4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

Love & Friendship

[Image: hdwallpapernew.in]

11.9K
Cinta, seperti tanaman, tak bisa hidup dengan sendirinya. Dibutuhkan upaya untuk merawat kehadiran dan bahkan pertumbuhannya.

Salah satu yang menjadi bagian dari tugas saya adalah melakukan konseling terhadap pasangan yang akan menikah. Pertanyaan yang hampir selalu saya tanyakan adalah, ”Mengapa kalian berdua menikah?” Pertanyaan sederhana ini seringkali dijawab dengan senyuman, ”Ya, cintalah, Pak!” Tentu saja saya setuju bahwa cinta adalah salah satu alasan terbaik untuk menikah. Namun, pertanyaan kedualah yang seringkali tak dapat terjawab dengan baik oleh setiap pasangan yang akan menikah.

Pertanyaan kedua itu adalah, ”Apa yang kalian rencanakan untuk mempertahankan cinta itu setelah kalian menikah?” Biasanya ada sejenak kesunyian yang kemudian diikuti dengan gelengan kepala. “Tak pernah terpikirkan, Pak!” Saya tahu di balik jawaban itu ada asumsi bahwa cinta yang mengantar pada pernikahan adalah cinta yang dengan sendirinya akan terus ada di sepanjang jalan pernikahan. Namun, apa begitu realitanya? Bukankah kita banyak mendengar orang menceraikan pasangan dengan alasan tidak ada rasa lagi, tidak ada cinta lagi?

Ya, cinta itu seperti tanaman yang tak bisa hidup dengan sendirinya. Cinta itu membutuhkan upaya untuk merawat kehadiran dan bahkan pertumbuhannya.

Bagaimana merawat kehadiran dan pertumbuhan cinta di dalam relasi? Saya sangat tertolong dengan penjelasan yang diberikan oleh Willard F. Harley dalam buku Marriage Insurance. Walaupun Willard F. Harley menulis dalam konteks pernikahan, namun prinsip-prisipnya dapat pula mendatangkan manfaat bagi mereka yang sedang berada dalam tahap pacaran. Ia membagikan empat prinsip yang akan menolong pasangan merawat kehadiran dan pertumbuhan cinta dalam relasi mereka.


1. Prinsip Pertama adalah Kejujuran

Kejujuran berarti mengungkapkan pada pasangan sebanyak mungkin informasi tentang dirimu: pemikiran, perasaan, kebiasaan, apa yang kamu sukai, apa yang kamu tidak sukai, masa lalu pribadi, aktivitas sehari-hari, dan rencana masa depan.

Kejujuran nampaknya prinsip yang sederhana. Namun, pada realitanya berapa kali dalam sebuah relasi, salah satu atau keduanya berbohong. Berbohong untuk menutupi suatu kesalahan atau berbohong karena tidak mau “ribut”. Berbohong dalam jangka pendek nampaknya menyelesaikan masalah. Dalam jangka panjang berbohong menimbulkan masalah serius karena merusak kepercayaan. Bukankah kepercayaan adalah hal yang amat penting dalam cinta? Kita mencintai orang yang dapat kita percayai. Ketidakjujuran merusak kepercayaan itu. Kita tak dapat mencintai orang yang tak kita percayai.

Apakah semua hal harus kita ceritakan pada pasangan? Ya, tentu saja. Namun, tidak semua hal harus dibuka pada awal masa pacaran. Tak perlu di awal masa pacaran memamerkan barisan para mantan lengkap dengan account facebook mereka, misalnya. Kejujuran membutuhkan atmosfir rasa aman. Seiring dengan perjalanan waktu dalam relasi, semakin banyak yang kita ungkap pada pasangan. Semakin banyak yang kita ungkap pada pasangan, semakin ia mengenal kita.

Semakin dalam pengenalan, semakin besar rasa cinta. Kita hanya bisa dicintai sejauh mana kita membuka diri.
[Image: flickr.com]

2. Prinsip Kedua adalah Proteksi

Proteksi atau perlindungan adalah upaya untuk menghindari menjadi penyebab dari sakit hati atau ketidaknyamanan pasanganmu (kecuali tak terhindarkan karena mengikuti prinsip kejujuran).

Dalam perjalan relasi, kita makin tahu apa yang menjadi kesukaan pasangan, sekaligus apa yang mudah menyebabkannya terluka. Pengetahuan ini tentu saja berguna untuk melakukan prinsip kedua yakni perlindungan atau proteksi. Jika kita mengerti bahwa pasangan sangat tidak menyukai ketidaktepatan waktu, maka sebagai wujud cinta yang sangat konkret, upayakan hadir tepat atau sebelum waktunya. Jika pasangan kita menyukai penampilan rapi, maka upayakanlah berpenampilan rapi di hadapannya. Hal-hal ini nampak sederhana, namun sangat bermakna bagi pasangan. Jangan pernah meremehkan pasangan dengan mengatakan, ”Ah, hal kecil begitu saja kok jadi ribut.” Ya, kecil bagi kamu, tetapi mungkin sangat berarti bagi pasanganmu.

Catatan terpenting dalam prinsip kedua adalah jangan gunakan prinsip proteksi ini sebagai alasan untuk berbohong. Prinsip kejujuran adalah hal yang paling utama.

Jika memang ada yang tak menyenangkan pada pasangan, maka berupayalah untuk mencari jalan terbaik dengan mempercakapkannya dalam suasana penuh kejujuran. Lebih baik terluka sementara, kemudian berjuang ke arah yang lebih baik, daripada tenggelam selamanya dalam kebohongan.

[Image: hdwallpapers.cat]

3. Prinsip Ketiga adalah Perhatian

Perhatian berarti kesediaan belajar memenuhi kebutuhan terpenting pasangan kita.

“Pacar saya sekarang berubah. Ia tak lagi memperhatikan saya,” demikian keluh seorang gadis di ruang konseling saya. Saya menengok ke arah pacarnya, menunggu reaksinya. Pemuda itu kemudian berkata, ”Lho, kurang perhatian apa saya. Tiap kali saya ke luar kota, saya selalu membawakan hadiah-hadiah. Itu khan bentuk perhatian.” Kemudian, saya menanti jawaban si gadis. Ia menunduk, meneteskan air mata dan berbicara lirih, ”Saya tidak membutuhkan hadiah-hadiahmu. Saya lebih suka kalau kamu menelpon atau meluangkan waktu untuk chatting setiap malam.”

Nah, inilah letak masalah yang seringkali terjadi dalam pasangan terkait masalah perhatian. Secara sederhana saya menyebut masalah ini sebagai: salah sambung. Sang pemuda merasa sudah memberikan perhatian, namun bentuk perhatian itu bukanlah yang diharapkan pacarnya. Jadi, bicaralah dengan jujur satu dengan yang lain: apa bentuk perhatian yang paling penting bagi diri kita? Hadiah, ucapan mesra, tindakan menolong, atau malah mungkin seks bagi yang sudah menikah. Kejujuran ini penting agar kita tak salah memberikan bentuk perhatian yang dibutukan pasangan.

[image: kimmyerssmith.com]

4. Prinsip Keempat adalah Menyediakan Waktu

Menyediakan waktu berarti memberikan perhatian yang tak terbagi pada pasangan.

Inilah prinsip yang nampaknya paling mudah, khususnya bagi yang masih pacaran. Selalu berdua ke mana-mana. Namun, masalahnya apakah benar-benar ada perhatian yang tak terpecah dalam waktu bersama itu?

“Percuma meminta ia menemani saya, Pak. Pacar saya itu tak pernah lepas dari HP dan tabletnya,” keluh seorang perempuan. “Matanya jarang sekali menatap saya bahkan ketika kami makan bersama, Ia lebih banyak menatap layar HP dan tabletnya. Pingin saya banting itu barang!” lanjutnya. Saya yakin yang sebaliknya juga terjadi, pria yang mengeluhkan pacarnya selalu asyik berjual beli on line bahkan tatkala mereka menikmati malam minggu berdua.

Menyediakan waktu berdua bukan sekadar berada bersama di tempat yang sama atau bahkan duduk bersebelahan. Menyediakan waktu berdua berarti menyediakan perhatian yang tak terbagi bagi pasangan. Semua urusan berhenti sementara, termasuk HP atau tablet diletakkan, untuk sosok terpenting yang ada di hadapan atau sebelah kita.

Bagi yang sudah menikah dan mempunyai anak-anak, prinsip ini tak mudah dieksekusi. Padahal, dengan begitu banyak urusan kehidupan dan rumah tangga, perlu pula lebih banyak waktu berdua. Willard F. Harley menyarankan jumlah 15 jam dalam seminggu bagi yang sudah menikah. Mudah? Tentu saja tidak! Namun, sangat penting untuk mengupayakan waktu bersama dengan perhatian tak terbagi ini.

[Image: freehdwallpaperhq.com]

Nah, mari berjuang mewujudkan empat prinsip ini: kejujuran, proteksi, perhatian, dan waktu agar relasi cinta makin kokoh. Cinta yang mengawali relasi biarlah menjadi cinta yang bukan sekadar pernah ada, namun diperjuangkan terus keberadaannya. Selamat berjuang para pejuang cinta!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?