4 Tantangan Menjelang Pernikahan bagi Setiap Pasangan. Inilah Cara Kami Melewatinya

Singleness & Dating

[Image: siwallpaperhd]

24.4K
Saya sedang menjalani proses persiapan pernikahan dan tak menyangka bahwa segala yang terjadi mengajarkan saya untuk lebih mencintai dan menerima calon pasangan hidup saya.

Hari pernikahan merupakan satu hari yang sangat ditunggu-tunggu dan tak mungkin terlupakan bagi para pasangan yang sudah berkomitmen mengikat janji suci seumur hidup. Memohon berkat kepada Sang Pencipta, bersujud di hadapan orangtua untuk mengungkapkan terimakasih yang terkira adalah sebagian kecil dari esensi sebuah hari pernikahan. Di hari itu, mereka mendeklarasikan diri kepada orang-orang di sekitarnya bahwa mereka siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga dan membentuk keluarga yang baru.

Mereka yang telah menikah selalu menyampaikan pesan berharga kepada pasangan baru bahwa pernikahan tak hanya berbicara tentang hari pelaksanaannya, namun hari-hari setelahnya. Suami-istri yang baru ini akan selalu menemukan keajaiban-keajaiban yang kadang membuat tertawa, namun tak sedikit yang berujung pada pertengkaran. Sang suami akan belajar, belajar, dan terus belajar mencintai istrinya yang tak sempurna, orang yang paling berpotensi menyakiti dirinya. Demikian pula halnya dengan sang istri.

Proses penyesuaian ini sebenarnya bukan dirasakan ketika mereka memasuki hari pertama hidup bersama, namun sudah dimulai ketika mereka mempersiapkan pernikahan. Jadi, apa saja pengalaman yang mungkin akan dialami oleh kebanyakan orang?


1. Kami Mulai Menunjukkan Diri Kami yang Sebenarnya. Menerima atau Meninggalkan?

Perbedaan bukanlah sesuatu yang menenangkan dan diharapkan kedatangannya. Perbedaan visi, perbedaan kadar cinta, perbedaan pola pikir adalah sesuatu yang dihindari dalam sebuah relasi percintaan. Kita cenderung mengajak pasangan untuk memiliki semakin banyak persamaan dan meminimalkan perbedaan. Saya menginginkan calon pasangan hidup saya menyukai makanan pedas, namun di saat bersamaan ia meminta saya untuk tidak terlalu sering dan banyak makan pedas, sama seperti kebiasaannya. Saya rasa, perbedaan itu akan menjadi masalah jika kami saling memaksakan kehendak. Jadi, kami memilih untuk berdamai dan mencoba saling memahami kebiasaan.

Baca Juga : Yakin Sudah Cocok dengan Pacar? 7 Perbedaan "Kecil" Ini Bisa Menjadi Sumber Konflik dalam Pernikahan


[Image: huffpost.com]

Ini baru hal sederhana. Bagaimana dengan hal-hal yang lebih kompleks, semisal tentang merawat anak, memilih tempat tinggal, pengaturan keuangan? Proses yang kami lewati jauh lebih kompleks karena mulai menyentuh prinsip-prinsip di antara kami berdua. Kami dibesarkan dalam keluarga yang berbeda dengan cara dan prinsip yang berbeda pula. Oleh karena itu, kami menggunakan masa pacaran sebagai masa penyesuaian dalam menerima perbedaan. Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People, penulis Stephen R. Covey berkata, "Kekuatan kita terletak pada perbedaan kita. Sayangnya kita sering menjauhi orang yang berbeda dengan kita." PR kami di masa depan adalah menjadikan perbedaan sebagai kekuatan kami menjalani kehidupan sebagai suami-istri - yang kelak jika Sang Empunya kehidupan mengijinkan - dan sebagai ayah-ibu.


2. Kami Mulai Belajar untuk Mengatur Keuangan dengan Lebih Bijak. Menabung atau Menghabiskan?

Setelah memasuki dunia kerja, cara pandang kami terhadap uang menjadi berubah. Kami bukan lahir dari keluarga yang sangat tercukupi dan dengan mudahnya meminta ini dan itu. Sedari muda kami sudah diajari keluarga untuk menabung meskipun nilainya tak seberapa. Yang ditekankan oleh mereka bukan seberapa banyak kami berhasil menabung, melainkan seberapa tekun kami melakukannya. Rupanya kebiasaan ini kami bawa ketika mempersiapkan pernikahan. Hari demi hari kami belajar untuk bijak dalam mengeluarkan uang karena berapa pun nilainya, itu sangat berguna bagi pernikahan dan juga kehidupan di masa depan.

Baca Juga : Raih Financial Freedom bukan dengan Menggandakan Uang, Melainkan dengan Melakukan 5 Hal Ini


[Image: wordsfromcara.com]

Sebagai contoh, beruntungnya kami bukanlah tipe orang yang senang duduk berlama-lama di sofa coffee shop dan menikmati secangkir kopi dengan harga yang cukup fantastis. Tidak, saya tidak sedang mengatakan bahwa kegiatan itu adalah pemborosan. Namun dalam konteks kehidupan kami, dengan tidak terbiasanya melakukan hal itu ternyata sangat menolong kami untuk mengatur pengeluaran dengan lebih baik dan teliti.


3. Misteri Kehidupan Menuntut Kami untuk Semakin Dewasa dalam Berpikir dan Bertindak. Pilihannya Hanya Dua: Hadapi atau Mundur!

Kehidupan memang dipenuhi misteri yang tak jarang memaksa seseorang untuk berhenti sejenak dan memikirkan ulang arti sebuah kehidupan. Memiliki anak dengan kondisi tak sempurna, hilangnya pekerjaan, pindah kota, konflik internal keluarga besar, dan segudang masalah lainnya. Demikian pula hal itu mulai kami pikirkan dengan sungguh. Ini bukan berarti kami memilih untuk pesimis menjalani hidup. Pemikiran ini menolong kami untuk tidak hanya siap menerima yang baik saja, tapi juga yang buruk, meskipun kami berharap itu tak pernah terjadi. Di sinilah dibutuhkan yang namanya kesatuan hati dan saling menguatkan.

Baca Juga : Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan


[Image: stylishwife.com]

Cinta tak hanya berbicara tentang romantisme semu. Cinta justru banyak berbicara tentang saling menopang dan menguatkan. Saya sadar bahwa kami berdua akan bertemu dengan masalah di satu hari nanti. Seberapa besarnya tak seorang pun tahu. Salah satu dari kami mungkin akan merasa putus asa dan ingin mengakhiri semuanya, bahkan kami pun tak bisa menjamin 100% bahwa kami sanggup melewatinya dengan baik atau tidak. Satu-satunya kekuatan yang kami miliki adalah cinta yang saling menopang dan menguatkan di masa-masa sulit. Hanya dengan cara itu, kami mampu untuk menghadapi segalanya. Mundur bukanlah pilihan yang tepat.


4. Persiapan Pernikahan Mengajak Kami untuk Membangun Hubungan yang Lebih Dalam dengan Calon Mertua. Cekcok atau Berjuang untuk Cocok?

Tak ada yang lebih 'seru' dibandingkan dengan perseturuan antara menantu dan mertua. Yah, sepertinya masalah ini adalah masalah klasik yang pasti dihadapi oleh sepasang suami-istri. Tak peduli apakah kita serumah dengan mereka atau tidak, ketidakcocokan akan selalu mewarnai perjalanan sebuah keluarga. Hal ini pula yang pernah dan sedang terus kami pikirkan di masa-masa persiapan ini. Saya pernah berbeda pendapat dengan calon mertua, demikian pula calon pasangan hidup saya pernah berbeda pandangan dengan orangtua saya. Sama seperti poin pertama di atas bahwa perbedaan selalu membuat tidak nyaman. Jika keadaan ini tak pernah dibereskan, maka potensi untuk bertengkar akan semakin besar.

Baca Juga : Tinggal Serumah dengan Mom [Ster] in Law? Inilah 8 Rahasia Saya untuk Bertahan dan Lulus sebagai Menantu Perempuan Kesayangan Mama


[Image: rd.com]
Berdasarkan nasihat dari beberapa senior, mereka memberi pesan-pesan bagaimana membangun hubungan dengan mertua, salah satunya adalah tidak menyampaikan ketidaksetujuan kita secara langsung. Jika saya tidak setuju dengan pendapat mertua, maka akan lebih baik jika saya menyampaikan keluh kesah ini kepada pasangan dan biarkan ia yang akan menyampaikannya kepada ayah atau ibunya. Selain itu, kami memakai masa-masa persiapan ini untuk mulai datang ke rumah pasangan dan dengan sengaja bertemu dengan orangtua. Membangun hubungan, pergi bersama, belajar memasak dengan calon mertua, adalah hal-hal yang sedang kami rencanakan untuk mengenal mereka lebih dalam.

Kami terus diingatkan bahwa bagaimana pun juga, mereka adalah orangtua kami. Ketika mereka memasuki masa senja dan kekuatan semakin menipis, kamilah yang akan merawat dan menolongnya. Bahkan jika saat waktunya tiba mereka berpulang, kami pula yang akan mengantarkannya ke peristirahatan yang terakhir. Tujuan akhir dari semuanya ini adalah agar kami dapat mengajarkan kepada anak-anak kami kelak bagaimana mengasihi orangtua sampai akhir hayatnya.



Sebagai bekal mempersiapkan pernikahan, bacalah dan diskusikan bersama pasangan tiga yang mencerahkan ini :

4 Fase dalam Pacaran yang Harus Kamu Lewati untuk Hubungan yang Mantap Menuju Pernikahan

Kehidupan setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? JIka Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan

Pria Berubah Setelah Menikah? Ketahui 5 Hal yang Menjadi Penyebabnya dan 10 Cara Mengembalikan Romantisme Masa Pacaran dalam Pernikahan





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "4 Tantangan Menjelang Pernikahan bagi Setiap Pasangan. Inilah Cara Kami Melewatinya". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bobby Widya Ardianto | @bobbywa

Pemuda biasa yang mulai suka menulis sejak kuliah. Ia sedang menikmati hidupnya sebagai seorang programmer. Saat ini berdomisili di Solo, Jawa Tengah.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar