Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!

Reflections & Inspirations

[Image: jurnalpolitik.com]

42.4K
Ada satu hal yang jauh lebih penting. Bukan hanya menyangkut Ahok, tetapi seluruh umat manusia.

Saat ini semua pancaindra seolah-olah tersedot ke sidang Ahok di Jakarta. Bukan hanya di tanah air, tetapi juga di belahan dunia sana.

Vonis pun sudah dijatuhkan:
2 tahun penjara.

[Image: detiknews.com]
Ahok memilih banding.

Perasaan campur aduk dirasakan oleh banyak orang yang menyaksikan siaran ini. Di tengah keriuhan yang mengaduk-aduk perasaan ini, saya memilih untuk melakukan ziarah batin. Setelah merenungkan kasus yang menyita pikiran dan perasaan banyak orang ini, saya menemukan,

Ada satu hal yang jauh lebih penting.
Bukan hanya menyangkut Ahok, tetapi seluruh umat manusia.
Ini: Pengadilan Tuhan.

Gusti Allah mboten sare, Tuhan tidak tidur, menjadi ungkapan yang pas untuk momen semacam ini.

Bukan hanya Ahok yang menjalani sidang Tuhan, tetapi kita semua. Apa yang perlu kita siapkan untuk menjalani sidang semacam ini? Mengenal Hakim di atas segala hakim: Tuhan Sendiri.

Tuhan tidak tidur artinya …



1. Mahahadir

Ketika diminta untuk bicara di depan para mahasiswa kedokteran, saya membaca tulisan “God is watching, give Him a good show!” di dinding ruangan di kampus. Saya percaya tulisan ini bukan hanya ditujukan untuk para calon dokter sehingga ketika mereka menjadi dokter nantinya mereka tidak melupakan bahwa mereka adalah ‘dokter utusan Tuhan’. Jika mereka menyadari bahwa Tuhan hadir di tempat praktik mereka maupun di rumah sakit, mereka akan melakukannya sebaik mungkin sehingga terhindar dari malapraktik.

Saya sungguh kagum saat hendak operasi gigi. Pertama, saat mengoperasi wisdom teeth. Kedua, saat mereparasi gigi yang rusak. Sebelum melakukan operasi, kedua dokter itu sama-sama berdoa. Yang satu pakai cara Islam. Yang kedua pakai cara Kristen.

Sikap inilah yang seharusnya kita jadikan teladan. Dua dokter yang menangani saya itu sudah sangat senior. Rambut putih membuktikan jam terbang mereka. Meskipun begitu, mereka tidak mau mengandalkan kekuatan mereka sendiri, melainkan mencari kekuatan dari tempat yang mahatinggi.



2. Mahatahu

Jamak di setiap persidangan, ada banyak pengamat amatir maupun profesional. Ada juga pengamat dadakan. Mereka merasa yang paling tahu duduk perkara yang sebenarnya, sehingga menggemakannya di ruang-ruang publik maupun dalam operasi senyap di media sosial.

Namanya saja pengamatan, bisa benar, bisa salah. Bisa sebagian benar, bisa sebagian salah. Namun, berapa pun tingkat benar-salahnya, tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim dirinya atau pengamatannya yang paling sahih.

Hanya Tuhan yang Mahatahulah yang tahu segalanya dan sesungguhnya. Karena Dialah yang ada di ruang-ruang privat bahkan yang tidak tersentuh oleh siapa pun, kecuali yang bersangkutan, yaitu ruang hati dan ruang pikiran. Saya ingat sabda Sang Khalik, "Manusia melihat muka, Tuhan melihat hati."

Jadi, bersalah tidaknya seseorang di ruang pengadilan,

Hanya Tuhan yang benar-benar bisa tahu tanpa bias,
apalagi salah!
[Image: thejakartapost]
Gusti memang mboten sare!
Keadilan Sejati sungguh-sungguh hanya ada di tangan-Nya dan hati-Nya.

Baca Juga: Hidup Saleh Malah Banyak Masalah. Jika Orang Baik Hidup Menderita, Percumakah Percaya kepada Allah?



3. Mahakuasa

Di setiap persidangan, apalagi yang menyedot massa demikian besar, selalu ada kubu pro dan kontra. Ada yang pro tersangka. Ada yang pro yang memperkarakan. Keputusan ada di tangan hakim. Namun, kita semua percaya,

Tuhanlah Hakim di atas segala hakim. Keputusan Tuhan bukan hanya tidak terbantahkan, tetapi pasti terlaksana, bahasa hukumnya: inkracht!
[Image: detiknews.com]

Dalam hal inilah setiap kita harus introspeksi. Jika kita nanti dipanggil Tuhan, Tuhanlah yang akan menentukan apakah kita benar atau salah. Tidak ada bias. Tidak ada ruang abu-abu. Hanya manusia yang dibenarkan Tuhanlah yang merasa sangat lega dan bahagia karena akan berada di surga. Bagaimana jika sebaliknya? Sungguh membayangkan saja sudah menakutkan.

Apa tidak ada aparat hukum yang adil? Tentu ada. Kisah fiksi Judge Bao yang begitu terkenal dianggap sebagai salah satu presentasi penegak hukum yang betul-betul menjalankan tugasnya dengan menjunjung keadilan setinggi-tingginya. Meskipun demikian, dibandingkan dengan Tuhan, dia bukan siapa-siapa. Hanya Tuhanlah yang benar-benar Mahaadil.

Baca Juga: Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Dikhianati? Balas dengan Anggun! Begini Caranya


Dari tiga karakteristik Tuhan yang Mahahadir, Mahatahu, dan Mahakuasa inilah kita seharusnya belajar tiga hal juga:


1. Warkat

Setiap kita sebenarnya adalah sebuah surat yang terlipat. Namun, beranikah kita menjadi surat yang terbuka di hadapan Tuhan dan manusia? Jika apa yang kita lakukan di tempat gelap berbeda dengan di tempat terang, kita menyebutnya munafik.

Hidup penuh hipokrisi adalah hidup yang paling berat untuk dijalani. Ke mana-mana harus berusaha untuk selalu menutup-nutupi diri.

Dengan menjadi surat yang terbuka, hidup jadi lebih santai. Di muka dan di belakang sama saja. Oleh sebab itu, sebelum menghakimi orang lain, jauh lebih bijak jika kita belajar introspeksi.

Baca Juga: Rahasia di Balik Tangisan Ahok: 5 Alasan Mengapa Seorang Pria Menangis



2. Waskat

Seharusnya tanpa ada tulisan “God is watching, give Him a good show!” kita sudah selayaknya sadar sesadar-sadarnya bahwa ada Tuhan yang mengawasi kita.

Seorang ayah sedang mengendarai mobil bersama anaknya di sebuah perkebunan semangka. Hari yang sangat panas membuat bapak-anak ini kehausan. Tiba-tiba sang bapak menghentikan mobilnya.

Dia mengajak anaknya turun dan berkata, “Tolong awasi kiri kanan, muka dan belakang, ya. Papa mau ambil semangka.”

Tiba-tiba anak itu berkata,
“Kok Papa tidak meminta saya untuk melihat ke atas?”

Seketika itu juga sang bapak pucat dan berkata, “Ayo kita kembali ke mobil!”

Pengawasan melekat perlu kita jadikan GPS, panduan dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga: Dunia Semakin Beringas! Mesum di Mal, Ngebut di Jalan dan Main Hakim Sendiri. Apa yang Perlu Kita Perbaiki?



3. Wasiat

Warisan apa yang terbaik? Tentu nama baik.

Oleh sebab itu, jika kita nanti menghadapi Pengadilan Tertinggi,
apakah kita berani datang dengan kepala tegak?
[Image: cnn]

Kiranya Tuhan sendiri yang terus-menerus memangkas hal-hal yang tidak benar sehingga kita bisa menjadi teladan dan mewariskan nilai-nilai luhur bagi generasi yang akan datang.



Baca Juga:

Ahok Memang Luar Biasa tapi Ia Hanya Manusia. Menyikapi Kekalahan Ahok di Pilkada DKI, Ingatlah 2 Hal Ini

Bukan Ahok, Bukan Anies, tapi Ini!

Ahok-Anies Pasca Pilkada DKI: Habis Ribut, Ya, Rukun! Lewat Ribut dan Rukun, Belajar Berelasi



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ada yang Jauh Lebih Penting Ketimbang Vonis 2 Tahun untuk Ahok: Ini!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

XavierQuentin Pranata | @xavierquentinpranata

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar