Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!

Reflections & Inspirations

[Image: kompasiana.com]

8.4K
Ngefans dengan Ahok? Rasanya banyak orang merasa demikian. Tapi, jangan berhenti sampai di situ saja. Jangan biarkan Ahok bekerja seorang diri. Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi orang-orang seperti Ahok. Ayo, pelajari dan teladani cara kerjanya!

Saya bukan orang yang suka berhadapan dengan televisi. Jadi, kalau saya terlihat sedang menonton televisi, pastilah itu sengaja dan hanya untuk acara yang betul-betul menarik buat saya. Seperti beberapa minggu lalu ketika saya menyempatkan diri untuk menonton Metro TV yang menayangkan Acara Mata Najwa dengan judul Pertaruhan Ahok.

Ahok, seperti biasa, dalam setiap penampilannya memang selalu melontarkan kalimat-kalimat yang mampu membuat orang tercengang. Demikian juga kali itu. Saya dibuat tercengang dengan jawaban Beliau ketika didesak mengenai masalah korupsi Rumah Sakit Sumber Waras. Pada kesempatan itu, Beliau menuturkan jawaban, yang intinya menyatakan bahwa Ia sedang bekerja bersama Tuhan.

"Bekerja bersama Tuhan!" Kata "bekerja" yang dilontarkan Ahok pada tayangan wawancara malam itu mulai menggelitik saya untuk mengamati dan merenungkan etos kerja Beliau dengan lebih mendalam. Memang sih, saya ini bukan pengamat politik, apalagi politisi. Saya hanya masyarakat biasa, seperti Anda juga. Namun, saya rasa tak ada salahnya saya membagikan hasil pengamatan dan perenungan saya terhadap etos kerja Beliau kepada rekan-rekan pekerja yang, mungkin, ingin punya working style seperti Beliau.

Harapan saya adalah agar masyarakat Indonesia semakin hari bisa semakin memiliki etos kerja yang baik. Etos kerja masyarakat Indonesia yang baik akan membuahkan reputasi kerja masyarakat Indonesia yang baik pula. Dan, itu semua bisa dimulai dari diri kita masing-masing.

Inilah 5 working style Ahok hasil pengamatan saya yang bisa Anda terapkan di dunia kerja Anda:


1. Kerja Sportif

Sportif berarti bersifat ksatria, jujur.

Ahok terkenal selalu blak-blakan. Bahkan, karena gaya bicara yang demikian, tak jarang orang menilai Beliau sebagai tidak sopan. Namun, banyak pula masyarakat yang justru menyukai Beliau karena gaya bicaranya yang blak-blakan itu. Gaya tersebut dinilai amat transparan, terus terang, tanpa tedeng aling-aling. Apa adanya. Mungkin, itulah ciri khas Ahok yang membedakannya dengan politisi-politisi lain.

Nada bicara Ahok memang terkesan meledak-ledak, penuh dengan emosi, galak, seperti orang yang selalu marah-marah, apapun yang sedang diucapkannya. Bukan nada bicaranya yang perlu kita tiru, namun cara kerja Beliau yang transparan itulah yang dapat kita terapkan di dunia pekerjaan kita.

Transparan, bukan "abu-abu". Kadang jujur, kadang tidak. Satu kali kelihatan "bersih", tapi berkali-kali, ketika tidak ketahuan rekan kerja atau atasan, "tidak bersih". Berlakulah jujur, baik melalui perkataan maupun perbuatan, tanpa mengenal batasan waktu dan tempat.


2. Kerja Inovatif

[Image: dougaddison.com]
Inovatif berarti bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru; bersifat pembaruan, kreasi baru.

Kerja Ahok yang inovatif dapat terlihat dari banyaknya cara-cara, prosedur-prosedur, atau konsep-konsep baru yang diperkenalkannya kepada masyarakat, DKI Jakarta terutama, dan Indonesia. Inovasi Ahok ditujukan terutama untuk mendorong terciptanya birokrasi yang efektif dan sungguh-sungguh melayani masyarakat.

Kerja inovatif ala Ahok bisa kita terapkan di dunia kerja kita sehari-hari. Misalnya, saya dulu sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan posisi sebagai bagian keuangan. Perusahaan tempat saya bekerja ini memiliki sistem keuangan yang, menurut saya, kurang efisien dan kadang menyulitkan. Saya berusaha mengatasi kesulitan yang saya hadapi, dan mengusahakan agar sistem yang sudah ada agar tetap bisa berjalan, namun dengan lebih efektif dan efisien, dengan "cara" saya sendiri.

Sekarang, saya berwirausaha. Ada anggapan yang kurang tepat yang berkembang di masyarakat yang memandang bahwa jika seseorang sudah bisa "membuka" bisnis sendiri, maka orang tersebut dianggap sebagai orang yang berhasil. Dunia wirausaha tidaklah sesederhana itu. Seorang wirausahawan, jika tidak berani mengupdate dan mengupgrade bisnis, pasti akan ditinggalkan oleh konsumsen atau pengguna jasa. Belum lagi harus berhadapan dengan kondisi ekonomi yang akhir-akhir ini sedang lesu.

Kita, baik sebagai pekerja maupun wirausahawan, dituntut untuk terus bekerja inovatif, terus berpikir untuk tetap mencari dan menemukan kreasi baru yang dapat ditabur di ladang pekerjaan yang telah disediakan Tuhan untuk kita.


3. Kerja Motivatif

[Image: epicinspirationalquotes.com]
Kerja motivatif adalah kerja yang berdampak bagi lingkungan sekitar.

Ahok, melalui perkataan dan perbuatannya, sadar atau tanpa kita sadari sering memotivasi kehidupan kita. Mereka yang secara langsung pernah mendengar "kesaksian"nya, melihat secara langsung Beliau bekerja, ataupun mengamati kinerjanya melalui media dan sosial media, hampir pasti akan termotivasi dibuatnya.

Maka tak heran, ketika Beliau berniat untuk mencalonkan diri dalam bursa calon gubernur DKI Jakarta secara independen, begitu banyak masyarakat yang mendukung. Dukungan masyarakat nampak nyata dengan terbentuknya Teman Ahok, juga dari antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi mengumpulkan #KTPuntukAhok.

Kita pun, baik yang bekerja di kantor, berwirausaha, atau ibu rumah tangga (yang juga bekerja) di rumah, dapat berkontribusi kepada masyarakat. Kita bisa memberikan dampak positif melalui aktivitas dan rutinitas yang kita lakukan sehari-hari. Asalkan kita mau bekerja dengan tulus dan sepenuh hati, apapun yang sudah dan akan kita perbuat tidak akan pernah sia-sia.


4. Kerja Superaktif

[Image: jenningswire.com]
Kerja superaktif di sini maksudnya adalah kerja yang tidak hanya berhenti pada satu titik pencapaian saja.

Bukan berarti kita tidak bersyukur atas berkat yang sudah Tuhan limpahkan kepada kita, namun selama kita masih diberikan kemampuan olehNya untuk berkarya lebih dari itu, why not?

Ahok, sebelum menjadi DKI 1, apa saja sih sepak terjangnya?

Beliau pada awalnya adalah seorang pengusaha. Sebagai pengusaha, di tahun 1995 Ahok mengalami sendiri pahitnya berhadapan dengan politik dan birokrasi yang korup. Pabriknya ditutup karena Ia melawan kesewenang-wenangan pejabat. Tahun 2003, Ahok memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

Karier politiknya diawali dengan menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Setelah 7 bulan menjadi anggota DPRD, muncul banyak dukungan dari masyarakat yang mendorong Ahok menjadi bupati. Ia pun maju sebagai calon Bupati Belitung Timur di tahun 2005. Ahok, secara mengejutkan berhasil mengantongi 37,13 persen suara dan kemudian menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Kesuksesan Ahok menata Belitung Timur terdengar ke seluruh Bangka Belitung sehingga mulai muncul suara-suara yang mendukungnya untuk mencalonkan diri sebagai gubernur di tahun 2007. Kesuksesannya di Belitung Timur tercermin dalam pemilihan Gubernur Babel ketika 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih dirinya. Namun sayang, karena banyaknya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara, Ia gagal menjadi Gubernur Babel.

Pada tahun 2006, Ahok dinobatkan oleh Majalah TEMPO sebagai salah satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia. Tahun 2007, Ia dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia.

Tahun 2012 nama Ahok kian mencuat karena dipilih untuk mendampingi Joko Widodo sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta. 15 Oktober 2012, pasangan Jokowi-Basuki ditetapkan sebagai pemenang dan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Sempat menjabat sebagai PLT Gubernur DKI Jakarta per tanggal 1 Juni 2014. Ahok, sejak 18 November 2014 hingga saat ini secara resmi melayani masyarakat sebagai gubernur DKI Jakarta ke-17.


5. Kerja Empatif

Ada satu pemikiran Kong Hu Cu yang diyakini Ahok, "Orang miskin jangan lawan orang kaya. Orang kaya jangan lawan pejabat." Paham tersebut - keinginan untuk membantu rakyat kecil - serta rasa frustrasi yang mendalam terhadap kesewenang-wenangan pejabat yang pernah Ia alami sendiri, membuat Ahok memutuskan untuk terjun ke dunia politik.

Nah, pernah terpikir kah hal-hal ini oleh kita: Apa sih tujuan kita bekerja? Apa dampak pekerjaan kita bagi orang lain?

Apakah kita bekerja sekadar untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, dengan alibi demi ekonomi keluarga, demi masa depan anak, dan berbagai alasan egois lain yang dengan halus kita kemas sedemikian rupa?

Memang bekerja adalah bagian dari tanggung jawab kita, namun bukan berarti lewat pekerjaan kita tidak dapat berbuat “sesuatu” untuk orang lain, terlebih-lebih untuk bangsa kita tercinta ini, bukan?

Jika kita ingin bangsa Indonesia ini semakin maju, mari kita memosisikan pekerjaan sebagai pelayanan terhadap masyarakat. Dan, karena bekerja itu juga adalah bagian dari ibadah kita, mari kita lakukan yang terbaik dalam pekerjaan kita!

Let’s do our best!





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Lany Inawati | @lanyinawati

seorang ibu rumah tangga yg sedang berbagi waktu untuk bekerja dan mendidik anak sembari menulis agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang #bighug

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar