sesampai di atas, Romo memintanya menggunting bantal itu sehingga kapuknya berhamburan ke mana-mana ditiup angin. Setelah semua kapuk habis, Romo itu berkata, “Tugasmu, tolong ambil kembali kapuk dari bantal ini!” Umat itu pucat. Tugas itu mustahil dilakukan.

Oleh sebab itu, bijak sebelum bertindak ke mana pun kita berpijak!

Baca Juga: Awas! Inilah 7 Tanda Anda Bermedsos Ria dengan Tidak Sehat



3. Membalas keisengan dengan keisengan tidak menyelesaikan masalah

Dulu saya suka membaca cerita silat macam Kho Ping Hoo. Ketika tahu bahwa kisah semacam ini membuat saya kecanduan, saya memutuskan untuk berhenti. Mengapa pembaca kisah silat tersedot perhatiannya sehingga terus membaca sampai belasan sampai puluhan jilid? Karena di dalam kisah silat semacam ini, rantai balas dendam tidak berkesudahan. Kalau balas dendam disertai pengampunan, kisahnya tamat.

Demikian juga dengan media sosial. Jika seorang yang dilukai perasaannya lewat media sosial membalasnya dengan mengunggah konten yang lebih menyakitkan, perseteruan akan membara menjadi pertempuran. Bukan saja di media maya, tetapi di dunia nyata! Bahkan tidak mustahil hingga saling tuntut ke pengadilan. Saya membaca di media daring, anak presiden pun dilaporkan.

Pada kesempatan lain, saya mendapat tugas bicara di Jogja lagi. Kali ini kami naik bus karena rombongan yang ikut bersama saya cukup banyak. Di tengah perjalanan yang lumayan panjang, seorang MC kami tidur dengan nyenyaknya. Seorang pemain musik dengan iseng menyelipkan sebatang rokok ke jari teman kami yang sedang ngorok itu. Karena begitu lelapnya tidur, dia tidak merasakan, apalagi menyadari keisengan temannya. Setelah itu, pose itu diabadikan lewat ponsel. Setelah bangun dan melihat foto itu, dia begitu kaget. Mengapa? Karena dia bukan seorang perokok. Jika foto itu disebarluaskan via media sosial, dia merasa reputasinya dipertaruhkan. Namun, yang luar biasa, dia memilih untuk mengampuni temannya itu. Case closed!

Baca Juga: Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya



Lalu?

Sebelum mengunggah apa pun ke media sosial, tanyakan ini kepada diri sendiri:

[Photo credit: Sara Kiesling]

1. Apakah manfaatnya lebih besar ketimbang mudaratnya?

2. Apakah membangun atau merusak? Apakah menghibur atau membuat hancur?

3. Jika saya yang diperlakukan demikian, apakah saya senang atau meradang?

Baca Juga: Inilah Satu Kunci Sederhana Suksesnya Sebuah Hubungan yang Kerap Terlupakan


“Repentance doesn’t mean anything if you keep doing what you’re sorry for.”

- St. Matthew



Baca Juga:

Awas! Media Sosial Merampas dan Membunuh 3 Hal Penting Ini dari Hidupmu. Segera Lakukan Sesuatu!

Mendapatkan Komentar Tak Menyenangkan di Media Sosial? Inilah 5 Cara Menangani Haters Tanpa Baper

The Power to Delay: Strategi Memenangkan Pertempuran Tanpa Bertempur. Tunda Reaksi, Hindari Kehancuran Relasi




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Aib Kok Dipamerin? Sebelum Posting di Media Sosial, Pikirkan Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar