3 Pengalaman Lucu, Seru dan Mengharu Biru di Tahun Ajaran Baru

Reflections & Inspirations

photo credit: Reader's Digest

1.9K
Seminggu ini sangat hangat di hati bagi saya pribadi. Pelukan, pilihan duduk di samping saya, hingga kepercayaan untuk mencurahkan isi hati penuh air mata, merupakan kemesraan penuh kasih sayang dari siswa ke gurunya.

Minggu efektif pembelajaran dimulai. Usai menulis poin-poin kekurangan di tahun ajaran lalu sebagai evaluasi, saya mencoba berbenah. Salah satunya adalah sebuah relasi hangat dan kedekatan dengan siswa. Siapa sangka, ketika saya meraba-raba bagaimana cara memulainya, ada saja skenario dari Pencipta yang membuat saya berpeluang untuk belajar.


1. Pelukan tak terduga

photo credit: Reader's Digest

Di sela durasi 80 menit pembelajaran, saya memberi mereka 10 menit untuk mengatur kelompok tugas tertentu. Alhasil kelas menjadi riuh. Sekitar menit ke delapan, usai berkeliling, saya kembali ke bangku guru di depan. Tiba-tiba seorang anak laki-laki mendekat dan tanpa kata-kata apa pun memeluk saya dari samping. Ekspresi kaget saya tidak tertutupi, hingga seorang siswi tertawa.

Sejujurnya respon pertama yang ingin saya keluarkan adalah menegurnya, namun sepersekian detik setelahnya timbul rasa takut kalau-kalau teguran saya akan memahitkan hatinya yang sebenarnya sangat polos. Maka, yang saya lakukan adalah menepuk pelan punggungnya. Maksud hati agar dia paham bahwa tindakan itu mungkin harus dia pikirkan berulang kali sebelumnya. Apa daya dia mengartikannya berbeda. Dia memeluk saya sekali lagi. Saya pun tumpah dalam tawa.

Seusai mengajar, di ruang guru saya bercerita kepada beberapa rekan. Saya menanyakan bagaimana harus merespon terhadap perilaku demikian. Seorang guru senior melihat bahwa hal itu baginya lumrah, sebab ia sendiri adalah seorang keturunan Belanda yang notabene lebih bebas mengekspresikan keakraban melalui kontak fisik. Saya sepakat, mungkin ini perbedaan budaya. Niat awal untuk menegurnya tereliminasi sore itu.

Jika memang pelukan adalah caranya memberi tahu bahwa ia nyaman menjadi murid saya, dan semua ada dalam batas wajar, mengapa saya harus melarang dan berpotensi memahitkan hatinya?

Pelajaran pertama: pentingnya menghargai keberanian mengekspresikan kasih

Lagipula, kemampuan tersebut makin berharga saat ini. Media sosial penuh dengan orang-orang yang mudah menyuarakan kebencian terhadap sesuatu. Keberanian mengekspresikan kasih patut dihargai. Selayaknya seorang anak memeluk orang tuanya, begitulah saya mengartikan pelukan polos nan mengejutkan itu.


2. Berpindah dan duduk di samping saya

Saat ekskul berlangsung secara klasikal, seorang siswa yang awalnya duduk di baris kedua dari depan, berdiri dan beranjak dari sana. Dia berjalan dan duduk di samping saya yang ada di baris ketujuh. Saya kaget (lagi-lagi). Ekspresinya jelas terlihat marah. Saya pun menoleh dan bertanya “are you okay?” dan dia dengan agak jengkel bercerita bahwa teman-temannya sangat berisik sehingga dia tidak bisa memperhatikan materi dengan baik. Saya tersenyum dan di dalam hati merasa bangga.

Setelah saya amat-amati beberapa menit kemudian, mukanya masih merah. Seperti menahan tangis. Maklum, sebagai seorang (remaja) laki-laki, mungkin sangat gengsi baginya jika harus meneteskan air mata. Saya pun memilih diam dan membiarkan dia kembali fokus mendengarkan materi, namun tak lupa terlebih dahulu menepuk punggungnya dengan pelan. Kontak fisik super sederhana itu saya maksudkan untuk membahasakan: “I got your back, kids” sekaligus menghormati kemampuannya untuk me-manage emosinya sendiri tanpa saya recoki dengan timbunan pertanyaan.

Baca juga: Lagu adalah Guru Tanpa Sosok yang Turut Membentuk Karakter Anak. Orangtua, Inilah 5 Cara Mencegah Pengaruh Buruknya

Wajahnya yang memerah hilang perlahan. Gesturnya yang gelisah penuh gerak, mulai mereda. Dia kembali fokus dengan materi dan selanjutnya kembali berinteraksi tanpa dendam pada temannya (ini memang kemampuan super remaja, cepat berdamai).

Di aula sekolah saya, Hari Jumat, pukul 3 Sore saya belajar

Pelajaran kedua: Menghormati dan memberi keleluasaan kemampuan seseorang mengelola emosinya sendiri, tanpa kita ganggu dengan tumpukan pertanyaan


3. Air mata sepulang sekolah

photo credit: Reader's Digest

Usai bel pulang sekolah, satu siswa menghampiri saya lalu tiba-tiba bercerita bahwa dia tidak terpilih mengikuti kegiatan tertentu. Kalimatnya mulai bergetar dan akhirnya tumpah dalam air mata.

“Sia-sia miss, uda rajin tapi ga kepilih. Besok-besok ga usah niat aja deh”
“iya iya, tapi kita kudu tetap bersikap yang benar lho”
“Padahal sudah doa ke Tuhan supaya bisa ikut, pagi, siang, malam. Tapi mana Tuhan? Kok ga bantu C*****”
“Lho kan ga selalu yang kita minta, Tuhan kasih.”

Kalimat ini terpaku dalam ingatan. Mungkin lucu bagi kita, seorang anak mempertanyakan keberadaan Tuhan hanya karena tidak terpilih kegiatan tertentu. Tapi sejujurnya itu menegur saya secara pribadi. Saya juga adalah anak tersebut dalam balutan fisik dan angka usia yang lebih *ehem* tua. Saya paham sekali perasaan ketika keadaan terlihat tidak adil, termasuk sikap ketika saya merengek meminta sesuatu pada Tuhan. Mungkin salah satu bagian favorit saya sebagai guru adalah, ketika saya berusaha mengingatkan siswa namun saya sendiri yang sedang ditegur dan dibukakan fakta terhadap karakter-karakter yang perlu dibenahi.

Setelah sekitar setengah jam dia menumpahkan segala keluh kesah, dia berpamit dan mengucapkan terima kasih. Ternyata dia sudah menahan hal itu beberapa lama karena merasa malu bercerita ke teman, wali kelas (karena laki-laki), dan orang tua. Dia mengaku lega dan berjanji akan lebih kuat dan bersikap positif. Keesokan harinya dengan sangat tegar, dia menemui guru yang mengecewakannya dan berkata “Aku uda gak papa kok, mister”, AND YEAH I’M SO PROUD OF HER!

Durasi yang sempat penuh air mata itu menegaskan pentingnya MENDENGAR. Saya makin tersadar dan menghayati anjuran "TRY TO LISTEN TO UNDERSTAND NOT TO RESPOND".

Pelajaran Ketiga: Mendengar dengan baik segala cerita kekecewaan tanpa sibuk menghujani butiran saran


Menghargai, menghormati, dan mendengar, menjadi intisari perenungan saya melalui beberapa tindakan siswa. Penting dan menyenangkan untuk dianggap berjasa dengan saran yang dianggap jitu atau mengena. Tapi kerapkali, kesediaan untuk diam dan menjadi tulus tak kalah berharga.

Pelajaran sentral dari ketiganya adalah tentang KEKUATAN BEREMPATI. Rasa empati tanpa saya sadari telah membangun sebuah hubungan yang mungkin tanpa banyak kata. Dalam buku "Understanding and Combating Shame" empati dikatakan sebagai sebuah hubungan emosi tanpa terlebih dulu mensyaratkan adanya kesamaan pengalaman.

Empathy is connecting with the emotion that someone is experiencing, not the event or the circumstance.

Baca juga: Anak Masa Kini Tak Bisa Diajar? Mungkin Guru yang Salah Mengajar. Inilah 3 Hal yang Dinantikan Generasi Platinum dari Para Guru

Seminggu ini sangat hangat di hati bagi saya pribadi. Pelukan, pilihan duduk di samping saya, hingga kepercayaan untuk mencurahkan isi hati penuh air mata, merupakan kemesraan penuh kasih sayang dari siswa ke gurunya. Tak elak, sekaligus menorehkan pelajaran berharga. Saya yang di awal tahun ajaran bertekad lebih dekat dengan siswa, justru diajari oleh mereka sendiri bagaimana caranya.

Saya bukan guru yang beruntung, saya guru yang terberkati.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Pengalaman Lucu, Seru dan Mengharu Biru di Tahun Ajaran Baru". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar