4.5 Tahun Menantikan Kehamilan, Terenggut Begitu Saja karena Kecerobohan Seseorang

Reflections & Inspirations

[Photo credit: Tina Sosna]

16K
Pengampunan adalah gagasan yang menarik, sampai tiba saat kita harus mempraktikkannya.


When you forgive, you in no way change the past, but you sure do change the future.” - Bernard Meltzer


Saya tengah menunggu anak-anak pulang sekolah ketika kutipan di atas muncul di timeline Facebook. Apa yang menarik perhatian adalah gambar-gambar yang disertakan di postingan itu.

Ada gambar selembar resep, kemasan obat tertentu, dua perempuan yang berpegangan tangan, bunga yang bertaburan di tanah, serta tulisan "RIP my child Jason Clayton Wijaya".


[Photo credit: Facebook Ria Oktavia]


Ini pasti bukan kejadian biasa.

Saya tahu, ini pasti bukan kejadian biasa. Dua nama muncul di status tersebut, Ria Oktavia dan Vino Wijaya. Rasa ingin tahu membawa saya menelusuri lini masa kedua akun tersebut. Saya pun memohon izin pada Vino Wijaya untuk menuliskan perjalanan mereka yang luar biasa ini.


16/8/17 saya mengalami pendarahan hebat dan mengakibatkan anak mukjizat yg kami nantikan 4.5th usia pernikahan kami mengalami keguguran. Berusaha menerima dgn ikhlas semuanya, namun ketika teman farmasi saya menjenguk dan melihat obat yg saya minum tidak sesuai dgn resep yg ada harusnya obat anti mual yg saya minum sepengetahuan saya sesuai petunjuk dokternya tpi ternyata bukan obat anti mual melainkan Pil gugur/Pil Aborsi. Setelah olah TKP diketahui kesalahan terletak pada mbak apotek/asisten apoteker yg salah mengambil obat dan memberikan pada saya, beliau menangis sujud mohon ampun ke saya.” Demikian unggahan Ria Oktavia di dinding Facebook-nya, Senin 21 Agustus lalu.


4.5 tahun menantikan kehamilan dan kemudian terenggut begitu saja karena kecerobohan orang lain.

Bisakah Anda membayangkan bagaimana jika hal seperti ini terjadi pada diri Anda dan pasangan?

Walaupun ada pengakuan bersalah dan permintaan maaf dari asisten apoker yang telah melakukan kesalahan fatal ini, kira-kira bagaimana respons Anda?


Ketika saya menelusuri lini masa akun Facebook pasangan suami-istri ini, saya menemukan kisah bagaimana mereka berdua bergumul serius untuk mendapatkan keturunan. Perhatikan apa yang tertulis di laman Facebook Ria Oktavia pada 7 Agustus 2017 ini:

Saya mau menyatakan kebaikan Tuhan dalam hidup kami (saya dan suami Vino Wijaya) usia pernikahan kami kurang lebih 4.5th dan kami belum diberi momongan.. memang kata dokter kami b2 normal cuma siklus haid saya tidak teratur dan sel telur saya kecil2/PCO sedangkan suami saya spermanya juga kurang sehat namun kata dokter itu semua bisa diatasi dengan vitamin jadi tidak perlu kawatir.. tp tetap segala usaha kami tak membuahkan hasil saat itu.. gak terhitung berapa kali saya menangis ketika melihat hasil test negatif atau ketika saya menggendong atau menjenguk bayi teman saya yg baru lahir.. gak terhitung juga berapa kali untaian doa dan wish list kami kepada Tuhan setiap natal atau tahun baru bahkan di setiap doa kami yg nomor satu adalah Baby/Keturunan..”


Bacalah sukacita pasangan suami-istri ini ketika bayi dalam kandungan sang ibu bertumbuh dengan sehat. Pada 13 Agustus 2017 Ria Oktavia menuliskan rangkaian kalimat syukur dan sukacita ini:



Namun kemudian, semua sukacita seketika berganti dengan pergumulan. Di rumah sakit yang sama, Vino Wijaya menuliskan kalimat ini,

Tak mudah bukan Tuhan kupercaya, rancanganMu indah. Walau saat ini tak kumengerti?. Kau yg tlah berfirman, demi masa depan, damai sejahterah penuh harapan. ku tau rancanganMu indah bagiku. ku tau jalan-jalanMu yg terbaik bagiku. Amin Tuhan kami melalui proses ini.”

Beberapa potret yang menyertai menunjukkan pendarahan yang dialami oleh istrinya. Potret-potret menggetarkan hati yang Anda bisa lihat sendiri di akun suami-istri ini.

Kecerobohan seseorang merenggut sukacita mereka begitu saja. Jika Anda di posisi pasangan suami-istri ini, apa yang akan Anda lakukan?



Maaf tak akan bisa mengganti apa yang telah hilang.

Saya tahu seorang rekan lain pernah mengungkapkan kemarahannya atas kecerobohan orang lain dengan menuliskan, ”Jika permintaan maaf itu cukup, buat apa ada polisi!” Sebuah respons yang amat manusiawi. Betapa marah rekan itu pada seorang karyawan yang telah menyebabkan kerugian puluhan juta karena kecerobohan dalam bekerja.

Maaf tak akan bisa mengganti apa yang hilang. Kerugian materi mungkin dapat diganti, namun luka dan sakit hati selalu menuntut pembalasan, bukan?

Dalam kerangka berpikir seperti rekan itu, betapa terhenyaknya saya membaca tulisan selanjutnya dari Ria Oktavia,

” … Pikiran saya saat itu cuma satu mau diganti uang sebanyak apapun dan mau dipenjarakanpun toh anak saya tdk akan bisa kembali juga. Namun kemudian saya ingat bahwa segala sesuatu d dunia ini pasti atas seijin Tuhan. Sehelai rambut kita jatuhpun Tuhan tahu, masakan Ia tdk bisa mengingatkan mbak apotek tsb untuk tdk salah mbri obat pada saya. Jadi saya dan suami sepakat berdamai dgn kenyataan dan tdk menyalahkan diri sndiri lgi, menutup kasus ini, kami kuatkan diri ambil langkah iman mendatangi mbak asisten apoteker, dokter dan apotekernya..kami memaafkan dan mendoakan mereka kami lepaskan semuanya, mengatakan bahwa "Tuhan mengasihimu dan aku mengasihimu juga", kami tutup lembaran yg kmrin dan fokus ke depan mengarah pada Tuhan.”

Tak mampu saya membaca rangkaian kalimat di atas tanpa meneteskan air mata.

Pengampunan adalah ide yang menarik, sampai ketika pengampunan itu harus dipraktikkan. Pengampunan memang bukan untuk orang yang lemah. Pembalasan dendam itu manusiawi, namun pengampunan itu illahi!

Baca Juga: Rasa Sakit Tak Perlu Dipelihara Seumur Hidup. Begini Cara Anggun Membalas Luka dan Sakit Hati



Mudahkah melepaskan pengampunan?

Tentu tidak.

Karena itu, saya sangat menyukai rangkaian kejujuran yang ada pada kalimat-kalimat yang ditulis Ria Oktavia ini,

” … Ketika saya menulis ini saya bukanlah orang yang hebat, saya juga manusia daging ini lemah 2 hari saya jg spti org gila yg cuma bisa menangis dan teriak ttpi sya tahu kami tidak salah memilih nama anak kami Jason Clayton yg artinya "Penyembuh", ya .. Tuhan dan dia telah menjadi penyembuh untuk luka hati kami, penyembuh untuk hubungan rumah tangga dan keluarga besar kami dipulihkan, penyembuh bagi kami agar bisa lebih dekat lagi sama Tuhan dan hidup bukan buat kami sendiri lagi."


Pengampunan sesungguhnya bukan saja pemberian bagi orang yang telah melukai. Pengampunan adalah hadiah terbesar bagi diri sendiri.

Tak heran apabila tulusnya pengampunan akan membawa sukacita seperti yang dituliskan Vino Wijaya ini,

Tuhan bekerja luar biasa dalam hidup keluargaku. Istriku mau melepaskan pengampunan terhadap asst.apoteker yg salah kasih obat sehingga istri saya mengalami keguguran. Tuhan sangat amat baik. KasihNya luar biasa. Kiranya peristiwa yg kami alami biar menjadi berkat & belajar apa arti kata mengampuni. Terima kasih. GBU.”

Baca Juga: Melepas Kepahitan, Menyembuhkan Hati


[Photo credit: Facebook Vino Wijaya]


Mengapa mengampuni?

Dalam dunia yang tak sempurna ini kita dapat melukai orang lain. Orang lain dapat melukai diri kita. Luka selalu menjauhkan kita dari orang-orang yang telah menimbulkannya. Luka selalu menghadirkan kemarahan dan kebencian. Hanya pengampunanlah yang menutup dan menyembuhkan luka itu. Hanya pengampunan yang memulihkan relasi.

Benar, pengampunan tak akan pernah sanggup mengubah masa lalu. Namun, pengampunan pasti mengubah masa depan. Ia meringankan langkah kita ke depan.


Terima kasih, Ria Oktavia dan Vino Wijaya.

Kasih dan pengampunan tulus kalian berdua adalah cerminan kasih yang berasal dari surga. Ya, pengampunan yang hanya mungkin diberikan oleh mereka yang pernah merasakan pengampunan-Nya.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "4.5 Tahun Menantikan Kehamilan, Terenggut Begitu Saja karena Kecerobohan Seseorang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @pramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar