Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya

Love & Friendship

Love isn't in the falling, it's in the staying.

6.5K
No relationship is easy. It needs hard work, indeed. This story is about how an imperfect person like me and an almost perfect person like him stay in a relationship. We stayed.

Rahasia 1 | Kasih dan Kesepakatan

"Kita ini sebelum jadian bilang saling suka karakter masing-masing. Setelah jadian, baru terungkap semua. Yang bikin bertahan cuma sayang dan niat," begitu kata kekasih saya, sebut saja R.

Dimulai dari kasih lalu dilanjutkan dengan niat. Rahasia pertama kami. Sesederhana itu.

Kata Morrie, seorang bijak di novel "Tuesdays with Morrie" karya Mitch Albom, pernikahan akan mengalami banyak masalah jika pasangan tidak saling sepakat pada serangkaian nilai penting yang sama. Begitu pula dengan pacaran, dua manusia perlu menyepakati hal-hal penting dalam hubungan mereka, misalkan tentang kejujuran, tentang prioritas pembagian waktu, tentang attitude saat berdebat (tidak kasar, tidak menutup telpon, dan lain-lain), juga tentang banyak hal lain. Karena di sini, bukannya mencari partner yang sempurna, kita justru sedang mengusahakan kesepakatan sepanjang usia dengan sesama manusia yang lemah.

"Lalu pertanyaannya, apa nilai yang paling penting?" tanya Mitch kepada Morrie.

"Nilai tentang berharganya hubungan kalian," Jawab Morrie, Sang Bijak.

Percuma ada cinta menggebu jika hanya satu orang yang menilai berharga sebuah hubungan. Ini mutlak: dibutuhkan dua orang yang sama-sama meyakini harga relasi kasih yang mereka miliki.


Rahasia 2 | Kerja Keras

Ketika aku dan R memulai hubungan ini, pun setelah melewati proses saling mengenal yang tergolong lama, kami masih tetap dikejutkan dengan berbagai karakter satu sama lain yang terus bermunculan di sepanjang perjalanan. Ia masih harus terkaget dengan ke-moody-an ku dan aku pun kerap harus terbebelalak dengan sisi kolerisnya yang dominan. Satu muncul, disusul dengan rentetan kejutan lainnya, demikian selama sembilan bulan hubungan ini. Pengenalan ini mungkin tak berakhir juga, walaupun nanti kami berdua sudah beranak-pinak memenuhi bumi.

Di sela satu per satu karakter yang terungkap, sepasang kekasih akan diperhadapkan pada beberapa momen kekaguman bernada, "Astaga, I found my other half!" ketika menemukan berbagai perbedaan yang sifatnya saling melengkapi. Akan tetapi, potensi ketidakcocokan juga kerap muncul.

Ketidakdewasaan akan berkata bahwa itu alasan berpisah, tapi kasih yang menuju pernikahan kudus paham bahwa perasaan cocok adalah alasan bertahan dan ketidakcocokan adalah ruang untuk berproses. Lagi-lagi, sesederhana itu.

Kerja keras pertama dalam hubungan adalah mindset atau hikmat yang memastikan bahwa "The One" is could be from anyone, but the "Real One" is someone who makes you said "yes". Tanpa mindset ini, silakan keluar masuk hubungan mencari kesempurnaan yang PASTI akan amat melelahkan.

Saat kekasihku menembakku dengan peluru berwujud buku pop art yang sangat indah, tidak Ia tuliskan di sana permintaan untuk aku menjadi pacarnya. Ia justru memintaku menjadi partner mengucap janji setia di altar gereja dan menghabiskan waktu bersama anak-anak di sebuah rumah. Ia dan aku tidak sedang mencoba-coba, "Apakah kami cocok?" Percobaan itu sudah berjalan satu tahun empat bulan, sebelum di malam penuh grogi itu Ia memintaku menjadi kekasihnya.


Rahasia 3 | Kerja Keras

Di antara kekaguman dan sinisme orang sekitar, kami bertahan. Pertahanan ini bukan berarti berjalan tanpa sayatan. Entah berapa kali kata "maaf" harus saling termohonkan. Usia dan ego pribadi, tak bisa diingkari, menjadi faktor yang membuat perdebatan makin runyam. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu cemburu.

"Manusia menajamkan manusia," kerap aku mengingatkan ini ketika kami mulai geram menanggung rasa sakit baik akibat kesalahan atau teguran. Dan, persis malam ini, saat aku memimpin kami berdua berdoa, terucap kalimat:


"Tuhan,

berikan kami kelembutan saat meresponi kesalahan.

Kerendahan hati untuk mengakui salah.

Kebesaran hati untuk mengampuni."


Dua orang bersama, pasti akan saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak. Karena itulah, kerja keras kedua adalah: sikap terhadap kesalahan.

Suatu malam setelah bertengkar parah, kekasihku merasa sangat lelah. Aku bertanya "Kamu masih punya stok maaf?" Lalu Ia, dengan nada belum sepenuhnya pulih ceria, menjawab, "Iya, tinggal sedikit."

Dari situ aku menyadari, stok maaf yang berharga itu akan terus berkurang seiring kesalahan, tapi bagi mereka yang sungguh saling mengasihi dan berniat seumur hidup bersama, stok itu tidak boleh dan tidak akan pernah habis. Selalu ada keceriaan baru yang membuat stok itu secara otomatis nan ajaib bertambah. Akan ada memori indah yang memampukan seseorang berinisiatif menambah lagi tumpukan pengampunan tersebut. Dan tenang, Sang Sumber Stok Maaf itu selalu bermurah pada kita.

Aku tahu, R berjuang keras di tengah karakter kolerisnya dalam hal meminta maaf ataupun memaafkan. Kadang Ia gagal, tapi Ia juga pernah berhasil, dan saat itu dia bertransformasi menjadi seseorang yang tidak ingin aku lepaskan hingga uban di kepala menjadi kebanggaan. Aku mengaguminya.

Kelembutan yang telah ditunjukkannya itu tidak sedikit pun membuatku ingin bersikap manja lalu mengulangi salah dan memperalatnya. Satu yang aku tahu, tidak pernah ada kelembutan yang menodai harga diri. Kelembutan pria justru menjadi alasan wanita belajar penundukan. Dan, di lain pihak, kelembutan wanita, adalah alasan seorang pria tetap setia.


Rahasia 4 | Kerja Keras

Setiap kali kami membatalkan niat menyerah, satu kalimat yang selalu muncul di otakku adalah: masih ada dua orang yang mau berjuang.

Perjuangan kami bukan hanya tentang berusaha saling bertemu di tengah jarak yang memisah. Lebih jauh dari itu, rutinitas harian kami, wujud perjuangan yang nyata. Kadang berupa kreativitas untuk membuat pasangan senang. Seperti yang kerap aku lakukan, mengirimi R gambar di sela waktu kerjanya, memanfaatkan spontanitas khas sanguin untuk menceriakannya dengan gombalan, dan mengejutkannya dengan barang hadiah. Kerja keras juga ditunjukkan lewat konsistensi tingkat tinggi dari R. Menelpon minimal satu jam setiap malam, menyapa pagi, dan menyempatkan saling menggoda di jam makan siang. Serta kesiapsiagaan kekasihku itu menawarkan tangan bantuan, itu juga adalah bahasa kasih yang luar biasa.

Jadi, kerja keras selanjutnya dapat diringkas dengan: bahasa kasih. Banyak pasangan saling cinta, tapi juga tak sedikit yang kandas di tengah jalan karena gagal membahasakan kasih. Mereka menganggap bahwa pasangan mereka telah tahu itu. Ingatlah, kita tidak berpacaran dengan cenayang. Tak masalah bagaimana cara membahasakannya, yang masalah adalah ketika kasih tidak dibahasakan sama sekali.

Romantisme itu perlu! Tapi bahasa romantis setiap orang juga berbeda. Coba bandingkan antara Mbak Angel-Mas Adi dan Bintang-Bastian dari serial TV “Tetangga Masa Gitu”. Completely different style to express love. Soal kreativitas, R boleh jadi kalah dariku. Namun sebaliknya, soal ketekunan, harus aku akui, aku kalah jauh darinya. Dalam batin aku mengagumi romantisme tingkat tinggi khas laki-laki yang dilakukannya dengan amat cakap, yaitu dengan serius memikirkan masa depan. Tentang rumah, kendaraan, jumlah anak, bahkan hewan peliharaan tak sungkan Ia diskusikan denganku.

Dalam membahasakan kasih, lagi-lagi aku harus katakan, kami memang berbeda. Namun puji Tuhan, kami telah banyak sekali mengalami kemajuan soal ini. Ah, sungguh bukan hal yang mudah awalnya. Aku menuntut Ia berbicara bahasa kasih yang sama denganku, dan dalam balutan kerendahan hati, Ia mengaku walau dengan gemas, bahwa itu terlalu berat baginya. Hingga sampailah aku di satu titik di mana aku akhirnya menyerah menyetir bahasa kasihnya. Terlalu sulit mengharapkan spontanitas dari seorang koleris, sesulit mengharapkan stabilitas dari seorang sanguin. Malam ini, aku dapat tersenyum bangga mengingat betapa kami telah belajar.

Usai pergumulan panjaaaaang soal ini, di satu tengah malam ketika aku terjaga, aku mendapati sebuah fakta: "jangan mencari perasaan adil, tapi usahakanlah kasih yang terus memberi." Ketika kita mencari keadilan, kebanyakan kita akan tidak terpuaskan. Antara sombong karena merasa telah melakukan lebih banyak atau malah bisa jadi insecure karena merasa melakukan lebih sedikit. Jadi, lebih baik fokuskan pikiran pada "apa yang bisa aku lakukan untuk kekasihku ini?"


Rahasia 5 | Kerja Keras

Hampir selalu, setiap kali kami selesai berdebat, aku menuliskan sesuatu di kumpulan note kami. Di sana tersimpan kesimpulan dari setiap masalah, agar kami tak mengulangi kesalahan yang sama; atau sekedar mencatat apa yang pasangan kami inginkan. Mulai belakangan ini aku memutuskan, dan juga mengajak R untuk berdoa bersama setiap kali kami selesai bertengkar.

Ini rahasia hampir terakhir: komunikasi dan resolusi. Bukan karena ada di urutan belakang, maka ini berarti kurang penting. Nyatanya, ini justru adalah salah satu yang paling esensial: komunikasi vertikal dan horizontal + resolusi vertikal dan horizontal. Dengan Tuhan dan dengan pasangan. Mengundang campur tangan Tuhan, bukan hanya sekadar teori dan iming-iming kemudahan. Bergantung padaNya dalam mengasihi orang lain mutlak dibutuhkan. Belum lepas dari ingatan ketika waktu itu aku memohon dengan sangat, "Tuhan berikan kami kasih mesra," lalu Tuhan secara begitu ajaib memampukan kami mewujudkan kemesraan luar biasa. Juga bagaimana di satu hari kami mendengar khotbah tema yang PERSIS sama di dua jenis gereja di dua kota yang berlainan dari dua tokoh Alkitab yang berbeda.

Dua manusia saling jatuh cinta, lalu saling berusaha, tapi ada Tangan Tak Terlihat yang senantiasa menjaga dan memelihara di tengah kecerobohan dan keterbatasan.

Komunikasi saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan rumusan komitmen ke depan. Pun resolusi juga tidak akan terwujud tanpa komunikasi. Kekasihku sangat baik dalam menjaga komunikasi, dan keterampilanku bekerja saat menyusun resolusi. Kami berbeda namun saling melengkapi di sini.


Rahasia Terakhir | Pengharapan dan Ucapan Syukur

"Mengucap syukurlah senantiasa dan tetaplah percaya," kata Paulus.

Perjuangan menuju pernikahan memang sangat berat, tapi pengharapan akan keindahan sebuah pernikahan juga menjadi alasan bertahan di setiap pahit manis perjalanan. Kita bekerja keras seumur hidup, kita tangguh bertahan, karena harapan akan apa yang kita anggap baik menanti di depan. Adalah hal baik jika kita boleh berjerih lelah untuk sesuatu, itulah tanda bahwa kita masih manusia, sebab tak ada perjuangan di dunia orang mati, ucap bijak Sang Pengkhotbah.

Layaknya syukur karena diberikan kesempatan berkuliah dan pengharapan akan meraih gelar sarjana menjadi semangat berjuang menyelesaikan skripsi, begitu pula dengan relasi sejoli manusia.

"Beyond blessed and proud to call you mine," inilah kalimat pembukaku saat kami berdua jadian. Perasaan bangga dan terberkati waktu itu masih sama hari ini, dan menjadi penyemangatku untuk melakukan segala kerja keras yang diperlukan. Aku bersyukur atas yang aku miliki. Aku merasa cukup. Aku (dimampukan) untuk percaya bahwa apa yang akan kami miliki ke depan sungguhlah indah. Aku, sebagai wanita berhenti menanti yang lain, dan R, sebagai laki-laki berhenti mencari yang lain.

Kami bertahan. Bukan karena pasangan kami sempurna. Bukan karena hubungan ini selalu nyaman. Tapi karena kasih, pengharapan, dan ucapan syukur yang memampukan kami bekerja keras.


Itulah rahasia kami. Setiap pasangan tentu memiliki rahasianya sendiri. Di antara itu semua, masih terlalu banyak wujud kerja keras yang harus diusahakan. Satu yang jelas, kasih adalah investasi besar, kami belajar menumbuhkannya dengan kerja keras.

Kami hanya berusaha menjadi dua kawan baik yang saling bekerja sama. Menjadi partner, yang saling mendukung di suka maupun duka. Air mata tawa, air mata pergumulan, dan air mata luka, sudah mengairi baris-baris doa kami. Di ribuan hari bersama ke depan (jika Tuhan menghendaki) akan muncul masalah baru dan tantangan baru, tapi kami yakini, bagi kami juga akan dianugerahkan kekuatan baru.

Kami tidak pernah sendirian berjuang, itulah rahasia terbesar.


Baca Juga:

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

Buat Kamu yang Sering Bertengkar dengan Pasangan, 10 Cara ini Bisa Membuat Harmonis Hubungan Cintamu



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tentang Kasih, Dua Pribadi Tak Sempurna, dan Perjuangan Menyempurnakan Kasih yang Mereka Punya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar