3 Kualitas Inilah yang Membuat Cinta Bernilai. Pastikan Kamu Memilikinya!

Love & Friendship

sumber foto: internet

3.9K
Cinta sejati itu memang mahal harganya dan perlu pengorbanan ketika diamalkan.

Siang itu, di sebuah Rumah Sakit ...

Pintu lift terbuka. Terlihat satu pasang suami-istri sedang berada di dalam lift itu. Dengan senyum yang hangat, Si Suami menyapa saya dengan bertanya, “Turun ke bawah?” Sontak, saya langsung menjawab “ya”, sambil membalas senyumannya.

Mereka bukan pasangan muda lagi. Dari penampilannya terlihat sudah lansia. Sang Suami berdiri, sedangkan sang istri duduk di kursi roda. Sang suami berkata kepada istrinya, “Sabar ya, kita sudah mau pulang ke rumah.” Tatapan sang istri kosong dan perempuan tua ini tidak menanggapi ucapan suaminya. Tangan dan kakinya terus gemetaran.

Beberapa kali terlihat Si Suami menunjukkan kemesraannya. Dia sering mengajak istrinya berbicara sekalipun tidak ada tanggapan dari Si Istri. Beberapa kali dia juga tampak merapikan letak baju isterinya. Dia membelai-belai rambut isterinya; menyentuh pundaknya seakan sedang berupaya menenangkan Sang Isteri dan mengirimkan pesan, “Aku bersamamu.”

Baca juga: Lakukan 5 Hal Ini Saat Pacaran, agar Tak Menyesal dalam Pernikahan

Ini bukan pemandangan biasa. Melihat anak muda yang sedang kasmaran di mal berpegangan tangan adalah hal yang sudah biasa bagi kita. Ketika kita melihat pasutri muda berpelukan di jalanan, itu juga sudah biasa. Namun, ketika kita melihat kemesraan pasangan kakek-nenek di usia senja, itu baru luar biasa. Di mata saya, mereka sangat romantis. Menurut saya, inilah cinta sejati!

Saya berpikir banyak hal tentang cinta. Sebenarnya seperti apakah cinta sejati itu? Belajar dari kakek-nenek di lift ini, saya menyimpulkannya di dalam 3 hal :

Sumber foto: Internet

1. Cinta Sejati itu Tidak Menuntut Balasan

Sambil merapikan rambut Sang Isteri, beberapa kali saya mendengar suami ini memuji isterinya, “Cantiknya ... Dirapikan sedikit, ya ... biar tambah cantik!” Beberapa kali saya mendengar kalimat itu dilontarkan kepada Si Isteri sambil ia sesekali merapikan baju, kain dan rambut sang isteri. Meskipun tiada jawaban, Si Suami tetap berusaha memuji istrinya dan mengajaknya berkomunikasi.

Karena penasaran dengan apa yang terjadi dengan Si Isteri, saya bertanya kepada suaminya, “Pak, ibu sakit apa?”

“Strok. Strok ini mengganggu syarafnya, sehingga dia lumpuh dan otaknya kurang berfungsi dengan baik,” Jawabnya.

“Kurang baik itu maksudnya tidak bisa berkomunikasi? Atau...?” Tanya saya lagi.

“Dia tidak bisa menjawab, tetapi kata dokter dia bisa mengerti,” balasnya.

Tentu tidak mudah menangani orang seperti ini setiap hari. Dia tidak dapat berkomunikasi. Dia tidak bisa ditinggal sendiri dan dia membutuhkan bantuan orang lain. Butuh sebuah usaha yang besar untuk dapat dengan tulus merawatnya dan perawatan ini tidak dapat dilakukan hanya dengan bermodal perasaan kasihan. Situasi ini membutuhkan lebih dari sekedar cinta biasa -– cinta sejati!

Cinta sejati itu adalah cinta yang tidak menuntut balasan. Sekalipun orang yang dicintai tidak dapat memahami lagi, cinta sejati tetaplah cinta sejati.


2. Cinta Sejati itu Selalu Memberikan Bukti

Cinta sejati tidak ditentukan dari berapa banyaknya kata “I love you” yang di ucapkan. Cinta sejati juga tidak ditentukan dari seberapa banyak janji yang dikatakan. Cinta sejati ditentukan dari seberapa banyak diri kita rela berkorban bagi pasangan atau orang yang kita cintai. Cinta sejati membutuhkan bukti yang nyata.

sumber foto: roamnewroads

Maka itu jangan cepat percaya kepada orang-orang yang begitu mudah membuat janji di hadapan kita. semudah ia mengucapkan janji, semudah itu juga dia akan mengingkari janjinya. Cinta sejati membutuhkan keseriusan dan kesungguhan untuk melakukannya.

Cinta sejati juga tidak ditentukan oleh saat pasangan mengucapkan janji nikah mereka. Cinta sejati dibuktikan ketika setiap mereka masing-masing setia menjalani waktu demi waktu bersama-sama di dalam kondisi apa pun (garis bawahi kata “Di dalam kondisi apa pun”!), bahkan ketika salah seorang dari mereka tidak lagi mampu berdiri atau tidak lagi mampu berbicara. Itulah cinta sejati!

Banyak orang berpikir bahwa mencintai itu perkara mudah. Mereka dengan gampangnya menjual kata “cinta” kepada semua orang. Mereka berpikir bahwa pernikahan dan perjalanan membangun rumah tangga adalah perkara gampang.

Baca juga: Memilih Istri yang Tepat, Cukup Perhatikan Tiga Kriteria Ini Saja!

Ruth Bell Graham, seorang penulis Amerika pernah menuliskan, “A happy marriage is the union of two good forgivers,” (pernikahan yang bahagia adalah penyatuan antara dua orang yang bisa mengampuni).

Graham memahami betapa sulitnya membangun rumah-tangga. Seringkali rumah-tangga dipenuhi dengan konflik, keegoisan, kesalahan, kekurangan dan sebagainya. Maka dari itu, rumah-tangga yang baik menurutnya adalah ketika selalu tersedia “Ruang Ampun” yang besar bagi tiap kesalahan pasangannya.


3. Cinta Sejati itu Memberi, Bukan Menerima

Sumber Foto: Internet

Banyak orang berpikir cinta sejati itu berarti menerima. Padahal, sebaliknya: cinta sejati itu memberi. Semua orang mau menerima cinta, tetapi sedikit yang berpikir untuk memberi cinta.

Kitab Suci mengatakan bahwa, “Cinta itu sabar. Cinta itu murah hati. Ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu. Percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Dengan kata lain, Kitab Suci ingin mengatakan bahwa cinta sejati itu adalah tentang bagaimana kita mau memberi kesabaran, memberi pengampunan, meredamkan amarah, melupakan kesalahan, melakukan kebenaran dan sabar menanggung segala kesulitan. Semua hal itu berhubungan dengan bagaimana kita memberi; bukan tentang bagaimana kita menuntut untuk menerima sesuatu. Cinta sejati adalah tentang bagaimana kita memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan kepada pasangan.

Jika selama ini kita menuntut pasangan kita untuk memberikan sesuatu, saat ini sadarlah bahwa cinta sejati adalah bagaimana kita memberikan sesuatu. Cinta sejati itu selalu bertanya tentang “Apa yang telah kuberikan kepada orang terkasih hari ini?”, bukan tentang “Apakah yang dia sudah berikan kepadaku hari ini?".

Merenungkan tentang cinta sejati, kini sadarkah kita bahwa cinta sejati itu memang mahal harganya dan perlu pengorbanan ketika diamalkan?


Klik di sini untuk membaca artikel-artikel inspiratif lainnya:

Pertengkaran dengan Pasangan Mengungkapkan 3 Kebutuhan Ini. Penuhilah demi Kelanggengan Hubungan

Cinta Tak Berarti Cocok. Ini Saran Pakar Psikologi tentang Memilih Pasangan Hidup





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "3 Kualitas Inilah yang Membuat Cinta Bernilai. Pastikan Kamu Memilikinya!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


jevin sengge | @jevinsengge

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar