Ahok Memang Luar Biasa tapi Ia Hanya Manusia. Menyikapi Kekalahan Ahok di Pilkada DKI, Ingatlah 2 Hal Ini

Reflections & Inspirations

[Image: twitter #terimakasihahok]

15.3K
Menjadi salah ketika kita berharap kepada Ahok lebih daripada kita berharap kepada Tuhan yang Maha Esa. Seolah-olah Tuhan tak bisa memakai orang lain untuk mendatangkan kebaikan bagi Jakarta.

Sosok Basuki Tjahaja Purnama, atau lebih dikenal dengan panggilan Ahok, telah menyedot perhatian masyarakat, tak hanya di Jakarta - kota yang dipimpinnya, namun juga Indonesia, dan bahkan dunia.

Dalam diri lelaki pemberani ini, banyak orang meletakkan harapan mereka. Hasil kerja kerasnya sejak menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta - dan sebelumnya ketika menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta - membuat banyak orang yakin, ialah sosok pemimpin yang selama ini diharapkan.

Namun, kenyataan berbicara lain ketika di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta kemarin perolehan suara pasangan Ahok-Djarot ternyata kalah dari lawan mereka, Anies-Sandi. Pendukung Ahok pun harus menelan kekecewaan. Pupus sudah segala harapan.

Meskipun Ahok sendiri dalam pidatonya kemarin malam dengan bijak menyatakan,

"Kepada pendukung kami, kami mengerti pasti sedih, kecewa, tapi nggak apa-apa. Percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ngambil. Jadi tidak ada seorang pun bisa menjabat tanpa seizin Tuhan. Jadi semua nggak usah terlalu dipikirkan."

Tak bisa dipungkiri, ada perasaan pesimis dalam hati para pendukungnya: Apakah memang ada sosok pemimpin yang lebih baik dari Ahok?

Mengamati kondisi ini, saya - sebagai seorang pendukung Ahok - tergugah menuliskan aspirasi. Tampaknya ada 'dua lupa' yang menjadi efek samping dari 'demam Ahok'. Dua lupa yang sebaiknya kita sadari agar kaki kita segera menjejak bumi, menyikapi kekalahan 'jagoan' kita dengan lapang hati.



Lupa 1: Ahok Is Not a Superhero

Berharap agar Ahok menjadi pemimpin tentu sah-sah aja. Akan tetapi, menjadikan Ahok sebagai satu-satunya harapan, tentu perlu dikoreksi, bukan?

Kemunculan Ahok memang seolah memberi harapan baru bagi negeri ini. Namun, dia bukanlah satu-satunya harapan.

Sosok Ahok harusnya tidak dipahami seakan seperti 'penyelamat' [savior] melainkan sebagai 'teladan' [role model].

Karakter pemimpin yang dibutuhkan oleh Indonesia, patut diakui, sebagian besar memang ada di dalam dirinya. Namun demikian, jangan kita sampai terjebak dalam ilusi seolah hanya Ahok yang bisa memberi harapan bagi Indonesia. Bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak orang seperti Ahok, setuju. Karenanya, tempatkanlah sosoknya sebagai role model, terutama bagi generasi penerus bangsa, tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin itu.

Baca Juga: Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok Ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!



Lupa 2: Ahok Is Just a Man

Ahok hanyalah manusia biasa. Ia bisa berubah, ia bisa melakukan kesalahan-kesalahan.

Menjadi salah ketika kita berharap kepada Ahok lebih daripada kita berharap kepada Tuhan yang Maha Esa. Seolah-olah Tuhan tak bisa memakai orang lain untuk mendatangkan kebaikan bagi Jakarta.

Kita harus kembali kepada keyakinan iman kita masing-masing. Tuhan yang Maha Esa seharusnya menjadi pusat pengharapan manusia. Dia yang menciptakan langit dan bumi serta isinya. Dia juga yang mengendalikan hati manusia dan memegang kunci masa depan.

Saya meyakini, siapa pun yang memimpin, jika hatinya disentuh Yang Mahakuasa, kebaikan juga yang akan terjadi di penjuru negeri.

Indonesia tidak pernah tidak punya harapan untuk menjadi lebih baik dari hari ini.

Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahakuasa? Berharap dan memohon kepadaNya, berbenah diri, mari bersama membangun Indonesia.

Baca Juga: Rahasia di Balik Tangisan Ahok: 5 Alasan Mengapa Seorang Pria Menangis



Menjadi Minoritas-Kreatif

Istilah minoritas memang tak pernah terdengar indah. Namun ternyata, mempunyai arti berbeda jika ditambahkan kata 'kreatif' di belakangnya. 'Minoritas-kreatif' adalah sebuah istilah yang dicetuskan oleh Arnold Toynbee. Istilah ini kemudian sering dipakai oleh Prof. Notohamidjojo. 'Minoritas-kreatif' pengertiannya begini:

Minoritas tidak selalu berarti lemah, minoritas tidak selalu berarti tak berdaya. Minoritas belum tentu minor dalam kemampuan.

Ahok, buktinya. Ketika minoritas hidup kreatif di dalam tindakan dan sumbangsihnya, ia dapat memberikan hasil baik bagi masyarakat. Ketika minoritas bekerja dengan hati yang tulus dan kerelaan berkorban, sesungguhnya ia dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi pembangunan Indonesia.

Indonesia membutuhkan tidak hanya seorang Ahok, tetapi lebih banyak minoritas-kreatif yang memiliki hati untuk bersumbangsih demi negeri. Mari jadikan Ahok, yang bukan superhero dan hanya manusia biasa itu, sebagai teladan kita bersama.


[Image: twitter #terimakasihahok]

"Jangan sedih, Tuhan selalu tahu yang terbaik."

- Ahok, 19 April 2017



Baca Juga:

Ahok-Anies Pasca Pilkada DKI: Habis Ribut, Ya, Rukun! Lewat Ribut dan Rukun, Belajar Berelasi

Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!

Agus Ahok Anies: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ahok Memang Luar Biasa tapi Ia Hanya Manusia. Menyikapi Kekalahan Ahok di Pilkada DKI, Ingatlah 2 Hal Ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

mike donald | @LOANFIRM

Hola, ¿Está buscando libertad financiera? ¿Está en deuda, necesita un crédito para iniciar un nuevo negocio? ¿O doblar financieramente, usted necesita un crédito, un coche para comprar o una casa? ¿Alguna vez ha rechazado las finanzas de su banco? ¿Quieres mejorar tu situación financiera? ¿Necesita un préstamo que sus cuentas pagan? No busque más, le damos la bienvenida a una oportunidad para obtener todo tipo de préstamos, a un precio muy asequible 3% de interés para obtener más información, póngase en contacto con nosotros ahora por correo electrónico a: (stevedanielloanfirm@gmail.com)