5 Tipe Pria atau Wanita yang Sebaiknya Tak Menikah

Singleness & Dating

[image : daum]

11.5K
Pernikahan ternyata tak cocok untuk semua pria dan wanita. Pria dan wanita dengan ciri-ciri seperti ini sebaiknya tak menikah,

Salah satu tugas pekerjaan saya adalah berbicara dengan mereka yang akan menikah. Percakapan ini biasanya berlangsung dalam beberapa kali pertemuan. Percakapan saya dan pihak pria, saya dan pihak wanita dan kemudian bersama-sama.

Hampir tak ada orang yang memasuki pernikahan dengan nada pesimis. Mayoritas optimis tentang pernikahan yang ada di depan mata. Sikap yang tentu saja menggembirakan, walau sikap saja tak akan berarti banyak, tanpa diubah dalam bentuk kerja keras.


Sisi yang Lain

Saya juga mesti berbicara dengan mereka yang mengalami problem rumah tangga. Konfilik, perselingkuhan, dan bahkan perceraian tak lagi asing bagi saya. Berbeda dengan di awal pernikahan, aneka macam problem rumah tangga ini menyingkirkan optimisme dan menggantikannya dengan pesimisme. Semangat yang ada di awal pernikahan lenyap entah ke mana. Berganti dengan luka, kemarahan dan kepahitan.

Bertitik tolak dari dua pengalaman kontras di atas, saya menyimpulkan bahwa pernikahan memang bukan untuk semua orang. Ada orang-orang tertentu, baik pria dan wanita, yang tak cocok dengan pernikahan. Jika mereka memaksa untuk menikah, tanpa perubahan persepsi dan diri, tak pelak masalah akan menghajar jalannya pernikahan mereka.


Inilah 5 Tipe Pria atau Wanita yang Sebaiknya Tak Menikah


Pertama, pria dan wanita yang melihat pernikahan sebagai jalan keluar atau bahkan pelarian dari situasi dalam keluarga.

[image : foochia]

Orang-orang seperti ini tahu jelas apa yang tidak mereka sukai : situasi keluarga yang tak menyenangkan. Namun, mereka tak tahu ke mana mereka harus berlari. Pernikahan memang memberikan kebebasan dari keluarga asal, tapi bebas dari keluarga asal tak berarti memulai dari nol. Kita membawa luka-luka lama ke dalam relasi yang baru. Hasilnya? Sama saja. Keluar dari mulut buaya, namun perlahan dan pasti memasuki goa singa. Luka dari keluarga lama memasuki keluarga yang baru terbentuk.


Kedua, pria dan wanita yang melihat pernikahan sebagai ikatan ajaib yang akan mengubahkan segala sesuatu.

Optimisme adalah hal yang wajar mewarnai sebuah awal perjalanan pernikahan. Namun, optimisme jangan sampai menjadi sebuah keyakinan bahwa seseorang secara otomatis akan berubah menjadi lebih baik di dalam ikatan pernikahan. Pria yang tak bertanggung jawab, setelah menikah tiba-tiba menjadi sangat bertanggung jawab. Wanita yang boros tiba-tiba berubah menjadi cermat dan teliti dalam hal keuangan. Ini bukan lagi optimisme. Ini adalah ilusi pernikahan. Tidak ada perubahan dalam pernikahan tanpa kerja keras, konflik dan bahkan airmata.

Baca Juga :Jangan Sampai Salah Pilih Jodoh, Jangan Juga Terlalu Pilah-Pilih. Pertimbangkan 3 Hal ini Saja!


Ketiga, pria dan wanita yang melihat pernikahan sebagai obat dari rasa sakit akibat sendiri dan kesepian.

[image : valty]

Di tengah kemajuan jaman seperti ini seharusnya makin mudah bagi seseorang untuk menemukan pasangan hidup yang cocok. Pergaulan menjadi sangat luas, baik di dunia nyata ataupun maya. Namun, realitanya toh tak mudah menemukan pasangan hidup. Beberapa orang menjalani hidup dalam kesendirian. Sunyi, sepi dan tak menggembirakan sama sekali. Tak heran, begitu ada yang menarik hati atau menunjukkan keseriusan dalam relasi, pernikahan pun tiba-tiba terjadi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Repotnya, pernikahan yang sepertinya memberikan jaminan bahwa ada yang selalu bersama dengan kita itu ternyata menuntut kemampuan hidup sendiri dan mandiri. Tak ada relasi yang bertahan tanpa jarak.

Dalam hidup pernikahan, relasi yang nampak terlalu akrab, ke mana-mana bersama, seolah-olah tak terpisahkan justru bisa jadi menunjukkan ketidakamanan daripada kemesraan. Yang seperti ini hanya menunggu waktu untuk bubar jalan. Ya, pernikahan adalah ikatan relasi yang membutuhkan jarak dan keberanian untuk hidup mandiri.

Pernikahan bukanlah pelarian dua orang yang takut kesepian, tetapi komitmen untuk hidup bersama dari dua orang yang bisa hidup mandiri.


Keempat, pria dan wanita yang melihat pasangannya sebagai sumber materi dan status.

Cinta. Itu yang biasa disebut sebagai alasan mengapa dua orang menikah. Namun, seringkali cinta itu adalah bungkus yang indah untuk mengemas isi yang sayangnya kurang indah. Atas nama cinta, padahal sebenarnya ingin meraih hidup sejahtera dengan lebih mudah, seorang wanita menikahi pria yang usianya jauh di atasnya, atau sebaliknya. Atas nama cinta, seorang pria menikahi seorang perempuan yang sebenarnya tak menarik hatinya. Namun, status dan kedudukan perempuanlah yang menjadi daya tarik tak terbantahkan.

Relasi pernikahan seharusnya berlangsung timbal balik. Take and give. Jika hal ini tak seimbang, maka hanya masalah waktu saja salah seorang akan merasa dirinya menjadi “perahan” pihak lain. JIka ini sudah terjadi, masihkah atas nama cinta itu bertahan?

Baca Juga : Tanya-Jawab 9 Detik: Darimana Saya Tahu Dia adalah Orang yang Cocok Menjadi Pacar?


Kelimat, pria dan wanita yang melihat pernikahan hanya sebagai ikatan yang memberikan pengesahan bagi kenikmatan seksual.

[image : hiamag]

Tak jarang saya mendengar dorongan pihak keluarga agar sepasang kekasih segera saja melangsungkan pernikahan walaupun baru kenal beberapa bulan. Ada ketakutan bahwa sepasang kekasih ini akan melewati batas-batas norma tertentu. Tentu, ini bukan kekuatiran yang tak beralasan. Bukankah di zaman setelah ini menjaga kesucian hidup bukan hal yang mudah? Tak terhitung berapa banyak pasangan pemuda dan bahkan remaja yang saling menikmati, bahkan di tempat umum. Kehamilan yang tak dikehendak, dan aborsi sudah menjadi kisah sehari-hari.

Namun, pernikahan tak pernah dimaksudkan hanya sebagai pengesahan bagi relasi seksual. Hubungan seks adalah salah satu bagian dari pernikahan dan bukan satu-satunya.

Ada tanggung jawab yang mesti diemban dalam hidup bersama. Ada penyesuaian diri yang tak mudah. Ada tugas mencari nafkah dan membesarkan anak. Ya, bukan sekadar hubungan seks tanpa henti. Tanggung jawablah yang akan terus berlangsung tanpa henti, bahkan di saat seks terasa mulai menjemukan.

Jadi, kamu yakin cocok untuk menikah?


Buat kamu yang sedang mencari pasangan hidup atau mempersiapkan pernikahan, tulisan-tulisan ini akan memberikan inspirasi :

Tanya-Jawab 9 Detik : Bagaimana Cara Menolak Ajakan Pacar untuk Making Love?

Boleh Nggak Sih Wanita Nembak Duluan?

Tanya-Jawab 9 Detik : Apa Dampak Seks Pranikah, Selain Rasa Bersalah?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Tipe Pria atau Wanita yang Sebaiknya Tak Menikah". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar