Menghayati Perjuangan R.A. Kartini: Emansipasi Wanita Bukanlah tentang 3 Hal ini

Reflections & Inspirations

[Image: hyatootsie.com]

3.4K
Andai saja ada mesin waktu yang dapat membawa R.A. Kartini dari masa lalu untuk tiba di masa kini, Ia tentu, pastinya akan sangat terkejut, melihat nasib wanita Indonesia yang telah berubah menjadi begitu maju.



R.A. Kartini, siapa tak mengenalnya? Seorang pahlawan wanita yang, sekalipun raganya terkungkung di balik tembok-tembok feodalisme, namun jiwanya tak ikut terpenjara. Buah pikirnya melesat, keluar dari kungkungan zaman, mendarat di tangan yang tepat, dan tersebar menjadi sebuah semangat emansipasi yang mengubah wajah bangsa Indonesia saat ini. Sebagai seorang wanita, saya amat bangga padanya.

Andai saja ada mesin waktu yang dapat membawa R.A. Kartini dari masa lalu untuk tiba di masa kini, Ia tentu akan, pertama-tama, pastinya sangat terkejut, melihat nasib wanita Indonesia yang telah berubah menjadi begitu maju. Para wanita kini berkarier, memegang posisi-posisi penting di pemerintahan, menjadi pendidik; telah banyak karya-karya wanita Indonesia yang diakui, bahkan di tingkat dunia. Ia juga pasti akan sangat bersyukur, tidak menyangka bahwa perjuangannya ternyata berdampak begitu hebat, mengubah paradigma dan nasib kaum wanita Indonesia. Demikian kira-kira khayalan indah saya tentang R.A. Kartini yang menumpang mesin waktu dengan bahagia.

Namun sejenak khayal saya terhenti tatkala berbenturan dengan beberapa realita kehidupan wanita Indonesia yang, menurut saya, cukup memprihatinkan. Hal tersebut berkaitan dengan banyaknya cap buruk tentang wanita serta masalah dalam relasi dan gaya hidup wanita Indonesia saat ini, yang terutama diakibatkan oleh pemaknaan emansipasi wanita yang salah kaprah.

Perseteruan sengit di antara para ibu-ibu akibat percakapan yang tak terkendali, pelecehan terhadap wanita, hingga luka hati yang dirasakan oleh wanita akibat perilakunya sendiri yang melewati batasan, telah menjadi bagian dari sisi gelap kehidupan wanita Indonesia di zaman ini.

Jika saja R.A. Kartini dapat menembus ruang dan waktu lalu berteleportasi ke zaman ini dan menyaksikan semua hal tersebut, rasa-rasanya Beliau akan setuju dengan pemikiran saya. Bahwa emansipasi wanita, bukanlah mengenai hal-hal seperti ini:


1. Bukan Kesetaraan untuk Bergosip dan Bicara Kotor

[Image: cdc.ca]

Emansipasi telah memberikan kepada kaum wanita kesetaraan dalam hak berbicara dan menyampaikan pendapat. Namun, hak tersebut bukan berarti sebuah keleluasaan untuk membicarakan dan menyebarkan kisah kehidupan orang lain tanpa tanggung jawab. "Gosip," demikian kita biasa menyebutnya.

Wanita dicap sebagai tukang gosip, karena ada habit yang meluas dari kaum wanita untuk berkumpul dan mengobrol. Obrolan bisa tentang apa saja, namun biasanya topik paling menarik, hangat, dan karena itu paling banyak diobrolkan adalah: tentang orang lain. Gosip, makin digosok makin sip! Itulah yang membuat habit yang satu ini seru, "asyik", dan karena itu adiktif. Bergosip mampu membuat banyak wanita seperti tidak sadarkan diri, hingga akhirnya mengalami benturan relasi dengan mereka yang menjadi objek gosip, si korban gosip. Lebih parah lagi, gosip yang tersebar bahkan dapat sampai merusak reputasi, penghidupan, dan kehidupan si korban gosip.

Baca Juga: Tentang Kita, Manusia yang Mudah Menghakimi Orang Lain, Rasa Aman Palsu, dan Keengganan untuk Bertumbuh

Kesetaraan dalam berbicara juga bukan berarti bebas berbicara kotor. Sebagian besar orang masih memiliki pemikiran yang naif bahwa yang suka berbicara kotor dan kasar adalah kaum pria saja. Namun, kenyataannya, tidak sedikit pula kaum wanita yang melakukan hal-hal tersebut.

Ketika saya masih kuliah di sebuah akademi, dalam kumpulan mahasiswi tertentu terjadi obrolan yang begitu bebas dan vulgar. Kata-kata kotor dengan ringan dilontarkan sebagai 'guyonan', begitu juga curhat tentang gaya berpacaran mereka yang 'wah' dan melewati batasan-batasan moral. Semua disampaikan dengan begitu bangga dan terbuka. Tawa sinis terdengar ketika saya pamit untuk segera meninggalkan mereka dan melangkah menuju kelas karena merasa tidak nyaman mendengar obrolan tersebut.



2. Bukan Kesetaraan untuk Bebas Berpakaian Tanpa Etika

[Image: courtneywott.wordpress.com]

Emansipasi juga telah memberikan kepada kaum wanita keleluasaan dalam berpakaian. Wanita Indonesia kini tak lagi perlu untuk selalu memakai kebaya yang begitu membatasi mobilitas. Namun, sayangnya saat ini nampaknya 'keleluasaan' telah bergeser menjadi 'kebablasan' dalam berpakaian, hingga membuat banyak wanita nampak begitu murah dan rendah dalam pandangan laki-laki.

Andai mesin waktu mengantar R.A. Kartini untuk berkunjung ke mall-mall atau tempat-tempat umum yang sering dikunjungi wanita-wanita modern zaman ini, mungkin Beliau akan shock. Rok yang tak hanya mini, namun super hingga menjurus ke micro mini[m], pakaian super tipis hingga tembus pandang, serta terbuka dari segala sudut dan sisi. Semua hanya untuk memamerkan 'keindahan' tubuh wanita kepada siapapun yang melihatnya.

Sungguh tragis, karena kenyataannya, keindahan sejati justru hilang seiring dengan merosotnya nilai diri hingga begitu rendahnya.

Emansipasi yang salah kaprah dalam hal keleluasaan berpakaian telah membuat wanita menjadikan dirinya sebagai objek khayalan seks kaum pria semata. Ini mengantar diri wanita lebih kepada pelecehan, dan bukannya 'pemujaan', sebagaimana yang sesungguhnya mereka harapkan dari penampilan yang mereka pamerkan tersebut.

Baca Juga: Stop Buka-Bukaan di Depan Kamera, Be Smart and Respect Yourself!



3. Bukan Kesetaraan untuk Sebuah Free Sex

[Image: understandingrelationships.com]

Emansipasi wanita juga bukan sebuah kesetaraan dan kebebasan untuk terjun dalam free sex.

Kalau dulu kita mendengar banyak pria berpoligami, saat ini banyak wanita yang berpoliandri. Sudah banyak pula wanita yang jatuh dalam seks bebas sejak usia remaja.

Baca Juga: Inilah Trik dan Rayuan Pria untuk Mendapatkan Keperawananmu Sebelum Menikah. Kamu Harus Bisa Menolak! Begini Caranya

Kalau dulu sepertinya perselingkuhan hanya dilakukan para pria dan wanita dalam hubungan pacaran, beberapa waktu belakangan, banyak wanita menikah juga melakukan hal yang sama dengan berbagai alasan. Balas dendam dan menuntut kesetaraan paling sering dijadikan sebagai alasan. "Jangan pikir pria saja yang bisa selingkuh, wanita juga bisa. Rasakan, bagaimana sakit hatinya kalau diselingkuhi!" ungkap seorang wanita yang amat marah karena perselingkuhan suaminya. Ia membuktikan kata-katanya, hal tersebut benar-benar dilakukannya. Tentunya, bukan menyelesaikan masalah, sebaliknya, hal ini mendatangkan dampak yang makin buruk dalam kehidupan rumah tangga dan relasinya dengan suami dan anak-anaknya.

Seorang psikiater membagikan kegelisahannya tentang makin banyaknya remaja putri yang mengalami depresi berat dan melakukan percobaan bunuh diri. Alasan terbanyak adalah karena mereka, dengan didasari pemikiran bahwa hal yang mereka lakukan sudah menjadi sesuatu yang 'biasa' di zaman yang sudah maju ini, telah terjun bebas tanpa batasan dalam perilaku seksual mereka.

Baca Juga: Bukan Hanya Soal Dosa, Inilah 7 Manfaat Menolak Seks Pranikah


Ketiga hal di atas, bukannya membuat wanita menjadi makin terhormat dan setara dengan kaum laki-laki, melainkan membuat martabat wanita yang melakukannya justru menjadi rendah di mata masyarakat. Bukannya membuat wanita makin maju, sebaliknya membuat depresi dan terpuruk, menjadi manusia yang tidak efektif dalam berkarya.

Mayoritas wanita merasa gelisah dan cemas mendengar dan membaca banyaknya berita pelecehan seksual terhadap wanita. Memang tidak bisa dikatakan bahwa wanita yang menyebabkan pelecehan tersebut terjadi. Namun, pernahkah menyadari jika wanita mampu mengobarkan "api" , yaitu niat cabul yang sudah ada, dengan cara menunjukkan secara terang-terangan perilaku dan penampilan di luar batasan di berbagai tempat umum?

Secara umum, wanita akan dianggap murah dan menjadi target untuk 'dikerjai' jika punya kebiasaan berkata kotor dan vulgar. Wanita demikian akan dianggap sudah terbiasa dan menyetujui tindakan-tindakan pelecehan seksual, sesuai dengan apa yang keluar dari bibirnya. Demikian pula wanita yang berpakaian minim, akan dianggap dengan sengaja memancing kaum pria.

Ingin agar martabat kita sebagai wanita tetap diakui dan dihormati di mana pun dan kapan pun?

Mulailah dengan menghargai diri sendiri. Gunakan kebebasan untuk berada pada sebuah kesetaraan derajat pada level terhormat, bukan sebaliknya.

Kemuliaan seorang wanita bukanlah terletak pada 'kecantikan' luar semata, namun pada kemurnian hati, perkataan, dan perilaku.



Baca Juga:

Dari Kartini, Tentang Cinta, Untuk Kita. 7 Kutipan tentang Cinta dari Surat-Surat R.A. Kartini

Seks Pranikah: Selain Keperawanan dan Keperjakaan, 3 Hal Penting ini Juga Ikut Lenyap

Pacar Mengaku Tak Lagi Perawan atau Perjaka. Apa Sikap Terbaik yang Bisa Dilakukan?

Hamil di Luar Nikah? Bukan Hanya Aborsi atau Terpaksa Menikah Solusinya. Renungkan 7 Hal Ini!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menghayati Perjuangan R.A. Kartini: Emansipasi Wanita Bukanlah tentang 3 Hal ini". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Heren Tjung | @herentjung

Public speaker. Pendiri Gerakan Kekudusan Seksual Kaum Muda True Love Waits Indonesia (pemegang lisensi resmi TLW International). Penulis buku Membongkar Rahasia Pornografi-bimbingan terpadu lepas dari jerat pornografi. Kontak:tlwindonesia@gmail.com

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar