Bukan Hanya Soal Dosa, Inilah 7 Manfaat Menolak Seks Pranikah

Singleness & Dating

[Image: hdwallpapers.cat]

29.8K
Kenyataan hidup, Anda digoda untuk menyerahkan kesucian seksual Anda, tapi Anda akan jauh lebih dihormati jika dapat mempertahankannya.

Hari Valentine selalu menjadi sebuah hari yang istimewa bagi mereka yang sudah memiliki pacar. Berbagai rencana penuh kejutan indah dan acara-acara romantis dipersiapkan untuk mengisi hari istimewa itu, sebisanya membuat sesuatu yang tak terlupakan. Tak sedikit yang merencanakan untuk memberikan kesuciannya pada sang pacar di hari Valentine, sebagai tanda cinta, dengan harapan akan mendatangkan sebuah relasi yang makin erat.

Namun sayangnya, kenyataannya tidak demikian. Seorang pemuda mengaku bahwa hubungan dengan pacarnya jauh lebih damai sebelum mereka melakukan hubungan intim. Setelah melakukannya, mereka malah semakin sering bertengkar. Ia sebenarnya ingin sekali putus, tapi merasa berat, karena sudah pernah 'melakukannya' bersama sang pacar.

Seorang wanita sukses yang telah dipulihkan dari depresi dan kehancuran hidup akibat hubungan yang berlebihan dengan pacar pertamanya di usia remaja mengucapkan kalimat ini:

"Bagian hidup yang paling kusesali adalah hari dimana aku memberikan kesucianku kepada pacarku. Karena setelah itu hari-hariku sangat buruk, tak ada sinar terang. Andai ada mesin waktu, aku ingin kembali ke masa itu dan mempertahankan kesucian seksualku dengan berkata "Tidak" kepadanya."


[Image: flickr.com]

Adalah jauh lebih bahagia dan bermanfaat jika kita mau dan mampu mempertahankan kesucian selama berpacaran. Paling tidak ada 7 manfaat mempertahankan keperawanan selama berpacaran:

1. Tidak Mudah Dimanipulasi Orang Lain

Jika seseorang mampu mempertahankan kesucian seksual selama berpacaran, citra dirinya pun tidak akan mudah digoyahkan oleh orang lain. Dengan citra diri yang baik dan kuat, seseorang tidak mudah dimanipulasi dan sanggup bertahan dari berbagai tekanan yang diciptakan orang lain, termasuk tekanan seksual.

Sebaliknya, ketika seseorang telah menyerahkan kesucian seksualnya selama berpacaran, tanpa ia sadari citra dirinya mulai goyah, dan itu membuat dirinya mudah dimanfaatkan oleh orang yang punya maksud buruk.

Seorang karyawati bercerita bagaimana ia diperalat oleh kekasih keduanya setelah ia menceritakan bahwa ia sudah tidak lagi perawan sejak pacaran dengan pacar pertamanya. Pacar kedua tersebut berhasil meyakinkannya bahwa tidak akan ada pria lain yang bisa menerima dirinya apa adanya, karena itu ia harus tunduk pada semua kemauan pria tersebut sekalipun pria tersebut telah memutuskan hubungan dengannya dan bertunangan dengan wanita lain.

Sementara itu, tidak sedikit juga wanita yang telah terlanjur kehilangan kesuciannya dengan mantan pacarnya lalu membiarkan diri menjadi kekasih gelap pria yang sudah menikah, bahkan sekalipun tanpa diberi fasilitas apa-apa.

Citra diri yang buruk, ketakutan hidup tanpa pasangan, rasa tidak layak untuk mendapatkan pasangan yang pantas, membuat mereka terpuruk dalam kehidupan yang tidak sewajarnya, dimanfaatkan oleh orang lain.

Kebanyakan manipulasi ini memang dialami oleh para wanita sebagai korbannya, atau lebih tepatnya, lebih banyak wanita yang berani menceritakan kisah mereka kepada konselor. Namun, ada juga pria yang menjadi korban manipulasi seperti ini. Pria memang cenderung lebih tertutup untuk menceritakan kisah hidup mereka, baik kepada konselor ataupun sahabat sendiri, namun di tengah kondisi yang amat tertekan kisah-kisah seperti ini bisa terbongkar juga. Umumnya mereka dimanipulasi oleh wanita yang mereka anggap lebih tinggi secara posisi atau lebih kuat secara karakter.

[Image: w.bp.blogspot.com]

2. Mampu Mempertahankan Emosi yang Sehat

Kontrol diri untuk tetap suci secara seksual dalam berpacaran sangat bermanfaat untuk kestabilan emosi atau emosi yang sehat. Walaupun tidak semua orang yang mengalami gangguan emosi disebabkan karena sudah kehilangan kesucian saat pacaran, faktanya mereka yang menyerahkan kesuciannya terguncang emosinya. Mereka dipenuhi rasa bersalah, gelisah, malu, takut ketahuan orang lain, rasa pahit, sulit percaya lawan jenis, bahkan tidak jarang yang menjadi orang yang meledak-ledak karena hatinya dipenuhi kemarahan.

Banyak orang menyadari bahwa penyebab gangguan emosinya adalah akibat pre-marital sex yang telah mereka lakukan, dan mereka berpikir bahwa jika mereka menemukan pasangan hidup yang tepat dan kemudian menikah, maka dengan sendirinya emosi mereka akan kembali normal. Akan tetapi, kenyataannya gangguan emosi seperti ini tak dapat disembuhkan oleh sebuah status pernikahan, sebaliknya malah akan jadi faktor yang memperumit hubungan dalam pernikahan. Kemarahan, kecurigaan, perasaan mudah tersinggung justru makin nampak dalam hubungan yang amat dekat dengan pasangan, terutama dalam sebuah pernikahan.

Pernikahan tak dapat menyembuhkan luka emosi akibat perilaku pre-marital sex.

Cara terbaik untuk mempertahankan emosi yang sehat jika Anda masih lajang adalah dengan mempertahankan kesucian seksual Anda.


3. Mampu Berelasi dengan Sehat

Percaya atau tidak bahwa kehilangan kesucian seksual dalam masa pacaran punya pengaruh terhadap karier Anda? Mengapa demikian?

Untuk dapat menjadi orang yang sukses dalam berbagai aspek, tak hanya dibutuhkan IQ dan skill, tapi juga kemampuan berelasi yang sehat dengan banyak orang. Perasaan positif sangat berpengaruh untuk membuat seseorang mampu berelasi secara positif walau menghadapi berbagai masalah.

Sayangnya, perasaan positif justru adalah sesuatu yang hilang pada diri orang yang melakukan pre-marital sex seiring dengan lenyapnya kestabilan emosi. Efek dari hal ini adalah kesulitan untuk mampu berelasi dengan sehat. Gesekan dan benturan dalam berelasi dengan banyak orang akan lebih sering dialami, dan ini berpengaruh dalam prestasi kerja juga.

Sementara itu, mereka yang berhasil mempertahankan kesucian seksualnya selama masa lajang, dapat menikmati kebebasan jiwa, tidak terjebak dalam perasan negatif, hingga bisa mengembangkan relasi-relasi yang sehat secara leluasa.


4. Mendapatkan Respek Lebih dari Lawan Jenis

Seorang mahasiswi menangis bercerita bahwa pacarnya telah mengambil kesuciannya namun tega mengatakan bahwa hingga saat itu yang diinginkannya adalah wanita yang masih perawan dan tidak murahan seperti dirinya. “Sungguh tidak adil, dia yang mengambil, dia juga yang menuduhku murahan!”

Kejadian ini bukan hanya dialami wanita, pria pun mengalaminya. Seorang pemuda dengan frustasi bercampur kesal menceritakan bahwa kekasihnya yang awalnya merayu untuk intim, namun justru sejak saat itu mereka makin sering bertengkar, dan dalam pertengkaran tersebut tercetus bahwa si pemudi tak lagi respek padanya karena ia tak dapat mengontrol dirinya.

Kenyataan hidup, Anda digoda untuk menyerahkan kesucian seksual Anda, tapi Anda akan jauh lebih dihormati jika dapat mempertahankannya.
[Image: behappy.me]

5. Terhindar dari Penyakit Menular Seksual

Banyak orang memandang ringan adanya ancaman penyakit menular seksual seperti AIDS, sifilis, dan lain-lain. Mereka biadanya beranggapan bsahwa jika baru atau hanya satu kali saja melakukan pre-marital sex maka mereka tidak akan mungkin tertular penyakit berbahaya tersebut. Realitanya, penularan penyakit seksual tidak tergantung dari berapa kali melakukannya, melainkan dengan siapa itu dilakukan. Tidak sedikit orang yang memiliki penyakit ini menyembunyikan hal tersebut dari kekasihnya, atau bahkan tidak mengetahuinya sama sekali. Lebih banyak terjadi, mereka tidak mengakui kalau dirinya pernah berhubungan intim dengan orang lain sebelumnya, sehingga sang kekasih merasa ‘aman’ dan berani menyerahkan kesuciannya.

Sebuah pengalaman miris ketika melihat kenalan-kenalan yang meninggal dunia karena tertular HIV dari pasangan yang tidak jujur akan masa lalunya.

Jalan paling aman untuk menghindari penyakit menular seksual adalah dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Selain itu, sangat penting bagi pasangan yang akan menikah memeriksakan kesehatan mereka masing-masing untuk memastikan keduanya bersih dari penyakit menular seksual.


6. Berani Merancangkan Masa Depan yang Indah

Umumnya mereka yang tidak terlibat dengan pre-marital sex lebih berani untuk merancang masa depan, menentukan standar calon istri atau suami seperti apa yang pantas untuk mereka nikahi, pekerjaan apa yang ingin digeluti, dan mampu mengejar jenjang karier yang lebih tinggi.

Tidak demikian dengan mereka yang telah menyerahan kesuciannya sebelum menikah. Hambatan menuju masa depan indah muncul ketika kehamilan terjadi. Atau, sekalipun tidak terjadi kehamilan, tetap saja rasa bersalah dan berbagai emosi negatif lainnya muncul dan menyebabkan mereka takut merancangkan masa depan. Tidak sedikit dari antara mereka takut untuk pacaran lagi, atau berani pacaran namun tak berani melangkah ke pernikahan, takut berkenalan dengan orang baik-baik karena merasa tidak layak, takut untuk melanjutkan karier di bidang tertentu, misalnya di bidang pendidikan atau keagamaan, bahkan secara ekstrim sebagian orang akhirnya memilih jalan hidup yang gelap.

Seorang siswi SMA yang berprestasi tiba-tiba mengalami penurunan prestasi drastis. Dalam konseling di sekolah, ketika ditanya langkah apa yang ia akan ambil dengan melihat penurunan drastis tersebut, di luar dugaan saya, ia berkata “Saya lebih baik berhenti sekolah.” Saya mulai penasaran dan melanjutkan pertanyaan “Kalau berhenti sekolah, mau kerja apa?” Jawaban kedua lebih mengagetkan “Jual diri!” Dari jawaban itu, saya mulai menangkap apa yang telah terjadi sampai akhirnya siswi tersebut mengakui bahwa ia telah melampaui batas berpacaran hingga kehilangan kesuciannya. Citra dirinya hancur, ia merasa tidak berharga hingga muncul pikiran negatif seperti berhenti sekolah dan jual diri.

Kebalikan dari kisah di atas, ada cukup banyak orang yang tetap bisa memilih dan merancangkan jalan hidup dengan baik sekalipun diancam putus oleh kekasihnya karena tidak mau menyerahkan kesuciannya. Keberhasilan mempertahankan kesucian menolong mereka untuk mampu menentukan standar pasangan hidup dan merancang masa depan yang baik.

[Image: virtuousforlove.com]

7. Berani Menegur dan Memimbing Orang Lain untuk Mempertahankan Kesucian Seksual

Seorang guru PPKN mengundurkan diri dari profesi sebagai guru karena rasa bersalah akibat hubungan pacarannya yang melewati batasan. “Saya tidak mampu untuk jadi orang munafik, mengajarkan moral sementara saya sendiri telah melanggarnya,” ujarnya. Dapat Anda bayangkan betapa berat beban mental yang harus ditanggung pelaku pre-marital sex saat harus berbicara tentang moralitas yang benar, khususnya berkaitan dengan kesucian seksual. Mereka yang tidak melakukannya akan jauh lebih berani menegur ataupun membimbing orang lain dalam kekudusan seksual.

Selain itu, dalam banyak kasus di sekolah, siswa yang kedapatan hamil di luar nikah atau menghamili pacarnya ternyata memiliki orangtua dengan sejarah hidup yang serupa. Ada beberapa orangtua yang dengan jujur mengakui bahwa mereka tak berani menegur gaya berpacaran anaknya yang berlebihan karena mereka sendiri dulu berperilaku demikian.

Alasan dari dua contoh di atas tidak dapat dibenarkan sepenuhnya, oleh karena sesungguhnya mereka akan mampu untuk menegur jika mereka sendiri telah mengalami pemulihan secara mental dan berbalik menjalani hidup dalam jalan yang benar. Namun demikian, kenyataannya kemampuan seseorang mempertahankan kesucian seksualnya selama berpacaran memang akan memberi manfaat keberanian untuk menegur dan membimbing orang lain dalam hal kesucian seksual.


Sembari menuliskan artikel ini, saya berpikir, bagaimana seandainya di antara pembaca ada yang telah gagal mempertahankan kesuciannya saat berpacaran. Terlambatkah? Haruskah berputus asa? Masih ada satu harapan! Sekalipun keperawanan seksual Anda tak dapat pulih kembali, Anda bisa mendapatkan kembali pemulihan emosi dan jalan hidup. Pengakuan jujur dan konseling adalah langkah awal yang dapat Anda ambil untuk itu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Hanya Soal Dosa, Inilah 7 Manfaat Menolak Seks Pranikah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar