Ahok-Anies Pasca Pilkada DKI: Habis Ribut, Ya, Rukun! Lewat Ribut dan Rukun, Belajar Berelasi

Reflections & Inspirations

[Image: mediaindonesia.com, bisnisindonesia.com]

7.4K
Kita boleh saja berbeda bahasa, kita boleh saja berbeda agama, kita boleh saja berbeda etnis. Kita boleh saja berbeda partai, tetapi darah kita sama, darah Indonesia.

Sebagai kutu buku, bagi saya, tidak ada hari tanpa membaca. Setelah sekian puluh tahun membaca, baik media cetak maupun elektronik, saya menemukan satu situs yang berfungsi seperti oase bagi jiwa yang selalu dahaga akan kebenaran: RibutRukun.com. Sejak berdiri beberapa waktu yang lalu, saya ditawari oleh Content Advisor-nya Bang Wepe, untuk ikut menulis di sini. Karena kesibukan saya melakukan beberapa fungsi dan tugas sekaligus baik pagi, siang, maupun malam, tawaran itu sempat saya ‘lupakan’. Baru setahun terakhir, saya aktif menulis di situs yang - menurut saya - salah satu yang terbaik di Indonesia.



Darah Indonesia, Jakarta Rumah Kita Bersama

Pilkada DKI baru usai, tetapi ingar bingarnya masih terasa. Apa yang paling saya syukuri? Pilkada rasa pilpres yang menguras berbagai sumber daya ini sudah selesai. Euforia, hura-hura dan pesta pora pascapilkada nyaris tidak ada. Demikian juga - ini yang ditakuti banyak orang - huru hara tidak terjadi. Orang yang tadinya ‘ribut’ karena membela pasangan calon, kini - diharapkan - kembali ‘rukun’. Pernyataan Anies setelah kemenangannya menyejukkan dada, “Bapak ibu sekalian, saudara-saudara warga Jakarta khususnya dan mungkin warga Indonesia yang ikut menyaksikan peristiwa ini. Kita boleh saja berbeda bahasa, kita boleh saja berbeda agama, kita boleh saja berbeda etnis. Kita boleh saja berbeda partai, tetapi darah kita sama, kita adalah darah Indonesia.”

Pidato Ahok senada, “Ini sangat baik, kami akan bekerja dengan cepat untuk enam bulan, kami akan terus bekerja, kami akan fokus mengejar PR tadi. Dan kami terbuka untuk Pak Anies dan Pak Sandi untuk minta data, apa saja. Kan open government,” yang diakhirinya dengan baik,

“Selamat untuk Pak Anies dan Pak Sandi, dan seluruh timses pendukung. Kita semua sama, kita ingin Jakarta baik, karena Jakarta rumah kita bersama. Terima kasih semua.”



Takdir dan Izin Tuhan

Pada kesempatan itu, Anies berkata, “Dan kami sadar sekali bahwa Pak Basuki, Pak Djarot, adalah putra-putra terbaik bangsa yang telah mendarmabaktikan untuk jakarta. Tugas kita adalah bekerja bersama. Tugas kita adalah meneruskan ikhtiar untuk merawat kebersamaan … Tidak ada yang bisa mencegah takdir Allah. Apa yang hari ini terjadi semata-mata karena pertolongan dan takdir Allah. Kita semua berikhtiar, kita semua berdoa, dan hari ini Yang Maha Membolak-balikkan Hati, telah menetapkan warga Jakarta untuk memilih jalan baru bagi perubahan di Jakarta.”

Pidato Ahok pun menunjukkan kebesaran jiwanya, “Tentu kami harapkan ke depan, kami ingin semua lupakan persoalan selama kampanye dan Pilkada, karena Jakarta ini rumah kita bersama. Karena Jakarta ini kita bangun bersama. Kami tadi, saya sudah sampaikan ke Pak Djarot, kami masih ada enam bulan sampai pelantikan. Kami akan bekerja dengan cepat, dengan baik, meletakkan dasar-dasar. Kami akan berusaha melunasi PR-PR, janji kami. Tentu tidak mungkin selesai PR-PR itu. Kita harapkan nanti Pak Anies dan Pak Sandi bisa meneruskan dengan baik. Nah itu yang kita harapkan. Kepada pendukung kami, kami mengerti pasti sedih, kecewa, tapi nggak apa-apa.

[Image: voanews.com]
"Percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ngambil. Jadi tidak ada seorang pun bisa menjabat tanpa seizin Tuhan. Jadi semua nggak usah terlalu dipikirkan.”

Baca Juga: Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik



Merobohkan Tembok

Saat Donald Trump kampanye, saya sedang berada di New York dan melewati property kebanggaan orang yang sekarang menjadi POTUS - President Of The United States - itu, Trump Tower. Waktu itu salah satu program andalan Trump adalah membangun tembok di perbatasan Meksiko-Amerika. Banyak orang menentangnya, termasuk warga AS sendiri. Ujung-ujungnya adalah: siapa yang akan membiayai proyek mahal ini?

Mirip dengan situasi kondisi pilkada DKI yang baru lewat. Setiap kubu pasangan calon - termasuk relawannya - seakan-akan membangun tembok pemisah. Mereka saling hujat lewat hate speech, saling serang, bahkan saling mengunggah berita atau gambar hoaks. Tujuannya? Menjatuhkan lawan dan menaikkan elektabilitas jagoannya. Machiavellian heroes muncul sebagai pasukan yang menghalalkan segala cara untuk menang, termasuk isu SARA.

Sekarang? Pascapilkada?

Sudah seharusnya kita meruntuhkan tembok-tembok pemisah itu.

Kini saatnya kita …

Membangun Jembatan

Di dalam tulisan saya sebelumnya "Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!” saya menceritakan seorang petani yang ingin membangun tembok pemisah antara lahannya dan lahan kakaknya karena pertengkaran mereka. Namun, alih-alih membangun tembok, tukang kayu yang disuruhnya justru membangun jembatan. Jembatan inilah yang akhirnya membuat kakak beradik itu melakukan rekonsiliasi.

Izinkan saya menceritakan kisah lain. Ada kakak beradik di Amerika yang menjalankan toko bersama. Toko mereka ramai dan dikunjungi banyak orang. Suatu kali, selembar uang yang belum masuk ke laci kasir hilang. Sang kakak menuduh adiknya. Sang adik menuduh kakaknya. Pertengkaran hebat itu membuat mereka mengambil keputusan drastis: membangun tembok pemisah persis di tengah toko. Toko yang tadinya besar jadi kecil. Bukan hanya itu, mereka bersaing sengit untuk memajukan toko masing-masing. Akibatnya bisa diduga, mereka sama-sama rugi!

Setelah bertahun-tahun hidup di bangunan yang sama dengan tembok pemisah, ada seorang asing mendatangi sang adik. Dia menceritakan kisahnya. Waktu itu dia seorang sales yang gagal. Siang hari, perutnya keroncongan. Dia tidak punya uang sama sekali. Kebetulan dia berada di toko kakak beradik itu dan melihat selembar uang di atas meja kasir. Karena tidak ada yang mengawasi, dia mengambil uang itu dan meninggalkan toko diam-diam. Sejak hari itu dia dihantui rasa bersalah. Rasa bersalah itulah yang akhirnya membawanya kembali ke toko itu untuk mengakui perbuatannya.

“Engkau harus menceritakan kisahmu ini kepada kakakku di toko sebelah,” ujar sang adik.

Begitu kakaknya mendengar kisah yang sama itu, hubungan kakak beradik ini dipulihkan. Mereka berangkulan kembali setelah sekian tahun dipisahkan oleh permusuhan. Film Cek Toko Sebelah pun menuai banyak penghargaan karena ceritanya yang memotivasi kita untuk saling memahami dan saling membangun lewat relasi yang baik.

Baca Juga: How to Make Our Families Great Again? Runtuhkan 5 Tembok Penghalang Kebahagiaan Keluarga Ini



Saatnya Membangun Indonesia

Pesta demokrasi sudah usai. Anies-Sandi dan Ahok-Djarot menyatakan tekad untuk melupakan masa kampanye yang sengit dan bertekad bekerja sama membangun Jakarta. Mari lupakan saling serang saat kampanye maupun debat.

Tiba waktunya bagi kita menghadapi perang yang sama: kemiskinan, korupsi, degradasi moral dan dekadensi spiritual dan seabrek PR yang menanti di depan.

Mari kita ganti relasi yang penuh ujaran kebencian dengan tuturan yang menyejukkan. Mari bangun relasi yang lebih baik. Salah satunya lewat RibutRukun ini!


[Image: kompas.com]

"A good relationship is when someone accepts your past, supports your present, and encourages your future."

- Facebook post Zig Ziglar



Baca Juga:

Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!

Belajar dari Agus Harimurti Yudhoyono: Mengubah Kekalahan Menjadi Kemenangan

Menjalin Persahabatan Beda Agama dan Suku, Inilah 5 Keuntungannya





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ahok-Anies Pasca Pilkada DKI: Habis Ribut, Ya, Rukun! Lewat Ribut dan Rukun, Belajar Berelasi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar

mike donald | @LOANFIRM

Hola, ¿Está buscando libertad financiera? ¿Está en deuda, necesita un crédito para iniciar un nuevo negocio? ¿O doblar financieramente, usted necesita un crédito, un coche para comprar o una casa? ¿Alguna vez ha rechazado las finanzas de su banco? ¿Quieres mejorar tu situación financiera? ¿Necesita un préstamo que sus cuentas pagan? No busque más, le damos la bienvenida a una oportunidad para obtener todo tipo de préstamos, a un precio muy asequible 3% de interés para obtener más información, póngase en contacto con nosotros ahora por correo electrónico a: (stevedanielloanfirm@gmail.com)