Agus Ahok Anies: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?

Reflections & Inspirations

[Image: suratkabar.id]

7K
Agus - Ahok - Anies. Apa pilihan Anda? Mengapa Anda memilihnya? Apa kelebihan dan kekurangannya? Apa yang bisa kita pelajari dari Agus, Ahok, dan Anies?

Pilkada di ambang pintu. Meskipun ada 101 daerah atau wilayah yang menyelenggarakan pilkada langsung, tetapi hanya pilkada DKI Jakarta yang menyedot perhatian begitu luas, bukan saja nasional tetapi internasional. Pilkada rasa pilpres, begitu alasannya. Kok bisa? Karena jabatan Gubernur DKI amat bergengsi! Apalagi sejak Jokowi lewat jalur ini untuk menduduki kursi nomor 1 Indonesia: Solo - Jakarta - Indonesia. Wow, bukankah jalur ekspres ini menggiurkan banyak orang? Itu sebabnya konstelasi dan kompetisi politik di DKI - juga Indonesia - ikut memanas dengan pilkada ibukota ini.

Saya bukan politisi, apalagi pakar politik. Itulah sebabnya saya ingin menyoroti 3 kandidat gubernur DKI Jakarta itu dari sisi lain: kelebihan - bukan kekurangan - masing-masing.

[Image: jakartaasoy.com]
Agus, Ahok, Anies. Apa kelebihan mereka masing-masing? Apa yang bisa kita pelajari dari mereka bertiga?

Bukan kebetulan jika mereka memiliki nama dengan huruf awal yang sama, “A”.



Agus

Nama lengkapnya Agus Harimurti Yudhoyono. Putra pertama mantan presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan Kristiani Herawati, dilahirkan pada 10 Agustus 1978. Pemegang tiga gelar akademis - MSc, MPA, MA - yang lulus dengan flying colors menikahi perempuan cantik Anissa Larasati Pohan. Jenjang pendidikan Agus memang cemerlang; dimulai dari Taruna Nusantara - Magelang, NTU - Singapura, dan Fort Leavenworth - Amerika Serikat. Karier militernya - Mayor Infanteri TNI - berakhir saat dia memutuskan untuk memasuki dunia politik.

Apa yang bisa kita pelajari dari Agus? Ganteng, ya. Atletis, so pasti. Cerdas, lulus dengan IPK 4 dari Command and General Staff College, Kansas, Texas, sudah membuktikan. Penghargaan demi penghargaan mewarnai kariernya. Karena mendapatkan penghargaan Tri Sakti Wiratama, Agus terpilih sebagai Komandan Resimen Korps Taruna Akademi Militer dilanjutkan dengan dengan dua Satya Lencana dan medali dari PBB sampai Distinguished Honor Graduate dan Commandant's List of the Maneuver Captain Career Course dari the US Army Maneuver Center of Excellence dan The Order of Saint Maurice dari The US National Infantry Association. Dukungan keluarga, terutama dari sang ayah, luar biasa. Susilo Bambang Yudhoyono - mantan presiden RI ke-6 - mem-back up-nya. Istrinya pun, mendukungnya penuh. Ketika Agus mendapatkan serangan netizen, Annisa membelanya.

[Image: Tribunnews]

Terlepas dari kontroversi majunya dia sebagai calon gubernur DKI,

dukungan keluarga memang perlu dalam setiap proses kehidupan. Jika bukan keluarga inti, siapa lagi?



Ahok

Rasanya berlebihan jika saya menuliskan riwayat hidupnya. Petahana ini begitu populer sehingga dengan mudah kita mendapatkan kisahnya dari berbagai versi. Ringkasnya, mantan bupati Bangka Belitung ini dulunya adalah kaum profesional. Pemilik nama asli Basuki Tjahaja Purnama ini dilahirkan pada 29 Juni 1966 dari pasangan Indra dan Ningsing. Insinyur geologi dari Fakultas Teknik Mineral Universitas Trisakti dan MM dari Prasetiya Mulya Jakarta menjadi pengusaha dengan mendirikan pabrik pengolahan pasir kuarsa di tanah kelahiran Laskar Pelangi.

Apa yang bisa kita pelajari dari Ahok? Sekilas adalah ketegasannya - sehingga dianggap kasar dalam berkomunikasi - dan rekam jejaknya sebagai birokrat yang bersih. Belakangan, dalam kemunculannya di TV, mantan wakil gubernur Joko Widodo ini mengakui bahwa dia terus belajar untuk berkata-kata santun. “Saya tahu saya salah sehingga perlu berubah,” begitu kira-kira ucapannya. Ketegarannya juga bisa dijadikan teladan. Saat didemo dan dijadikan tersangka kasus dugaan penistaan agama, dia tetap tegar. Seperti Agus, Ahok pun mendapat dukungan penuh dari ibu dan istrinya, Veronika Tan. Saat diwawancarai Sule dalam program Ini Talkshow, ibu tiga orang anak yang irit bicara itu hanya menjawab, “Teruskan!”

“Behind every successful man there is a woman!”
[Image: RibutRukun]

Kehadiran Relawan Ahok mengajarkan kita tentang kesetiakawanan. Bahkan saat Ahok didemo massa pun, para relawan tetap berada di belakangnya. “A friend in need is a friend indeed,” sekali lagi menunjukkan kebenarannya.



Anies

Anies Rasyid Baswedan - mantan menteri pendidikan dan kebudayaan kabinet Jokowi-JK - dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, pada 7 Mei 1969 dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid. Kemampuan berorganisasi membuatnya menjadi pengurus HMI saat kuliah di UGM, Jogja. Di antara ketiga calon gubernur, dialah yang memiliki pendidikan tertinggi, yaitu meraih Ph.D dari University of Maryland, AS. Mantan Rektor Universitas Paramadina Ke-2 ini diundang untuk mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada 27 Agustus 2013 yang dimenangkan oleh Dahlan Iskan.

Apa yang bisa kita pelajari dari Anies? Kemampuan akademisnya tak dapat disangkal. Suami dari Fery Farhati Ganis masuk dalam sejarah dunia pendidikan di Indonesia saat dilantik sebagai rektor termuda. Ayah empat anak ini ini juga dikenal sebagai orator ulung. Bahasanya yang santun dan retorikanya yang apik membuat speech-nya dikagumi banyak orang. Kepiawaiannya menulis membuat bicaranya runtut dan mudah diikuti. Kelebihan inilah yang membuatnya terpilih sebagai juru bicara calon presiden dan wakil presiden (Jokowi-JK) pada perhelatan pilpres 2014. Seperti Agus dan Ahok, Anies pun mendapat dukungan keluarga. Saya pernah menyaksikan dukungan istrinya saat diwawancari oleh sebuah stasiun televisi.

[Image: Twitter]



Apa yang bisa kita pelajari dari Agus Ahok dan Anies?

Dukungan keluarga!

Saat saya melakukan ziarah batin, saya pun berutang banyak kepada keluarga. Saya berutang dari Papa saya tentang kedisiplinannya dalam bekerja. Sebagai salah satu pimpinan dari sebuah perusahaan swasta, ayah saya datang ke kantor paling pagi dan baru kembali ke rumah saat anak buahnya sudah pulang. Sesampai di kantor ayah saya berolahraga ringan semacam Tai Chi yang saya sudah lupa namanya.

Saya berutang dari Mama tentang kasih sayangnya yang luar biasa. Mamalah yang paling repot saat saya sakit. Sebagai anak bungsu - menurut kakak-kakak saya dan benar-benar saya rasakan -Mama memberikan perhatian lebih. Salah satunya, sering menyimpankan lauk pauk untuk saya agar tidak ‘dihabisin’ kakak-kakak saya. Wkwkwk.

Istri saya, merupakan pendamping yang setia. Tanpa dia, saya tidak mampu membesarkan anak-anak saya sendirian. Berkat ketelatenannya, anak-anak saya bisa menjalani sekolah mereka dengan baik. Satu peristiwa yang begitu membekas di dalam benak saya sampai detik ini terjadi dalam perjalanan darat dari Canberra ke Sydney. Saat itu mentari musim semi hampir masuk peraduannya. “Mengapa engkau tidak mengucapkan ‘terima kasih’ kepada pendamping setiamu?” Pertanyaan yang menyeruak tiba-tiba itu membuat saya mengalihkan pandangan dari depan ke samping.

Belahan jiwa saya sedang tertidur dengan pulasnya. Wajahnya tidak lagi muda. Kerutan samar mulai nampak. Tanpa bermaksud membangunkannya, saya berkata, “San, thank you ya sudah mendampingi saya dalam suka maupun duka.”

Keluarga memang penyangga utama kita.


Saat mengetik bagian akhir tulisan ini, diam-diam saya mendendangkan lagu dari film jadul Keluarga Cemara,

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Keluarga memang harta yang paling berharga. Kita ada dan berada karena mereka.

Tanpa keluarga, apa pun yang menjadi cita-cita kita - entah gubernur maupun presiden - menjadi sia-sia!



Baca Juga:

Jangan Hanya Ngefans, Teladani 5 Gaya Kerja Ahok ini untuk Indonesia yang Lebih Baik!

Belajar dari Istri Ahok, Veronica Tan: 4 Peran Tak Tergantikan Istri yang Membentuk Kesuksesan Suami

Rahasia di Balik Tangisan Ahok: 5 Alasan Mengapa Seorang Pria Menangis



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Agus Ahok Anies: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Mereka?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar