Ahok Akhirnya Masuk Islam setelah Khatam Al-Qur'an dan Potongan Kanker yang Menjauhi Bawang Putih

Reflections & Inspirations

[image: kabar indonesia]

2.8K
“A false witness will not go unpunished, and he who breathes out lies will perish.”—Proverbs

Ahok Akhirnya Masuk Islam setelah Khatam Al-Qur'an

Potongan Kanker yang Bergerak Menjauhi Bawang Putih


Begitu berita hoaks yang bertebaran di media sosial bulan ini. Setiap hari, saat mengantar anak ke sekolah, berita di halaman 2 koran nasional selalu saya buka. Mengapa? Di situ ada halaman khusus ‘clearing house of information’. Dengan semakin menggilanya pembuatan dan penyebaran hoaks, saya bukan hanya ingin membekali diri agar tidak tertipu, tetapi juga menghentikan penyebaran berita itu dengan menyajikan fakta yang sesungguhnya.


[image: Radar Cirebon]

“Kabar tentang mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang membawa Alquran selama berada di balik jeruji besi pernah santer tersebar. Sejumlah media online mengabarkan bahwa Ahok hampir khatam membaca Al Qur'an selama lima bulan di dalam penjara. Media-media itu mengutip cerita dari Ignatius Haryanto yang mengabadikan pertemuan Ahok dengan sepuluh penulis dengan judul Sebuah Selasa Siang Bersama BTP.

Baca Juga : Mengapa Orang Menyebarkan Hoaks di Media Sosial? Mengejutkan, Inilah 3 Alasannya

“Tidak ada kontroversi dalam berita itu. Sebab, Ahok membaca apa pun. Berbagai buku dia lahap, termasuk di antaranya Kitab Suci Al-Qur'an."

“Namun, kabar itu dimanfaatkan oleh blog-blog pemburuk klik dan pendulang iklan online untuk membuat hoaks. Salah satu penyebarnya adalah portal-pribumi.top. Blog tersebut membuat artikel berjudul 'Ahok Akhirnya Masuk Islam setelah Khatam Alquran'. Seperti biasanya, judul itu tidak berkaitan dengan isinya. Dalam artikel, sama sekali tidak ada penjelasan bahwa Ahok memeluk Islam.” Jawa Pos, 16 November, 2017, hal. 2.


Fire versus Fire

[image: FIre Rescue Magazine]

“Jika Anda tidak mau membuat dan menyebarkan hoaks, mengapa Anda mengutip judul tulisan yang berasal dari berita hoaks?” begitu saya mendengar pertanyaan protes dari Anda bahkan sebelum tulisan ini publish.

Saat tinggal di Australia, saya banyak membaca tanda-tanda bahaya api, terutama di suburban dan wilayah-wilayah yang banyak semaknya. Saya pun masuk ke museum pemadam kebakaran di Perth, dekat kantor saya bertugas dulu.

Karena rawan kebakaran—khususnya di musim panas—maka saya banyak membaca artikel tentang pencegahan kebakaran atau penyebaran api yang sudah terlanjur membara. Salah satu cara yang menurut saya aneh berjudul Fighting Fire with Fire. Bagaimana cara memerangi api dengan api?

Jika sebagian lahan sudah dilalap si jago merah, maka petugas pemadang kebakaran, di samping menyiramkan air ke lokasi, juga membuat batas untuk mencegah api menjalar lebih jauh dan luas. Caranya? Dengan membakar sebagian petak dengan jarak sekian dengan api yang sedang marah. Tujuannya? Supaya ketika api pertama itu ‘tiba’ di sana, tidak ada lagi lahan yang bisa dimakannya, sehingga berhenti menjalar. Cerdik sekali!

Baca Juga: Aib Kok Dipamerin? Sebelum Posting di Media Sosial, Pikirkan Ini!


Clickbait lawan clickbait

Karena berita hoaks sudah terlanjur menyebar secara luas dan sulit sekali menghentikannya, maka tulisan ini pun bermaksud memadamkannya dengan cara membuat judul yang clickbait juga. Tidak fair bukan jika penjelasan atau klarifikasi dari berita yang keliru itu dibaca jauh lebih sedikit ketimbang berita yang ngawur? Itu sebabnya saya senang dengan Jawa Pos yang punya 'Clearing House of Information' yang bukan saja berusaha meluruskan berita yang bengkok, tetapi juga memberi kita early warning system, bahwa setiap berita perlu dicek dan recek lebih dulu sebelum ditelan, apalagi dibagikan ke orang-orang.

Dengan membuat judul yang sama persis dengan hoaksnya, saya harapkan orang yang membacanya lebih banyak atau paling sedikit sama dengan berita palsunya. Dengan demikian, berita itu berhenti dengan sendirinya karena lebih banyak orang yang mau men-share-kan klarifikasi baik yang saya tulis ini maupun ditulis media lain.


Saya tidak anti judul yang clickbait

[image: voletic]

Bagaimanapun juga, etalasi sebuah toko harus menarik agar orang mau mengunjunginya. Ini yang saya tidak setuju: isinya bedah jauh bahkan bertentangan dengan yang kita pasang di ruang pamer. Saya justru berharap yang ada di dalam toko—meminjam istilah produk film tempo dulu—‘lebih indah dari warna aslinya’.

Saya berharap orang yang menulis kontra berita hoaks bisa membuat pembaca mendapat gambaran menyeluruh—meskipun singkat—terhadap kabar bohong yang beredar.


Apa tujuannya?

Pertama, agar kita memiliki ‘antibodi’ yang kuat dalam menghadapi ‘virus hoaks’ ini. Jika kita sudah terbiasa membaca berita yang asli dan benar, kita tidak lagi mudah terpengaruh oleh berita bohong dan informasi bodong.

Kedua, begitu antibodi ditemukan, diujicobakan dan sukses, maka produsen biasanya memproduksinya secara massal untuk disebarluaskan bagi orang yang membutuhkan. Saat kita sudah mengetahui ada berita hoaks, maka kita akan berhenti membaca dan ikut mencegah penyebarannya. Jika di medsos muncul berita bodong, kita harus segera memotong agar tidak menyebar dengan memberikan tautan berita yang asli dan atau mem-posting-nya.

Baca Juga: Baper Gara-Gara Status di Media Sosial? Demi Kesehatan Jiwamu, Lakukan 4 Hal Ini

Ketiga, meskipun kita bukan bergerak di bidang ‘clearing house of information’ dan teman-teman di garda depan, kita bisa menjaga garda dalam rumah tangga sendiri. Lewat percakapan santai, kita bisa menanamkan kepada orang-orang di lingkaran pengaruh kita sendiri--terutama diri sendiri--untuk tidak menyebarkan, apalagi membuat kabar bohong. Ingat, kabar dusta yang terus-menerus diulang-ulang lama-lama akan dianggap sebagai suatu kebenaran. Bukankah ini berbahaya sekali?

A false witness will not go unpunished, and he who breathes out lies will perish.”—Proverbs


Baca Juga:

9 Tipe Mama-Mama Muda di Media Sosial

Awas! Inilah 7 Tanda Anda Bermedsos Ria dengan Tidak Sehat


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ahok Akhirnya Masuk Islam setelah Khatam Al-Qur'an dan Potongan Kanker yang Menjauhi Bawang Putih". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar