4 Kesalahan Orangtua yang Terulang Lintas Generasi. Hentikanlah!

Parenting

1.3K
"There are no perfect parents, and there are no perfect children. But there are plenty perfect moments along the way."

Memang benar, orangtua bukanlah makhluk sempurna. Seringkali orangtua juga melakukan kesalahan tanpa menyadari bahwa yang mereka dilakukan itu salah. Tetapi orangtua 'zaman now' lebih modern sehingga seharusnya mereka kini lebih bisa menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang bisa menyakiti perasaan anak mereka. Orangtua masa kini bisa lebih banyak membaca dan belajar dari pengalaman orang-orang lain mengenai hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan sebagai orangtua kepada anak-anak mereka.

Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh orangtua:


1. Tidak cukup memberikan waktu

Orangtua, khususnya yang bekerja di luar rumah, seringkali lalai akan hal ini. Ketika merasa lelah sepulang kerja, lantas mereka langsung saja memilih untuk tidur dan tidak terlebih dahulu meluangkan waktu untuk anak-anak. Ada juga yang justru sepulang bekerja orangtua tidak langsung pulang ke rumah, namun lebih senang berkumpul dengan teman-teman dibandingkan dengan keluarga. Padahal setelah seharian ditinggal, anak-anak pasti sangat menantikan kedatangan orangtuanya.


images.parenting

Sebagai orangtua, sebisa mungkin luangkanlah waktu dengan anak hingga berapa pun usia mereka. Jadikan waktu Anda di luar waktu kerja menjadi waktu keluarga. Biasakan untuk makan malam bersama dan lakukan doa bersama dengan anak-anak sebelum mereka tidur. Gunakan saat-saat itu untuk menanyakan bagaimana kabar mereka dan tanyakan juga apa kesulitan yang mereka alami. Sekadar bermain dengan mereka pun sangat disarankan jika usia mereka masih kecil.


2. Membanding-bandingkan

Orangtua seringkali sudah paham benar mengenai hal tidak membandingkan anak yang satu dengan anak yang lainnya. Akan tetapi perkara membanding-bandingkan ini tidak hanya berhenti sampai perkara membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain saja, melainkan bisa dilebarkan pada soal membandingkan anak dengan diri Anda sendiri sebagai orangtua. Jangan melakukan hal ini kepada anak-anak kita!

Misalnya, membandingkan betapa susah perjuangan hidup Anda di masa lalu yaitu ketika Anda hanya bisa makan nasi dengan lauk tahu-tempe. Apakah kita berharap anak kita juga hanya makan nasi berlauk tahu tempe baru kita bisa menghargai perjuangan mereka?

s3.amazonaws

Anak-anak masa kini sudah hidup berbeda zaman dengan orangtuanya. Di zaman sekarang memang tampaknya segala sesuatu lebih mudah. MIsalnya, untuk berkomunikasi saja kita tidak perlu membuang waktu dan tenaga secara berlebihan karena kita bisa menggunakan ponsel pintar yang siap digunakan setiap saat. Pekerjaan tampaknya juga semakin lebih banyak variasinya dan relatof lebih mudah didapatkan. Namun, ini bukan berarti anak-anak masa kini tidak perlu berjuang, bukan? Anak-anak masa kini memiliki tantangannya sendiri.

Jika anak-anak belum mampu menghasilkan sebanyak yang dihasilkan orangtuanya dulu, janganlah juga menghina mereka. Jika mereka sudah memiliki pekerjaan dan melakukannya dengan 'passion' (kecintaan) yang besar, maka hargai dan dukunglah mereka senantiasa. Mungkin kini penghasilan mereka masih belum seberapa tetapi tidak berarti mereka tidak sukses nantinya.

Baca juga: Tentang Saya yang Selamanya Seniman dan Mereka yang Selamanya Orangtua


3. Menghakimi

Kesalahan orangtua karena sering menghakimi menyebabkan anak tidak bisa dekat dan terbuka kepada orangtuanya. Bagaimana tidak? Ketika hendak menceritakan masalahnya, orangtuanya langsung menghakimi dan bukannya memberi solusi, malahan kadang-kadang memarahi anaknya. Akibatnya anak tidak lagi mau bercerita kepada orangtuanya.

Gawat sekali jika sampai anak tidak bisa mempercayakan permasalahannya kepada orangtuanya. Kemana lagi mereka akan pergi? Bisa jadi mereka akan pergi kepada orang yang salah dan berlari pada narkoba dan minuman keras. Apakah itu yang Anda inginkan? Tentu Tidak!

Jadilah sahabat bagi anak Anda dan dengarkan setiap keluhan mereka tanpa memberikan penghakiman. Be the last person to judge! Itulah yang dibutuhkan seorang anak ketika menceritakan masalah mereka kepada orangtua.

images.summitmedia

Selain itu, seringkali orangtua tanpa mengetahui terlebih dahulu apa yang terjadi pada anaknya serta merta menghakimi mereka. Sebagai contoh, tanpa mengetahui apa yang dialami sang anak, seorang ayah menuduh anaknya hanya bisa bersenang-senang saja. Padahal anak memiliki permasalahan sendiri dan senantiasa berjuang. Ia tidak bermalas-malasan saja di rumah dan bekerja keras siang malam mencari uang.

Tetapi seorang anak tidak mungkin memerlihatkan segala kesusahan mereka kepada orangtuanya, bukan? Yang terjadi justru anak akan sebisa mungkin memerlihatkan kepada orangtua bahwa mereka berbahagia dan semuanya baik-baik saja agar orangtua tidak merasa cemas.

Usahakan menggunakan kata-kata yang membangun ketimbang menggunakan kata-kata yang menjatuhkan ketika hendak menasehati atau menegur anak.


4. Perhitungan

Mungkin Anda berkata, "Ah, saya bukanlah orangtua yang perhitungan apalagi kepada anak sendiri." Tetapi tanpa sadar banyak orangtua yang bersikap perhitungan sekali kepada anak-anak mereka.

Contohnya, anak meminta bantuan orangtua untuk menjagakan cucu. Si Anak jarang-jarang menitipkan cucu kepada orang tuanya, tetapi bisa jadi orangtua menganggap petmintaan itu sebagai sebuah hal yang besar sekali dan langsung menilai bahwa Si Anak tidak bisa bertanggungjawab terhadap anak-anaknya jika tidak dibantu orang tua. Padahal jika anak meminta bantuan seminggu sekali, bukankah selama 6 hari sebelumnya ia sudah menjaga dan merawat sendiri anak-anak mereka? Bukankah tidak berlebihan jika anak meminta bantuan tersebut? Bukankah berlebihan jika orangtua menganggap anak tidak bertanggungjawab?

Baca juga: Demi Masa Depan Anak, 6 Hal yang TAK BOLEH Dilakukan Orangtua

Memang bantuan sekecil apapun sungguh sangat berharga bagi anak-anak terutama ketika mereka telah berumahtangga sendiri dan memiliki anak-anak sendiri.

Terkadang anak juga membutuhkan kesempatan untuk memiliki waktu yang berkualitas bersama dengan pasangan mereka. Kepada 'orang tuamuda', sering saya mendorong mereka untuk tidak sungkan meminta bantuan jika membutuhkan bantuan. Sebaliknya kepada orangtua yang dimintai bantuan janganlah menganggap itu sebagai beban.

collmissionstats

Berikan pertolongan jika memang Anda sanggup, dan silakan tolak jika memang hal tersebut memberatkan Anda. Tapi jangan mengungkit-ngungkit berapa banyaknya bantuan Anda dan jangan pula menjatuhkan anak Anda ketika menolak permohonan mereka.

Ingatlah apa yang Anda lakukan kepada anak Anda adalah apa yang di kemudian hari akan ia lakukan juga kepada anaknya. Berikan contoh yang tepat agar kelak anak Anda bisa menjadi orang tua yang baik juga bagi anak-anaknya karena perbuatan Andalah yang dilihat dan ditiru oleh anak.

Ingin membaca artikel-artikel menarik lainnya? Klik di sini:

Cinta Terhalang Restu Orangtua, Aku Patah Hati di Usia 35

Meninggalkan Orangtua demi Pacar, Saya Terjebak di Pernikahan yang bagai Neraka

Pengakuan Anak Korban Kekerasan Orangtua: yang Terluka akan Melukai


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "4 Kesalahan Orangtua yang Terulang Lintas Generasi. Hentikanlah!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Beatrice Fella | @Beatricefella

A wife and a mother of two beautiful daughters. -I'll feed you love and I hope that's enough to inspire you through suffering, holding you up-

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar