Ahok Gugat Cerai Veronica Tan? Renungkan 3 Hal Ini Sebelum Membuka Suara

Reflections & Inspirations

[idn times]

18.5K
Benar atau tidak berita gugatan cerai pak Ahok pada bu Vero? Renungkan sejenak 3 Hal Ini

Sejak semalam setelah Kompas dot com memunculkan berita ”Ahok Gugat Cerai Veronica Tan” diskusi di beberapa grup WA dan dinding FB nyaris tak berhenti hingga lewat tengah malam. Berita ini sangat mengejutkan, walau datang dari tokoh yang selama ini kontroversial.


[image: kompas]


Saya mengamati warganet setidaknya terbagi dalam 3 pendapat ini.


Pertama, mereka yang langsung mengatakan bahwa kabar gugatan cerai Ahok untuk Veronica Tan itu adalah hoaks alias kebohongan.

Rasanya tidak mungkin tokoh yang selama ini dikenal sangat dekat dengan ajaran agama itu menggugat cerai bukan? Apalagi keluarga Ahok selama ini dikenal begitu hangat dan harmonis. Mereka baru saja merayakan ulang tahun pernikahan ke-20. Semua terlihat begitu baik dan indah.

Alasan untuk mengatakan berita ini hoaks pun bermunculan. Ada yang mempermasalahkan soal alamat surat itu, ketiadaan tanda tangan Ahok, jawaban dari sumber-sumber tertentu yang konon dekat dengan keluarga yang membantah hal ini. Reputasi Kompas (termasuk kompas.com) yang selama ini jauh dari hoaks pun dipertanyakan.


Kedua, mereka yang dengan cepat bersorak-sorai atas berita ini.

Sikap seperti ini tentu saja datang dari para lawan politik Ahok yang terus berusaha “menghabisi” karir mantan gubernur DKI itu dengan pelbagai cara. Berita gugatan cerai itu dilihat sebagai sebuah kelemahan tambahan yang menunjukkan bahwa Ahok bukanlah manusia yang tanpa kelemahan, termasuk dalam kehidupan pribadinya.

Barangkali yang memberikan angin bagi kelompok ini adalah berita tersebut justru datang dari situs berita yang selama ini terpercaya dan bukan yang gemar menghamburkan hoaks tentang Ahok. Sulit untuk tidak menganggapnya sebagai sebuah kebenaran jika berita itu sudah muncul di situs-situs yang selama ini menjadi kompas di tengah kebingungan akibat arus informasi yang menderas bukan?

Beberapa orang malah melihat ini sebagai konsekuensi tambahan atas masalah hukum yang menyebabkan Ahok mendekam di penjara.


Ketiga, mereka yang menganggap bahwa apa pun yang terjadi dengan keluarga dan rumah tangga Ahok adalah urusan pribadi.

Ya rumah tangga adalah urusan pribadi yang sebaiknya tak dikaitkan dengan karir politik seseorang. Mereka menegaskan bahwa yang terjadi di rumah tangga adalah urusan rumah tangga, yang tak berkaitan langsung atau tak perlu dikaitkan langsung dengan kinerja politik seseorang.

Sayangnya di Indonesia pemilahan seperti ini sulit untuk diterima dengan lapang dada. Di tengah kerasnya persaingan politik, lawan-lawan akan mencari sampai kalau perlu membuat-buat kelemahan yang ada pada tataran kehidupan pribadi. Tujuannya? Jelas agar karir politik seseorang hancur berantakan.

Sampai saat ini, Senin 8 Januari pk 07.00, kita masih belum mendapatkan gambar lengkap dari berita ini. Belum ada pernyataan dari Ahok, Veronica Tan, atau pihak yang mewakili mereka setelah berita yang muncul di situs Kompas.


Ada beberapa hal yang layak kita renungkan di tengah keriuhan kasus ini.


Pertama, di era digital ini, tugas kita bukan mencari namun memilah informasi

Informasi membanjir dari pelbagai sudut, kadang malah bertentangan satu dengan yang lainnya. Tak mudah memilah informasi. Kita berpegang pada situs-situs tertentu yang selama ini jauh dari hoaks, namun ketika situs-situs itu justru yang menjadi pemberita awal hal-hal yang tak sesesuai dengan harapan, ternyata tak mudah juga bagi kita untuk menerimanya.


Kedua, negeri ini merindukan teladan

Kita barangkali adalah orang-orang yang kecewa dengan para politikus yang nampak ok di panggung tapi memble dalam realitanya hidupnya sehari-hari. Ketika kita sudah menemukan sosok yang mendekati harapan kita, tak mudah bagi kita untuk menerima berita yang menghancurkan harapan itu, bukan? Kecintaan kita terhadap seseorang memang seringkali menutup mata kita terhadap kelemahan dan keterbatasan yang ada.


Ketiga, tiada manusia yang sempurna.

Jika berita ini salah, dan sebuah media terpercaya melakukan kesalahan besar dengan memuatnya, maka kita juga perlu mengingat bahwa orang-orang yang bekerja di dalamnya juga mempunyai kelemahan dan keterbatasan tertentu. Kesempurnaan hanya milik Pencipta Kehidupan bukan?

Jika memang benar Ahok menggugat cerai istrinya, maka kita bisa menduga--ya hanya bisa menduga sebelum ada penjelasan resmi--bahwa alasan untuk melakukan hal ini tentu sangat kuat. Ahok yang seringkali tampak berakar kuat dalam keyakinannya, tentu tidak akan melihat perceraian sebagai sebuah hal yang mudah untuk diputuskan. Jika gugatan perceraian itu benar, maka kita harus belajar menerima ketidaksempurnaan seseorang. Siapa pun manusia itu, termasuk diri kita, tak sempurna.

Tak perlu di dalam ketidaksempurnaan diri, kita menuntut orang lain untuk menjadi sempurna.


Doa saya untuk Pak Ahok dan keluarga. Doa saya untuk para haters dan lovers. Doa saya untuk Indonesia.


Baca juga:

Ahok Gugat Cerai Veronica Tan. Saya yang Percaya dan Tidak Percaya

Bermata Sembap namun Tak Hilang Harap. Ini yang Dilakukan Veronica Tan saat Ahok Dipenjara

Ketika Pemimpin Mengalami Kejatuhan Moral, Berikan Pertolongan dengan Memahami 4 Hal Berikut ini



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ahok Gugat Cerai Veronica Tan? Renungkan 3 Hal Ini Sebelum Membuka Suara". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

storyteller

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar