Saya Ingin Menikah, tapi Tidak karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti ini

Singleness & Dating

[Image: amazonaws.com]

73.7K
Menikah itu baik, maka harus dilandasi dengan motivasi yang baik pula. Tapi bagaimana jika desakan untuk menikah membuat kita tidak dapat berpikir jernih?

Semua orang ingin menikah – setidaknya, demikian anggapan yang umum ada di masyarakat. Akan tetapi, bagi sebagian orang, menikah itu tidak semudah menemukan pasangan yang tepat lalu memasuki gerbang pernikahan begitu saja. Ada banyak tantangan dan halangan yang menjadikan jalan menuju pernikahan justru seperti terasa menjauh dan kian menjauh.

Saya pernah menjalin hubungan pacaran selama hampir empat tahun lamanya. Di saat saya telah siap melangkahkan kaki ke jenjang yang lebih serius, hubungan kami harus berakhir karena Ia selingkuh. Tahun ini adalah tahun kelima saya single sejak hari itu; meski ada lelaki yang sepertinya serius mendekati saya, entah mengapa ada saja yang membuat hubungan kami kandas, bahkan sebelum sempat serius. Sebaliknya, saya juga pernah mendekati lelaki dan menyampaikan perasaan saya padanya, hanya untuk ditolak mentah-mentah karena Ia hanya menganggap saya teman baik.

Saya akan berusia 28 tahun ini – sehingga tentu saja, tekanan dari lingkungan sekitar sering membuat saya merasa ingin mengatakan "Ya!" kepada siapapun yang mendekati. Tetapi, saya menginginkan sebuah pernikahan yang berlangsung sekali untuk seumur hidup. Saya ingin dapat menikmati perjalanan hidup saya bersama orang yang tepat. That’s why, saya selalu mengingatkan diri saya bahwa saya harus benar-benar memikirkan keputusan untuk menikah dengan kepala dingin.

Baca juga: Inilah 5 Jawaban Terbaik untuk Menjawab Pertanyaan 'Kenapa Kamu Belum Punya Pacar?'

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, dan pengalaman orang-orang yang saya amati selama ini, saya tidak ingin memaksakan diri untuk menikah hanya karena alasan-alasan dibawah ini:


1. Paksaan Orangtua

Di agama saya, ridho Tuhan berdasar pada ridho orangtua. Katanya, jika orangtua merestui, maka jalan kita akan langgeng. Demikian juga soal jodoh. Walaupun demikian, harus kita akui bahwa tidak semua orangtua cukup bijaksana untuk memikirkan yang terbaik untuk anak mereka – bukan semata untuk mereka sebagai orangtua.

Seorang kakak sepupu menikah dengan lelaki pilihan ibunya – yang katanya memiliki jabatan tinggi dan penghasilan yang besar. Nyatanya, Ia adalah seorang lelaki yang kasar. Tentu saja sisi gelap ini hanya ‘diperlihatkan’ pada teman tidurnya, yaitu kakak sepupu saya. Sudah hampir satu tahun kakak sepupu saya pisah rumah, tetapi ibunya tetap menutup mata dan terus memaksanya untuk kembali ke rumah suaminya.

Mengerikan sekali ketika orangtua bertindak hanya agar dirinya dipandang baik oleh orang lain, hingga harus mengorbankan kebahagiaan anaknya.


2. Agama

Maksudnya begini, memang agama itu menganjurkan pernikahan. Menurut agama apapun, menikah itu baik, terutama karena tujuan paling dasar dari menikah adalah untuk menyempurnakan ibadah. Tetapi, agama tidak boleh dijadikan alasan sehingga kita, dengan membabi-buta, segera menikah tanpa pertimbangan yang matang. Dengan pemahaman agama yang baik, justru kita seharusnya mempersiapkan mental dan ilmu dengan sebaik-baiknya, agar kita bisa mempertanggungjawabkan pernikahan kita di hadapan Tuhan kelak.


3. Semua Teman sudah Menikah

Di geng saya, tinggal saya yang belum menikah, belum bertunangan, belum punya pacar, atau bahkan calon pacar. Sahabat saya ada yang sudah punya dua anak, sedang hamil anak kedua, dan ada juga yang baru-baru ini menjajaki pendekatan dengan sebuah keluarga – karena dia dan si calon suami memutuskan untuk tidak pacaran. Meski saya tetap setia mendampingi setiap tahapan kehidupan mereka, dari mulai menemani kencan, beli seserahan, menjadi bridesmaid, hingga sekarang membantu memandikan atau mengganti popok si bayi; kadang saya gigit jari juga karena obrolan kami sudah mulai tidak nyambung. Saya bingung mikirin gimana bayar SPP untuk S2, mereka bingung menyiapkan uang masuk playgroup si anak. Apalagi kalau sudah bercerita tentang romantisnya suami mereka, duh rasanya saya pingin menikah besok! Tetapi, alasan ini juga tidak ingin saya gunakan sebagai pembenaran untuk cepat-cepat menikah. Meski teman-teman saya sering menjodohkan saya, atau setidaknya mengenalkan saya kepada teman suami mereka, saya tetap berprinsip bahwa saya akan menikah bila tiba waktunya nanti, bukan karena ingin ‘masuk’ ke geng mamah muda.


4. Kesepian

Semakin dewasa, lingkaran pertemanan kita semakin mengecil dan ada kalanya kita jadi engga bisa sesuka hati lagi nongkrong dengan teman kuliah atau teman kantor. Teman di kelas S2 saya hanya 25 orang dan semuanya sudah punya kesibukan masing-masing. Yang namanya mau ngumpul untuk ngobrolin tugas saja susah setengah mati, apalagi mau have fun bareng seperti karaoke atau traveling. Jangan harap. Makanya, saya sering merasa kesepian hingga menghabiskan berjam-jam dengan handphone untuk mengobrol dengan teman-teman yang berada di seluruh penjuru dunia. Tadinya saya merasa lucu memiliki teman-teman sharing dengan zona waktu yang berbeda-beda. Selesai dengan yang satu, saya beralih ke yang lain. Tetapi, saya juga sadar bahwa hal ini sebenarnya tidak sehat, karena saya jadi sering murung dan kurang menikmati apa yang ada di depan saya. Kalau sudah begini, muncul keinginan untuk menikah agar ada yang menemani mengobrol, bercanda, beraktivitas, dan sebagainya. Untungnya, saya cepat sadar bahwa ‘teman ngobrol’ bukanlah satu-satunya ‘fungsi’ pasangan. Toh, dia (dan mungkin saya juga) harus bekerja untuk menghidupi keluarga kami. So, it’s ridiculous to get married just because you’re lonely.



5. Karena, Kapan Lagi?

Seiring perjalanan, ada seseorang yang mengutarakan niatnya untuk serius menjalani hubungan dengan kita. Dia ganteng, kaya, mapan, dewasa, tidak merokok, baik hati ... Oke Mas, kapan Mas? Minggu depan?

Sebagai perempuan, kadang saya merasa aji mumpung. Mumpung ada yang suka, mumpung ada yang mau. Kalau menolak terus, kapan saya kawinnya? Iya, begitulah pikiran saya ‘berbicara’. Padahal, saya tidak merasa ada ketertarikan, atau bahkan saya tidak mengenal dia dengan baik.


6. Jam Biologis Terus Berjalan

Iya, saya tahu saya perempuan. Ada batasan tertentu bagi saya untuk hamil dan melahirkan.

Tapi bukankah Tuhan itu Maha Baik, dan Dia lebih tahu skenario terbaik untuk hidup kita?Pasti ada suatu rahasia mengapa Dia ‘mengizinkan’ kita menjadi single hingga saat ini.

Meskipun begitu, saya tidak berpangku tangan kok. Saya berusaha menjalani gaya hidup sehat, seperti rajin mengonsumsi suplemen dan vitamin, dan bergabung dengan klub zumba. Menurut saya, saya sedang berinvestasi untuk kesehatan diri sendiri dan calon anak, sehingga berapa pun umur saya kelak ketika menikah, saya tetap berada dalam kondisi fisik yang bugar.


7. Karena Saya Anak Pertama

After all, marriage needs two person so that we can’t control the decision. Coba kalau menikah dengan diri sendiri sih, saya sudah menikah dari zaman kuda masih punya sayap. Seberapa pun kerasnya usaha diri kita sendiri, tetap saja kita harus memiliki seseorang yang bersama kita di pelaminan.

Makanya, saya sangat kesal ketika pernikahan ini dihubung-hubungkan dengan status saya sebagai anak pertama. Ayah bilang saya memberikan contoh yang tidak baik kepada adik-adik saya, terutama yang perempuan, jika saya masih betah melajang. Ibu menambahkan, bagaimana kalau tiba-tiba pacar adik melamar?

Saya tidak pernah minta dilahirkan sebagai anak pertama – atau sebagai perempuan, jadi mengapa hal ini harus menjadi masalah besar? Saya rasa, selama saya bisa menghidupi diri sendiri, menikmati kegiatan saya, syukur-syukur bisa membantu melunasi cicilan mobil orang tua; tidak ada yang salah dari diri saya. Jodoh hanya masalah waktu, dan kalaupun jodoh adik datang lebih cepat, saya tentu akan berbahagia untuknya.

Saya sudah beberapa kali melewati masa ‘kritis’ dimana saya menyatakan kepada orang tua saya, “Ya sudah, saya pasrah. Siapa saja yang Ayah atau Ibu pilihkan, saya mau.” Tapi kemudian akal sehat saya kembali bekerja. Saya yang akan menjalani pernikahan ini, dan saya harus bisa menerima segala konsekuensi yang muncul dalam pernikahan. Penerimaan itu hanya bisa terjadi jika saya melangkah menuju pernikahan berdasarkan keputusan saya sendiri.


***


Juga dari RibutRukun tentang Menjalani Hidup sebagai Seorang Single:

7 Alasan Kenapa Anda Beruntung Kalau Belum Berjodoh

Memilih Menjadi Single dan Menjalani Hidup Lajang yang Penuh Berkat





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Ingin Menikah, tapi Tidak karena Alasan-Alasan yang Keliru Seperti ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Primadita Rahma | @primaditarahma

Currently juggling between writing thesis and posting my thoughts on http://theprimadita.blogspot.co.id. Lately enjoying zumba and cold-pressed juice. Obsessed with the Crown Prince of Dubai.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar