Waspada! 4 Kesalahan Fatal terkait Penggunaan Uang yang Seringkali Terjadi

Reflections & Inspirations

slamedia

2.8K
Uang itu memang penting, tapi uang bukan segala-galanya.

Uang! Siapa yang tidak butuh uang? Sudah pasti dalam kehidupan ini, kita membutuhkan uang. Untuk makan kita membutuhkan uang. Juga untuk bersekolah, untuk berobat, untuk membeli pakaian dan lain-lain kita membutuhkan uang. Jadi, hampir semua aspek di dalam kehidupan kita membutuhkan uang.

Berdasarkan kenyataan di atas, tidak munafik jika kita mengatakan bahwa uang itu penting dalam kehidupan. Saya merenungkan ada beberapa isu yang salah mengenai uang.


1. Uang sebagai perwujudan kasih sayang yang salah dalam keluarga

mommyedition

Saya memiliki seorang teman yang orangtuanya selalu mengukur cinta-kasih mereka kepada anak-anaknya dengan uang. Orangtua teman saya itu selalu merasa sudah memberi yang terbaik kepada anak-anaknya karena mereka sudah memberi banyak uang. Oleh sebab itu, fokus orangtua teman saya itu adalah hanya bekerja mencari uang sehingga mereka mengabaikan fakta bahwa anak-anaknya membutuhkan keberadaan orang tua mereka, dan bukan hanya sekadar uang orangtua mereka.

Akibat dibesarkan dengan cara yang demikian, teman saya dan saudara-saudaranya bertumbuh menjadi orang-orang yang bisa ”dibeli”. Mereka bersedia menuruti perkataan orangtua jika mereka diiming-imingi uang. Bahkan, pada saat orangtua mereka bertengkar, anak-anaknya akan memanfaatkan keadaan tersebut untuk "mencari uang". Mereka akan membela salah satu orangtua yang memberi uang lebih banyak kepada mereka. Kacau, bukan? Namun kejadian ini adalah kejadian yang nyata.

Sebenarnya, teman saya itu rindu kasih sayang dan belaian dari orangtuanya. Ia pernah mengatakan kepada saya bahwa ia lebih berbahagia makan di rumah teman dengan lauk yang sederhana tetapi bersama-sama daripada ia makan seorang diri saja dengan lauk yang kebih mewah di rumahnya yang besar.

Teman saya ini merasa kesepian sehingga ia mencari kasih-sayang di luar rumah dan jatuh dalam pergaulan yang salah yang membawanya menjadi seorang pecandu narkoba. Harta orangtuanya pun akhirnya banyak terkuras karena orangtuanya berusaha melepaskannya dari jerat narkoba.

Kita melihat bahwa semua harta yang kita peroleh tak akan ada artinya jika anak-anak kita gagal akibat sikap kita yang salah dalam mengasuh mereka. Kita harus membuat keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan. Kita juga harus memahami apa tujuan kita bekerja dan untuk siapa kita bekerja.

Jika kita memang bekerja untuk keluarga, maka jangan sampai kita mengabaikan mereka. Keluarga tidak hanya membutuhkan uang kita, namun mereka juga membutuhkan keberadaan dan dukungan kita. Ingatlah, uang tidak bisa membeli lagi waktu yang telah terbuang.

Baca juga: Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita


2. Uang menimbulkan konsekuensi yang lebih mahal dibandingkan besaran nilainya sendiri

advantage4parents

Beragam dosa rela dilakukan orang demi mendapatkan uang. Misalnya, demi mendapat keuntungan yang lebih besar, pedagang rela mencurangi pelanggannya. Untuk mengurangi nilai pembayaran pajaknya, orang sampai berani memalsukan laporan keuangannya. Masih banyak contoh-contoh lain tentang bagaimana orang rela melakukan hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan demi bisa memeroleh uang.

Karena uang juga ada perempuan-perempuan yang rela menjual dirinya. Mereka berharap dapat memeroleh uang secara mudah. Dengan memiliki banyak uang, mereka berpikir bisa membeli apa saja yang mereka inginkan.

Mungkin sesaat orang akan senang karena memeroleh uang walaupun dengan cara yang tidak halal. Tetapi, bagaimana dengan dosa yang mengikutinya? Apakah keuntungan yang diperoleh seseorang secara tidak halal itu sebanding dengan dosa yang dia lakukan? Kesenangan hanya sesaat dirasakan, namun dosa akan selalu mengikutinya. Belum lagi hati nurani yang akan senantiasa menuduh dengan mengingatkan perbuatan-perbuatan buruk yang telah dilakukannya.

Jadi, marilah kita cukupkan diri dengan apa yang ada. Marilah kita bekerja lebih giat dan melakukan inovasi terhadap karya-karya kita yang sudah ada supaya bisa lebih berkembang sambil jangan lupa berdoa meminta hikmat untuk hasil yang lebih baik lagi.

Baca juga: Belajar dari Kasus Dimas Kanjeng: Raih Financial Freedom Bukan dengan Menggandakan Uang, Melainkan dengan Melakukan 5 Hal ini


3. Uang digunakan untuk menilai orang secara salah

assets.entrepreneur

Ada sebuah keluarga yang selalu mengukur segala sesuatunya dengan uang: menilai orang dengan uang dan menilai hubungan dengan uang. Akibatnya, tanpa mereka sadari hubungan mereka dengan orang-orang di sekitarnya menjadi sebuah hubungan yang sekadar berorientasi pada kepentingan, yaitu yang ujung-ujungnya adalah uang juga.

Karena uang menjadi alat penilai, maka bagi keluarga itu tak ada lagi pertemanan yang tulus. Sebaliknya, karena perilaku mereka, keluarga ini bahkan bisa dikatakan tidak terlalu punya teman.

Ketika keluarga ini mendapat menantu perempuan yang berasal dari keluarga sederhana, maka mereka tak mampu melihat banyaknya potensi dan kelebihan yang dimiliki Si Menantu. Mereka memandang sebelah mata kepada menantunya yang sesungguhnya bersedia menikah dengan anak lelaki dari keluarga itu karena cinta dan sama sekali bukan karena tertarik pada uang mereka.

Akhirnya dapat diduga, keluarga anak lelaki itu menjadi berantakan karena “gangguan-gangguan” orangtua yang orientasinya selalu uang. Padahal, Tuhan saja tidak menilai manusia dari banyaknya harta yang kita miliki, namun dari perilaku kita.

Baca juga: Inilah Pembunuh Relationship Nomor Satu. Simak & Hindari, Niscaya Hubungan akan Harmonis Selamanya


4. Demi uang, orang sering melupakan kesehatannya

sheknows

Barangkali kita sudah mendengar cerita mengenai Jet Li. Kita mengenal Jet Li sebagai salah satu aktor hebat. Sayangnya, dia mengorbankan segala sesuatu demi uang saat ia masih muda. Ia bekerja tanpa kenal lelah sehingga tak memerhatikan kesehatannya. Apa akibatnya? Tubuhnya tak kuat mendukung aktivitasnya mencari uang yang tak henti-hentinya itu. Sekarang uang yang telah diperolehnya banyak digunakan untuk menutup biaya kesehatannya. Sayang sekali, bukan?

Memang harus diakui, kata “cukup” memang kerap membuat orang bingung. "Rasa cukup" memang sulit diukur, apalagi manusia memang seringkali sulit dipuaskan.

Namun, sebenarnya "cukup" atau "tidak cukup" itu dipengaruhi oleh gaya hidup. Kalau kita maunya setiap hari makan mewah, liburan mewah, dan hal-hal lainnya yang luar biasa, tentu tak akan pernah ada kata cukup. Di sinilah kebutuhan dan keinginan seringkali menjadi hal yang samar.

Baca juga: Inilah 6 Alasan Mengapa Kamu Harus Memilih untuk Bekerja Sesuai dengan Passionmu, walaupun Gajinya Belum Tentu Memuaskan

Agar tidak bingung, mungkin kita harus mulai belajar membedakan apa yang memang kita butuhkan dan apa yang sebenarnya hanya kita inginkan. Hal ini juga akan memicu kita untuk mencari keseimbangan antara bekerja dan beristirahat. Kita harus bekerja secukupnya sesuai batas kemampuan kita.

Jangan hanya bekerja demi hari ini saja, apalagi demi keserakahan kita yang ingin memperoleh lebih dan lebih lagi, namun bekerjalah dengan memikirkan masa depan. Jangan habiskan energi kita hanya demi hari ini, namun tatalah agar energi kita masih cukup untuk masa depan.

Berhati-hatilah dalam memosisikan uang dalam kehidupan kita. Di mana hartamu berada, di situlah hatimu berada. Uang itu penting, tetapi uang tidak akan kita bawa mati, bukan? Kita butuh uang bukan untuk ditimbun, tetapi untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita. Alangkah indahnya jika semua jerih lelah kita dapat dinikmati bersama dengan keluarga!

Sekali lagi, uang itu memang penting, tapi uang bukan segala-galanya. Peganglah prinsip ini, “Uang untuk hidup, bukan hidup untuk uang."


Ingin membaca artikel-artikel inspiratif lain, sila klik :

Sudah Lama Bekerja namun Tak Kunjung Mendapat Promosi Jabatan? Cobalah 'Karir Maju', 9 Formula untuk Melesatkan Kariermu!

Orangtua, Waspadalah! 3 Hal Ini Dapat Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Kita

Orangtua Bisa Jadi Pembunuh Terbesar Impian Anak Sendiri. Hidup Hanya Sekali, Hindari Kesalahan Fatal ini!






Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Waspada! 4 Kesalahan Fatal terkait Penggunaan Uang yang Seringkali Terjadi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Melissa Setiawan | @melissaberlianna

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar