3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai

Marriage

[Image: houstonchronicle.com]

7.7K
Pacaran memang menyenangkan, namun pernikahan membutuhkan perjuangan. Malah, beberapa masalah dalam pernikahan sesungguhnya sudah mulai ada di masa pacaran. Waspadalah!

Salah satu tugas yang saya lakukan sehari-hari adalah berbincang dengan orang-orang yang mengalami masalah rumah tangga. Tak ada rumah tangga tanpa masalah, namun beberapa rumah tangga mengalami masalah serius hingga terjadi perceraian. Perceraian, yang seringkali dilihat sebagai jalan keluar itu nampaknya juga tak menyelesaikan masalah yang ada. Luka-luka akibat perceraian ternyata tak mudah sembuh, bahkan ketika orang tersebut sudah membina rumah tangga kembali.

Salah satu pertanyaan yang seringkali saya berikan pada mereka yang sudah bercerai adalah, ”Nasihat apa yang bisa Anda berikan kepada mereka yang sedang berpacaran dan merencanakan untuk menikah?”

Saya menemukan beberapa jawaban senada dari puluhan jawaban yang ada. Saya akan menuliskan tiga jawaban itu di sini sebagai bekal bagi mereka yang sedang berpacaran dan ingin menikah.

Baca Juga: Yakin Sudah Siap Menikah? Inilah 5 Kenyataan yang Harus Kamu Ketahui sebelum Memasuki Gerbang Pernikahan



1. Jangan terlalu percaya bahwa cinta akan mengubah pasangan

Jatuh cinta nampaknya memberikan semacam keyakinan bahwa pasangan akan berubah karena kita mencintai mereka. Dalam masa pacaran seringkali terlihat bahwa pasangan kita menunjukkan perubahan yang signifikan. Kita menjadi gembira dan percaya bahwa cinta memang mempunyai kekuatan untuk mengubah orang yang tercinta. Kita membayangkan, bila ketika pacaran saja perubahan sudah mulai muncul dan terlihat, apalagi setelah menikah nantinya.

Realitanya? Seringkali perubahan dalam pacaran hanya bersifat sementara. Setelah menikah, maka pasangan kembali pada perilaku semula. Akibatnya kita merasa terjebak. Merasa ditipu dan menjadi terluka. Memang ada pula pasangan yang benar-benar berubah. Namun, ini harus dilihat sebagai sebuah bonus dan bukan kewajiban. Jika bonus kita terima, maka kita bersyukur. Namun, jika kita tak menerima bonus itu, ya mestinya tak apa-apa. Masalahnya adalah jika kita melihat perubahan itu sebagai sebuah kewajiban dari pasangan. Nah, jika itu adalah kewajiban dan tidak terlaksana, maka dengan cepat dan mudah kita akan menjadi kecewa.

Baca Juga: Mario Teguh, Ario Kiswinar Teguh, dan 3 Pelajaran tentang Realita Hidup Berkeluarga



2. Jangan terlalu percaya bahwa cinta akan menghasilkan kecocokan dengan sendirinya

[Image: ohioexcecutivedivorce.com]

Ada pepatah dalam Bahasa Jawa, "Witing tresno jalaran soko kulino." Pepatah ini kurang lebih berarti: cinta bersemi karena terbiasa. Ya, saya setuju bahwa karena kita terbiasa dengan seseorang akhirnya kita dapat mencintai orang tersebut.

Namun, cinta tak berarti cocok.

Cinta alias rasa tertarik adalah satu hal, sementara kecocokan adalah hal yang lain. Kita dapat saja jatuh cinta dengan orang yang terbiasa hadir di sekitar kita, namun kecocokan tak serta merta datang dengan sendirinya.

Ini realita yang tak menyenangkan dalam sebuah relasi: kita dapat jatuh cinta setengah mati dengan orang yang tak cocok dengan kita.

Sama halnya dengan kita dapat suka setengah mati dengan sebuah iPhone terbaru, namun ternyata harganya tak cocok dengan kantong kita. Karena itu, jauh lebih baik cintailah yang cocok dengan kita. Cocok tak berarti harus sama, namun kita merasa kompatibel dengan orang tersebut. Ada rasa nyambung yang sulit dijelaskan, namun dapat dirasakan. Kecocokan ini akan menghasilkan cinta, dan bukan sebaliknya.

Bagaimana jika kita telah terlanjur mencintai orang yang tak cocok dengan kita? Jika kita tak menginginkan perpisahan, maka kita harus mengupayakan dengan kerja keras munculnya kecocokan itu. Barangkali lewat komunikasi terbuka dan aktivitas bersama, kita akan melihat bahwa ternyata ada juga kecocokan atau terbitlah kecocokan yang selama ini belum ada.

Baca Juga: Tak Seindah Dongeng, Inilah 3 Realita yang Saya Pelajari dari Kisah Cinta Orangtua Saya



3. Jangan terlalu percaya bahwa hubungan seks akan menyelesaikan semua masalah

Sebagian orang yang berpacaran sudah melakukan hubungan seks sebelum pernikahan. Hubungan seks pranikah ini dilihat sebagai pengikat relasi, walau pada realitanya banyak hubungan kandas justru setelah keperawanan atau keperjakaan didapatkan. Mereka yang melakukan seks pranikah seringkali melihat tindakan ini sebagai peredam konflik yang terjadi. Setiap masalah dan konflik diselesaikan di ranjang, melalui hubungan seks. Ketika kepuasan didapatkan, maka seolah-olah masalah hilang dengan sendirinya.

Baca Juga: Inilah Trik dan Rayuan Pria untuk Mengajak Berhubungan Seks sebelum Menikah. Kamu Harus Bisa Menolak! Begini Caranya

Sayangnya, di dalam pernikahan pola ini justru tidak dapat berlangsung. Hubungan seks tidak lagi mujarab sebagai penyelesai konflik. Malah sebaliknya yang terjadi: bila konflik sedang terjadi, tak ada lagi hasrat untuk melakukan hubungan seks. Mengapa demikian? Ya, memang buah curian seringkali terasa lebih manis daripada hasil membeli. Apa yang dilarang terasa lebih menantang, daripada apa yang sudah menjadi halal. Hubungan seks di dalam pernikahan malah tak berperan banyak dalam menyelesaikan masalah.

Baca Juga: Fenomena Suami Kesepian: Bukan Sekadar Seks, Inilah 6 Hal yang Dapat Dilakukan Istri untuk Mendampingi Suami


Orang bijak belajar dari pengalaman. Namun, kadang terlalu mahal harganya jika kita harus melulu belajar dari pengalaman sendiri. Belajarlah dari pengalaman orang lain, agar menjadi bekal yang berharga dalam menghadapi masa depan.

Ingat, penyesalan selalu datang belakangan. Yang datang di depan hanyalah pendaftaran!



Baca Juga:

3 Jenis Keintiman yang Harus Dimiliki Pasangan untuk Menyelamatkan Hubungan dari Godaan Perselingkuhan

Inilah Satu Kunci Sukses Membina Hubungan, Baik dengan Pasangan, Anak, maupun Rekan Bisnis

Rahasia Hubungan Cinta yang Harmonis: Lakukan 10 Hal Sederhana, Dengan atau Tanpa Kata-Kata Ini, Setiap Hari

Kehidupan Setelah Menikah Tak Seindah Saat Pacaran? Jika Dulu Mengejar Pernikahan, Maka Kini Saatnya Memperjuangkan Hubungan



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Nasihat tentang Relasi dari Mereka yang Pernah Bercerai". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


BACA JUGA

Wahyu ‘wepe’ Pramudya | @wahyupramudya

Wahyu 'wepe' Pramudya adalah seorang pembicara, nara sumber acara di radio dan penulis buku. Wepe tinggal di Surabaya.

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar