3 Prinsip Pengelolaan Uang yang akan Menjauhkanmu dari Jerat Hutang

Work & Study

photo credit: Finance & Mortgage Solutions

16.3K
Siapa yang tak membutuhkan uang? Semua orang membutuhkan, namun tak semua pandai mencari apalagi mengelolanya.

Berbicara tentang uang, sebagian besar kami pernah merasakan “susah”nya tidak punya uang (uang terbatas) karena dari pemberian orang tua. Karena keterbatasan itu juga ada beberapa teman yang sudah mulai mencari uang tambahan. Dan bagaimana orang tua mengajar cara melihat uang juga berbeda-beda, ada yang sudah diajarkan untuk menabung (sebisa mungkin harus menabung meski jumlahnya tidak besar), tapi ada juga yang diajarkan untuk “dihabiskan”.

Sekarang, ketika kita sudah bisa mencari uang sendiri, otomatis banyak hal yang akan dihadapi, juga berhubungan dengan gaya hidup (lifestyle). Mungkin bukan untuk berfoya-foya, tetapi hobi pun ternyata menghabiskan banyak uang juga.

Dahulu, waktu pertama kali bekerja dengan penghasilan sedikit, kami bisa mengaturnya dan merasa cukup. Tetapi, saat jumlah penghasilan meningkat kenapa mulai merasa ini tidak cukup. Kekuatiran mulai timbul.

Bagaimana kami harus menyikapinya? Apakah harus bekerja lebih giat lagi? Ataukah ada yang berubah dari cara kami mengelolah uang?

Tiga perenungan tentang uang ini dapat membuat kita mengelola keuangan dengan lebih baik.


1. Uang diciptakan Tuhan untuk hal yang baik

photo credit: marketingkeys

Pengalaman saat pertama kali bekerja dulu, selain upaya yang dikerjakan, doa kepada Tuhan pun tak bisa dilewatkan. Melihat sulitnya mencari pekerjaan, otomatis tak hanya sekadar usaha kita, tetapi juga ada campur tangan Tuhan. Terkadang saat sudah mendapatkan uang, kita jadi salah arah. Sehingga kita mati-matian mencari uang, bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Baik dengan saling menjatuhkan dan berbuat curang. Akibatnya, keluarga tidak terurus, relasi kita dengan teman juga berubah dan sebagainya. Ingatlah bahwa masih banyak hal berharga lainnya dalam hidup kita. Jadi jangan sampai uang menjadi tuhan dalam diri kita.

Baca juga: 3 Gaya Pacaran Anti Boros yang Malah Menghasilkan Uang untuk Persiapan Pernikahan


2. Belajar mencukupkan diri

photo credit: Naperville Magazine

Belajar mencukupkan diri adalah hal yang wajib kita latih sedini mungkin. Mulailah dengan “Apakah ini saya butuhkan? Atau saya inginkan?”. Karena kata “ingin” berbeda dengan “butuh”, “ingin” lebih mengacu ke nature untuk memuaskan diri dan ego semata. Keinginan kita dipandang orang, dihargai orang, tidak mau diremehkan, teman saya punya saya harus punya juga, sehingga kita berusaha memenuhinya. Jika hal ini diteruskan akan berakibat fatal. Bisa jadi besar pengeluaran kita dari pada pendapatan kita. Apalagi iming-iming kartu kredit sering jadi option kita, Ahh, bisa dicicil 12x, jadi terlihat lebih “ringan”. Waspada terhadap kapasitas kita sendiri.

Sedangkan “butuh” mengacu dengan keperluan yang memang harus jadi prioritas. Misalnya, saat membeli handphone, seringkali kita membeli tanpa melihat spesifikasi, hanya merek dan harus keluaran terbaru. Tapi apakah semua fitur di dalamnya kita perlukan dan akan kita gunakan?


3. Belajar untuk berbagi

photo credit: Indian Express archives
Orang bijak berkata “Setialah dalam perkara kecil, maka akan dipercayakan perkara besar dalam hidup kita”.

Belajar dari tokoh kartun Paman Gober yang suka mengumpulkan harta dan sulit berbagi (pelit). Bagaimana ia begitu mencintai hartanya sampai bisa berenang dalam tumpukan hartanya. Tetapi, dengan harta sebanyak itu, tidak membuat hidupnya tenang. Dia selalu khawatir, takut dicuri, takut berkurang, selalu waspada, dan rutin mengecek hartanya tersebut.

Sekali lagi Tuhan menciptakan uang bukan untuk kita timbun. Mempunyai rencana keuangan bisa membuat kita semakin jelas melihat, pasti kita akan mendaftarkan hal-hal yang utama dahulu termasuk rencana untuk menabung. Mulailah belajar menyisihkan sebagian untuk berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Masukkan ini dalam perencanaan keuangan agar berbagi bisa menjadi gaya hidup kita.

Berbagilah pada orang-orang sekitar kita. Meski sedikit nilainya (tak seberapa) tetapi indah dan membawa damai. Mulailah perhatikan sekeliling kita, adakah yang bisa kita perbuat bagi mereka melalui harta kita.

Kemarin saya melihat acara TV cable tentang kompetisi memasak, kebetulan diikuti oleh anak-anak kecil (chef junior). Hadiah yang ditawarkan juga cukup besar USD 10.000, dengan uang sebanyak itu bisa digunakan untuk melakukan banyak hal. Tetapi respon mereka menarik, ada yang berkata jika saya menang akan mendonasikan uang itu semua untuk yayasan “No kids hungry”, yang lain berkata akan mendonasikan untuk yayasan supply makanan lokal. Senang melihat respon mereka, mau berbagi bukan untuk keperluan mereka sendiri.

Baca juga: Belajar dari Kasus Dimas Kanjeng: Raih Financial Freedom Bukan dengan Menggandakan Uang, Melainkan dengan Melakukan 5 Hal ini

Marilah belajar melihat uang sebagai alat untuk membantu kita menjalani hidup lebih baik dan membuat dunia lebih baik.


Buat kamu yang sedang belajar menata keuangan dengan lebih baik, tulisan-tulisan ini akan memberikanmu inspirasi :


Sudahkah Kita Benar-Benar Bahagia? Mari Periksa, Bagaimana Uang, Waktu, dan Tenaga Membentuk Kebahagiaan Kita

Tidak Puas dengan Keputusan Kenaikan Gaji Tahunan dari Atasan? Tanyakan 3 Hal Penting ini Agar Dapat Menerima Keputusan Tersebut

Lakukan 5 Langkah Efektif ini agar 'Bocor Halus' Tak Membuat Gaji Menyusut Lenyap

Membeli Properti dengan Gaji Sendiri Usia 20-an? Bisa!! Lakukan Lima Hal ini


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Prinsip Pengelolaan Uang yang akan Menjauhkanmu dari Jerat Hutang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Bagus Saputra | @MisterGood

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar