Sering Bertengkar dengan Pasangan? 3 Hal ini akan Menyelamatkan Hubunganmu dari Dampak Pertengkaran yang Merusak

Marriage

[Image: opydo.pl]

15.8K
Pertengkaran dalam hubungan memang tak mungkin dapat dihindari. Namun, pertengkaran dapat diubah menjadi kesempatan yang indah, yang justru akan semakin memperkuat hubungan kita dengan pasangan.

Dalam sebuah kesempatan diskusi tentang kehidupan pernikahan dengan beberapa sahabat, saya iseng-iseng menanyakan pertanyaan imajiner yang dulu pernah ditanyakan oleh seseorang kepada saya,

"Kalau kita diberi kesempatan mengulang kehidupan dari awal, apakah kita akan tetap memilih untuk menikah dengan pasangan kita yang sekarang?"

Semua sahabat saya terdiam beberapa saat sambil tersenyum-senyum tak jelas. Mungkin pertanyaan itu telah menggelitik hati mereka, atau mungkin membuat mereka bingung untuk menjawabnya. Tapi tak lama kemudian salah satu dari mereka menjawab dengan tegas, "Tidak!" Teman-teman lain menyambutnya dengan gelak tawa yang keras. Entah menertawakan kepolosan si penjawab, atau jangan-jangan, malah membenarkan jawaban itu.

Memang pertanyaan saya itu bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Apalagi kalau kita sedang diperhadapkan dengan lika-liku kehidupan pernikahan yang mungkin tidak seindah yang dibayangkan ketika masih pacaran atau ketika baru menikah.

Tidak ada yang berani mengatakan bahwa perjalanan kehidupan pernikahan pastilah 100% mulus. Rasanya tidak ada pasangan yang tidak pernah mengalami pertengkaran dalam kehidupan pernikahan mereka. Perkataan orang tua zaman dulu, “Pertengkaran adalah bumbu dari pernikahan”, mungkin memang ada benarnya. Tapi ibarat sebuah masakan, kalau bumbunya terlalu banyak maka rasanya pun juga jadi tidak enak, bukan?

Kita tidak dapat menghindari pertengkaran dengan pasangan kita. Kecil maupun besar, singkat maupun panjang, saling berbantahan atau diam-diaman, tetap saja namanya pertengkaran pasti akan melelahkan, menyedihkan hati, bahkan melukai perasaan. Yang pasti, mengganggu pikiran dan hubungan.

Baca Juga: Relasi Bukanlah Permainan Apalagi Pertandingan. Tak Ada Menang atau Kalah, Hanya Kehancuran, bila Kita Mempermainkannya


Dalam kehidupan pernikahan saya [yang baru] berusia 18 tahun ini, hampir semua pertengkaran kami awalnya hanya bermula dari percakapan biasa, yang tadinya baik-baik, lalu entah bagaimana sampai di satu titik tiba-tiba menjadi memanas dan bersahut-sahutan. Dari kata-kata yang manis dan nada yang menyenangkan, berubah menjadi kata-kata negatif dan nada yang semakin tinggi.

Dengan karakter saya dan suami yang sama-sama keras, semua pertengkaran di awal-awal pernikahan kami sangatlah tidak menyenangkan. Saya sering mempertanyakan keputusan saya menikah dengannya. Apakah keputusan saya benar? Apakah dia adalah jodoh yang Tuhan berikan untuk saya?

Tahun demi tahun saya belajar mengerti bahwa seperti tertulis di Alkitab yang saya baca, sebagai seorang istri, saya harus tunduk dan hormat pada suami saya. Maka setiap kali percakapan kami menghangat, ‘alarm’ di kepala saya berdering. Saya tahu saya harus mengambil peran sebagai istri yang tunduk dan hormat kepada suami. Bukan berarti saya tidak boleh berargumentasi, tapi lebih kepada menahan diri untuk tidak membuat suasana memburuk atau memanas.

Baca Juga: Peran Wanita dalam Relasi dengan Pria: Dijajah, Menjajah, atau Adakah Pilihan Lain?

Dan selama beberapa tahun terakhir, inilah beberapa pemikiran yang selalu saya tanamkan ke dalam diri saya, yang menjadi benteng pertahanan saya untuk tidak masuk dalam pertengkaran atau berlarut dalam pertengkaran dengan suami saya:


1. Aku bukanlah manusia sempurna, tapi aku ingin berusaha setiap hari makin sempurna di mata suamiku.

[Image: ributrukun.com]

Justru karena kita bukan manusia yang sempurna, kita membutuhkan pasangan hidup yang akan membantu menyempurnakan hidup kita. Itulah mengapa Sang Pencipta memberikan tugas mulia kepada manusia untuk membentuk keluarga. Bermula dari pernikahan, seorang laki-laki dan seorang perempuan - keduanya tidak sempurna, disatukan menjadi suami dan istri, sehingga dapat saling menolong, saling mengisi dan saling melengkapi di dunia ini.

Namun demikian, sebagai manusia kadang kita lupa bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna, sehingga kita juga seringkali menuntut orang lain bersikap dan bertindak sempurna. Demikian juga dalam relasi kita dengan pasangan, sebuah kesalahan kecil saja mungkin sudah dapat membuat kita kesal dan marah. Padahal pasangan kita bukan manusia yang sempurna, yang sudah pasti bisa melakukan kesalahan.

Ketidaksempurnaan ini justru bagi saya menimbulkan satu pemikiran lain dalam menyikapi pertengkaran saya dan suami. Saya justru melihatnya sebagai kesempatan bagi saya untuk berusaha setiap hari lebih sempurna di matanya. Sehingga setiap kali suasana pertengkaran mulai hadir antara saya dan suami, saya selalu bertanya pada diri saya, “Apa lagi hal-hal yang dinilai kurang oleh suamiku yang aku harus perbaiki?”

Saya tidak mempersalahkan diri, tapi saya melihatnya sebagai kesempatan untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Pasti ada saja hal-hal yang harus saya perbaiki dalam hal sikap atau kelakuan saya, atau kadang hanyalah masalah ekspresi atau body language. Pernah suatu kali saya tanpa sadar menunjukkan raut muka yang tidak menyenangkan ketika seorang teman berargumentasi dengan suami saya. Saya tidak menyadarinya sebelum akhirnya suami saya menegur saya. Hampir saja kami bertengkar untuk urusan yang menurut saya justru saya sedang membela dan berempati padanya. Bersyukur ‘alarm’ saya berbunyi, "Tahan diri!"

Belakangan, saya sangat menghargai kejadian yang hampir membuat kami bertengkar itu. Suami saya ingin supaya saya belajar untuk tidak terlalu polos mengekpresikan perasaan tidak senang kepada orang lain. Sesuatu yang perlu saya perbaiki. Bukan saja untuk menjadi sempurna di mata suami saya, tapi juga untuk kebaikan diri saya di dalam relasi dengan orang lain juga.



2. Suamiku adalah pribadi yang berbeda denganku. Banyak perbedaan sifat dan kebiasaan yang aku temui dan masih akan aku temui. Aku tak akan mungkin bisa memahaminya 100%, tapi aku akan selalu 100% menerima perbedaan itu dan pasti aku bisa menyesuaikannya.

Ada banyak pasangan yang baru menikah mengalami banyak keterkejutan mengenai kebiasaan-kebiasaan pasangannya. Bukan hanya mereka yang berpacaran singkat, yang sudah berpacaran 6 tahun seperti saya pun masih saja terkaget-kaget.

Saya masih ingat, di tahun-tahun awal pernikahan kami, urusan menyikat gigi pun menjadi hal yang menyebalkan setiap pagi dan malam. Suami saya selalu memencet pasta gigi dari bawah dengan rapi. Tidak seperti saya: asal pencet di mana saja. Bagi saya, yang penting pasta giginya keluar dan saya bisa menyikat gigi. Suami saya meminta saya untuk melakukan seperti yang dia lakukan. Setiap kali saya lupa melakukannya, dan sesaat setelah dia mengetahuinya - dari bentuk pencetan pasta gigi yang berantakan, setiap kali itu pula pertengkaran kecil terjadi di antara kami.

Belum selesai sampai di situ. Setelah urusan pencat-pencet pasta gigi, sekarang urusan sikatnya. Suami saya punya kebiasaan: setelah sikat gigi, ia akan mengetukkan sikat gigi ke samping wastafel supaya sisa airnya menetes dan tidak meninggalkan air dan kotoran yang mungkin terselip di antara bulu-bulu sikat. Lagi-lagi, saya tidak terbiasa untuk melakukan hal tersebut.

Kekesalan dan perbantahan kecil tak bisa tehindari hampir di setiap kegiatan menyikat gigi setiap pagi dan malam hari. Urusan sepele ini pun sempat beberapa kali mencuat dan melebar menjadi pertengkaran mengenai “kerapian”, “kebersihan” dan menjalar ke masalah pakaian, rumah, dan lain-lainnya. Tapi sekarang, bertahun-tahun kemudian, entah mulai kapan, saya baru menyadari kalau aktivitas menyikat gigi saya sudah meniru ‘model’ suami saya itu.

[Image: ributrukun.com]

Ada orang mengatakan, jangan pernah berharap bisa mengubah kebiasaan pasangan kita. Saya kurang setuju. Memang tidak akan mudah mengubah kebiasaan yang mungkin sudah dilakukan sejak kanak-kanak. Tapi kalau kita yakin kebiasaan itu adalah kebiasaan yang baik, it is worth to try. Kalau bukan masalah prinsip, bukan sesuatu yang sangat mengganggu, perbedaan itu seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Again, justru karena kita berbeda dengan pasangan kita, untuk itulah kita makin bisa saling melengkapi, bukan? Saya yakin perbedaan itu tidak akan mengurangi cinta kita pada pasangan kita.

Terimalah perbedaan itu. Saya yakin, lambat laun cinta akan membuat kita mampu menyesuaikan diri dengan semua perbedaan itu.

Baca Juga: Yakin Sudah Cocok dengan Pacar? 7 Perbedaan "Kecil" ini Bisa Menjadi Sumber Konflik dalam Pernikahan



3. Suamiku sangat mencintaiku, sehingga banyak harapan dan keinginan yang dimilikinya untukku dan untuk keluarga kami. Cara mengungkapkannya saja yang kadang kurang tepat di mataku. Tapi aku akan berusaha mencari cara lain untuk membahasnya dan mewujudkannya bersama-sama.

Semua hubungan yang didasarkan atas rasa saling mencintai, tidak akan mungkin memiliki tujuan untuk menyakiti, menjatuhkan, atau merugikan satu sama lain.

Kalimat ini akan sangat mudah kita terima kalau hubungan kita dalam keadaan baik-baik saja. Tapi coba bayangkan ketika kita berada dalam pertengkaran dengan pasangan kita. Tidak jarang kita mempertanyakan niat baik pasangan kita. Mungkin sering tebersit di benak kita, jangan-jangan pasangan kita punya niat jahat dengan kita. Ketika kita meragukan maksud baik pasangan kita dan mulai menuduhnya punya niat tidak baik atas diri kita, maka sebenarnya kita sudah meragukan cintanya pada kita.

Sering saya mendengar sahabat-sahabat saya, sesama istri, bercerita bagaimana jika mereka bertengkar dengan suami selalu berujung dengan kesimpulan bahwa suaminya tidak lagi mencintainya. Suami mana yang tidak akan marah jika cintanya dipertanyakan hanya karena sebuah pertengkaran? Bagi para suami mungkin hal ini dianggap tidak relevan dan terlalu berlebihan dan malah akan menimbulkan pertengkaran babak selanjutnya.

"Cinta adalah cinta. Bertengkar adalah bertengkar. Apa hubungan bertengkar dengan cinta? Bertengkar bukan berarti tidak lagi cinta, bukan?" demikian kata suami saya.

Tidak semua pria pandai berkata-kata. Apa yang dia ingin berikan untuk istri atau keluarganya, seringkali tidak berhasil ia ungkapkan dengan baik. Inilah yang seringkali menjadi percikan awal pertengkaran suami istri.

Saya masih ingat, suami saya suatu kali menyampaikan keinginannya untuk berlibur ke suatu tempat. Karena saya kurang suka tempat itu, spontan jawaban saya menimbulkan kemarahannya. Jawaban saya sebenarnya simple, “Ngapain ke situ?” Dan seperti bensin yang disulut dengan api kecil, suara suami saya langsung meninggi, “Memangnya kenapa?!” ... ‘Alarm’ saya pun berbunyi. Singkat cerita, kami akhirnya bisa berdiskusi dengan baik dan melibatkan anak-anak kami untuk memilih tempat wisata untuk liburan kami.

Baca Juga: 3 Cara Suami Mengatakan 'I Love You' yang Sering Tak Terdengar oleh Istri


And now, mari lupakan semua pertengkaran yang pernah terjadi. Maafkan diri kita dan pasangan kita untuk semua kesalahpahaman yang pernah terjadi. Pertengkaran dalam pernikahan memang tidak akan mungkin dapat kita hindari. Kita dan pasangan kita adalah manusia yang tidak sempurna, kita dan pasangan kita adalah pribadi yang berbeda, dan kita punya banyak keinginan dan harapan untuk pasangan kita. Namun dari pengalaman saya, pertengkaran dapat diubah menjadi kesempatan yang indah untuk lebih mengenal siapa diri kita dan siapa pasangan kita, dan membangun saling pengertian yang semakin baik dengan pasangan kita, yang justru akan semakin memperkuat kehidupan pernikahan kita.

[Image: fiercemarriage.com]



Baca Juga:

Buat Kamu yang Sering Bertengkar dengan Pasangan, 10 Cara ini Bisa Membuat Harmonis Hubungan Cintamu

4 Prinsip yang Membuat Relasi Cinta Makin Kokoh

Dua Hal Sederhana yang Menciptakan Pernikahan Bahagia, Namun Terlupakan

Wanita, Jangan Lakukan 3 Kesalahan Fatal dalam Berkomunikasi ini Jika Tidak Ingin Hubunganmu dengan Pasangan Rusak!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sering Bertengkar dengan Pasangan? 3 Hal ini akan Menyelamatkan Hubunganmu dari Dampak Pertengkaran yang Merusak". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Herlina Permatasari | @herlinapermatasari

BAGAIMANA MENURUTMU ?

Silahkan login untuk memberi komentar