6 Perisai Pertahanan Ketika Tinggal di Pondok Mertua Indah

Marriage

sumber: http://i.telegraph.co.uk/

19.7K
Kenyataannya bagi beberapa pasangan, menempati tempat tinggal sendiri terlepas dari kedua orangtua bukan perkara mudah. Selain alasan ekonomi keluarga baru yang belum mapan, terdapat berbagai alasan lain yang menyebabkan pasangan merasa kurang pas untuk tinggal jauh dari orangtua

Pasangan yang sudah menikah selayaknya tinggal di tempat tinggal tersendiri, lepas dari kedua orang tua. Hal ini penting, karena bukan hanya sebagai tempat istirahat dan perlindungan secara fisik, tempat tinggal juga merupakan batasan teritori bagi pasangan. Pasangan baru yang tinggal terpisah dari kedua orangtua memiliki keleluasaan untuk belajar berperan sebagai suami dan sebagai istri, disinilah pasangan menyepakati aturan, kebiasaan, dan pola dalam keluarga baru mereka. Tinggal di rumah orangtua bukan saja dapat menghalangi proses penyesuaian tersebut, tetapi juga memerlukan toleransi dan adaptasi yang tidak mudah.

Kenyataannya bagi beberapa pasangan, menempati tempat tinggal sendiri terlepas dari kedua orangtua bukan perkara mudah. Selain alasan ekonomi keluarga baru yang belum mapan, terdapat berbagai alasan lain yang menyebabkan pasangan merasa kurang pas untuk tinggal jauh dari orangtua. Usia dan kondisi kesehatan orangtua, sisi psikologis orangtua yang tidak dapat hidup sendirian, pasangan yang sudah dikaruniai si kecil yang kemudian memercayakan orangtua untuk membantu mengasuh, dan lainnya.

Jika pasangan sudah sepakat untuk sementara tinggal di rumah salah satu orangtua, maka bersiaplah untuk menghadapi perbedaan, beradaptasi dan bertoleransi. Jelas ini bukan proses yang menyenangkan. Memuakkan? Bisa jadi. Berikut 6 perisai pertahanan tinggal di Pondok Mertua “Indah”:


1. Tanggung beban bersama pasangan


Jika keputusan dibuat bersama, baik suami atau istri pun juga bersiap menanggung beban bersama. Jika suami tinggal di rumah orangtua istri, istri harus memahami bahwa si suami pasti perlu penyesuaian, demikian sebaliknya. Tanpa hal pertama ini, kedamaian pernikahan pasangan sangat terancam.

Pastikan keputusan untuk tinggal di rumah salah satu orangtua adalah keputusan bersama. Istri yang memaksa atau suami yang memaksa tidak akan membuahkan hasil yang baik. Bicarakan, rundingkan, jaga komunikasi terbuka dengan pasangan. Ini adalah hal yang paling dasar. Alih-alih berpikir bahwa ini adalah sumber konflik, pandanglah ini sebagai kesempatan untuk melatih dan mempererat komunikasi Anda dengan pasangan.


2. Private Room



Secara fisik, Anda dan pasangan memang tinggal di rumah mertua, namun Anda dan pasangan harus memiliki privacy dengan kamar sendiri yang “tertutup” bagi anggota keluarga lainnya, termasuk orangtua pasangan. Tentu kamar Anda memiliki daun pintu, tapi yang lebih penting adalah batas psikologis. Anda dan pasangan memiliki kebebasan berekspresi di kamar Anda.

Penataan ruang, penyimpanan barang, pemilihan lampu, penggunaan televisi atau audio, menjadi hak dan berada di dalam kontrol Anda sepenuhnya di ruangan ini. Di kamar ini juga komunikasi intens yang tidak dapat disampaikan begitu saja pada keluarga mertua dapat Anda bahas bersama dengan pasangan. Inilah tempat perlindungan Anda ketika Anda merasa penat dan membutuhkan “me time”.

Pertegas ruang pribadi Anda dengan pintu kedua, misalnya dengan pintu alumunium atau tirai kain. Jika Anda dan pasangan meninggalkan rumah, kunci kamar Anda. Setidaknya pintu / tirai serta kunci menjadi simbol bahwa kamar ini adalah teritorial ekslusif Anda dan pasangan, dan tidak sembarang orang boleh masuk seenaknya. Mertua dan keluarga bisa jadi risih dengan hal ini, tapi ini harus Anda sepakati bersama, dan mertua Anda harus mengerti hal ini.

Sebaliknya, Anda juga harus peka dengan wilayah teritorial mertua. Bukan hanya kamar tidur mereka, dapur, kamar mandi, gudang dan area-area lain bisa jadi adalah “daerah kekuasaan” keluarga mertua. Anda bisa jadi tidak merasa nyaman dengan pangaturan di ruang-ruang itu, tapi tahan tangan Anda untuk turut campur, kecuali dipersilakan atau diizinkan.


3. Terima dan pahami perbedaan


Kebiasaan yang Anda miliki adalah produk dari proses hidup Anda selama sekian tahun, tak heran jika Anda merasa itulah yang benar dan seharusnya dilakukan. Hal yang sama terjadi dengan keluarga mertua Anda. Kebiasaan mereka juga adalah produk proses hidup selama sekian puluh tahun, biasanya lebih lama dari usia Anda. Karena itu, perdebatan siapa yang benar dan salah tidak akan pernah usai. Hal itu hanya akan membuat Anda stress berkepanjangan. Terimalah bahwa memang ada perbedaan dan itu lumrah adanya.

Setelah hati Anda terbuka menerima perbedaan, barulah Anda dapat memahami alasan dan pola kebiasaan keluarga mertua. Pelajari bersama pasangan mengapa pola kebiasaan Anda dengan mertua berbeda.Cari hal positif dari kebiasaan mereka.Jika memang kebiasaan keluarga mertua lebih baik, ikuti. Jika ada dampak buruk, pikirkan apa yang bisa diantisipasi.

Tidak perlu banyak mengeluh, lakukan yang dapat menjadi solusi atau mengurangi dampak negatif dari kebiasaan keluarga mertua. Inisiasi perubahan dengan memberikan contoh. Misalnya, daripada mengeluh mengenai pintu yang terbuka sementara AC di dalam menyala, ambillah inisiatif untuk menutup pintu sembari mengomunikasikan maksud Anda: “Pintunya saya tutup ya, supaya listrik ngga boros.” Jika kunci atau barang penting lainnya sering diletakkan sembarangan, coba komunikasikan kepada keluarga: “Kunci rumah dan kendaraan kita gantung disini saja, ya.” Jika Anda tidak suka dengan pengaturan atau pilihan perlengkapan mertua di dapur atau kamar mandi, sediakan wadah khusus untuk perlengkapan pribadi Anda dan pasangan. Keinginan Anda terakomodasi, keluarga mertua pun tak terlalu terganggu.


4. Ambil peran


Jangan hanya menjadi penumpang, bahkan jika sebenarnya Anda dan pasangan “terpaksa” tinggal di rumah mertua untuk kebaikan atau atas permintaan mereka. Ambillah peran dalam aktivitas rumah tangga. Ambil alih sebagian biaya operasional rumah tangga. Ikutlah menjaga kebersihan dan kerapian rumah, jangan biasakan meninggalkan peralatan makan kotor, atau meletakkan barang pribadi Anda secara sembarangan. Ikutlah membantu dengan dana atau tenaga jika rumah perlu perawatan atau perbaikan. Hal-hal ini tidak terbatas pada istri, suami juga perlu membantu dan turun tangan.

Meski Anda dan pasangan memiliki ruangan pribadi, jangan terus-terusan mengurung diri. Sediakan waktu berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya, berbincang santai di dalam rumah maupun jalan-jalan ke luar. Hadirlah dalam kehidupan anggota keluarga yang lain,dengarkan cerita-cerita mereka, berikan pendapat dimana perlu.


5. Jangan abaikan peran kepala rumah tangga



Ingatlah, walaupun Anda seorang suami, ketika tinggal di rumah mertua, yang menjadi kepala keluarga di rumah itu secara keseluruhan adalah ayah mertua Anda. Jika ayah mertua telah tiada, suami bisa menjadi kepala keluarga, layaknya seorang anak sulung pria dalam keluarga. Hormati dan kasihi mertua Anda sebagai orang tua, seorang senior, seorang yang memiliki pengalaman lebih.Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan rumah secara keseluruhan. Dalam kamar/area pribadi yang dijelaskan sebelumnya, suamilah yang berperan penuh sebagai kepala keluarga atas istri dan anak anak. Istri pun harus ingat, ketika sudah menikah yang menjadi kepala keluarga atas dirinya adalah si suami, bukan lagi kedua orangtua.

Jika istri yang tinggal di rumah mertua, maka suami harus ingat bahwa dia adalah kepala rumah tangga atas istri dan keluarganya. Jangan kembali menjadi anak ayah ibu yang tergantung pada orangtua. Berikan ruang dan penghargaan atas peran istri. Misalnya, walau masakan istri belum seenak masakan Ibu, tetaplah berikan penghargaan disamping masukan. Jika memang disepakati, biarkan istri juga berperan dalam mengatur rumah tangga di area-area tertentu kehidupan keluarga Anda, mengatur keuangan keluarga misalnya atau mengatur kamar pribadi Anda.


6. Jadwalkan “Short Escape”



Escape disini bukan berarti minggat, tetapi liburan singkat pasangan dan anak-anak tanpa gangguan keluarga orangtua. Tidak harus keluar kota, menginap di sebuah budget hotel di kota Anda pun bisa jadi pilihan. Sekedar menikmati waktu bersama pasangan dan anak anak tanpa interupsi dari orang-orang di luar keluarga kecil Anda. Nikmati waktu ini sepenuhnya sebagai waktu bersama. Singkirkan gadget dan pekerjaan untuk sementara, nikmati waktu bersama keluarga dengan pembicaraan terbuka diselingi canda tawa.

Itulah sekiranya 6 perisai pertahanan ketika tinggal di “pondok mertua indah” berdasarkan pengalaman penulis. Seorang pria, tinggal di rumah orangtua istri bersama ayah mertua dan adik ipar pria sejak mama mertua tiada. Anda punya perisai pertahanan lainnya? Mari berbagi!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "6 Perisai Pertahanan Ketika Tinggal di Pondok Mertua Indah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Sastra Budiharja | @sastrabudiharja

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar