5 Kebohongan yang Diyakini Korban yang Membuat Kekerasan dalam Pacaran Terus Berulang

Singleness & Dating

[Image: deviantart.com]

6.7K
Di dalam rasa cinta seharusnya tak ada ruang bagi ketakutan. Ketakutan adalah tanda bahwa cinta itu tak sepenuh-penuhnya ada dalam relasi pacaran.

Kekerasan dalam Pacaran? Mungkin kita jarang mendengar berita mengenai hal ini di media massa, berbeda dengan kisah-kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang bahkan seringkali mengisi acara infotainment di televisi. Jarangnya terdengar kabar tentang Kekerasan dalam Pacaran bukan berarti hal ini tak terjadi. Pada tahun 2014, Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menerima sekitar 800 laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan dalam wilayah pribadi, 59 persen diantaranya terjadi dalam perkawinan, 21 persen dalam hubungan pacaran, dan 20 persen terhadap anak-anak. Angka ini tentu saja hanya memperlihatkan sebagian kecil kasus yang muncul di permukaan, sedangkan yang tak terlaporkan, jauh lebih banyak.

Kekerasan dalam pacaran (Dating Violence) adalah kekerasan yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam hubungan pacaran untuk memperoleh kontrol dan kekuasan atas pacarnya. Bentuk kekerasan dalam pacaran bisa berupa kekerasan mental berupa teror lewat bahasa tubuh atau perkataan, kekerasan fisik berupa pukulan dan tendangan, kekerasan materi berupa upaya salah satu pasangan untuk mendapatkan keuntungan material sebanyak-banyaknya, dan kekerasan seksual, yakni pemaksaan untuk melakukan aneka ragam kegiatan atau kontak seksual sedangkan pacar tidak menghendakinya.

Mayoritas, tentu saja tidak semua, korban kekerasan dalam pacaran adalah perempuan. Dalam pelbagai percakapan dengan para korban kekerasan dalam pacaran, saya mendapati pola jawaban yang relatif sama tentang mengapa kekerasan dalam pacaran itu terjadi dan terus terulang. Mengapa korban sepertinya tak mampu atau tak mau meninggalkan pacar yang telah menganiaya mereka?


1. "Saya yang melakukan kesalahan. Pacar melakukan kekerasan karena ingin menyadarkan saya, karena Ia begitu mencintai dan ingin melihat saya segera berubah."

Membuat kesalahan dalam relasi pacaran adalah hal yang biasa. Namun, memberikan reaksi berupa kekerasan pada pacar karena kesalahannya bukanlah tanda cinta. Kekerasan itu lebih menunjukkan keinginan untuk menguasai dan menegaskan otoritas. Bukankah sebenarnya teguran lisan atau percakapan dari hati ke hati cukup untuk menyelesaikan masalah yang ada? Perubahan semacam apa yang lahir dari kekerasan? Perubahan yang berasal dari rasa takut.

Padahal, di dalam rasa cinta seharusnya tak ada ruang bagi ketakutan. Ketakutan adalah tanda bahwa cinta itu tak sepenuh-penuhnya ada dalam relasi pacaran.
[Image: deviantart.net]


2. "Pacar saya melakukan kekerasan karena cemburu. Cemburu adalah tanda bahwa Ia sungguh-sungguh mencintai saya."

Benar, salah satu --namun bukan satu-satunya-- tanda cinta adalah cemburu. Ketika cemburu mewujud dalam kekerasan, maka kita tahu bahwa itu adalah tanda kegagalan menguasai diri. Ada pelbagai bentuk yang lebih sehat untuk mengekspresikan cemburu, misalnya lewat perkataan atau teguran. Lewat ekspresi cemburu yang sehat, pacar pun akan menerima pesan ini dengan nyaman tanpa harus mengalami luka.

Seringkali ketika seorang pacar melakukan kekerasan karena cemburu, maka tak bisa dipastikan bahwa kecemburuan itu adalah alasan tunggal untuk pelbagai macam bentuk kekerasan yang terjadi. Bisa jadi dalam kekerasan itu terselip kemarahan, kekesalan, dan bahkan stres pribadi pelakunya. Jadi, bagaimana korban kekerasan bisa memastikan bahwa kekerasan itu terjadi karena motif tunggal: kecemburuan?


3. "Saya diam saja jadi begini. Apalagi kalau saya melawan pacar saya?"

Perkataan ini adalah salah satu ekspresi ketidakberdayaan. Seolah-olah apabila menyatakan ketidaksetujuan, apalagi melawan, maka pasti akan berdampak lebih buruk. Padahal tentu saja mereka yang masih pacaran tidak tinggal bersama, alias ada jarak fisik di dalam relasi mereka. Di dalam jarak yang ada itulah, korban bisa meminta pertolongan pada pihak lain untuk mencegah terjadinya kekerasan yang lebih buruk. Setidaknya, jarak yang ada itu bisa diupayakan lebih lebar lagi dengan menghentikan komunikasi sementara guna mendapatkan pertolongan dari pihak lain.

Pacaran bukanlah pernikahan yang dirancang untuk tak bisa bubar di tengah perjalanan ketika rasa aman dan nyaman menjadi taruhannya.
[Image: deviantart.com]


4. "Saya dan pacar sudah make love. Kalau saya tidak bisa menerima perlakuan pacar, lalu siapa yang akan menerima saya apa adanya?"

Nah, inilah salah satu problem terberat yang ada pada masalah kekerasan dalam pacaran. Bila hubungan seksual telah mewarnai pacaran, maka hubungan seksual yang telah terjadi itu seringkali menjadi semacam 'penjara' bagi korban kekerasan. Korban merasa harus menerima kekerasan demi kekerasan demi mendapatkan penerimaan. Korban sudah membayangkan bahwa jika Ia menolak menjadi korban kekerasan, maka pacar akan meninggalkannya dalam kondisi yang tak utuh lagi.

Masa pacaran seharusnya steril dari pelbagai aktivitas seksual yang kemudian hari malah berpotensi untuk merugikan salah satu pihak. Dalam masa ini seharusnya terjadi upaya melihat kecocokan yang menjadi bekal dalam pernikahan. Pacaran yang sudah dipenuhi dengan pelbagai aktivitas seksual akan membuat upaya melihat kecocokan ini tak akan berlangsung dengan optimal.

Apa yang harus kita lakukan apabila telah terjadi aktivitas seksual dan kekerasan dalam pacaran? Tak ada jalan lain selain meminta pertolongan pihak ketiga agar kekerasan ini berhenti. Tak perlu merasa malu mengingat semua yang telah terjadi, karena keterbukaan adalah awal dari pemulihan.


5. "Sebentar lagi saya dan pacar saya akan menikah. Pernikahan, apalagi mempunyai anak, pasti akan mengubahnya."

Saya tidak mengerti mengapa mereka yang masih pacaran selalu melihat pernikahan sebagai peristiwa yang mempunyai kekuatan ajaib untuk mengubah karakter. Dalam realitanya kita mengerti bahwa pernikahan tak mempunyai kekuatan ajaib untuk memastikan bahwa karakter seseorang akan berubah menjadi lebih baik. Malah, pernikahan justru akan memunculkan karakter terburuk seseorang. Demikian pula mempunyai anak tak dengan sendirinya mengubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Bisa jadi malah anak-anak akan turut menjadi korban kekerasan, sama seperti yang dialami ibu atau ayahnya.


[Image: lolwutpolitics.com]

Stop kekerasan dalam pacaran! Kamu layak mendapatkan relasi yang sehat dan lebih baik!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Kebohongan yang Diyakini Korban yang Membuat Kekerasan dalam Pacaran Terus Berulang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar